
Menuju give away 100 bab untuk 3 readers terakatif support ( jika lebih ramai, quote hadiah lebih banyak)
Hari ini up dua bab, semoga lolos review bareng.
_________
Perjalanan dari Jakarta ke Sugih Ayu sekitar 10 jam. Rombongan berangkat sekitar pukul delapan pagi.
Rombongan Retno dan rombongan Rara memang terpisah sehingga mereka sampai pun tidak beriringan. hampir petang mereka baru sampai tepat di depan rumah Rara
Bu Sugeti yang kebetulan sedang menutup tirai melihat ada mobil yang berhenti di depan rumahnya, dia belum tahu bahwa Rara akan pulang hari itu.
“Len ...! Lena! Kemari lihat siapa yang datang?” teriak Bu Sugeti pada anak keduanya.
Lena muncul dari belakang sambil menggandeng Azka yang baru mandi, karena tadi pukul 05.00 sore anak kecil yang sekarang berumur lita tahun itu baru pulang main.
“Ibu ...!” Azka langsung berlari karena melihat Rara turun dari mobil.
“Eh... anak Ibu belum pakai baju?” ucap Rara yang langsung memeluk putranya.
Ibu dan Lena keluar menyambut kedatangan Rara, wajah mereka tersirat bahagia dengan senyum lebar.
Azka tanti-hentinya menciumi sang Ibu, banyak pertanyaan sambil berjalan masuk ke dalam. Apakah ibu bawa oleh-oleh, bawa Ayah baru, bawa uang banyak, itulah pertanyaan-pertanyaan yang Azka lontarkan dari kepolosan seorang anak kecil.
Kini mereka sudah duduk semua. Rara memperkenalkan Purba pada ibunya.
“Kenalkan Bu, ini bos saya. Pak purba namanya,” ucap Rara.
“Oh... ini to, bosnya kamu Nduk?” ucap Bu Sugeti kagum melihat wajah bersih Purba, kemudian berkata lagi, “Perkenalkan, saya Sugeti, ibunya Rara. terima kasih lo sudah mau berkunjung ke sini, ke rumah sederhana ini.” Bu Sugeti menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
“Iya Bu, saya Purba. Nyaman kok Bu rumahnya, walau sederhana, tapi rapi dan adem,” ucap Purba membesarkan hati Bu Sugeti.
Karena Azka belum menggunakan pakaian, dia juga tidak mau diberi pakaian oleh Lena karena ada ibunya, Rara pergi ke belakang untuk memakaikan baju pada Aska.
Sedangkan Lena saat ini masih sibuk membuatkan minuman untuk tamu.
Purba dan Bu Sugeti berbincang masih dalam topik yang umum dan wajar saja.
Tak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul 09.00 malam
__ADS_1
Tok tok tok...!
“Eh, ada Pak RT. Masuk Pak,” ucap Bu Sugeti gede masih dari tempat duduknya, karena memang pintu terbuka. Jika ada tamu pintu tak pernah dibiarkan untuk tertutup.
“Maaf Bu Sugeti, saya berkunjung malam-malam,” ucap Pak RT sambil masuk kemudian duduk karena sudah dipersilahkan.
“Iya Pak. Ada apa ya?” tanya Bu Sugeti.
Rara kini sudah berganti pakaian dengan baju tidur dan duduk di samping Sugeti, pemangku putranya.
“Rupanya ada tamu ya Bu? Tamunya dari mana?” tanya Pak RT.
“Oh iya Pak, ini tamu dari kota. Bosnya anak saya,” ucap Sugeti.
“Jadi gini Bu... kedatangan saya ini karena dapat laporan dari warga. Mungkin ini sudah malam ya Bu, kira-kira tamunya mau menginap di sini atau bagaimana?”
Walau apa yang dilakukan Pak RT adalah prosedur untuk ketertiban masyarakat, tapi cukup membuat mereka gak enak hati. Merasa bahwa mereka akan melakukan hal yang di luar norma.
Sugesti mengarahkan pandangan kada Purba meminta jawaban untuk pertanyaannya.
“Maaf Pak RT, saya ikut bicara. Perkenalkan, saya Purba dari Jakarta. Saya ke sini cuman mau menghadiri acara pernikahannya Retno, mungkin pak RT tahu ya? Itu temannya Rara yang katanya tetangga desa ini. Saya ke sini hanya mampir kok Pak. Nanti saya tidur di hotel.”
“Oh, begitu... Iya- iya Retno anaknya Bu Darma, saya tahu itu Kalau begitu syukurlah. Maaf ya, Pak Purba, saya hanya menjalankan aturan.
Takutnya kalau tanpa saya kunjungi dan menanyakan jelas kepentingannya, ada warga tidak tahu ada aktivitas apa di kampung ini, karena ada seseorang yang datang dari luar kota yang kita tidak kenal.”
“Iya Pak RT, saya paham kok, agar tidak jadi salah paham, ya Pak? Mungkin sebentar lagi saya juga pulang,” ucap Purba seramah mungkin.
“Baiklah, kalau kayak gitu saya permisi ya. Bu Sugeti dan bapak-bapak semuanya,” ucap Pak RT undur diri.
Namun, sebelum Pak RT sempat keluar dari rumahnya Bu Sugeti, Purba menyenggol Bizar yang ada di sampingnya. Dia keluar menyusul langkah Pak RT.
“Maaf Pak, ini ada titipan dari bos saya,” ucap Bizar menyelipkan beberapa uang berwarna merah muda ke tangan Pak RT.
“Loh, ini apa Pak?” tanya Pak RT sambil menggenggam tangan Bizar yang di sodorkan padanya.
__ADS_1
“Bukan apa-apa, ini hanya cendera mata saja, selama kami di sini beberapa hari, tapi kami tetap tidur di hotel, kok.”
“Waduh, kok repot-repot banget. Kalau kayak gitu makasih ya, nggak papa kok kalau cuma berkunjung. Yang penting saya sudah mengetahui selaku RT di kampung ini,” ucap Pak RT dengan ramah.
“Iya Pak,” ucap Bizar singkat.
“Kalau gitu saya permisi, silakan kalau mau dilanjut,” ucap Pak RT basa-basi, kemudian dia berbalik dan pergi.
Purba menepati janjinya pukul 09.00 malam lewat, dia pamit kepada Bu Sugeti. Kebetulan dia belum mencari hotel di sana. Namun Lena menyarankan beberapa penginapan yang dekat dari kampung mereka, itu pun kalau Purba cocok dengan tempatnya.
Purba, Bizar dan salah satu pria yang ia bawa kemudian pergi menuju penginapan yang sudah mereka tentukan lewat aplikasi.
**#
“Nduk, beneran itu bosmu? Masih muda banget ya? Cakep lagi,” ucap ibunya setelah kepergian Purba dan yang lainnya.
“Iya Bu, itu bosnya Rada. Awalnya sih Bukan dia Bu, tapi kemudian Rara dipindahkan ke kantor pusat.”
“Kok bisa gitu? Jadi kamu kerja di mana tadinya?” tanya Bu Sugeti kembali.
“Aku oleh Retno ditawarkan melamar di perusahaan yang sama Bu, tapi di kantor cabangnya. Namun, setelah di kantor pusat ada posisi yang kosong, Aku dipindah ke sana.”
“Kerjaannya capek nggak sih Mbak kalau jadi tukang bersih-bersih di kantor kayak gitu?” tanya Lena dengan polosnya.
“Iya, Dek. Yang namanya kerja nggak ada yang enak. Cuman... Alhamdulillah Mbak jadi sekretaris di sana.”
“Hah, sekretaris? Kok cepet banget Mbak? Kan Mbak nggak ada sekolah untuk jadi sekretaris, kok bisa?” ucap Lena keheranan.
“Emang nggak ada, mungkin keberuntungan Mbak bisa mendapat posisi itu. Sambil belajar juga, terus yang ngebelajarin Mbak juga baik kok. Makanya mbak senang karena ternyata nggak semua orang kota itu jahat dan licik. Saling sikut-sikutan dalam kerja, cari muka, nggak semua gitu kok.”
“Ibu ikut senang dengarnya, Nduk. Ya... Meskipun harapan ibu, kamu segera dapat jodoh, biar kamu bisa merasakan hidup rumah tangga yang sebenarnya itu gimana. Rumah tangga yang wajar bukan yang menakutkan. Menurut ibu rumah tangga bersama Gandi itu menakutkan, karena sama sekali nggak ada sisi bahagianya.
Ya, kalau rumah tangga ada cekcok, sedih-sedih dikit itu nggak jadi masalah, tapi bahagianya harus lebih banyak. Lah, kalau sama Gandhi, ibu sering ngusap dada.”
bersambung...
__ADS_1