
Bab97
"Apakah anda ingin menggunakan pengacara untuk menangani kasus anda?" tanya polisi yang sedang mengintrogasi.
Bram mengangguk. Dia sedang tak ingin banyak bicara, tubuhnya terasa perih. Sakitnya lebih terasa saat ini saat sudah berkelahi. Beda rasanya saat tadi masih baku hantam bersama Yosef, kini badannya pegal-pegal dan amarah yang besar masih bersarang di hatinya.
"Baik, kami beri kesempatan untuk Anda komunikasi dengan pengacara anda, jika memang sudah ada," ucap Pak polisi yang yang berdiri di samping meja rekannya, yang siap dengan laptopnya untuk mengetik berita acara.
Polisi tersebut kemudian memberikan ponselnya untuk Bram menghubungi pengacaranya.
Namun, Bram tidak menghubungi pengacaranya, dia menghubungi Rena teman akrabnya sekaligus teman Mona juga yang waktu itu menjenguk Mona setelah keguguran.
Namun, sebelumnya Bram meminta izin pada Pak polisi untuk menggunakan aplikasi whatsapp, sebab nomor yang akan dia hubungi tidak akan menerima panggilan jika dari nomor yang tidak dikenal dan Pak polisi itu pun mengizinkan.
Beberapa saat kemudian untung saja Rena langsung membuka pesannya Bram.
"Lo ngapain di kantor polisi?" tanya Rena setelah menerima panggilan dari Bram.
Rena tahu Bram di kantor polisi karena tadi saat Bram mengirim pesan dia mengatakan teleponnya angkat, bahwa ini sedang di kantor polisi menggunakan nomor Pak polisi.
"Biasalah, paling di pesantren bentar," ucap Bram
Istilah pesantren yang dimaksud adalah dia sudah terbiasa melakukan kriminal, paling dikurung hanya berapa waktu saja. Karena selama ini pengacara Bram bisa membantu untuk meringankan hukumannya.
"Ren, tolongin gue ya. Hubungi Pak Kunto, gue nggak hafal nomornya," pinta Bram.
"Iya siap, besok gue ke sana bareng Pak Kunto," respons Rena.
"Jangan lupa urgen... urgen," ucap Bram penuh penekanan di kata urgent. Itu adalah kode.
Setelah itu panggilannya ditutup, ponsel diserahkan kembali pada Pak polisi.
__ADS_1
Pak polisi tidak tahu bahwa Bram mengetik pesan dua kali kepada Rena, hanya pesan yang satu dihapus oleh Bram agar polisi itu tidak membacanya. Karena kalau polisi itu mengetahui Bram menghapus pesannya, pasti mereka curiga.
Seharusnya Bram sudah menjadi tersangka harus terbuka komunikasi apapun di hadapan polisi, jangan sampai ada perencanaan kejahatan selanjutnya.
Sebenarnya tadi Bram menulis pesan pada Rena untuk segera ke apartemennya, karena dia memasang kamera di beberapa titik. Untuk diambil dan simpan baik-baik nanti suatu saat video itu akan berguna.
Dan untuk malam ini sudah dipastikan Bram akan meringkuk di sel tahanan, untuk menanti proses putusan pidana selanjutnya.
**#
"Anda Bukan siapa-siapa ya! Tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga saya. Bahkan camkan ini, saya tidak mau cerai kalau tidak istri saya sendiri yang menghadap," ucap Gandi dengan teriak di depan pengadilan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Bapak tersebut adalah pengacara dari penggugat dan itu sah secara hukum. Jika anda terus saja tidak kooperatif, justru anda menunjukkan karakter anda sendiri seperti apa," lanjut Pak Hakim.
"Semuanya telah bersekongkol," gumam Gandi dengan muka masam dan dia langsung duduk kembali.
Bukan sekali dua kali Gandi berontak selama persidangan berlangsung 10 menit yang lalu. Dimulai dari hakim membacakan perkaranya, Gandi sudah banyak protes dan itu sangat mengganggu sekali jalannya persidangan.
Padahal bukti-bukti dari pengacara pihak Rara sudah menunjukkan bahwa Gandi memang selama ini tidak bertanggung jawab menjadi seorang suami didukung juga oleh para saksi.
Kedua saksi itu adalah Bu segeti, Lena dan dari pihak keluarga Gandi.
Gandi tak menyangka saudara dari ibunya mau menjadi saksi, tentu saja itu sangat kuat untuk memberatkan perkara Gandi karena biasanya ikatan darah atau orang terdekat dari tergugat lebih tahu banyak tentang kehidupan sehari-harinya.
Rupanya selain memang bukti dan saksi menguntungkan Rara, perilaku Gandi yang tidak bisa sopan di depan hakim membuat sidang perceraian berjalan dengan cepat yaitu hanya satu kali persidangan hari itu saja, perceraian Rara dan Gandi sudah sah.
__ADS_1
Bruk!
Gandi membanting pintu persidangan dengan keras, dia tidak terima dengan keputusan hakim.
Awas aja kalian semua tunggu tanggal mainnya, gerutu Gandi sambil berjalan keluar pengadilan dengan langkah cepat.
Muka merah karena marah, nafas menderu melajukan motor tanpa aturan sehingga orang-orang yang ada di sekitar gedung itu melihatkan Gandi dengan tidak senang. Serta ada beberapa yang mengumpat karena Gandi menjalankan motor hampir menabrak seseorang dengan knalpot yang berisik pula.
**#
"Bu! Bu...! Aku mau ke Jakarta sekarang!" teriak Gandi sesaat setelah sampai rumah.
Azkia sampai terbengong karena mainannya terinjak oleh ayahnya, yang tak melihat kakinya asal melangkah saja. Azkia sedang bermain di lantai, dengan beberapa mainan berbahan plastik yang berserak.
Memang Azkia masih kecil, tapi nalurinya sudah bisa berdamai dengan keadaan. Karena perjuangan dia untuk berkali-kali meminta pulang ke rumah nenek dari ibunya selalu saja ditahan oleh sang ayah, hingga secara alamiah anak itu memiliki kesadaran, lebih baik menyesuaikan keadaan saat ini. Azkia sudah tidak pernah lagi meminta pulang.
"Ada apa Nak? Teriak-teriak," tegur ibunya Gandi.
"Aku harus ke Jakarta," sahut Gandi.
"Ada perlu apa? Ada kerjaan kamu?"
"Ibu gimana sih, kerja... kerja terus yang dibahas. Untuk apa ibu sama ayah punya harta kalau bukan untuk menghidupi anaknya?!"
Ibunya Gandhi tarik napas dalam, cukup lelah juga menghadapi Gandi yang belum berubah di usianya yang sudah cukup untuk berjuang demi hari tuanya kelak.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, biar otor semangat mau crazy up nya. Terima kasih :)
Bersambung....
__ADS_1
Bersambung....