Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Menjemput Azkiya


__ADS_3

Yosep menjelaskan bahwa Bram memberikan bukti beberapa foto dirinya dengan Mona, yang terlihat sangat akrab. Bahkan ada beberapa foto yang tidak pantas dikonsumsi untuk umum, yaitu saat Bram dan Mona begitu mesra di sebuah kamar.


Bram berdalih bahwa mereka sudah terbiasa melakukan hubungan suami istri. Dan saat kejadian tadi siang itu hanya penolakan dari sang kekasih. Maka itu adalah hal yang wajar tidak perlu dipermasalahkan sampai ke pihak berwajib segala.


Mona terdiam setelah mendengar penjelasan dari Yosef.


“Jadi, Bram tidak bisa dijerat hukuman pidana?” tanya Mona dengan lesu.


“Ya,” ucap Yosef, mengangguk.


“Dan sekarang dia langsung bebas?” tanya Mona kembali.


“Ya.” Lagi-lagi Yosef pun hanya mengangguk tanpa ada tambahan kata apa pun.


 Karena memang polisi mempercayai bahwa Mona dan Bram adalah sepasang kekasih. Meskipun kenyataannya sudah tidak berhubungan lagi, tapi polisi hanya melihat bukti.


“Yang sabar. Makanya lo jangan ulangi lagi,” ucap Yosef. Alih-alih menenangkan, malah mendapat kecurigaan tidak enak dari Mona.


“Maksudnya kakak jangan ulangi, apa ya?” tanya Mona tidak terima.


Seakan dirinya dinasihati oleh orang yang sama-sama bejat, Mona merasa risi.


“Ya… maksud gue sudahi pergaulan yang jadi ngerugiin kita.”


“Kakak gampang ngomong gitu, karena belum ada tanggung jawab. Nah, aku mau lepas dari Bram malah dia jadi nguntit terus.”


“Ya, gue insaf. Makanya gue bisa ngomong sama-sama capek jadi orang terlalu bebas. Toh jadi orang bener juga tetap capek, tapi setidaknya nggak sering dipandang sebelah mata sama orang, paling sesekali. Wajarlah, namanya hidup.”


 “Terus kakak mau bantu solusinya nggak? Sampai kapan pun si Bram akan bisa berkeliaran, terus ganggu aku gak bosen.”


“Emang dia minta berapa sih sebulannya?”


“15 juta,” singkat Mona.


“Buset! Pemerasan itu namanya,” seru Yosef sangat terkejut. Tidak menyangka adiknya dimanfaatkan seperti itu.


“Ya udah kalau kayak gitu ladenin dulu aja si Bram. Nanti kumpulin bukti-bukti.”

__ADS_1


“Maksud kakak ladenin gimana? Ngumpulin buktinya gimana? Kan tiap bulan aku transfer ke dia, kalau hanya sekedar bukti transferan terus melaporkan ke polisi, kasus pemerasan tidak ada bukti. Apakah sebuah pemerasan atau enggak, karena transferan itu kelihatannya ya... kayak aku ngasih cuma-cuma dengan ikhlas gitu. Kadang enggak ada keterangan apa pun.”


Mona masih belum apa yang dimaksud kakaknya.


“Atau gini, lo sengaja telatin saat mau kasih ke Bram. Jika Bram kasih ancaman-ancaman lewat pesan, jangan hapus pesan itu. Atau saat bertemu mengancam secara langsung, lo harus bisa nyalain HP lo buat merekam omongan dia.”


“Boleh juga ide kakak. Meskipun aku udah males sih kalau ketemu dia lagi, kayaknya balik jijik.”


“Lah... sekarang jijik, dulu aja dikekepin,” kata Yosef.


“Lain dulu lain sekarang Kak. Bener kata Mama, kalau kita udah terbiasa menghindari sesuatu yang buruk, kalau keingat lagi malah jijik.”


“Ya udah, jaga diri baik-baik. Gue pulang!”


Mona mengangguk beranjak mengikuti Yosef keluar rumah. Mona melihat kepergian kakaknya keluar gerbang dengan mobilnya, kemudian ia masuk lagi.


Ada rasa ingin menelepon Purba. Namun, dicobanya terus menahan. Mona ingin membuktikan bahwa dirinya bisa berubah. Jalan satu-satunya untuk mengisi kesepian suasana yang monoton adalah mengobrol dengan Mbak Idah.


Perubahan Mona memang terbilang cukup drastis, dia jadi lebih akrab dengan para asisten rumah tangganya, lebih bisa mengontrol diri tidak keluar rumah.  Bahkan lebih suka mempelajari file-file kantor untuk mengisi waktu luangnya.


 


“Maaf Mas, dari mana?” tanya salah satu bapak pada Purba. Mereka sama-sama sedang makan menikmati acara prasmanan setelah ijab kabul Retno dan Hendra.


“Saya dari Jakarta Pak,” jawab Purba.


“Oh… temennya Mbak Retno, ya?”


Purba hanya mengangguk dengan tersenyum ramah.


“Mas calonnya Rara?” tanya Bapak yang satu lagi.


Purba serba salah antara ingin mengiyakan atau sebaliknya. Akhirnya Purba hanya tersenyum dan mengangguk kembali.


“Syukurlah kalau Rara udah dapat ganti. Kasihan dia waktu bareng Gandi.”


“Memangnya kenapa ya pak?”  tanya Purba.

__ADS_1


Bapak itu kemudian menceritakan bahwa Gandi adalah tetangga rumahnya. Saat acara pernikahan Gandi dengan Rara, mungkin seluruh wanita yang pernah berhubungan dengan Gandi diundang dan mereka berfoto bersama.


Bapak itu juga mengatakan mungkin kalau hanya berfoto bersama tak jadi masalah, tapi mereka sangat mesra. Foto yang tidak lazim untuk seorang teman atau tamu undangan.


Kalau hanya memegang lengan atau berbarengan bergandengan tangan di foto, atau hanya sebatas berdekatan biasa, mungkin masih bisa dianggap wajar. Karena mereka pernah dekat atau sebagai teman. Namun, ini sampai mencium Gandi saat foto pernikahan dia. Meskipun Hanya sebatas pipi, tapi itu tidak pantas dilakukan kecuali oleh saudara.


Entah apa yang dirasakan oleh Rara. Dia seakan tersisih dari tamu undangan wanitanya Gandu. Rara hanya bisa diam berada di paling pinggir bangku pelaminan. Karena kursi pelaminan yang ada di tengah penuh dengan teman wanita Gandi.


Purba mangut-mangut mendengar itu. Kalau memang itu benar yang terjadi, memang sungguh malang nasib Rara. Yang Purba tahu memang Rara terpaksa menikah karena terlanjur terlihat selalu bersama dengan Gandi.


 Dan lagi, itu juga salah satu rencana Gandi agar orang tuanya menikahkan mereka. Dengan dalih takut terjadi apa-apa, kelabasan katanya, hanya sebatas itu yang Purba tahu dari asistennya dulu.


“Begitu ya Pak? Tapi sekarang Rara dan Gandhi sudah tidak ada hubungan, kan?” tanya Purba, bukan tidak percaya akan apa yang Rara katakan. Namun, dia lebih meyakinkan lagi, ingin tahu apa kata tetangganya.


“Setahu saya sih sudah Mas. Dulu waktu ada kejadian besar, Gandi marah langsung mengucapkan talak pada Rara. Meskipun mungkin belum secara resmi.”


“Terima kasih pak informasinya,” ucap Purba, sebenarnya bingung merespons apa lagi.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, rombongan Purba berpamitan pada Retno. Tentunya mereka berfoto dulu dengan pengantin.


“Selamat menempuh hidup baru ya, Ret. Semoga langgeng,” ucap Rara saat berpamitan pada Retno dan Hendra.


“Kapan nyusul? Jangan di lama-lamain,” ucap Retno, yang sebenarnya adalah hanya sebuah candaan.


“Insya Allah secepatnya,” bukannya Rara yang menjawab, malah Purba yang mengatakan bahwa hubungan mereka akan segera diresmikan.


Purba dan rombongan pun kembali pulang ke rumah Bu Sugeti. Namun, di tengah perjalanan mereka berubah pikiran. Rara mencoba membahas tentang Azkiya pada Purba.


Tanpa disangka Purba mengiyakan permintaan Rara. Percaya diri bahwa Purba bersedia menemani Rara ke rumah orang tuanya Gandi, untuk meminta Azkiya terang-terangan.


Karena waktu masih siang, sementara pengacara Purba pergi ke pengadilan agama untuk menyerahkan berkas-berkas yang sudah disiapkan, sesuai permintaan petugas pengadilan agama saat kemarin sang pengacara ke sana.


Lebih cepat lebih baik, maka dari itu Purba bagi-bagi tugas dirinya dan Bizar menemani Rara ke rumah orang tua Gandi, sedangkan pengacaranya ke pengadilan agama agar cepat diproses.


 


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2