
Sementara itu di rumah, Retno menginterogasi Rara. Apakah ada hubungan dia dengan bosnya.
“Apaan sih, Ret? Kamu bertanya apa?” jawab Rara, pura-pura tidak mengerti.
“Jangan bohong, deh. Jujur aja, lagian kalaupun iya, masa aku harus marah, terus ngusir kamu. Setidaknya aku tahu yang sebenarnya,” ucap Retno masih sedikit agak tegas bicaranya.
“Ya aku dekat dengan Pak Purba, ya... hanya sebagai sekretaris dan atasan apalagi?”
“Sekretaris dan atasan sedekat itu? Sampai video call segala?”
“Kamu tahu dari mana?”
“Ya aku tahu lah, rumah ini tidak sebesar rumah para pejabat, rumah aparat, miliarder. Aku dengar kamu berbicara sama, aku pikir siapa. Pas aku lihat kamu sedang video call.”
“Jadi kamu nguping?” tanya Rara.
“Bukan nguping, tapi kedengeran. Dibilangin rumah ini kecil, ya pasti kedengeran.”
“Tapi, kamu ngintip, kan nggak sopan.”
“Tepatnya, ngintip dengan gak sengaja. Lihat itu, pintu kamar kamu aja terbuka lebar segitu. Terus lagi, saat kemarin kamu pulang tiba-tiba hanya karena bos kamu salah paham.
Biasanya, kalau bawahan kan, ya... sabarin aja,nerima nasib, tapi ada keberanian pada diri kamu untuk pulang, deakan-akan tidak takut kamu dipecat, dimarahin lebih parah lagi.”
Rara diam sejenak pemikiran dia juga memang lebih baik berterus terang sama Retno, setidaknya jika Purba datang, dan Retno sudah tahu, dia akan memahami posisi Rara saat ini.
__ADS_1
Jika pun tidak bisa memahami, Rara bisa ambil sikap. Apakah keluar dari rumah Retno karena dia juga tidak ingin menjadi beban sahabatnya.
“Oke, aku akan cerita, Ret. Awal kenapa aku merasa di perusahaan itu tidak merasa seperti karyawan biasa, atau katakanlah aku tidak merasa takut aturan, karena gelagat Pak Purba berbeda. Em ... aku cerita dari awal ya, tapi kamu jangan dulu menyala ceritaku sebelum selesai.”
Ratna hanya menggangguk sambil duduk bersedekap, dia sebenarnya sudah memasang wajah ketus. Antisipasi agar Rara bisa menghargai dirinya sebagai sahabat. Baik, buruk katakan saja dan Jika keputusan Rara tidak dapat dimaklumi oleh Retno, Rara juga harus bertanggung jawab akan keputusan yang tidak sepaham dengan dirinya.
Rara kemudian bercerita dari awal pertama dia kerja sudah menemui masalah, yaitu perselisihan dengan Monas, sampai beberapa hari berikutnya, sampai katanya Mona di rumah sakit, Rara beberapa hari kerja didampingi oleh Bizar. Dan beberapa kali Rara berselisih dengan karyawan, sedangkan Purba selalu membelanya.
Begitu pun saat sudah semakin lama Rara bekerja menjadi sekretaris, Mona memberikan tantangan kepada dirinya seakan-akan memang Mona mengibarkan bendera peperang
Karena Rara juga tidak ingin ditindas begitu saja, dia terima tantangan tersebut. Lagi pula dalam posisi Rara seperti ini dia butuh banget kekuatan dukungan dan terutama modal.
Rara juga menceritakan beberapa masalah yang ada di kampungnya. Rara memiliki perasaan bahwa Purba juga menyukai dirinya, kenapa tidak, dia juga menyambut kesempatan ini.
Dan Rara juga hanya ingin menikmati perasaannya dengan Purba, meskipun Mona masih menjadi istri Purba. Dia tak masalah dengan status Purba. Kan bisa saja, kalau kita sama-sama bahagia itu adalah pikiran Rara.
Rara juga tidak ingin menggantikan posisi Mona, tapi karena Mona yang terlalu sensitif, terlalu curiga kepada dirinya hingga Rara ya harus membela diri dan menerima tantangan itu.
“Gila kamu ya! Ra ... kamu senekat itu. nggak nyangka aku,” ucap Retno.
“Maksudnya nggak nyangka gimana, Ret? Coba kalau kamu di posisi aku, dengan tekanan seperti ini. Keadaan bingung, uang tidak punya, lagian aku sadar diri kok. Tidak sekeras kepala itu ingin menjadi Nyonya Purba.” Rara mencoba membuka pikiran Retno.
“Anggap aja aku hanya mensyukuri keadaan yang ada. Banyak, kan? Seorang pengusaha, bos besar yang memiliki jabatan, mereka memiliki istri dua dan akur-akur aja. Dan aku juga tidak menuntut lebih Pak Purba,” lanjut Rara membela diri.
“Iya aku mengerti hal itu, memang ... mungkin pemikiran kita saat tidak mengalami masalah itu akan berbeda dengan orang yang mengalami masalahnya. Tapi apa kau tidak bisa bersabar sebentar ? Aku bisa membantu beberapa rupiah jika kau membutuhkan dana itu.” Retno mencoba mengulurkan bantuan.
__ADS_1
“Masalahnya tidak sesimpel itu, Ret. Anakku terancam sekarang di tempat ayahnya, dengan kekuatanku sendiri tidak bisa untuk mengambil anakku itu.
Jika semua serba diurus ke pengadilan akan memakan uang banyak, yang katanya bisa menggunakan kartu keterangan tidak mampu, tapi untuk keluargaku mengurus hal itu dipersulit.
Orang-orang kampung sudah mencap keluargaku itu mungkin tidak layak dibantu, kami orang susah tapi kenapa mereka pada benci?” ucap Rara panjang lebar.
Mengenai luka hati, perlakuan warga kampung Sugih Ayu, Rara tidak akan pernah lupa, dan belum sanggup melupakan. Buktinya setiap cerita tentang warga kampung, air matanya sudah siap untuk terjun.
“Tapi kan Pak RT tidak begitu. Meskipun kita beda kampung, tapi aku tahu Pak RT tidak mungkin seperti itu.”
“Iya, aku tahu. Pak RT memang tidak seperti yang lainnya, tapi setidaknya dia juga kalau banyak warga yang tidak mendukung dirinya, dia tidak bisa apa-apa. Itu akan menimbulkan masalah lagi, jika seakan-akan Pak RT menspesialkan salah satu warga. Aku jadi bingung pokoknya. Makanya kenapa pikiranku muncul untuk memanfaatkan Pak Purba.”
“Jadi, kamu memanfaatkannya? Hanya untuk itu? Sungguh, itu lebih kejam. Kamu jadi seperti wanita licik gitu sih? Memanfaatkan seseorang untuk kepentingan kamu sendiri?” Retno tak habis pikir.
“Aduh ... aku jadi bingung deh, Ret. Aku memang bilang iya mau memanfaatkan, tapi tidak memanfaatkan hanya untuk kepentinganku sendiri.
Aku suka sama Pak purba, siapa coba yang tidak suka sama bos seperti itu? Coba deh, kamu lihat dulu ke depannya gimana. Aku akan tetap dengan pertimbanganku, tetap akan pada posisiku sendiri, jika pun aku sebagai yang kedua aku tetap sadar diri,” jelas Rara.
Retno pun tarik nafas, kepalanya terasa sangat berat. Padahal itu bukan masalahnya, tapi kenapa begitu rumit dia mendengarnya.
“Oke- oke baiklah, aku akan menyimak dulu. Iya aku paham. Mungkin saat ini pemikiranku belum terbuka sepenuhnya, di luar sana banyak satu pria dengan beberapa istri, ada simpanan ada yang sah ada juga yang benar-benar hubungan terlarang.
Aku akan menyimak dulu, tapi jika saat ini aku mendukungmu, bukan berarti menyetujui apa yang kamu lakukan. Aku hanya mendukung untuk rasa kemanusiaan, bahwa kamu memang sedang dalam posisi serba salah.
Aku hanya mendukung sebagai sahabat untuk tidak mencampuri urusan pribadi kamu, tapi aku tidak mendukung perbuatan kamu, ingat ya, aku tidak mendukung jika Apa yang kamu lakukan sampai menghancurkan kebahagiaan orang lain.” Bahkan Retno memberikan ultimatum, yang cukup membuat Rara bergetar.
__ADS_1
Jangan sampai puluhan tahun mereka bersahabat, akan terpisah hanya karena Rara berperilaku kotor.
Bersambung...