Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Penyelidikan


__ADS_3

Bab 119


***


Rara merasa lega setelah kepergian Mona dan Purba. Akan tetapi konsentrasi bekerjanya menjadi buyar. Kenapa akhir-akhir ini dirinya merasa lemah sekali? Dulu saat di kantor pusat dia siap bersaing dengan Mona. Untuk menunjukkan sapa yang sebenarnya diprioritaskan oleh Purba.


Namun, saat ini entah karena banyak sekali hal pribadi yang harus dipikirkan, salah satunya mengenai Gandi. Tidak dipungkiri setiap harinya Rara merasa was-was, bahkan kerja hari ini pun merasa tidak jelas hasilnya.


Tiba-tiba ada seseorang mengetuk-ngetuk mejanya dengan kuku jari nan lentik, karena tidak menyadari, jadinya Rara tetap mengetik pada keyboard laptop, dengan matanya fokus ke layar, tapi pikirannya terpecah. Tatapan Rara seakan mengambang. Setengah mikirin kerjaan, setengah lagi entah ke mana.


"Hei, fokus amat kerja?" Doni menyentuh bahu Rara.


"Kamu Don? Sejak kapan?" tanya Rara


"Sejak tahun kemarin! Lagian dari tadi aku di sini. Emang gak kedenger ya? Jari lentik aku ini ngetuk-ketuk meja dari tadi?" sewot Doni.


"Sorry." Dengan enteng, Rara hanya meminta maaf.


"Kenapa sih kayak lagi banyak masalah gitu?"


"Nggak ada ini cuma mau beresin buat laporan akhir bulan aja, kan ini minggu terakhir aku di sini."


"Jadi beneran gosip itu?" Doni sedikit histeris.


Cowok gemulai pemilik hati sensitif itu, cukup terkejut. Dia pikir hanya gosip.


"Gosip?" Rara tak mengerti.


"Ya, orang-orang udah pada tau, kamu akan resign. Kenapa sih? Padahal enak kalau kerja di sini. Kurang ya gajinya? Udah ada tempat yang baru ya? Gajinya gede ya? Kasih tahu dong, aku ikut," ucap Doni begitu bawel.


"Nggak ada, aku cuma mau usaha sendiri aja. Ini juga siapa tahu berkembang, meskipun sama aja pusing, kalau usaha sendiri pasti semangatnya beda," ucap Rara jujur akan rencananya.


"Usaha apa tuh? Ikutan dong."


"Toko kue. Kamu bisa bikin kue? Boleh aja kalau mau gabung."


"Kalau bikin kue, aku nggak bisa. Tapi kan bisa ngurusin administrasinya. Hehe."


"Tapi nanti ya, kalau udah jelas usahanya maju. Kasihan kamunya, di sini dapat gaji gede di tempatku percobaan, hihi," ucap Rara dengan tawa kecil

__ADS_1


"Ya udah, yuk istirahat. Semoga usaha kamu lancar. Apa pun keputusan kamu, semoga itu yang terbaik."


"Iya... aamiin."


Tak lama, beberapa teman lain datang menghampiri Rara untuk istirahat bareng.


**#


Sementara itu Mona makan siang di cafe bersama Purba dan Bizar, seperti biasa dia suka memisahkan diri apalagi kalau Purba bersama istrinya. Bizar akan berada di meja yang terpisah.


"Mas, aku ingin tahu waktu tuga bulan yang lalu kamu keluar kota, kan? Itu loh, yang katanya ngurusin proyek sama siap gtu. Proyek apa ya?"


Mona tiba-tiba menanyakan sesuatu hal yang di luar dugaan Purba. Padahal tidak ada untungnya bagi perusahaan membahas kegiatan yang sudah berlalu.


"Kenapa Ma? Ada masalah, kah? Perusahaan kelihatannya lancar aja deh," ucap Purba, belum memahami maksud Mona bertanya.


Purba merasa dirinya aman-aman saja. Padahal Mona diam-diam sedang menyelidiki kejujuran Purba. Dia punya firasat kuat dan perasaan sangat yakin.


Mona sadar, dirinya juga bukan istri yang baik sejauh ini. Namun, dia sedang berusaha merubah diri, memperbaiki nilai rumahtangganya.


"Ya, Mama ingin tahu aja. Emangnya nggak boleh? Mama hanya ingin tahu detail, Pa. Bagaimana detailnya tentang perusahaan milik orang tua sendiri, kan itu hak Mama juga," Mona mencoba membuat Purba paham.


"Bukan gitu, Pa. Mama hanya ingin tahu aja, soalnya saat aku mengedit manajemen kantor pusat, tidak ada proyek atau event apa pun yang berhubungan saat tiga bulan yang lalu.


Kemudian aku langsung ingat, saat Papa tiga bulan yang lalu keluar kota. Cuman gitu aja. Pengen penjelasan dari Papa, apakah lupa dibuat berita acara, bukankah keluar masuknya uang harus dicatat untuk proyek apa atau mungkin ada event. Kegiatan kantor juga harus jelas tertulis susunan jadwalnya."


 Mona tak bisa kalah hanya karena Purba berusaha membuat Mona tersudut, dengan menyangka tak percaya pada kinerja suaminya


"Papa lupa Ma, udah tiga bulan yang lalu. Udah lama. Yang penting tidak ada masalah kan? Keuangan juga stabil." Purba mulai bisa tenang lagi.


"Iya sih, tapi tiga bulan yang lalu masa lupa. Coba Papa, ingat-ingat. Aku aja masih ingat setelah acara sosial sosialita, terus event tema Nusantara, Papa masih inget juga kan? Nah, tuh aku aja ingat. Padahal udah hampir 6 bulan lalu loh, Pa."


"Mama... aku ini banyak urusan, banyak meeting sana-sini, ngurusin ini itu. Ya mungkin orang yang menyimak akan lebih detil perhatiannya daripada yang ngejalanin. Yang menjalani itu pusingnya minta ampun, kadang nama hari aja sampai lupa, yang di inget cuma kerja, kerja, kerja," ucap Purba masih bisa mencari alasan.


"Oh ... ya udah. Jadi bener-bener nggak inget ya Pa?"


"Iya, kalau nggak ingat ya nggak ingat. Mau gimana lagi," ucap Purba memastikan.


'Fix jika begitu, Mas purba memang berbohong,' ucap Mona dalam hati.

__ADS_1


'Aku harus mengorek keterangan dari Bizar, meskipun gak yakin Bizar akan jujur. Aku tahu Bizar akan lebih membela Mas Purba daripada menjawab apa yang akut tanyakan. Tak ada salahnya aku coba nanti,' batin Mona lagi.


'Aku harus cari akal, pada siapa lagi bertanya untuk memastikan kecurigaanku, tiga bulan yang lalu kemana Mas Purba?' Mona masih sibuk dengan duga dugaan dalam hatinya.


Pelayan datang, kemudian Mona dan Purba menyantap makan siangnya. Bahasan mereka sudah berubah menjadi bahasan umum dan Mona pun cukup untuk menyelidiki suaminya.


Mona tidak ingin ketahuan karena terlalu agresif menanyakan hal-hal yang sudah berlalu. Biar sisanya Mona menunggu bukti yang akan muncul kembali.


Ke depannya Mona tetap bersikap biasa saja, dia tetap ke kantor, di rumah pun biasa saja tidak ada yang berubah, baik agresifnya dalam melayani Purba, lalu semangatnya tak berubah untuk menjadi istri yang baik.


 ***


Kontrakan.


Saat malam hari Azkia yang melihat ponsel ayahnya tergeletak di atas meja, timbul niat ingin mencari nomor ibunya atau siapapun yang ia kenal, bisa jadi tantenya, Lena.


Azkia harus bisa jauh dari ayahnya, dia sebenarnya lelah terus bersabar dan bertahan. Bahkan usianya sekarang udah hampir enam tahun, dia harus sekolah. Azkia ingin seperti teman-teman yang lainnya.


Beberapa kali dilirik ayahnya yang sedang tertidur, takut ketahuan bisa-bisa fatal.


Azkia sudah berhasil meraih ponsel itu, dinyalakannya tombol on off, tapi saat digeser layar...


"Yah ... dikunci," bisiknya pada diri sendiri.


Azkia memiliki pemikiran gimana caranya agar kunci layar ponsel punya ayahnya bisa kebuka.


Azkia teringat pada film Detective Conan, saat cerita seorang penjahat bisa membuka kunci korbannya, dia bisa juga nge-hacke.


"Tapi gimana caranya?" ucap suara batin Azkia.


Imajinasi seorang anak kecil memang terlalu tinggi. Namun, dia serius ingin berusaha mencari nomor orang yang dikenalnya. Ingin bisa membuka ponsel ayahnya itu.


Azkia lama-lama semakin rindu kepada ibunya, saudara kembarnya, meskipun bisa tahan sering kena teguran Gandi terus, tapi sewaktu-waktu dia juga merasa lelah selalu saja menjadi pelampiasan kemarahan ayahnya.


 


Bersambung....


 

__ADS_1


__ADS_2