
Bab126
Siang sudah menunjukkan pukul 02.00, rencananya Purba dan Mona akan berangkat besok pagi. Akan tetapi saat ini mereka belum sama-sama pulang ke rumah. Mungkin mumpung hari terakhir sebelum ke Bali, mereka akan menghabiskan waktu untuk menyelesaikan urusan masing-masing.
"Assalamualaikum!" ucap seseorang saat masuk ke rumah Purba.
Mbak Idah sedang bersih-bersih di ruangan tengah, me llihat kedatangan sepasang orang tua yang walaupun sudah lanjut usia, tapi badannya masih terlihat segar.
Tentu saja, karena mereka menjaganya dengan pola makan dan hidup yang produktif.
Mereka adalah Pak Kukuh dan Bu Purwanti. Ya, mereka orang tua dari Purba. Sengaja datang karena kemarin diberitahu oleh Purba untuk menginap di rumahnya, selama Purba di Bali bersama Mona.
Sungguh mengherankan memang, selama pernikahan Purba dan Mona baru ini kali pertama Pak Kukuh dan Bu Purwanti berkunjung ke rumah Purba.
Saat ini pun mereka penuh tanya. Dahulu Purba meminta agar orang tuanya tidak terlalu dekat dengan orang tua Mona. Karena Purba tidak ingin ikatan pernikahannya semakin erat.
Purba membenci pernikahannya, apa yang dilakukan Purba penuh strategi. Yaitu hanya demi untuk meluluskan adiknya yang terlanjur kuliah di luar negeri dan menghargai kebaikan Pak Hartanto yang telah memberikan kepercayaan pada kedua orang tuanya, untuk mengola tanah di kampung.
Tentunya kita sudah tahu semua cerita itu.
"Oh ... maaf. Cari siapa?" tanya Mbak Idah dengan senyum ramah.
"Saya orang tanya purba," ucap Purwanti.
__ADS_1
Mbak Ida sungguh tidak tahu, dia langsung meminta maaf lalu memberi salam kepada kedua orang tua untungnya Purba.
Purwanti dan Pak kuku mengerti akan hal itu, wajar saja Mbak Idah tidak tahu, mereka juga baru pertama kali berkunjung ke rumah itu.
"Memangnya purba tidak memberitahu Mbak tentang kedatangan kami?" tanya Pak Kukuh.
"Tidak Pak, setahu saya Pak Purba sama Bu Mona tidak mengatakan apa pun. Atau mungkin mungkin saya yang lupa ya," ucap Mbak Idah sambil mengingat-ingat.
"Baiklah kalau begitu, perkenalkan saya Kukuh ayahnya purba."
"Dan saya Purwanti, ibunya Purba."
"Oh iya pak Bu, Mari masuk. Nanti saya ambilkan minum dulu ya." Mbak Idah langsung segera ke dapur.
"Silakan diminum dulu Pak Bu." Purwanti menyodorkan beberapa hidangan.
"Mbak sendiri?" tanya Bu Purwanti.
"Panggil saya Mbak Idah, Bu. Bapak sama Bu Mona sering memanggilnya saya seperti itu."
Kemudian Mbak Idah menjelaskan bahwa di rumah itu ada siapa saja, seluruh pelayan yang ada di sana disebutkan termasuk security dan tukang.
Mbak Idah juga menunjukkan kamar untuk orang tua Purba beristirahat sambil menunggu Purba pulang.
__ADS_1
Kemudian Mbak Idah menghubungi Purba untuk mengabari bahwa orang tuanya sudah datang.
"Oh iya Mbak, aku hampir lupa. Untungnya Mbak tahu itu orang tua saya," ucap Purba dari sambungan telepon.
"Tadi, orang tua Bapak memperkenalkan diri, jadi saya tahu. Dan sekarang mereka sedang istirahat di kamar."
"Baiklah, sebentar lagi aku pulang," ucap Purba.
Panggilan pun ditutup. Purba segera memerintahkan Bizar untuk membereskan pekerjaannya.
"Zar, sesampainya saja. Lalu kita pulang," perintah Purba.
Tidak membutuhkan waktu lama, hanya 30 menit. Purba sekarang sudah berada di perjalanan untuk pulang, tak lupa dia memberi pesan kepada Rara.
'Aku tahu kau sengaja tak mau balas pesanku. Jika pesanku hanya dibaca saja terserah. Aku hanya ingin memberitahu, kedua orang tuaku ada di sini. Jika kamu ingin bertemu maka akan aku pertemukan.'
Mengapa Purba menulis pesan seperti itu kepada Rara? Karena Purba tahu, Rara ingin mendapatkan tempat di keluarga Purba.
Sungguh gila memang tindakan yang dilakukan oleh Purba, dia ingin menjaga perasaan Mona yang sudah menghargai pernikahannya dengan berubah baik, tapi dia juga mengambil resiko untuk lebih dekat pada pertikaian keluarga besar.
Jika Mona tidak dihargai, maka yang bermasalah bukan antara suami dan istri tapi keluarga besar Hartanto dan keluarga Purba.
Bersambung...
__ADS_1