Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Ranjang Pecah


__ADS_3

“Atau apa? Nggak usah berpikir kotor deh, kepalanya.” Rara malu-malu kucing, menolak tapi sebenarnya suka kalau digombalin.


“Habisnya kamu sendiri yang memancing pikiranku kemana-mana. Kenapa nggak pakai baju dulu yang bener? Eh, tapi beneran gak pakai baju, nih? Pengen lihat dong!” ucap Purba.


“Tadinya aku mau pakai baju, cuman melihat pesan Mas yang suruh buru-buru angkat panggilan, jadi aku buru-buru angkat deh, serba salah jadinya, hemmm,” ucap Rara diakhiri bibir yang cemberut manja.


“Iya... iya maaf, ya udah kalau masih pakai handuk nggak papa, artis-artis juga sering kok yang pakai tanktop, pakaian cuman sedada aja mereka kemana-mana biasa, lah ini cuman aku aja yang lihat, gak apa dong?”


“Mas, tapi saya kan bukan artis.”


“Ya udah, tinggal buka gulungan handuk rambut kamu, lalu video call seperti biasa, jika memang kamu udah pake baju. Ngga enak lihatnya. Aku kangen berat sama kamu yang berwujud cantik, ayu seperti biasa,  bukan berwujud seperti mbak-mbak kaya gini, hahaha.” Purba tertawa sengaja meledek.


“Mas, ih ... kok gitu sih. Hem ... Ok deh, iya ...,” ucap Rara dengan melepaskan gulungan handuk di kepalanya.


Akhirnya Rara menggeser dirinya hingga terlihat wajar di depan kamera. Purba melihat Rara sudah pakai pakaian, rambutnya tergerai basah, pikirannya menjadi berfantasi.


Purba juga tahu dengan jelas bahwa di dalam pakaian Rara masih terbelit handuk, semakin berfantasi saja imajinasinya.


Dan satu lagi yang membuat gairahnya terpancing, Rara salah mengancingkan kancing piyamanya, tidak pada lubang masing-masing sehingga sebelah bajunya tidak seimbang agak terangkat sedikit dan ada sesuatu yang sedikit menyembul terlihat dari sana.


Mungkin karena bagian dada yang terikat oleh handuk agak ketat, sehingga terdorong untuk menyembul dan sebelah pakaian Rara yang terbuka agak lebar, karena disebabkan kancing yang tidak benar masuk pada lubang yang salah.


Purba membiarkan hal itu, jika dia menegur Rara, pasti Rara akan memperbaiki pakaiannya buru-buru.


Kemudian Mereka berbincang sesuatu yang tidak penting bagi orang biasa, tapi sangat berharga bagi pasangan yang sedang kasmaran.


Purba juga memberi tahu pada Rara, bahwa mereka hanya bisa berbincang sebentar saja. Rara pun tak masalah, toh dirinya juga akan segera istirahat.


Belum sampai 10 menit purba mengakhiri percakapannya dengan Rara, karena semakin lama Purba tidak tahan dengan beberapa kali Rara bergerak. Sehingga bajunya semakin tidak jelas posisinya.

__ADS_1


Baju yang dikenakan Rara adalah baju tidur yang sangat halus, dari bahan sejenis sutra, jadi menempel seperti tipis pada kulit.  Meskipun terlihat dari layar ponsel, tapi sungguh jelas melekat di tubuh Rara.


“Oke sayang, jangan lupa besok seperti biasa, masuk kantor pagi-pagi. Akan aku usahakan Mona tidak ikut,” ucap Purba.


“Oh ... kenapa Mas? Ko Ibu gak ikut?”  


“Apa sih ... kamu kayanya lebih suka dia ikut, deh. Jangan-jangan kalian udah ada perjanjian ya? Atau main perang dingin nih? Aku gak tahu,” selidik Purba.


“Nggak Mas ... engak. Apaan sih, jadi curiga gtu.”


“Hehe, iya, aku percaya. Kalian baik-baik aja. Ok deh, aku mau istirahat ya,  jangan lupa besok masuk pagi, karena aku ingin memberikan sesuatu.”


“Sesuatu? Apa itu Mas?”


“Nggak bisa disebutkan sekarang dong. Bukan sesuatu namanya. Oke ya, sayang... selamat malam, good night, tidur dengan nyenyak dan mimpikan aku ya ... bye, nanti kita bertemu dalam, hehe,” goda Purba sebelum panggilan ditutup.


“Ah, dasar gombal!” jawab Rara dengan senyum malu.


Siapa tahu akan ada sesuatu yang tidak disangka suatu saat, mungkin ponselnya dicek oleh Mona, jadi berabe nantinya.


Purba juga tidak sampai 10 menit berbincang dengan Rara, karena dia sudah tidak  tahan ingin melampiaskan fantasi bayangannya dengan Rara kepada Mona.


Purba menarik napas dalam, dadanya sudah bergemuruh memanas, darahnya juga seakan sudah mendidih. Dia segera masuk ke kamar,  di sana Mona sudah tak menggunakan pakaian satu helai pun.


Mona tersenyum bahagia, karena Purba sudah datang.


“Belum sampai 10 menit, kan?” ucap Purba, nafasnya sudah menderu dan itu sangat membuat Mona semringah.


“Mas... setelah dari luar kok kamu seperti orang yang dikejar setan? Buru-buru kayak gini,” ucap Mona.

__ADS_1


“Aku sudah tidak tahan sayang,” ucap Purba dengan suara yang sudah melemah bergetar.


“Apa mas? Sekali lagi? Ah ...,” teriak Mona tiba-tiba, karena Purba langsung menerkam.


Namun, Purba tidak menjawab pertanyaan Mona,  dia langsung menuju ranjang dan melucuti  pakaiannya. Dengan begitu buas tidak memberikan ruang pada Mona untuk mendominasi permainan.


Di sepanjang permainan Mona selalu tersenyum dan dia lebih leluasa melayani setiap perlakuan Purba.


Dia sangat senang saat Purba memanggilnya sayang. Kalau harus digambarkan, Mona mungkin akan berteriak dengan  meloncat kegirangan. Panggilan sayang itu sangat terdengar merdu di telinganya dan mendidihkan darahnya.


Baru kali ini begitu romantis dan suara Purba sangat seksi, saat gairahnya meningkat seperti tadi.


Semenjak menikah mungkin baru kali ini Mona merasakan sensasi yang lebih dari pria lain bersama Purba.


Purba memang memiliki daya tarik yang unik, dibanding pria-pria yang pernah berhubungan dengan Mona. Pria-pria bertubuh seksi, kekar, Casanova, masih jauh lebih keren dari Purba, yang memiliki aura lebih kalem. Cuman tetap saja, ada hal yang tidak Mona dapatkan dari pria-pria mainnya.


Namun, kali ini sangat sempurna. Purba ternyata bisa lihai juga dalam urusan ranjang. Bisa romantis, pokoknya tidak ada kurang satu pun malam ini.


Pria di luar sana kalah dengan permainan Purba malam ini, terlebih Purba adalah suami untuk Mona, sehingga Mona lebih leluasa melayaninya. Pokoknya malam ini adalah surga dunia bagai Mona, yang sesungguhnya dia juga tak segan bertindak liar.


Ruangan kamar Mona dan Purba saat ini, bak' kapal pecah. Mereka bermain bukan hanya di ranjang. Purba benar-benar melampiaskan rasa inginnya untuk Rara pada Mona.


Purba sudah lupa, dia bermain dengan seorang wanita yang dahulunya tidak pernah membuat dirinya bergairah sama sekali. Namun, kali ini sungguh berubah 180°. Seakan Purba kehilangan akal.


"Mas ... makasih ya...," ucap Mona dengan napas yang tidak teratur akibat kelelahan.


Purba tidak merespons Mona, dia sedang menikmati fantasi dalam kepalanya.


Satu permainan selesai, hanya istirahat sejenak, memejamkan mata untuk menstabilkan napas. Tiba-tiba bayangan Rara melintas lagi di pelupuk mata Purba. Bangkit lagi gairahnya, kemudian menerkam Mona kembali yang tentu saja selalu siap sedia, meski dirinya sudah lunglai.

__ADS_1


Bersambung...


Terima kasih teman-teman yang sudah mampir. Jangan lupa like, favorit dan komennya ya ... biar author semangat update tiap harinya.


__ADS_2