
Bab 161
"Ibu, nanti Azka pulang sekolah mampir ke toko ya?" ucap Azka saat Ibunya sedang berada di depan meja rias.
"Nanti kamu capek loh. Ibu kan pernah bilang, boleh ke toko kalau hari sabtu, karena minggunya libur."
"Tapi aku pengen bareng dede bayi."
"Hem ... ok deh, oke. Asal jangan lama-lama ya, kamu harus belajar, biar sekolahnya pintar."
"Oke ibu," ucap Azka sambil memeluk perut ibunya yang sudah besar dan sedikit turun ke bawah, sepertinya dalam waktu dekat memang akan melahirkan.
"Oh ya Ibu, hari ini di sekolah aku mau ada acara berbagi ke teman-teman, yang sekolahnya ada di pelosok. Aku bawa apa ya Bu?"
"Kenapa kamu baru bilang sekarang?"
"Hehehe, lupa."
"Lalu, Bu Guru nyuruhnya bawa apa aja?"
"Mau uang, mau makanan atau benda yang sudah tidak dipakai tapi masih bisa dipakai, juga boleh."
"Ahaha, gimana sih? Benda masih bisa dipakai, tapi nggak bisa dipakai gimana? Barang bekas maksud kamu? Tapi masih layak pakai gitu?"
"Iya, hehe." Azka menjawab dengan nyengir kuda, dia memang belum pandai menempatkan kata-kata.
"Ya udah, nanti ketika Azka mau berangkat ke sekolah mampir dulu ke toko. Di sana ada Onti Mayang, kamu tinggal bawa beberapa kue yang sudah Onti siapin. Ibu kirim pesan dari sini."
"Oke ibu." Azka kemudian mencium kedua pipi ibunya, lalu mencium perut ibunya dan berkata, "Adek, Kakak sekolah dulu ya. Kalau adek mau keluar tungguin Kakak."
"Hus nggak boleh bilang gitu. Doain keluar kapanpun yang, penting sehat dan selamat."
"Hihihi, iya Bu. Azka berangkat sekolah ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, anak soleh."
Rara tertawa lirih melihat kelakuan putranya yang semakin hari semakin pintar, terlihat selalu ceria. Dengan adanya Azka memang sedikit mengobati rasa rindunya pada Azkia. Akan tetapi bukan bisa melupakan Azkia. Namun, setidaknya saat Rara termenung memikirkan satu anak kembarnya yang tak bisa ditemui, Azka selalu menghiburnya. Entah itu mengajak bercerita, banyak pertanyaan, sehingga pikiran Rara tidak selalu mengarah pada Azkia.
Rara kemudian mengirim pesan kepada Mayang, salah satu karyawannya yang kebetulan ditugaskan untuk tidur di toko. Sehingga kapanpun Mayang dititipkan pesanan, bisa langsung menyediakan.
Tadinya Rara mau membuat paket snack saja yang di dalamnya berisi beberapa makanan dan satu minuman mineral. Namun, takutnya tidak cukup karena tidak tahu akan berbaginya untuk berapa orang.
__ADS_1
Sehingga Rara memutuskan untuk disediakan satuan saja, yaitu tiga jenis kue. Satu jenisnya terdiri dari 30 pcs, sehingga keseluruhannya ada 90pcs. Terserah nanti Bu Guru yang akan membagi-bagikannya seperti apa.
Saat di depan, Azka mau berangkat sekolah, lalu Purba datang baru saja turun dari mobil.
"Ayah!" Azka berteriak menghambur menuju Purba. Langsung Purba meraihnya dan mengendong Azka.
"Ih, anak Ayah mau berangkat sekolah?"
"Iya, tapi mau ke toko dulu."
"Loh? Memangnya sempat? Ini udah pukul 06.30."
"Nggak apa-apa, Yah. Gurunya Azka itu baik. Nanti Azka bisa bilang, kan mau ambil kue dulu buat berbagi. Pasti Bu Guru nggak bakal marah kalau alasannya bagus, hehe."
"Oh... begitu. Lalu, Azka dan teman-teman mau berbagi ke mana?"
"Kata Bu Guru, mau berbagi ke sekolah-sekolah yang tinggal di pinggiran kota dan Azka mau bawa kue."
"Ya udah, semangat ya. Ayah senang dengarnya. Kita memang harus berbagi, saling menyayangi. Em, Azka mau bekal tambahan dari Ayah, nggak?" Purba sudah merogoh tangannya pada kantung celana, akan mengambil dombdi.
"Enggak. Azka gak mah banyak bekalnya. Kata Ibu kalau udah dapat bekal, nggak boleh dari sana-sini lagi bekalnya. Nanti jajannya kebanyakan, jadi bodoh."
"Oh...hehe, iya, benar kata ibumu. Ya udah, selamat sekolah ya, Nak. Ayah mau ngajak Ibu ke Dokter, mau lihat adikmu kapan berkumpul bersama kita," ucap Purba, mencium kedua pipi Azka lalu menurunkannya dari gendongan.
Purba masuk rumah, langsung ke kamar. Pastinya sang istri masih berada di sana, karena Rara biasanya pergi ke toko pukul 07.00 apalagi sekarang mau ada janji ke dokter pasti tidak akan terburu-buru untuk berangkat ke toko.
"Pagi sayang," sapa Purba memeluk Rara dari belakang, pucuk kepala sang istri dikecup, kemudian menuju kepada perut jabang bayi yang saat dipegang sangat keras, mungkin karena sebentar lagi mau lahir. Ibarat buah sudah matang, bentar lagi bisa dipetik.
"Kita berangkat sekarang Mas?" tanya Rara yang sudah siap, dia tinggal bawa tasnya.
"Boleh. Ayo."
Mereka berdua keluar dari kamarnya, lalu menitipkan rumah kepada asisten rumah tangga. Kini mereka memiliki dua asisten rumah tangga dan satu security.
Karena rumah itu tidak begitu besar, tidak seperti rumah milik Mona, apalagi dibandingkan dengan rumah Tuan Hartanto, gak ada apa-apanya.
Lagi pula Bu Sugeti juga masih semangat untuk beres-beres rumah, orang tua yang tidak pernah betah kalau berdiam diri. Maka Bu Sugeti meminta pada Rara jangan terlalu banyak asisten rumah tangga, nanti dirinya akan merasa pegal-pegal badannya dan kurang sehat, jika kurang gerak.
Ternyata Purba membawa mobilnya sendiri, tidak bersama Bizar. Seperti biasa, asisten sekaligus bodyguard-nya itu ditugaskan untuk menghandle pekerjaan di kantor, saat Purba tentunya ada keperluan di luar.
"Gimana Mas sama Mbak Mona? Masih uring-uringan terus?"
__ADS_1
"Biasalah, mungkin karena depresi terlalu mendambakan momongan."
"Mas sudah membicarakan ke spesialis kandungan? Bukankah dulu mbak Mona sempet hamil. Kenapa sekarang sepertinya sulit?"
"Entahlah, mungkin karena dia terlalu kecapean. Kan dia mengurus perusahaannya sendiri saat ini."
"Atau mungkin Masnya yang terlalu fokus ke sini, sehingga apa yang Mas berikan kurang maksimal buat Mbak Mona, kasihan loh Mas."
Maksud Rara adalah saat Purba berhubungan suami istri dengan Mona, dia dalam keadaan tidak sepenuhnya mengerjakan hal itu. Berpengaruh pada ****** subur dan tidaknya. Menurut keterangan Dokter juga, keadaan yang lelah, stres, dapat mempengaruhi kualitas sper-ma."
"Sudahlah, jangan membahas hal itu. Saat aku merasa penat di sana. Aku ingin di sini baik-baik aja," ucap Purba. Dia malas membahas rumah tangganya bersama Mona.
"Iya maaf Mas. Aku cuma prihatin aja, sesama wanita dan aku juga jadi tahu, berarti keadaan Mas masih mendapat suasana tidak nyaman di sana. Karena keadaan Mbak Mona."
"Ya begitulah. Ya udah... saatnya aku disini berarti fokus pada rumah tangga kita aja."
Rara mengangguk dan tersenyum, dia menyandarkan kepalanya di bahu Purba walaupun sedang menyetir. Namun, itu tidak mengrganggu. Rara kemudian mengusap-ngusap lengan Purba, pertanda agar Purba jangan dibikin beban, masalah apapun yang sedang dihadapi harus mendapat support.
***
"Anak-anak, sekarang kita akan pergi berkunjung ke sekolah teman-teman kita, yang ada di daerah ya.... Boleh bawa tasnya masing-masing, karena dari sana kita akan langsung pulang. Dan sekarang kita akan naik bis sekolah."
Seorang guru, membimbing murid-murid kelas satu untuk berangkat ke pinggiran kota Jakarta, untuk berbagi. Ini adalah kegiatan rutin bagi murid baru untuk diajarkan bersosialisasi dan peduli sesama.
Bu Guru juga sudah mensurvei sekolah tersebut, ternyata masih banyak anak-anak yang bersekolah dengan perlengkapan seadanya dan kekurangan. Baik dari finansial ataupun dukungan keluarga.
Keluargs mereka rata-rata perantauan, makanya fokus ke Jakarta untuk kerja. Hingga lupa bahwa mendidik anak juga harus utama.
Juga rata-rata orang tua mereka bekerja semua dari pagi sampai sore, sehingga terkadang anak-anak yang sekolah atau pun tidak, jadi kurang pengawasan, malah ada yang masih kecil sudah mengikuti jejak orang tuanya, untuk mencari uang. Diajakin sekolah bilangnya, kasiha ibu dan bapak.
Yang berangkat hanya murid kelas satu, dengan jumlah kurang lebih 70 siswa, karena dari seluruh kelas yang jumlahnya ada empat ruangan.
Sesampainya di sekolah yang dituju, para murid dari sekolah Azka berbaris dengan mereka.
Kemudian masuk ke halaman sekolah yang dituju secara teratur, di lapangan depan sekolah sudah terlihat murid-murid yang akan kita kunjungi, sudah berbaris juga.
Jadi saat murid yang berkunjung masuk gedung, mereka harus bersalaman satu persatu hingga akhirnya nanti berkumpul semua di tengah lapangan.
Wajah mereka semua gembira, baik yang dikunjungi dan mengunjungi. Mereka senang melihat banyak teman-teman sebaya berkumpul di sana
Namun, saat Azka menyalami salah satu murid dan posisinya sudah terlewat, dia mundur kembali seperti ada sesuatu yang pernah dia lihat.
__ADS_1
"Azka! Apa sih. Kakiku keinjek tahu," ucap salah satu murid yang berdiri di belakang Azka. karena Azka mendadak mundur, dia ingin memastikan apa yang dilihatnya benar atau tidak.
Bersambung....