
"Eh, maaf Mbak Sinta, kayaknya kalau untuk sepatu kapan-kapan aja deh," ucap Rara menahan malu.
"Kenapa harus kapan-kapan Mbak? Sekarang aja, mumpung Mbak lagi di sini," jawab Sinta.
"Tapi uang saya nggak cukup, nanti saya kembali lagi deh ke sini." Akhirnya Rara berani mengatakan bahwa uangnya memang tidak cukup, bahkan untuk tiga baju saja belum tentu bisa terbayar semua.
"Oh ... masalah itu tenang saja, Pak Purba sudah menitipkan kepada saya, untuk memberikan apa pun keperluan Mbak."
Rara langsung terkejut, lagi-lagi Purba memberikan kemudahan untuknya, apalagi ini soal uang. Kembali Rara semakin takut. Berapa uang yang sudah dikeluarkan Purba?
"Yakin Mbak?" tanya Rara masih merasa ragu, takut semua ini hanya bujukan karyawan butik, agar tokonya banyak barang yang dibeli atau memanfaatkan posisi Purba, mentang-mentang dia banyak uang jadi, karyawan butik ini membujuk Rara untuk belanja apa saja
Sinta hanya mengangguk dengan tersenyum ramah, lalu menyodorkan beberapa sepatu yang menurutnya cocok untuk postur tubuh Rara dan karakternya, tidak terlalu tinggi tetapi tidak juga terlalu sederhana seperti sepatu kantoran karyawan biasa.
Dengan ragu dan terpaksa Rara mengikuti apa maunya karyawan butik tersebut. Sebenarnya bukan terpaksa karena dia tidak ingin, cuman takut, bahwa apa yang diberikan Purba ada sesuatu imbalan yang lebih lagi.
***
Keluarga besar Hartanto berencana untuk berkunjung ke kampung tempat orang tuanya Purba, yaitu di daerah Gedong Jengger, sebuah kampung di pelosok Jakarta.
Purba setuju dengan rencana ayah mertuanya, dia sudah rindu sekali kampung halamannya. Sudah hampir setahun juga dia tidak pulang ke sana semenjak menikah dengan Mona, bahkan orang tuanya pun tidak pernah ke Jakarta lagi. Memang alasannya sibuk mengurus beberapa hektar tanah dan sawah di kampung.
Akan tetapi Purba yakin bukan karena hal itu, orang tua purba masih merasa canggung kepada keluarga Hartanto, meskipun mereka sudah besanan, tapi orang tua Purba merasa mereka masih seperti pelayan dan majikan.
Mona keluar dari ruang kerja Yosef, dia pergi ke dapur menemui para pelayan untuk menanyakan menu makan siang. Mona pun membantu beberapa pekerjaan yang sanggup dia lakukan, seperti menyiapkan sajian di meja makan, membantu menuangkan masakan dari wajan dan menyiapkan minuman. Tentu saja ada beberapa hal yang ditanyakan kepada pelayan karena dia juga belum begitu mahir tentang seluk-beluk dapur.
Setelah selesai Mona pergi ke taman belakang, dia mengabari kedua orang tuanya dan purba untuk makan.
"Ayo kita makan dulu, enggak kerasa memang kalau sudah ngobrol seperti ini tahu-tahu sudah siang aja," kata ayahnya Mona.
"Memangnya sudah siap, Mona?" tanya mamanya Mina.
"Sudah dong, Mam ... barusan aku yang beresin ke meja makan. Makanya aku mengajak kalian karena memang udah siap, ayo!"
__ADS_1
"Serius kamu yang nyiapin?" tanya mamanya.
Mona mengangguk sambil tersenyum sedikit kikuk, karena memang sama sekali dia tidak pernah menyentuh dapur, apalagi harus membantu para pelayan, berdekatan saja kadang dia rewel. Alasannya tidak mau ketularan gatel, bau atau apapun, dia selalu merendahkan kaum-kaum rakyat rendah.
Nyonya Hartanto beranjak dari duduknya, dia terlebih dahulu berjalan menggandeng lengan Mona dan menyentuh pundaknya, mengusap-ngusap karena ada rasa bangga pada dirinya, ternyata Mona memang benar-benar berubah.
"Oh ya Pa, kita berkunjung ke orang tuaku berapa hari ya?" tanya purba di sela makan.
"Kira-kira berapa hari ya yang pantas? Dua, tiga hari atau satu minggu? Sambil kita refreshing lah menghirup udara desa yang segar," ucap Hartanto.
"Mungkin satu hari juga tidak apa-apa, Pa. Soalnya saya banyak kerjaan, minggu depan adalah event untuk fashion show musim tahun ini."
"Jangan terlalu diforsir Purba, kan ada Bizar, ada sekretarismu juga. Jangan terlalu dipikirkan masalah urusan kantor, bisa kita pantau kan dari sini." Pak Hartanto meyakinkan menantunya.
Namun purba beralasan tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama, karena dia sudah meninggalkan kantor terlalu sering bulan ini. Dari mulai Mona sakit, kemudian beberapa konflik yang harus dia berada di rumah lebih lama dan sekarang harus pergi lagi ke kampung orang tuanya.
Sebenarnya Purba sangat senang ke sana, cuman dia memilih untuk menjaga kestabilan perusahaan. Jika terlalu lama ditinggalkan oleh dirinya, belum tentu orang lain yang megang sebaik dirinya sendiri.
Papa tahu di mana perusahaan begitu sangat kuat atau lemah, sekarang perusahaan kita sangat amat baik, tidak jadi masalah. Ayolah... jangan banyak alasan, hitung-hitung kamu quality time sama Mona, biar kamu bisa lebih dekat dan membuka diri kamu untuk menerima Mona apa adanya."
"Baiklah Pah, meski saya tetap agak ragu. Karena sekretaris baru masih dalam tahap belajar. Sedangkan Bizar harus tetap ikut dengan saya. Karena tanpa Bizar kadang saya tidak ada teman untuk bertukar pikiran."
"Kan, kamu sedang fokus menikmati waktu dengan Mona," jawab Nyonya Hartanto.
"Tapi Pah ... meskipun ada Mona yang sekarang selalu dekat dengan saya, pikiran kami berbeda. Bizar tahu segalanya tentang kantor, setidaknya saya ingin tetap seimbang untuk mengontrol laju kantor dan tetap bisa quality time."
Pak Hartanto menyarankan untuk Yusuf yang menggantikan purba sementara.
Purba berpikir bagaimana kalau oleh Yusuf? Sedangkan beberapa kali perusahaan cabang di daerah lain, dipulihkan keuangannya dari dana perusahaan-perusahaan cabang yang lainnya pula. Sering kali perusahaan yang dipegang oleh Yosep mengalami kemerosotan.
"Kenapa?" tanya Hartanto, karena melihat Purba termenung saat dirinya mengusulkan perusahaan dipegang Yosef untuk sementara.
"Tidak Pah, yang sudah-sudah kan, kita sering menambal dana di perusahaan ...."
__ADS_1
Purba tidak meneruskan ucapannya dia melihat Yosep ternyata sudah berada di dekat mereka. Tidak terlihat kapan Yosep turun dari ruang kerjanya.
Semenjak tadi memang Yosep belum gabung dengan mereka, dia termasuk orang yang santai, suka-suka dia. Makanya saat makan siang kedua orang tuanya tidak memanggil Yosef ataupun memerintah pelayan karena, Yosef sudah terbiasa apa-apa sesukanya. Jarang sekali mau bergabung akrab dengan keluarga.
"Kenapa kamu meragukanku?" tanya Yosef dengan nada tidak mengenakkan.
"Bukan begitu, Kak, tapi...."
"Ya, tapi apa? Kalau tidak ada apa-apa santai aja kali, yang udah-udah itu kan jelas alasannya bukan kesalahanku. Yang namanya perusahaan itu seperti dagang ada naik turunnya.
Ngapain sih ketakutan banget? Lagian perusahaan-perusahaan Papaku, kamu cuman mengendalikan doang, sok-sokan berasa punya kamu sendiri," ucap Yosep sambil menarik kursi makanya, duduk mengambil nasi.
"Yosef, bisa tidak kalau bicara itu jangan terlalu ketus seperti itu. Dia sudah membantu Papa menjalankan perusahaannya dengan baik, dia juga tidak menuduh kamu seperti itu."
"Iya ... iya, semenjak ada adik ipar, Yosep selalu dibanding-bandingin."
"Siapa yang ngebanding pendingin? Perasaan tidak ada yang berkata seperti itu. Papa hanya menjelaskan bahwa Purba adalah keluarga kita juga.
Apa yang dia lakukan untuk keluarga kita kamu juga harus intropeksi diri, jangan tidak mau disalahkan, saat orang yang disalahkan itu bukan berarti salah sebenarnya tapi ada sesuatu hal yang harus diperbaiki."
"Iya Pah, iya. Yosef mau makan dulu . Yosef keluar di ruang kerja itu habis kerja bukan habis main game atau teleponan sama cewek, tapi habis kerja juga di perusahaan Papa, turun ke bawah untuk makan bukan untuk diceramahin."
Nyonya Hartanto menarik nafas dia mengusap-ngusap punggung tangan Yosep yang kebetulan ada duduk di sebelahnya. Nyonya Hartanto memang tidak begitu banyak bicara, dia ingin Yosep lebih tenang lagi dengan cara menegurnya lewat sentuhan tangannya.
"Baiklah Pah, aku setuju kalau Kak Yosef yang menggantikan sementara. Dan untuk berapa hari di desa, itu terserah Papa aja, yang penting laju kantor tetap stabil dan ada orang yang menggantikan saya. Karena bagaimanapun jika seorang pemimpin terlalu lama meninggalkan tempatnya bawahan akan bertindak seenaknya."
"Kamu benar Purba, Papa juga sudah mempertimbangkan hal itu. Jangan sampai kamu terlalu lama meninggalkan kantor saat masuk malah PR numpuk. Percayakan pada Yosef dan sekretarismu.
Papa yakin, sekretarismu punya potensi, Papa sudah pernah ke kantor, berbincang dengannya."
Purba mendadak tersenyum saat mendengar ternyata Tuan Hartanto sudah pernah menemui Rara. Entah mengapa rasanya seperti orang tuanya yang telah menemui calon istrinya. Tuan Hartanto tidak menaruh pemikiran buruk pada Rara.
Bersambung....
__ADS_1