
Bab152
"Bagaimana kalau Ibu aja sama Azka yang ke Jakarta? Dia kan masih TK, nggak jadi masalah keluar sekolah duluan. Lagian tinggal nunggu wisuda." Lena malah balik memberi saran.
Sambil berbincang bahasan yang lain, Rara sambil berpikir. Mungkin benar juga saran dari Lena. Tadinya sekolah Azka yang mau dipertahankan karena sebentar lagi mau wisuda tapi malah Lena yang mau diajak ke Jakarta dan harus nunggu setahun lagi. Rara sungguh bingung harus bagaimana.
"Ya udah kalau kayak gitu nanti Mbak pikirin lagi ya, tapi tolong sampaikan pada ibu, siapa tahu ibu punya jalan keluar," pinta Rara.
"Iya Mbak, hati-hati ya. Maaf belum bisa memutuskan, Lena benar-benar bingung."
"Iya, nggak jadi masalah. Tenang aja. Sekolah itu kan nomor satu, nggak usah terlalu dipikirin. Jangan lupa pesan Mbak barusan. Ya udah ya, salam buat ibu, Mbak mau lanjut beres-beres, rencana sore ini udah harus langsung pindah semua barang ke toko."
"Iya Mbak, semoga urusan mbak lancar dan Mbak juga jaga kesehatan ya."
Panggilan pun ditutup, Rena yang saat itu masih ada di sekolah sedang istirahat.
***
Mungkin hari pertama Rara akan ditemani oleh Vira, nanti dia akan berbincang dengannya. Siapa tahu ada orang yang mau menemaninya sekaligus mungkin bisa jadi karyawannya nanti. Sekalian aja Rara mempersiapkan untuk tokonya dan beberapa karyawan, lalu langsung praktek besok karena perlengkapan sudah ada semua di toko tersebut.
Akhirnya dari siang itu Rara sibuk ditemani bu RT yang sudah datang, tadi dikirim pesan oleh Rara.
Akhirnya semua barang-barang sudah ada di teras rumah, untungnya cuaca bagus tidak mendung apalagi hujan. Tidak banyak barang-barang karena Rara di sana juga belum ada setahun, tidak ada kursi atau peralatan rumah tangga yang berat lainnya.
Hanya tiga dus besar berisi alat elektronik seperti magic com, setrika, televisi, sendal sepatu, karpet, perlengkapan mandi seperti ember, gayung dan sebagainya. Serta satu kasur busa dan dua koper pakaian, hanya itu saja..
"Ibu mau menemani saya di tempat baru?" tawar Rara kepada Bu RT.
"Waduh, senang sekali kalau diajak ke sana, tapi sayangnya bapak suka nggak mau ditinggal lama, hihi," Bu RT malah ketawa, merasa malu.
"Oh iya ya, Bapak memang romantis ya Bu," Rara merespons dengan kikikan.
"Hahaha, biasalah. Anak-anak kami udah gede, apalagi kalau kesibukan di rumah bukan kami berdua saling menemani."
__ADS_1
"Iya, ya Bu. Kalau gitu lain kali mampir ke toko saya, bersama Bapak ajak sekalian."
"Nama tokonya apa? Biar nanti mungkin kebetulan lewat, pasti mampir."
"Untuk nama belum di ada Bu, tapi Nanti insya Allah saat pembukaan pertama saya beritahu semua komplek sini, saya bagi - bagi buat nyicipi dan kalau cocok, bisa datang langsung ke toko buat borong, hehe."
"Kalau gitu, Ibu dioakan semoga usahanya lancar, sukses ya...," ucap Bu RT, mengusap lengan Rara.
"Aamiin. Terima kasih Bu.'
Mobil bak terbuka yang akan mengangkut barang-barang Rara sudah datang. Barang-barang dinaikkan ke atas mobil hanya berdua oleh sopir dan kernetnya, sedangkan Rara hanya membantu beberapa barang yang kecil.
Beberapa tetangga datang untuk melihat Rara yang pindahan, termasuk Bu Molly. Dia seperti tidak merasa berdosa ikut bergabung di sana.
Bu Molly yang sebenarnya masih kesal dengan Rara, karena dramanya tidak berhasil. Tentu saja dia berada di sana pun hanya untuk mengorek informasi yang nanti akan diserahkan pada Gandi. Dan untungnya Rara tidak menyebutkan alamat toko kuenya, bisa jadi Gandi menyusul ke sana.
Tapi nanti saat sudah ada teman dan beberapa karyawan di sana, Rara tak masalah jika alamat toko kuenya diketahui orang di kompleks. Karena kalau dia berjualan dengan alamat yang rahasia, gak mungkin. Siapa yang akan mampir?
Akan tetapi untuk sementara saja, Rara tidak membocorkan alamat toko tersebut.
Rara sengaja tidak menghubungi Purba, takut merepotkan. Karena tadi Purba baru pulang siang, masa sekarang Harus dipanggil lagi?
Akhirnya Rara hanya mengirim pesan
"Mas Fira sudah siap? Aku sudah ada di tempat."
Kebetulan Purba sedang ada di toilet, ponsel yang terletak di meja diambil oleh Mona karena ada pesan masuk. Setelah dilihat ternyata dari nomor yang tidak ada namanya.
"Dari siapa ini? Cari Fira? Eh, tapi kok manggilnya Mas? Apa bener buat Mas Purba. Ini buat Fira staf kantor ini apa bukan? Orang salah kirim, atau ...?"
Mona terus saja menduga-duga. Ada urusan apa dengan Fira? Kenapa menghubungi ke suaminya? Jika ada urusan pribadi tentang Fira, kenapa harus ke atasan? Tapi jika urusan kantor, kenapa Mona sebagai sekretaris tidak tahu?
Banyak sekali tentang urusan kantor yang Mona tidak tahu, padahal dia adalah sekretarisnya.
__ADS_1
"Kenapa Ma?" tanya Purba yang melihat Mona sedang menyimak ponselnya.
"Nggak tahu Mas, nggak ada namanya, tapi nanyain Vira. Apa Mas ada janji dengan seseorang yang berhubungan dengan Fira?" tanya Mona.
Purba terhenyak, dia baru ingat pasti itu pesan dari Rara. Ini sudah sore, mungkin Rara sudah selesai merapikan barang-barang. Sebelumnya kan Purba berjanji akan membantu saat sudah di toko.
Purba langsung berjalan ke mejanya meraih ponsel tersebut, benar saja itu dari Rara.
Mona menginterogasi kembali suaminya karena rasa penasaran.
Bukankah aneh? Orang sepenting Purba, seorang pengusaha yang tentunya berhubungan dengan banyak orang. Baik itu klien dari perusahaan lain, dari sponsor, dari para influencer dan beberapa instansi, tapi Purba masih tidak menyimpan nomor seseorang yang berhubungan dengannya? Itu sungguh tidak mungkin.
"Udah deh Ma, sehari ini mama menyelidiki Papa, seakan-akan aku ini penjahat."
"Bukan gitu Mas, nggak masuk diakal kan? Kalau kamu sampai lupa menyimpan nomor klien kamu yang penting."
"Makanya Ma, nggak usah buka-buka ponsel Papa jika pikiran Mama overthinking terus. Hanya karena kesalahan nggak sengaja, lupa belum memberi nama kontak ponsel aja jadi masalah panjang."
Lagi-lagi Mona hanya tarik nafas dan mengalah, memang mungkin saja dirinya yang salah terlalu posesif.
"Aku mau ke Vira dulu," ucap Purba, tanpa menghiraukan Mona yang sedang merenung. Memikirkan apakah benar dirinya terlalu posesif atau memang Purba yang mulai berbuat curang.
Bizar yang masih anteng di meja kerjanya disoroti tatapan oleh Mona, dia ingin bertanya banyak hal pada Bizar, meskipun tak yakin jawabannya akan memuaskan. Tentunya Bizar akan menutupi kalau memang Purba ada rahasia.
"Ah sudahlah, percuma," gumam Mona. Dia lanjut mengerjakan tugasnya lagi.
Bizar merasa bahwa Nyonya Bosnya sedang galau. Dia juga peka, sebenarnya Mona barusan menatap dirinya. Namun, Bizar berusaha memasang gerak tubuh biasa saja. Dia tetap fokus pada layar laptopnya.
***
"Sayang ... nanti aku cari waktu untuk ke situ. Sambil mengantar Fira." Pesan yang dikirim Purba pada Rara.
Bersambung....
__ADS_1
Readers, maaf ya. Jangan bingung penulisan Vira atau Fira, itu orang yang sama. Otor buru-buru nulis kadang asal klik autotext, biar cepet. Kejar up. Thx