
Bab121
"Mas! Kenapa bukan Bizar yang jemput? Katanya semua dibantu oleh Bizar dan janji hari ini pun diantar dia. Gimana sih? Akhir-akhir ini rencana kita sering berubah-ubah terus. Kalau kayak gini terus, aku juga jadi kes..."
"Ya? Halo? Halo? T - tunggu sebentar, kamu nelpon lagi di mana? Lagi di jalan ya? Nggak terlalu kedengeran ini. Emang tidak bisa ya komplainnya kamu ajukan ke Pak Baskoro langsung?
Udah empat bulan ini kamu kerja di sana, tapi mengapa masih menanyakan beberapa hal ke saya? Harusnya kamu sudah leluasa komunikasi langsung dengan Pak Baskoro.
Lain kali jika menghubungi saat suasana kondusif, kamu dalam keadaan pulang bukan? Saya tidak bisa mendengar dengan baik."
Purba memotong ucapan Rara dengan sengaja karena takut terdengar oleh Mona meskipun tidak menggunakan loud speaker.
Mona akan merasa curiga, ada apa seorang sekretaris kantor cabang menelepon bos pusat, hanya untuk mengomel. Meskipun tidak akan jelas apa yang dibicarakan orang yang mengomel ditelepon, tapi terdengar dari bicaranya yang tak putus-putus.
Purba juga sengaja merespon panjang, agar ucapan Rara yang masih nyerocos, tertutup oleh suara Purba yang sama-sama bicara.
Saat Purba menerima panggilan, dia memang tidak menggunakan loud speaker, tapi volume yang tidak sempat diturunkannya akan tetap terdengar meski hanya suara rentetan saja bukan dialog jelas
"Pokoknya nanti saya hubungi Pak Baskoro, saya masih di kantor, pekerjaan saya masih banyak."
Purba langsung menutup panggilan itu dia sudah tidak bisa jika mendengar Rara ngoceh lagi, sepertinya wanitanya itu memang sedang kesal.
Kemudian Purba mengirim pesan.
'Di sini masih ada Mona. Kenapa kamu telepon terus-terusan? Kan aku sudah bilang jangan menelpon di jam segini, lagi pula kamu bersama sopir rumah, jangan berkata macam-macam nanti kalau didengar lalu disampaikan pada Mona bagaimana?' pesan Purba pada Rara dan pesan itu langsung dihapusnya.
Purba kemudian mengirim pesan kepada Bizar yang isinya mengatakan bahwa 'Pesan ini hanya pura-pura, kamu respons seakan tugas serius,' setelah dikirim pada bizar tulisan itu lalu dihapusnya dari kolom chat juga.
Kemudian Purba menulis chat lain yang pastinya ini adalah cat drama.
"Bizar, kamu hubungi Pak Baskoro agar menghubungi Rara terlebih dahulu, dia ada kesulitan, tapi katanya sungkan untuk menyampaikan."
Kenapa Purba melakukan drama char itu? Mona pasti melihat setelah Purba menelepon, dia melakukan chat. Mona pasti mengecek ponselnya. Ingin melihat Purba menulis pesan pada siapa.
Kalau ternyata tidak ada pesan yang ditulis, Mona pasti curiga dan ngerti bahwa pesan itu sudah dihapus.
Maka agar Mona tidak curiga, Purba pura-pura menulis pesan pada Bizar dengan perintah pesan tentang Rara dan Baskoro..
__ADS_1
Meski pesan itu adalah pura-pura, tapi Bizar harus merespons dengan serius. Agar Mona percaya. Perintah kepada Bizar untuk drama pun sudah dihapus, jadi hanya terlihat pesan resmi tentang pekerjaan saja.
Purba kembali ke mejanya, dia meletakkan ponsel di atas meja kembali dan melanjutkan tugas yang terjeda.
Tak berapa lama benar saja, Mona membuka ponsel Purba, kali ini ponsel itu sudah tidak dikunci. Karena kejadian waktu lalu saat Mona menuntut hingga marah, hanya untuk ingin tahu isi ponsel Purba.
Karena Mona adalah istrinya, maka Purba sudah tidak lagi mengunci ponselnya agar tidak dipusingkan lagi dengan ocehan Mona yang mencurigai dirinya dengan Rara.
Walau Mona sudah baik, Purba sebagai pria yang tidak suka dengan overthinking perempuan, tetap saja Purba masih mencari aman untuk tidak membuat masalah dengan Mona.
Usaha yang akan dirintisnya dengan Rara baru akan dimulai, masih membutuhkan modal besar. Tetap jaga sumber modal biar aman, meski dia sendiri sebenarnya sudah mampu mengelola usaha sendiri. Namun, Purba berharap, saat waktunya tiba, tidak ada masalah besar.
***
"Selalu saja aku yang mengalah." Rara dengan terpaksa dia pulang membawa perasaan dongkol.
Sampai di depan gerbang rumahnya dia meminta Pak Sopir untuk menunggu.
Karena Rara hanya akan mengganti pakaian lalu keluar lagi ke rumah Retno, mereka berjanji akan belanja bersama. Kebetulan hari besok libur, maka sore ini akan lembur di toko untuk mempersiapkan penempatan alat-alat.
Saat Rara baru beberapa jarak meninggalkan rumahnya, dia melihat seseorang yang seperti sedang berbincang dengan orang yang ia kenal.
Dia melihat dua sosok pria sedang berbincang di dekat pohon tepat di pertigaan, yang satu duduk di motor seperti dia yang mengendarainya, yang satu lagi berdiri di samping orang yang duduk di motor itu.
Rara merasa kenal dengan pria itu, meskipun menggunakan helm tapi kacanya terbuka.
"Tidak mungkin Mas Gandi," gumam Rara.
Dia buru-buru mengambil ponselnya membuka fitur kamera, Rara merekam dengan video, karena tidak sempat memfotonya dalam keadaan mobil tidak stabil, hasilnya akan buram.
"Yakin, ini tuh Mas Gandi. Aku kenal banget kemeja yang dipakainya," gumam Rara lagi.
Setelah selesai merekam, Rara menekan tombol pause pada satu adegan yang menurut dia sangat jelas, lalu di screenshot untuk membuat zoom gambar tersebut.
"Ini jelas memang Mas Gandi," lirih Rara, dengan terus mengamati gambar di ponselnya.
Hatinya kembali bertalu, pemikirannya mulai tidak baik-baik saja. Banyak pertanyaan mau apa dia ke sini? Apakah sama Azkia? Ini adalah suatu bukti yang pasti, bahwa Rara harus hati-hati apalagi Gandi berada di lingkungan rumahnya.
__ADS_1
Kenapa saat mau memiliki kehidupan baru datang lagi cobaan dari masa lalu? Rara jelas ketakutan jika Gandi datang, dia bisa nekat. Apalagi kalau masih ada rasa cinta dan dendam pada Rara.
'Ya Tuhan ... aku mungkin berada di tengah cinta yang salah, tapi aku selalu mengalah. Aku rela mendapat cinta hanya sebelah, meskipun rasanya sakit di nomor dua kan. Namun, ini adalah jalan hidupku.
Tidak ada cara lain untuk melakukan usaha demi keluargaku. Dan usaha butuh modal, sedangkan bekerja di tempat orang lain selalu saja mendapat fitnah, bahkan pendapatan pun tidak mencukupi untuk keluarga.
Ya Tuhan... semoga tidak ada ujian berat saat aku akan merintis usaha ini, semoga kedatangan Mas Gandi hanya sebagai pengingat untukku lebih hati-hati dan mawas diri saja.'
Sepanjang perjalanan menuju rumah Retno Rara terus saja bergumam dalam hatinya, meminta jangan ada rintangan dalam ikhtiarnya untuk memiliki usaha mandiri.
Sesampainya di rumah Retno, Rara buru-buru turun dari mobil, bahkan dia belum sempat meminta sopirnya untuk menunggu sebentar. Meskipun sopirnya akan tahu dia pasti menunggu.
Namun, Rara yang bukan seorang nyonya dia pasti akan lebih menghargai orang-orang yang sama seperti dirinya, yaitu hanya seorang pekerja.
Tapi saking ingin segera menyampaikan berita ini pada Retno, Rara jadi sangat terburu-buru.
"Ret ...! Apa yang kamu katakan benar! Tadi aku melihat Mas Gandi," seru Rara tiba-tiba setelah membuka pintu tanpa mengucapkan salam.
"Tenang dulu, tenang. Apa sih tiba-tiba panik begitu?" ucap Retno yang berjalan dari dapur.
Dia mendengar Rara masuk dengan ucapan-ucapan yang tidak begitu jelas, karena sedang di dapur, maka dari itu menghampiri Rara langsung.
"Tadi aku melihat Mas Gandi di dekat rumah, ini videonya," ucap Rara langsung menunjukkan video itu.
Retno merasa tak percaya, matanya terbelalak, dia langsung meraih ponsel yang diberikan oleh Rara.
"Bener ini yang namanya Gandi? Aku kan belum begitu tahu Gandi yang mana," ujar Retno.
Karena memang Retno tidak begitu mengenal sosok Gandi, mereka satu kampung tapi beda-beda lingkungan atau istilahnya beda blok.
Saat Rara menikah dengan Gandi, Retno sama sekali tidak pernah main ke rumah sahabatnya, hanya saat pernikahan Rara, tapi dia lupa tidak begitu memperhatikan suami Rara saat itu.
"Em ... kalau kamu merasa terancam, aku bingung deh ngasih sarannya. Orang satu-satunya yang bisa melindungi kamu sekarang ya, Purba. Siapa lagi?"
"Tapi aku juga bingung, barusan aku kesal sama Mas Purba. Sebelumnya aku mau minta dia menemani buat belanja keperluan toko, tapi dia benar-benar nggak bisa karena istrinya selalu nempel. Nah, terus sekarang katanya Bizar yang akan menemani, ternyata sopir lain, ini udah disabar-sabarin, tetep aja aku kesel dong, dipermainkan terus. Banyak rencana yang gagal."
"Ya, itu resiko kan? Kamu sudah tahu posisi diri, dan katanya sudah siap menerima semua ini."
__ADS_1
Ucapan Retno sungguh menohok hati Rara.
Bersambung....