
Bab164
“Mas, aku ada pertemuan klien di restoran. Mungkin pulang malam,” ucap Mona saat Purba baru pulang dari kantor pukul empat sore.
“Dengan siapa saja?” tanya Purba, sambil melonggarkan dasinya.
“Tentunya dengan sekretaris.”
“Dijemput atau sopir sendiri?” tanya Purba lagi.
“Sama supir dong, Mas. Takut kemalaman pulangnya.”
“Ok, hati-hati. Sukses ya.” Purba memberikan dukungan pada Mona.
Sebelum berangkat, Mona menyempatkan untuk memeluk suaminya dan mengecup kedua pipi. Begitu pun Purba membalas dengan hangat.
Mengapa Purba masih bersikap hangat pada Mona?
Bukan Purba tidak tegas, selagi Mona tidak membuat ulah, dia juga tak bisa gegabah. Walau sudah ada teror beberapa hari yang lalu, katanya Mona pernah mengandung anak dari lelaki lain. Hanya pesan itu Purba abaikan, karena tidak penting juga. Toh sekarang Mona sudah tidak hamil. Kecuali di tengah mereka ada anak, baru Purba akan menguji DNA anak itu. Anaknya siapa?
Purba dari dahulu tak pernah ambil pusing pada apa yang Mona lakukan. Justru jika Mona berbuat di luar norma, itu menguntungkan buat Purba. Lebih mudah memberi alasan untuk Purba pergi.
Beda halnya pada Rara, wanita yang dicintainya dari hati. Maka, Purba akan lebih posesif pada Rara. Bahkan ada pria yang hanya bicara pada Rara, Purba akan langsung menginterogasi asal usul pria itu dan apa yang dibahas.
Ingat kan, saat Rara berbicara pada seorang pria melambai saat di kantor cabang?
Sore ini pun, Purba diuntungkan saat Mona sibuk dengan kegiatan kantornya. Karena dia akan ke rumah sakit menemani Rara melahirkan.
Purba beruntung memiliki istri Rara yang tidak pernah menuntutnya lebih. Saat ini pun Rara tidak mengharuskan Purba ada di sampingnya saat melahirkan. Rara ingat pesan orang tua, kalau lagi hamil jangan asal bicara, nanti suka kejadian.
Maka, jika Rara meminta saat lahiran ingin ditemani Purba, lalu kalau saat itu Purba sedang tidak bisa bagaimana? Kata orang tua, nanti bayinya akan sulit lahir. Karena menunggu orang yang dijanjikan akan menemani.
Maka Rara tak berharap banyak, suaminya mendampingi atau tidak saat dirinya melahirkan.
__ADS_1
Pukul lima sore, Rara semakin merasa desakan dari dalam perutnya, sepertinya memang sudah waktunya melahirkan. Azka merasa panik, dia kasihan lihat ibunya yang berkali – menarik napas, seperti sesak.
Anak kecil belum pandai mengartikan reaksi orang yang mau melahirkan. Padahal, Rara termasuk tenang, hanya reaksi biasa, tarik nafas dan menghembus secara teratur. Hanya saja karena keringat di kening Rara, membuat Azka merasa ikut tegang dan sakit.
Azka melihat ibunya dibawa oleh para perawat ke ruang bersalin. Dia memeluk neneknya karena takut, mungkin ikut tegang karena kondisi ibunya.
“Bu. Bagaimana kondisi Rara.” Purba tiba-tiba datanglah dengan nafas masih ngos-ngosan. Rupanya dia mengejar waktu, saat Mona pergi, dia dengan segera meluncur ke rumah sakit.
“Kata Dokter kondisinya baik, aman untuk melahirkan. Sekarang sedang dibawa ke ruang bersalin.”
“Azka kenapa?” tanya Purba yang sudah lega mendengar penjelasan Bu Sugeti. Kini malah cemas karena melihat anak sambungnya yang berderai air mata.
Azka malah makin menangis, ditanya seperti itu oleh Purba. Tangan Azka merentang, dia meminta digendong oleh Ayahnya. Purba mengambil alih memangku Azka dari Bu Sugeti.
“Tadi Azka kasihan melihat ibunya, jadi dia nangis. Ikut tegang mungkin,” jelas Bu Sugeti.
Purba kemudian menenangkan Azka, memberi pengertian bahwa itulah perjuangan seorang ibu, makanya kita harus menghargai wanita terutama hormat dan patuh para ibu. Karena itulah surga di bawah telapak kaki ibu, karena saat melahirkan kita, taruhannya nyawa.
***
“Ayah kamu pulang jam berapa?” tanya Bu Heti, saat di rumah kontrakan Gandi, tepatnya sedang berbincang dengan Azkia.
“Kadang sesudah magrib, kadang malam sekali.” Azkia menjawab dengan wajah lesu.
“Kamu udah makan?” tanya Bu Heti lagi.
Azkia hanya menggeleng.
“Tapi Ayah kasih uang buat makan?”
Azkia mengangguk.
Bu Heti membujuk Azkia untuk berkata jujur, sebenarnya apa yang sedang Kia alami? Bu Heti meski bukan orang tua kandung, dia peka dengan keadaan Kia yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Tadinya Kia tidak ingin mengatakannya, takut Bu Heti tidak bisa menjaga rahasia. Takut nanti malah Bu Heti bilang sama ibunya, alamat Kia yang baru.
Azkia walaupun masih kecil, dia paham dan merasakan. Bahwa dulu saat ibunya sering menemui Azkia ke kontrakan yang lama, pasti karena berkomunikasi dengan Bu Heti. Padahal waktu itu, Kia sudah berusaha selalu waspada jika Ibunya datang. Namun, selalu saja dia tidak tahu tiba-tiba ibunya datang saat lengah.
“Tapi yang tadi benar saudara kembarmu?” tanya Bu Heti, memastikan.
Sepertinya Azkia juga ada rasa malas membahas saudara kembarnya, tapi dia juga ingin menceritakan karena berat rasanya menyimpan rahasia sendiri.
“Lalu, kenapa kamu tidak bersikap baik pada?”
Azkia diam saat Bu Heti bertanya, Azkia sulit menjawabnya. Namun, Bu Heti bisa memahami kebingungan Azkia. Dia kemudian menasihati, jangan menyamakan semua orang itu dengan hati yang sama juga. Bahkan kita harus bisa memisahkan pemikiran yang berbeda-beda untuk setiap orang, meski mereka orang dekat sekalipun, tak harus kita benci semuanya.
Siapa tahu, dengan adanya Azka, bisa membuat Azkia tahu hal yang sebenarnya. Bu Heti juga mengingatkan, betapa jahatnya Gandi pada Rara. Azkia sendiri yang menjadi saksi kejadian itu.
Bukan berarti Bu Heti memengaruhi anak kecil untuk membenci sang ayah. Tapi, Bu Heti hanya ingin membuka fakta, agar Azkia tidak salah memilih masa kecilnya pada tempat yang buruk untuk mas depan.
“Kamu mengerti, Nak? Mungkin kamu masih sangat kesal sama Ibu. Tapi cobalah, jangan jauhi saudaramu. Dengar hati kecilmu, sebenarnya kamu rindu ibu kan? Hanya karena kamu ragu, bingung, mana yang benar dan salah, jadi kamu merasa semua meninggalkan.”
Azkia masih diam, entah dia sedang mencerna perkataan Bu Heti, entah sedang tak ingin berkata-kata atau masa bodoh tak ingin mendengar.
Baiklah kalau begitu, ini sudah terlalu sore. Ibu pulang dulu ya. Bersyukur kalau kamu memikirkan kembali apa yang kamu perbuat. Jika kamu ingin tetap seperti ini, itu adalah hak kamu Ibu, tidak bisa memaksa.
Bu Hetty kemudian keluar dari kamar kontrakan, tentu bersama suaminya. Bu Heti tidak lupa mengecup kepala Azkia sebagai tanda perpisahan.
Azkia, meskipun dia diam saja, tapi sempat meraih tangan Bu Heti untuk mengecup sebagai tanda hormat, begitu pun kepada suami Bu Heti.
Sepenggal Bu Heti dan suaminya, Azkia terus saja melamun. Meskipun dia beraktivitas menyapu merapikan pakaian, tapi tatapannya entah ke mana, pemikirannya terus berputar.
Bersambung....
__ADS_1