
Bab139
Rara melirik, merasa aneh respon Purba, tapi diabaikan. Lalu masuk ke kamar, duduk di depan meja rias, membuka tusuk kondenya. Namun, saat baru melepas beberapa hiasan kepalanya ada warga lagi yang datang. Rada dipanggil lagi keluar oleh Ibunya, untung belum buka baju.
Rara menyambut tamu kembali dengan senyum ramah. Walau rasanya sudah gerah ingin ganti pakaian dan istirahat.
"Kalau mau istirahat, istirahat aja. Biar kalau tamu datang, aku sama ibu yang menyambut. Lagian ini udah hampir jam sepuluh," ucap Retno yang belum pulang, masih bantu-bantu Bu Sugeti.
"Lagian salah sendiri datang kemalaman," celetuk Rena yang sedang beres-beres, melintas antara Retno dan Rara.
"Hust," tegur Rara bercanda, sambil melempar bunga melati yang masih menempel di hiasan rambutnya.
"Iya benar Nak, istirahatlah. Kasihan Nak Purba, pasti lelah," ucap Bu Sugeti.
Rara menoleh dulu kepada Purba, ternyata sepertinya memang dia kelelahan. Rara kemudian pamit untuk kembali masuk kamar.
Rara meminta tunggu sebentar, karena Rara akan membawakan air hangat untuk Purba, supaya lebih segar sebelum tidur.
Purba lalu rebahan di kasur memejamkan matanya. Sengaja ponselnya tidak diaktifkan jadi tidak ada kegiatan lain selain memejamkan mata.
Tak lama Rara kembali, dengan membawa teko berisi air hangat. Lalu dituangkan segelas untuk Purba. Setelah menghabiskan minuman yang diberi oleh Rara. Purba segera rebahan kembali.
Rara beranjak ke meja rias, dia yang hendak melepas rambut palsunya itu yang disebut sanggul menoleh kepada Purba. Terlihat kasihan, Purba tertidur dengan pakaian masih menggunakan jas dan sepatu belum lepas. Rara beranjak dari duduknya.
Berusaha membuka jas Purba.
Purba yang merasakan pergerakan Rara, malah menepisnya. Purba malah tidur miring seakan menolak apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Kenapa sih Mas?"
Purba hanya diam saja.
__ADS_1
"Oh ... Jadi ceritanya ngambek. Oke, nggak jadi masalah. Berarti nggak ada malam pertama nih," ucap Rara yang kemudian beranjak akan ke meja riasnya kembali.
Namun, Purba dengan cekatan bangun dan menarik tangan Rara hingga dia terjatuh di atas pangkuan Purba.
"Habisnya kamu tidak menikmati hari bahagia ini," ucap Purba begitu dekat wajahnya dengan wajah Rara.
"Kan aku udah bilang, iya aku menikmati. Tapi mas keburu ngambek."
"Buat memberi kamu pelajaran, aku harus...," ucap Purba melakukan aksinya. Kini tubuh Rada pun sudah ada dalam rengkuhan Purba.
Purba mencoba menggerai rambut Rara yang masih terikat, bekas sanggul.
"Makanya Mas, biarkan aku membongkar riasanku dulu," bujuk Rara.
"Enggak, biar aku yang membongkarnya. Aku akan jalan-jalan di setiap apa yang ada pada tubuh ini," ucap Purba dengan menatap mata Rara lekat. Suaranya sudah bergetar dengan helaan napas menahan hasrat.
Ikatan rambut dilepasnya kemudian disimpan di meja samping tempat tidur, kemudian dikecupnya kening Rara dengan lembut, mata Purba memejam menikmati suasana romantis itu. Kemudian kedua anting aksesoris yang dikenakan oleh Rara, Purba lepas juga. Setelah itu dikecup bekas kedua aksesoris melekat tadi, aroma tubuh Rara semakin menyeruak masuk ke dalam rongga hidung Purba, hingga menimbulkan gairah.
Kemudian Purba meraih tangan Rara dikecupnya dari jari, punggung tangan, hingga pada bagian gelang, kemudian dibuka gelang itu.
"Mas... apa tidak pegel? Aku berat loh?" tanya Rara yang belum beranjak dari pangkuan Purba.
"Enggak, ini belum seberapa," ucap Purba tidak fokus menjawab, karena dia sambil bermain ke setiap inci tubuh Rara.
Kini Purba menggerai rambut Rara yang panjang sepunggung, leher lara terlihat indah, sudah terlihat bulir bening di sana, sebab suhu kamar menjadi panas. Membuat gairah. Purba semakin naik.
Meskipun leher itu tidak seputih milik Mona, tapi bersih dan terlihat belahan kembar karena model kebaya dengan kerah huruf v.
Mata Purba sudah menyorot ke arah dua mainan itu, tangannya bekerja untuk membuka kemasan mainan kembar tersebut dan Rara sudah tidak bisa duduk dengan tegak lagi, kepalanya menengadah karena sentuhan-sentuhan Purba.
Tok! Tok!
__ADS_1
Tok! Tok!
"Ibu ...! Ibu...!"
Seketika Rara bangun dari pangkuan suaminya, mengabaikan Purba yang sedang tanggung bermain pada bibir Rara.
Rara berjalan tergopoh untuk membuka pintu.
"Ya Nak? Kenapa Azka bangun malam begini?" tanya Rara yang kini sudah membuka pintu.
"Azka tadi tidur sendirian, lalu bangun nggak ada Ibu, padahal kan Ibu pulang. Jadi Azka nyariin," ucap Azka dengan sedikit rengekan.
"Ya udah mau Ibu peluk dulu? Nanti tidur lagi, ya?" tawar Rara kepada anaknya.
"Enggak, Azka mau tidur di sini aja. Takut Ibu pergi lagi."
Rara berhenti sejenak, dia menoleh kepada Purba. Mau bagaimana lagi, Purba pun hanya bisa mengangguk.
"Ya sudah, masuk. Tapi Ibu belum ganti pakaian. Azka tidur dulu ya."
Azka mengangguk, lalu beranjak ke tempat tidur mengambil posisi di samping Purba.
Rara hanya tertawa saat Purba merasa lesu, sambil membuka jasnya dan pakaian yang lain.
"Sabar... masih bisa esok hari," ucap Rara sambil mengambil baju dari lemari.
Purba melihat Azka sepertinya cepat sekali tertidur. Mungkin karena ketakutan aja, terbangun. Aslinya masih ngantuk.
Tiba-tiba Purba ada di belakang Rara, melingkarkan tangan ke pinggang istrinya. Disesapnya sekitar leher Rara, mereka tak sadar bahwa di sana ada anak kecil.
"Mas... sabar dulu," ucap Rara dengan suara yang setengah-setengah, karena Purba membuat Rara lemah, darahnya seakan habis singgah seperti melayang karena kelakuan Purba.
__ADS_1
"Aku tidak bisa, sudah menunggu dari lama." Purba berkata sambil sibuk seakan mencari jalan pada tubuh istrinya. Bergerak tak tentu arah, sesuai intuisi fantasinya.
Bersambung....