Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Lebih Memilih Selingkuhan


__ADS_3

Saat jam kantor sudah selesai kebetulan Rara mau pulang. Namun, berbarengan dengan Purba juga meninggalkan ruangan, tentu saja diiringi oleh Mona.


Mona sengaja sekali menggandeng lengan Purba dan berjalan mendahului Rara. Dia ingin menunjukkan bahwa bagaimanapun istri sah pasti akan mendapatkan tempat semestinya.


Namun, sayang sekali Rara tidak terpancing hal itu. Dia sudah siap dengan posisinya karena tidak penting bagaimana terlihat di depan umum, yang terpenting bagaimana yang sesungguhnya perasaan Purba pada dirinya.


Saat sudah mau menuruni tangga kebetulan lift sedang perbaikan. Sehingga orang-orang yang akan meninggalkan ruangan masing-masing dari lantai atas, akan melalui tangga.  Dan kebetulan juga lantai tersebut baru dipel oleh office boy, ada kesalahan pada pembersih lantai yang dipakai office boy tersebut.


Lantai itu menjadi terlalu banyak cairan pembersihnya, sehingga membuat licin. Dan itu berpengaruh sekali kepada sepatu wanita yang notabene memiliki hak yang lebih kecil daripada sepatu pria.


Rara hampir saja terjatuh karena lantai yang licin, begitu pun dengan Mona. Namun, yang diselamatkan oleh Purba malah Rara bukan Mona.


Mona melirik pada Purba, kenapa yang diselamatkannya Rara, bukan dirinya?


“Mas, tolong ini yang benar. Bagaimana bisa licin seperti ini?” ucap Purba pada office boy yang masih mengepel, namun sudah agak jauh dari sana.


Office boy itu menghampiri Purba, dia menunduk dan meminta maaf.


“Tidak cukup hanya sekedar Maaf, lihat ini, membuat mereka jatuh.  Sudah berapa lama kamu bekerja?” tanya Purba sekali lagi.


“Baru dua hari tuan,” jawab office boy tersebut sambil menunduk agak gemetar.


“Pantas,” singkat Purba. “Bizar, hubungi staff mereka, sampaikan kejadian ini jangan terulangi lagi,” lanjutnya.


Bizar hanya mengganggu kemudian membuka ponselnya dan dia melepaskan lengan Mona.


Mona pun hampir terjatuh lagi, karena tadi yang menyelamatkan Mona adalah Bizar yang kebetulan lebih dekat dengannya.


“Ih ... kamu gimana sih? Kalau mau ngelepasin bilang dong! Mau bunuh aku ya?” ucap Mona ketus kepada Bizar.


Mona dan Rara sudah berdiri dalam keadaan stabil, kemudian Mona berjalan lebih cepat untuk menyusul keberadaan Purba, dia tidak ingin suaminya turun tangga dengan sekretarisnya itu.

__ADS_1


“Rara kamu baik-baik saja? Untung ada suami saya, coba kalau tidak ada, kamu bisa gelinding ke bawah,” ucap Mona pura-pura perhatian.


Rara tidak menjawab ucapan Mona, dia hanya tersenyum, menggeleng dan kemudian agak membukukan badannya tanda hormat.


Rara sengaja jika di depan Purba, dia pura-pura menjadi sangat diam jika Mona mengajaknya bicara. Rara tidak ingin memancing keributan karena entah mengapa kalau berbincang dengan Mona perasaannya serasa ingin sekali membalas apa pun yang diucapkan Mona.


Karena Rara tahu, apa yang diucapkan Mona itu hanya kepalsuan.


“Kalau begitu, aku dan suamiku pulang duluan ya... hati-hati jangan sampai salah langkah lagi. Nanti kalau jatuh tidak ada yang menolong. Kan suamiku mau pulang loh...,” lagi-lagi Mona memanasi Rara.


‘Benar kan, dugaanku. Perhatianmu hanya palsu. Lihat saja, kali ini bisa saja Mas purba pulang denganmu, tapi tidak dengan hatinya.’ batin Rara dengan tatapan tajam.


Mona memang bersandiwara, dia ingin terlihat baik oleh Purba, dia ingin terlihat ramah pada siapa pun, dia ingin menunjukkan sebagai nyonya yang bijak, padahal dalam hatinya sangat amat kesal. Kenapa Purba lebih memilih menyelamatkan Rara daripada dirinya?


Ditahannya perasaan itu hingga masuk ke dalam mobil pun, dia pura-pura sibuk dengan ponselnya. Padahal dia menunggu Purba bertindak memperhatikan dirinya, menanyakan kenapa dia diam saja, mengapa dirinya sibuk dengan ponselnya, tapi hal itu tidak kunjung terdengar dari ucapan Purba.


 Apakah Purba menanyakan Mona kenapa atau tidak? Semakin dongkol saja hati Mona, karena dia diam maka Purba semakin diam.


Akan  tetapi Purba diamkan saja, perkara Mona nanti marah terserah nanti, tinggal dibujuk lagi aja, sudah, selesai. Itu pikiran Purba.


 


*##


Sampai rumah Purba dan Mona langsung ke kamar. Tentu saja mereka akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bersantai.


“Mas, aku mau bicara,” ucap Mona.


Sekarang Mona tidak menggebu-gebu lagi kalau marah, dia akan mengajak Purba untuk bicara baik-baik.


“Bicara apa Ma...? Bukannya lebih baik mandi dulu,” respons Purba.

__ADS_1


“Tapi nanti kalau Mas mandi dulu, lupa. Sekarang aja mumpung aku masih ingat,” rengek Mona.


“Iya apa?” ucap Purba sambil membuka sepatunya.


“Tadi kan aku juga mau jatuh Mas. Mas nggak ngeliat? Mas malah buru-buru lari mengejar sekretaris Mas itu. Emang lebih berharga siapa sih? Aku atau sekretaris Mas?


 Katanya nggak ada apa-apa. Kenapa lebih menyelamatkan dia? Aku kesel Mas.  Tapi kan aku ingat, akan menjadi istri yang baik, tidak mungkin aku marah-marah di kantor. Tapi apa Mas nggak ngerti perasaanku?


 Aku udah berubah, aku udah menjadi istri yang baik, aku juga akan menahan segala kebiasaan aku, kegelamoranku, kehidupan bebasku, tapi Mas ... tolong hargain aku dong,” ucap Mona begitu panjang lebar.


Purba menarik napas. Dia kemudian mengambil segelas air minum yang ada di nakas sebelah tempat tidurnya, kemudian duduk di samping Mona.


Purba pun memberi alasan yang cukup masuk akal. Karena Rara mau terjatuh di pinggir tangga takutnya menggelinding ke bawah, nanti Purba  kena tanggung jawab jika Rara kenapa-napa, sedangkan asuransi Rara belum turun karena pegawai baru, belum sah didaftarkan.


Sedangkan kalau Mona hanya terpeleset di lantai itu tidak jadi masalah, maksudnya tidak begitu para fatal, sebisa mungkin Purba tetap membujuk Mona.


Mona terdiam mendengar penjelasan Purba, antara yakin dan tidak yakin dia harus percaya. Meskipun memang masuk akal sih, nanti kalau Rara kenapa-napa, Purba juga yang dapat urusan.


Meskipun Purba tidak mungkin untuk menemaninya di rumah sakit, tapi dia harus bertanggung jawab biayanya, permintaan maaf pada keluarganya, mending kalau hanya luka ringan.


Berbagai pikiran berkecamuk di dalam kepala Mona. Apakah dia harus mempercayai apa yang diucapkan suaminya? Tapi hatinya tetap nggak rela, tadi melihat suaminya begitu perhatian kepada sekretarisnya di depan matanya yang sangat begitu dekat.


"Oke baiklah, kali ini aku bisa percaya. Meskipun sebenarnya kamu bisa lebih menyelamatkan aku yang dekat, bukan hanya berlari ke sekretaris, sedangkan Bizar juga pasti lebih bisa untuk menyelamatkan Rara.


Tapi ... ya sudahlah, mungkin takdirnya seperti itu. Aku tidak mau terulang, lain kali jika terulang lagi, sebenarnya Mas harus lebih refleks untuk keselamatanku . Ya udah, aku mau mandi duluan," ucap Mona pergi ke kamar mandi.


Purba tersenyum, dia bisa mengendalikan perselisihan hari ini. Semoga hari-hari berikutnya Mona selalu percaya dengan ucapannya.


Dengan seperti itu, dia tetap bisa menyenangkan hati Rara dan bisa juga tidak membuat masalah dengan Mona, lebih tepatnya dengan keluarga besar Hartanto. Sebelum dirinya benar-benar mapan untuk membiayai adiknya kuliah, keluarga, terutama keluarga yang akan dibinanya kelak bersama Rara.


 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2