Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Mulai Dapat Perhatian


__ADS_3

“Kalau itu, saya tidak bisa memilih Bu. Apalagi kalau dipandang dari segi kesehatan.”


“Maksudnya?” Mona gak paham, tiba-tiba Mbak Idah bahas kesehatan.


“Gini Bu, Mbak Idah kan kalau lagi santai suka ngebuka kontennya yang membahas rumah tangga tuh, katanya kalau kita terlalu dapat tekan bakalan terganggu mental juga.


Tapi kita juga harus ada aturan untuk membuat suami tidak risi, ke kita. Karena dikit-dikit protes, jadi Mbak Idah nggak bisa menjawab kalau harus memilih dilampiaskan atau dipendam.”


Mona menyimak dengan baik perkataan Mbak Idah, dia jadi ingat dengan Mamanya.


“Tapi, kalau memang rata-rata seorang istri memendam perasaan, begitu pun dengan mamaku ya Mbak? Dan Mama sepertinya baik-baik saja sekarang. Apa mungkin aku yang nggak tahu, di dalam hatinya mama seperti apa.


Aku juga harus seperti mama kali ya Mbak? Soalnya yang aku rasakan saat sedikit-sedikit marah, tidak mau menerima saran dari orang lain, rasanya sama aja sakit, Mbak. Bedanya kalau menahan perasaan itu sakit campur sedih, tapi kalau kita sering marah-marah, sensitif, tidak mau diingatkan, bawaannya pengen emosi terus Mbak, gelisah, semuanya rasa sakit ada.”


Mona jadi tidak risi lagi kalau curhat dengan asistennya. Meski Mbak Idah sekarang tidak punya suami, tapi dia sempat mengalami Lika liku rumah tangga. Suami Mbak Idah meninggal karena sakit parah. Dan Mona merasa Mbak Idah sosok yang sabar, tak pernah kelihatan murung, padahal masalahnya pasti ada.


“Nah, kalau Ibu udah ngerasain gitu, menurut Mbak Idah sih, mending sabar aja Bu, Apalagi sabar dapat amal juga sama-sama sedih. Saat kita marah, kesal, bawaannya sedih juga, eh malah nggak di  gubris sama suami, malah kita jadi cekcok.


 Tetapi kalau setiap masalah kita bikin sabar, meskipun sakit semoga jadi pahala.  Semoga suami kita nanti lama-lama luluh.”


Mona mengangguk, mengerti akan penjelasan dari Mbak Idah barusan. Semakin yakin saja Mona merubah perilakunya menjadi istri yang sesungguhnya. Pemahaman dari mamanya dan sekarang dari Mbak Idah semakin dapat support bahwa keputusannya saat ini adalah yang terbaik.


**#


Purba sudah turun dengan pakaian kantor seperti biasa, pula sudah menenteng tas. Dia berjalan ke meja makan.


“Mama, belum ganti pakaian? tanya Purba.


Mona yang sedang mencuci piring menoleh.


“Kenapa Pa?” sahut Mona. Kemudian kembali sibuk mencuci piringnya.


“Bukannya mama mau ke kantor?” tanya Purba.


“Mungkin tidak dulu.”


“Kenapa?’

__ADS_1


“Sebelum mama hamil lagi, kayaknya tidak dulu deh, Pa.”


“Katanya mau menggantikan Rara, nanti siapa yang memegang posisi sekretaris?”


Mona diam, dia bingung mau menjawab apa. Satu sisi dia senang Purba menyapanya duluan pagi itu, bahkan menawarinya untuk pergi ke kantor, tapi satu sisi dia masih dongkol atas perlakuan purba yang semalam.


Mona ingin bersikap manja dan jual mahal di depan Purba, seperti kebiasaan wanita lain. Wanita anggun, manja, mencoba menarik perhatian suaminya, tapi Mona tidak yakin hal itu dapat berhasil pada dirinya. Salah-salah malah sakit hati lagi, karena Purba cuek.


Mbak Idah yang masih berada di area dapur, keluar sebentar mengerjakan pekerjaan yang lain. Padahal dia tidak ingin ada di antara suami istri yang sepertinya sedang ada perang dingin.


Mbak Idah bisa menyimak dengan baik mata majikannya sembab, hanya saja Mbak Ida tidak banyak bertanya, dia paham sebagai seorang istri.


“Papa kalau mau berangkat, berangkat aja. Mama mau merapikan kamar,” ucap Mona.


Mona mencuci tangannya, langsung berlalu menuju kamar. Namun saat melewati meja makan, Purba menariknya.


Kini posisi purba berada di belakang Mona, dengan tangan Mona masih dipegang Purba.


“Mama semalam menangis?” taya Purba. Dia yakin bahwa istrinya habis nangis semalam. Karena pagi ini mata Mona terlihat membengkak, meski disamarkan dengan make-up, masih kentara. 


Namun, hal itu sangat sulit dilakukan. Karena bagaimanapun hubungan yang tidak muncul dari hati itu sulit untuk bersikap seadanya.


“Maafkan Papa, kalau mama merasa sakit hati. Ini,” kata Purba, kemudian dia menyodorkan ponselnya pada Mona.


Mona menatap ponsel itu dengan sudut matanya, karena posisinya masih membelakangi purba. Mona harus cepat berpikir. Apakah diambil ponsel itu atau tidak?


Kalau diambilnya ponsel itu, dia merasa seakan-akan terlalu kekanak-kanakan. Hanya karena ingin ponsel suaminya dibuka kuncinya, Mona sampai marah, tapi satu sisi dia juga penasaran.


‘Mengapa Mas Purba menuruti apa mauku? Tapi aku gengsi kalau harus menerima ponsel itu sekarang. Soalnya Mas Purba seperti tidak sungguh-sungguh.


Jika Mas Purba merasa bersalah, harusnya samperin tadi saat aku cuci piring, meluk dari belakang, ini malah enggak, tapi dengan dia mau minta maaf itu udah lebih baik sih,' batin Mona, dia bingung sendiri.


“Aku mau ganti baju, mau ke kantor,” ucap Mona, ditepiskan tangannya.


Purba pun tidak mengejarnya, biarlah dia menunggu istrinya berganti pakaian, sambil dirinya melanjutkan makan.


“Fira, nanti sediakan meja sekretaris di ruanganku,” Purba mengirim pesan kepada Vira, karyawan kepercayaannya.

__ADS_1


 


**#


Mona sudah siap berangkat ke kantor, dia hanya meminum susu yang sudah tersedia di meja, tidak pun berkata apa-apa saat dia berhadapan dengan Purba.


“Ayo Ma. Sudah selesai?” tanya Purba  mengajak Mona yang sepertinya hanya meminum susunya saja, tidak akan sarapan.


Mona berdiri dan berjalan menuju mobil, dia tidak menunggu Purba mengajaknya lagi atau menggandeng tangannya, meski itulah yang diinginkannya.


Berat sekali Memang mencari perhatian suami, hati Mona masih dongkol.


Sepanjang perjalanan Mona tidak banyak bicara, begitu pun Purba bingung mau memancing obrolan apa dengan Mona. Sungguh sulit sekali buat Purba untuk memanjakan Mona.


Ini membuktikan semenarik apa pun fisik, tidak akan mampu meluluhkan perasaan. Terlebih kenyamanan itu sulit diciptakan jika tidak timbul sendiri dari hati.


Berkali-kali Purba menatap Mona dengan sudut matanya, tidak ada yang kurang dari istrinya ini. Bahkan perilakunya sudah banyak berubah, tapi mengapa Purba belum bisa membuka hatinya untuk Mona?


Sampai kantor purba turun terlebih dahulu dia tidak langsung menuju pintu masuk, dia menunggu Mona turun, diulurkan tangannya pada Mona.


Mona tak menyangka Purba akan berbuat seperti itu. Mona menatap, Purba pun mengangguk yang menandakan dia ingin menggenggam tangannya. Akhirnya Mona meraih uluran tangan Purba, mereka berjalan masuk ke kantor dengan bergandengan dengan tangan.


Beberapa karyawan menyapa pasangan suami istri bos tersebut. Ini adalah pemandangan yang langka, bahkan mungkin baru pertama kali mereka lihat Purba dan istrinya begitu kompak hari ini. Meskipun dalam wajah mereka tidak tersirat kehangatan atau keceriaan, mereka sama-sama memasang wajah kaku.


 


**#


Sementara itu di kantor cabang Bonafit Tekstil tempat Rara bekerja saat ini, dia diperkenalkan oleh Pak Yanto, direktur di sana.


Karyawan di cabang ini cukup persahabat, mereka tidak separah di kantornya Pak Dahlan ataupun di kantor pusat tempat Purba memimpin.


Rara tahu video perseteruan dirinya dan Mona tersebar di seluruh kantor Boanfit Tekstil, tapi di kantor ini dia merasakan seakan isu itu tidak ada, mereka semua menyambut Rara dengan baik.


 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2