
“Ma ... kalau aku tidak ke kantor, nanti makin banyak kerjaan numpuk. Aku lembur terus. Kalau aku, tak jadi masalah lembur setiap hari juga. Nanti kamu gak suka lagi, aku jarang pulang,” jelas Purba, duduk di samping Mona.
“Huh ... ada saja alasnya.”
“Kamu bisa panggil teman-teman kamu kemari, kalau bosan,” saran Purba. Dia tidak tahu, bahwa hal itu sudah Mona lakukan sejak tadi, mengundang teman-temannya.
Akhirnya Mona mengizinkan Purba masuk kerja kembali, dengan syarat Rara pindah bagian atau pindah perusahaan malah kalau bisa dipecat.
Namun, Purba menolak. Karena tidak ada alasan untuk memindahkan Rara ke bagian mana pun. Pertengkaran kemarin hanyalah kesalahpahaman.
Lagi pula sulit mencari sekretaris mendadak setelah sebelumnya posisi sekertaris lama kosong, akan lama kembali untuk penyesuaian jika cari baru.
“Ya udah ... udah, udah. Ok, aku mengalah kali ini. Terserah kamu mau menempatkan dia di mana. Awas aja kalau ketahuan lagi selingkuh,” ancam Mona.
“Lagian, siapa juga yang selingkuh? Mana buktinya? Kamu tidak mengerti arti salah paham?” Purba tidak tinggal diam. Biasanya dia tidak peduli jika Mona menuduh macam-macam.
“Iyaaa ... sana pergi,” ketus Mona.
“Yakin? Ikhlas?” tanya Purba.
__ADS_1
Mona mengangguk, kemudian Purba berdiri dari duduknya. Tapi, baru saja hendak melangkah, Mona menarik tangan Purba.
“Apa lagi?”
“Aku udah lama, pengen,” ucap Mona kini bersikap sangat manis.
“Maksud Mama?” Purba bingung, pengen yang mana. Kalau bercinta, dia kan tahu mau berangkat kerja.
“Kiss aja, sebentar. Ayo!” pinta Mona menarik tangan Purba. Hingga Purba menaruh tasnya dan berdiri dengan kedua lututnya di depan Mona yang masih duduk di kursi rodanya.
Mona yang terlebih dahulu mendekatkan wajahnya pada Purba. Dengan ganas Mona langsung menyantap bibir tebal Purba yang sensual itu. Karena tidak merokok, bibir Purba selalu terlihat cerah, bersih dan menarik.
Deru nafas Mona sering membuat Purba hilang kendali. Namun, masih sanggup ditahannya. Rasa terpaksa lebih mendominasi dibanding harus hilang kendali. Purba selalu menyudahi terlebih dahulu, sebelum lebih jauh lagi.
“Sudah, Ma. Nanti aku kesiangan.” Purba sedikit mendorong bahu Mona. Dia mengambil tas kerjanya lalu pergi. Sehelai tisu dia sambar dari atas meja, untuk mengelap bibirnya.
Mona tersenyum, melihat kepergian Purba. Dia berjanji pada dirinya sendiri, delapan bulan memang waktu yang belum cukup untuk menaklukkan Purba.
Alasan Purba cukup diterima oleh Mona, tapi kali ini dia akan membuktikan bahwa kemarahannya pada Rara bukan salah paham, kelak dia akan membuka jati diri Rara sebagai pelakor sesungguhnya.
__ADS_1
Jarak dua puluh menit dari kepergian Purba, Rena datang bersama Bram. Mona senang sekali melihat mereka datang.
Mona langsung menyambut Bram dengan rentangan tangan untuk memeluk. Tak lupa, Bram mengecup bibir Mona.
“Gila ya,kalian. Kalau pembantu tahu, gimana?” tanya Rena, yang melihat kemesraan Bram dan Mona.
“Tenang aja, mereka gak bakal berani mengadu. Lagian mereka juga sibuk. Itu alasan aku, tak ingin banyak pembantu. Dua saja cukup, biar sibuk semuanya,” jawab Mona pada Rena.
“Lagian, kenapa kalian gak nikah aja sih, kamu malah nerima perjodohan dengan Purba.” Rena gak habis pikir.
“Lagian Bram sih, gak bisa jalani usaha Papa. Coba kalau becus, kita bisa nikah,” ucap Mona, yang ditanggapi enteng oleh Bram.
“Kamu gak ngerasain sih, bagaimana pusingnya ngurus perusahaan segitu gedenya. Belum yang komplain ini itu,” Bram menyulut rokoknya dan duduk dengan kaki dinaikkan ke sofa, selonjoran.
“Eh, cerita dong, kenapa kamu bisa jadi dirawat sih? Kamu sakit apa?” Rena belum tahu tentang Mona. Karena Mona memang belum cerita pada siapa teman-temannya tentang kejadian pada rumah tangganya.
Kalau Purba adalah orang cuek terhadap Mona, tapi bisa memberikan Mona kepuasan lahir batin, meski itu harus Mona yang agresif, semua temannya sudah tahu.
Namun, tentang Purba berselingkuh dengan sekretaris barunya, Mona belum cerita.
__ADS_1
Dan saat ini, Mona akan ceritakan pada Rena dan Bram, tentang kekesalan dirinya pada Rara, sekretaris yang filing Mona, akan merebut Purba darinya.
Bersambung ....