Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Are You Ok Mona


__ADS_3

Bab100


Meskipun Azkia seakan menolak kebaikan dari ibu warung untuk tidur di dalam, akan tetapi Bu warung tetap memberikan kain itu kepada Azkia. Bahkan menutupkannya kepada tubuh kecil itu.


Perjalanan yang cukup jauh membuat badan Azkia tidak kuat lagi, dia tidur di kursi di mana tempat dia duduk sebelumnya. Gandi benar-benar tidak peduli pada anaknya.


Meskipun tidak mengganggu anaknya tidur, tapi setidaknya jika orang tua yang memiliki perasaan dia akan membetulkan posisi anaknya atau menaruh kepala anaknya di paha, agar lebih nyaman. 


Kursi tempat mereka makan di warung itu terbuat dari kayu, tentu saja kurang nyaman untuk beristirahat, apalagi tempatnya sempit.


**#


Hari kelima, Purba sudah pulang lagi ke Indonesia. Dia membawa beberapa oleh-oleh, diantaranya coklat, parfum dan liontin berbentuk singa dari permata.


Purba sampai di rumah bersama Bizar sekitar pukul 10.00 malam, karena Mona belum pulang Bizar diminta tidur di rumahnya saja. Karena besok harus pagi sekali ke kantor.


"Ibu belum pulang Mbak Idah?" tanya Purba kepada asistennya rumahtangganya.


"Belum pak," jawab Mbak Idah.


"Apa selama kemarin aku pergi sempat pulang?"


"Tidak Pak."


Purba mengangguk lanjut ke kamarnya untuk beristirahat, sedangkan Bizar mendapatkan kamar di lantai satu untuk kamar tamu.


 


**#


Keesokan harinya Purba dan Bizar ke kantor pagi-pagi sekali, pukul 06.30. Akan tetapi purba melihat mertuanya sudah ada di sana terlebih dahulu.


"Pagi-pagi sekali, Pa?" tanya Purba.


"Iya Papa ingin membicarakan tentang pertemuan di Singapura, ini harus segera kita selesaikan."


"Secepat itu Pa? Kemarin kata tuan Dalen beliau bisa menyesuaikan waktunya.


"Tuan Dalen itu kenalan lama Papa, maka harus sebaik mungkin mengeksekusi kerjasama dengannya."


"Baik Pa." Purba hannya menurut apa kata mertuanya.


Karena tidak ada sekretaris, Bizar membantu Purba untuk mengatur beberapa tugas yang biasanya dilakukan oleh Mona.


"Oh ya, berapa hari yang lalu Papa ke kantor cabang. Apa kamu yang memindahkan Rara ke sana?" tanya Tuan Hartanto di sela kerjanya.


"Iya Pa."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Mona yang meminta."


Tuan Hartanto manggut-manggut, kemudian dia juga menanyakan apa hubungannya ketika Purba ke Singapura dan memberitahu pada Rara. Padahal Rara tidak ada sangkut pautnya dengan Purba.


Mau ke mana pun Purba, tidak ada urusan dengan Rara karena bukan sekretarisnya lagi. Terlebih tidak ada hubungan yang lain, hal itu disampaikan oleh Tuhan Hartanto dengan hati-hati pada menantunya.


Sebenarnya Tuan Hartanto ada kecurigaan, tapi dia jangan gegabah. Jika saja Tuan Hartanto terlalu keras menekan Purba, bisa saja Purba berubah menjadi keras dan meninggalkan Mona begitu saja. Makanya hal ini harus diselidiki perlahan oleh Tuan Hartanto.


Purba cukup bingung apa alasan yang harus diberikan kepada ayah mertuanya.


"Em, saat aku sebelum berangkat ke Singapura, pergi dulu ke kantor cabang Pa. Ada file yang tertinggal saat kunjungan minggu lalu. Aku hanya sekedar menyapa Rara karena merasa akrab saja, sebagai mantan sekretaris hanya berbasa-basi tidak lebih.


Dan, setidaknya untuk support Rara bahwa perusahaan Bonafit Tekstil sedang ada proyek kerjasama dengan pengusaha di luar negeri. Sehingga itu menjadi suatu pencapaian yang hebat bukan Pa? kita bisa mengekspor produk kita ke sana."


Tuan Hartanto manggut-manggut seakan menyetujui apa alasan Purba, meskipun dalam hatinya tetap ada nada alasan kosong yang dibuat dalam ucapan Purba.


**#


Sore hari saat pulang kantor, Purba meminta Bizar langsung ke rumah besar yaitu ke rumah mertuanya.


Purba mencoba menghargai Mona sebagai istrinya yang telah berubah lebih baik, maka dia juga harus menunjukkan perhatian kepada istrinya.


Purba sudah sampai di rumah besar kemudian menanyakan di mana istrinya kepada salah satu pelayan.


"Non Mona ada di kamarnya Mas purba," ucap pelayan tersebut.


"Di kamar mana? Barusan aku baru ke sana."


"Oke, makasih mbak," ucap Purba, langsung berlalu menuju kamar yang biasa digunakan oleh kamar tamu.


Purba merasa heran mengapa pindah? Bukankah kamar Mona yang di lantai dua adalah kamar kesayangannya.


Purba membuka pintu kamar. Sedangkan Mona yang sedang tertelungkup di tempat tidur dengan membaca majalah, langsung terperanjat kaget. Posisinya duduk dengan bola mata membesar tak menyangka Purba akan datang tiba-tiba.


"Kenapa Ma?" tanya Purba. Dia seakan merasa ada perubahan istrinya saat dia datang.


"E-em, tidak Pa. sudah pulang? Katanya seminggu?"


"Iya sudah. Gimana? Mau pulang sekarang?" tanya Purba.


Ada pemikiran pada diri Mona, Purba langsung mengajaknya pulang tidak menanyakan keadaannya atau tidak melihat sesuatu yang aneh pada dirinya.


Satu sisi Mona merasa lega, mungkin di mata Purba tidak ada yang berubah pada diri Mona. Akan tetapi, bagaimana secara pribadi Mona masih merasa semua cap milik Bram ada di tubuhnya.


Cukup kesal juga saat Purba datang hanya untuk menjemputnya, tidak ada basa-basi perhatian apa pun.


Purba terus melangkah menghampiri Mona, sedangkan Mona duduk mundur perlahan. Dia takut jika Purba semakin dekat dan melihat beberapa keanehan pada diri Mona.


Mona langsung beranjak turun dari tempat tidur menghindari kedekatannya dengan Purba.

__ADS_1


"Kenapa Ma? Seperti terburu-buru gitu?" tanya Purba.


"Ya, karena Papa sudah menjemput, aku harus segerakan. Masa suami pulang dari jauh kemudian menjemput dan aku santai saja. Ya kan?"


Purba hanya bisa melihat aktivitas Mona yang sedang mengambil tas dan jaket.


"Ayo Pa!" seru Mona mengajak Purba, tapi dengan langsung berlalu menuju pintu keluar kamar.


Purba heran Mona mengajaknya tapi dia berjalan duluan, ini tidak biasanya. Seperti bukan Mona yang pernah ia kenal.


Dalam pemikiran Purba, Mona akan menyambutnya dengan agresif, dengan penuh kemesraan seperti biasa. Apalagi ini hampir seminggu, tapi sama sekali Mona seakan tidak ingin dekat dengannya, bahkan cenderung menghindar.


Purba mengerutkan kening sambil berjalan menyusul Mona, dia terus berpikir ada sesuatu yang aneh.


Purba bukan mencurigai Mona tentang ada yang berbeda pada tubuh istrinya, tapi gelagat Mona.


"Aku menemui Ibu dulu Mas," seru Mona, itu pun sembari dia berjalan tidak menoleh atau pun menunggu Purba mendekat padanya, untuk dia bicara.


"Bukankah aku juga harus menemuinya?" tanya Purba dengan sedikit berteriak. Karena Mona sudah semakin jauh menuju kamar ibunya.


Kebetulan Nyonya Hartanto keluar dari kamarnya, dia berpapasan dengan Mona dan tak lama melihat Purba di belakang nona.


"Mona. Suamimu? tanya Nyonya Hartanto, saat Mona sudah dekat. Namun Purba Masih cukup jauh di belakang.


"Iya Ma, aku mau pulang sekarang," lirih Mona pada mamanya.


"Apa kamu sudah merasa aman?"


"Aku rasa Purba tidak menyadari. Aku rasa, aman saja."


"Paling tidak, kamu jangan dulu melakukan kewajibanmu pada Purba, laki-laki biasanya peka. Apalagi ini baru dua minggu."


Mona mengangguk karena Purba sudah semakin dekat.


"Nak, Purba. Kapan sampai?" tanya nyonya Hartanto.


"Tadi malam, Ma. Dan sekarang mau langsung menjemput Mona."


"Baiklah, kalau tidak ingin menunggu Papa dulu."


"Tidak perlu Ma, tadi sudah bertemu di kantor."


"Oke. Kalau begitu hati-hati ya. Kalian selalu akur, kalau ada perselisihan jangan diselesaikan dengan emosi."


"Iya Ma, Aku pamit," ucap Purba mencium punggung tangan Mama mertuanya, begitupun Mona.


"Ingat pesan Mama, kalau kamu belum yakin, jauhi dulu Purba," bisik Nyonya Hartanto saat berpelukan dengan Mona.


Happy reading.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2