
Saya udah up dari pagi, review lama. Entah jam berapa mau ke up. Readers yang nungguin harap maklum.
___________________________________
Satu minggu sebelum hari pernikahan Retno Rara sudah meminta izin pada Purba bahwa dia akan meminta cuti. Meskipun cuti dalam perusahaan tersebut berlaku bagi karyawan yang sudah bekerja selama 1 tahun, tapi pengecualian bagi Rara.
Akan tetapi Purba tidak langsung mengizinkan permintaan cuci Rara. Padahal Purba sedang memikirkan cara, bagaimana agar bisa ikut Rara ke kampungnya, mumpung Rara pulang kampung. Purba harus ikut, dia akan melamar Rara pada ibunya secara langsung.
“Kenapa Mas akhir-akhir ini aku lihat seperti orang bingung?” tanya Rara saat di kantor, dia sudah membawa secangkir teh hangat.
“Entahlah sayang, tapi kepalaku akhir-akhir ini berasa enteng, kadang jalan berasa gontai,” jawab Purba, dia memijat bagian tengkuknya.
“Mungkin karena mas banyak proyek besar akhir-akhir ini. Kerjain ini ngerjain itu, lupa makan dan kurang istirahat, tapi sekarang sudah selesai kan? Hanya urusan kecil-kecil seperti biasa,” ucap Rara, mencoba menenangkan Purba.
“Iya, bisa jadi.”
“Ya udah, mau aku pijitin?” Rara menawarkan diri.
“Tidak perlu terima kasih, sebentar lagi Mona pasti datang.”
Semenjak Mona selalu tidur di rumah orang tuanya, kedatangannya ke kantor memang tidak selalu tepat. Apalagi pagi-pagi sekali, seperti halnya karyawan lain masuk kantor, itu jarang. Paling tidak pukul 8-9, baru ada di kantor.
“Ya udah, ini diminum dulu tehnya. Mumpung masih hangat,” Rara menyodorkan air teh tersebut kepada Purba.
Lalu Purba menyesapnya, Rara langsung mencuci gelas tersebut dan mengeringkannya, disimpan kembali di tempat semula.
Karena Rara harus ingat aturan bahwa yang menyediakan teh untuk Purba hanya Mona. Namun, Rara tidak hilang akal jika memang kekasih hatinya membutuhkan kehangatan itu, kenapa tidak? Dia lebih bisa mencari cara untuk mencuri start dari Mona.
**#
__ADS_1
Keesokan harinya Purba memberitahu bahwa Rara diizinkan untuk cuti, tapi hanya tiga hari, tidak terlalu lama dan itu pun dengan syarat Purba harus ikut ke kampung, melalui video call.
“Tapi, kalau Mas ikut nanti istri mas nyariin, apalagi ini 3 hari.”
“Nggak akan, dia kan akhir-akhir ini sering di rumah orang tuanya.”
“Ya udah terserah Mas aja, kalau memang kira-kira kita sudah bisa lepas dari keluarga istri Mas, ya udah segerakan aja. Lama-lama aku juga capek kayak gini terus.”
“Jadi kamu menyerah?”
“Bukan menyerah Mas aku juga punya perasaan. Kadang aku cemburu melihat Mas sama Bu Mona, kadang aku juga kesal udah seperti memiliki pasangan lagi, tapi kayak masih sendiri juga, nggak bebas gitu mau bermanja-manja sama, Mas nya.”
“Oke ... sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, yaitu tentang sebuah usaha.”
“Usaha? Usaha buat apa?” Rara agak bingung dan cukup heran juga, tiba-tiba Purba membahas usaha. Sedangkan mereka dalam pekerjaan sedang baik-baik saja.
Dan itu sudah purba rencanakan masak-masak, tentang modal dan mencari tempatnya. Hal itu sudah terpikir saat Mona semakin antusias untuk ikut mengelola perusahaan Papanya.
Dan Purba pun merencanakan untuk Rara tidak tinggal di tempat Retno lagi, apalagi Retno akan memiliki suami. Entah mungkin Retno yang ikut suaminya atau suaminya yang tinggal di perumahan tersebut. Karena rumah itu bukan sewaan, tapi rumah yang ditempati Retno adalah sudah menjadi hak milik.
“Aku sih, mau-mau aja Mas, berarti aku harus sekolah membuat kue, dong? Karena kita akan membuka toko kue lho Mas, harus sesuai selera pasar dan memiliki beragam rasa, bentuk yang menarik. Serta mengelola toko, aku belum punya pengalaman.”
“Iya benar kata kamu, jadi nanti aku lihat dulu keuanganku, kapan kamu mulai keluar dari perusahaan atau kamu bisa sekolah sambil tetap jadi sekretaris. Lumayan bukan, penghasilan kamu juga bisa buat nambah-nambah modal.”
“Tapi kalau kayak gitu, kita jahat nggak sih Mas?”
“Jahat bagaimana?”
“Aku masih bekerja di perusahaan Papanya Mona, aku digaji, tapi kemudian aku memanfaatkan uangnya untuk nanti modal usaha dan keluar dari perusahaan itu.”
__ADS_1
“Pemikiran kamu terlalu polos deh, kamu di sini juga kan bekerja. Awalnya juga memang bekerja dan kamu juga tidak leha-leha. Uang yang kamu gunakan untuk usaha kamu Itu, kan hak kamu, gaji kamu, bukan memotong keuangan perusahaan, bukan pula korupsi. Udah deh, jangan pikir macam-macam.”
“Ya... kadang-kadang aku merasa bersalah aja Mas. Apalagi kalau Mas jadi bercerai dengan istri mas.”
“Kamu jangan suka berpikiran gitu deh, mungkin ... meskipun tidak ada kamu, aku tetap akan berjuang untuk berpisah dari istriku yang tidak aku inginkan. Sebenarnya hanya karena kemanusiaan aja, aku menerima Mona, mungkin kamu belum tahu dengan detail kenapa aku menerima Mona?”
“Sudah sih, Mas dari Retno, waktu dulu Mas ke rumah, kan cerita banyak ke Retno.”
“Tapi kamu belum tahu rahasia yang tidak mungkin aku ceritakan kepada orang-orang, yaitu aku merasa anak yang dikandung Mona itu Bukan anakku.”
Kemudian Purba menceritakan saat keluarga Hartanto seakan mendesak secara halus, bawa Purba harus menikah dengan Mona. Saat usia pernikahan menginjak dua bulan, Mona sudah dinyatakan positif hamil.
Purba merasa tidak begitu sadar menyentuh Mona atau bisa dikatakan bulan madu. Mungkin bisa saja Purba sempat menyentuh Mona tapi itu antara ingin dan tidak.
Kata beberapa ahli, jika berhubungan intim tak ada gairah, kejiwaan sedang tidak baik, hormon juga tidak bagus, kemungkinan besar sulit untuk alat reproduksi subur.
Dari sanalah Purba merasa anak yang dikandung Mona, bukanlah anaknya. Dan berpikir, apakah rencana yang terburu-buru itu untuk menyelamatkan nama baik keluarga Hartanto? Bahwa Mona sudah hamil duluan?
Dan saat anaknya Mona keguguran, Purba pun tidak merasa seakan kehilangan sesuatu yang berharga. Saat mengandung pun dia tidak begitu peduli ingin menuruti semua keinginan Mona, karena sedang hamil biasanya harus lebih diperhatikan. Semua perhatian yang Purba lakukan itu hanya rasa kemanusiaan saja, kasihan melihat Mona dan bayinya.
"Ya udahlah Mas, masa lalu tinggal masa lalu. Apapun tujuan keluarga Mona kepada Mas, kita ambil hikmahnya. Niatnya Mas juga kan cuman untuk berbakti kepada orang tua."
"Iya, aku juga berpikir seperti itu, di samping rasa curiga aku terhadap kandungan Mona dan rasa terpaksa aku dengan pernikahan ini, aku selalu memiliki keyakinan untuk membesarkan hatiku. Yang penting kedua orang tuaku tidak hidup susah."
Maksud yang dikatakan Purba adalah meskipun sekarang orang tua Purba mengelola lahan milik keluarga Hartanto, setidaknya mereka tidak menjadi pesuruh di rumah Hartanto Seperti dulu saat Purba kecil
***Bersambung....
Jika rame, besok besok crazy up***.
__ADS_1