Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Menemukan Alamat Mantan


__ADS_3

Bab 111


Pukul sembilan pagi, Azkia sudah berada di rumah Bu Hetti untuk membantunya membuat gulungan cilok atau orang kota mengatakan pentol.


Sebenarnya Azkia semalam tidak dapat tidur karena menanti ayahnya pulang. Dua sudah berusaha untuk memejamkan mata kemudian terjaga lagi, karena takut saat ayahnya pulang pintu masih terkunci. Sedangkan jika pintu tidak terkunci dia takut akan ada orang jahat yang datang, maka semalam tidur Azkia tidak nyenyak.


"Nah, ini adonannya. Nanti Ibu kasih tau caranya ya. Tidak perlu cepat-cepat terlebih dahulu, yang penting belajar sambil dapat hasil." papar Bu Heti sambil menaruh adonan di lantai dan beberapa wadah lagi untuk menyimpan adonan yang sudah digulung atau dibulat-bulat.


"Azkia sudah makan?" tanya Bu Hetty kembali.


Azkia mau menggeleng tapi ragu, dia kemudian mengangguk tapi agak ragu juga. Tidak mengangguk dengan mantap.


"Jangan bohong kelihatan dari matamu," ucap Bu Heti kembali.


Mata Azkia sedikit bergetar saat akan mengangguk, itu menandakan dia sebenarnya sedih dengan keadaannya, tapi malu juga jika terus merepotkan Bu Heti.


Namun, Bu Heti tidak bisa tega melihat anak kecil terlantar seperti itu, teringat akan anaknya bagaimana jika tidak ada yang merawatnya di kampung atau jika anaknya ada di posisi Azkia.


Bu Heti membawakan nasi dengan tumis dan goreng tempe. Meskipun sederhana itu sudah lebih dari cukup untuk Azkia yang baru menemukan nasi dari kemarin. Yaitu saat diberi oleh ibu warung, sampai sore dan malam dia hanya memakan camilan pemberian tersebut. Karena ternyata Gandi pergi tidak pulang.


"Ayo makan nggak usah sungkan, biar kamu terbiasa. Bawa air minumnya sendiri ya, tuh di sana." Bu Hetti menunjukkan air galon di pojok ruangan.


Lagi pula kamar itu cuman satu petak, sama seperti halnya dengan kamar yang ditempati oleh Azkia. Jadi tempatnya benar-benar sempit hal yang lumrah di Jakarta untuk seorang perantau yang bekerja buruh atau pedagang kecil. Mereka akan memilih kontrakan yang cukup untuk tidur saja, tak perlu ada sekat untuk kamar tidur, dapur atau kamar mandi.


Maka dari itu mereka jarang sekali membawa keluarga ke kota, karena biaya di kota pasti akan mahal jika seluruh keluarga ikut.


Tapi untuk pedagang kecil seperti suami Bu Heti cukup mendapat penghasilan yang layak daripada jualan di kampung..


Maka dari itu walaupun suami Bu Heti sudah berangkat keliling jualan dari pukul 07.00, Bu Heti tetap membuat adonan pentol, karena biasanya suami Bu Hetty akan pulang pukul 13.00 atau pukul 04.00 untuk membawa kembali pentol yang baru dibuat.


Mengapa tidak sekaligus dibawa? Karena jika tidak habis ditakutkan akan basi. Lagi pula suami Bu Heti menggunakan motor, jadi cukup bisa menyingkat waktu..


Sebenarnya jualannya bukan keliling seperti umumnya, suami Bu Heti menuju tempat-tempat ramai seperti alun-alun, sekolah-sekolah atau tempat kulineran.


Hanya saja saat menuju titik yang ditentukan suka diberhentikan oleh beberapa pembeli dan itu lumayan untuk tambahan omset.


"Nah iya benar seperti itu, nanti kalau udah terbiasa ibu akan mengajarkan bagaimana cara membuat adonannya ya," ucap Bu Heti, sangat telaten membimbing Azkia.


Azkia mengangguk dengan semeringah, dia senang membantu Bu Heti, apalagi perutnya sudah kenyang dan Bu Heti juga baik, cara bicaranya seperti orang tua yang menyayangi anak kandungnya.


**#


Sementara itu di tempat lain.


"Sayang kamu beneran mau pulang? Aku masih pengen," ucap p si Tante yang masih mengenakan lingerie, walaupun matahari di luar sana sudah di ubun-ubun.


"Aku harus pulang dulu, Tan. Aku harus berganti pakaian," ucap Gandi beralasan.


"Loh... bukankah kita bekerja tanpa pakaian, hahaha." Tante itu selalu saja menggoda Gandi.


"Bukan gitu, aku ada keperluan lain terlebih dahulu."


"Apa sih yang lebih penting dari aku?" ucap si Tante, cara bicaranya genit.

__ADS_1


"Ya... kalau Tante masih membutuhkan aku pasti balik lagi ke sini," ucap Gandi, kini ia sudah duduk di tepi tempat tidur.


"Kenapa bilang kalau masih butuh? Tentu dong, aku sangat bahagia malam tadi dan aku belum melakukan sensasi siang hari bersamamu," manja si Tante sambil bergelayut di lengan Gandi, yang bersiap hendak pulang tadinya..


"Oh ya. Mana nomor rekening kamu? Hampir lupa," ucap si Tante kembali.


Kemudian Tante itu membuka ponselnya, lalu mentransfer sejumlah uang dengan nominal dua digit dan itu pasti sangat besar untuk Gandi.


"Kamu pakai m-banking? Tante udah kirimkan ya," ucap si Tante dengan tubuhnya yang selalu menggeliat saat berbicara.


"Tidak, Tan. Biar nanti aku cek saat pulang."


"Tapi sebelum kamu pulang, aku pengen dibekali dulu. Biar bisa tidur dengan nyenyak sambil menunggu kamu kembali lagi," manja si Tante, dengan tangannya tak berhenti bermain di dada Gandi.


Sebenarnya ganti dalam hati merasa rugi, belum tentu jumlah yang dikirimkan oleh wanita itu seperti harapan Gandi.


Setau Gandi perjanjiannya hanya tadi malam.


"Kenapa bengong? Memikirkan hitungan ya? Tenang saja. Kamu aku bayar untuk menemani, bukan untuk melayani. Jadi perjanjian kita adalah kontrak selama satu minggu. Nah, selama perjanjian itu, aku bebas akan melakukan apapun. Iya kan?" papar di Tante.


Gandi mengangguk baru paham kali ini, ibaratnya dia sebagai bonekanya si Tante.


"Ya sudah. Ayo!" ajak si Tante menarik tangan Gandi kembali bersiap untuk permainan babak selanjutnya.


**#


Sore hari sekitar pukul 16.00, Gandi baru pulang dari rumah di Tante. Namun, dia menghubungi Daryanto untuk menemaninya mencari alamat yang anak buahnya kemarin beritahu, yaitu alamat perumahan Retno.


Mereka janjian di sebuah titik dan kini sudah bertemu, di sana juga terdapat mesin ATM.


"Ya, lumayan," ucap Gandi.


"Kok lumayan? Padahal kantongmu basah, anumu basah juga, hahaha. Untung banyak harusnya," goda Daryanto.


"Yah ... kalau bisa yang segera dikit kek," ucap Gandit.


"Mana ada? Kalau mau yang segeran, lo yang beli. Lagian kalau ada tante muda yang umur 40 ke bawah, itu milihnya nggak bakalan lo, pasti berondong anak kuliahan atau SMA," jelas Daryanto.


"Iye .. udah, rejeki aku segitu kali," ucap Gandi sok-sokan bersyukur. kerjaannya aja menjual harga diri.


"Eh, dapat berapa? Udah dicek belum?" tanya Daryanto, dia ingin tahu bayaran dari si Tante.


"Belum, ini baru mau dicek."


"Jangan lupa persenan, kalau nggak ada gue, lu bakal kelaparan di Jakarta," rayu Daryanto.


Daryanto sudah menggunakan bahasa aslinya, bahasa gaul, karena merasa sudah akrab dengan Gandi.


Gandi masuk pada sebuah ATM, lalu dia melihat saldonya. Mata Gandi terbelalak, 20 juta untuk seminggu dan itu perutnya kenyang, hobinya bermain wanita terpuaskan, bahkan si tante berjanji akan memberikan barang yang ia mau. Wow!


"Berapa?" tanya Daryanto saat Gandi sudah keluar.


"Roman-romannya, gede banget, nih," ucap Daryanto kembali.

__ADS_1


Gandi tidak boleh membuka semua pendapatannya kepada Darynto, bisa-bisa dia dimanfaatkan.


Gandi yang di kampungnya sebagai kepala geng, masa iya di Jakarta harus diinjak-injak oleh orang lain.


"Lumayan, ada belasan," ucap Gandi.


"Wah, keren juga tuh. Berapa lama?"


"Seminggu."


Gandi melihat reaksi dari Daryanto, ternyata seperti yang sedang berpikir. Apakah itu kurang? Entah mereka yang lain, melakukan hal itu mendapatkan berapa?


"Ya, cukuplah. Anggap aja itu awal perkenalan," respons Daryanto.


"Emang biasanya yang lain dapat berapa? Jangan-jangan aku rugi, mentang-mentang baru," ucap Gandi sok polos.


"Normal sih yang lain juga dapat segitu. Kecuali yang udah lama bisa menawar, karena sudah tahu kelemahan si tante. Bisa sampai 50 atau paling tinggi ratusan."


Dalam hati Gandi berteriak, fantastis sekali sebuah angka di kota Jakarta, seakan uang itu hanya permainan. Didapatkan dengan cara mudah, asal sedikit nekat.


"Lo nggak narik?" tanya Daryanto.


"Udah nih." Gandi memberi sejumlah uang kepada Daryanto.


"Yang bener aja, lo. Cuman segini? Udah gue kasih tambang emas, sekarang bantuin cari alamat, nanti selama lo di sini juga gue yang ngebantuin."


"Ya udah lu mintanya berapa? Gue kan nggak tahu biasanya, tapi jangan ngabego-begoin," cap Gandi, memberi peringatan.


"Lima, cukuplah."


"Eh, buset. Gue aja cuma dapat belasan. Hampir separuhnya lo bawa, kalau gitu," protes Gandi.


"Udah aja, setengahnya gak apa," ucap Daryanto. Maksudnya setengah dari lima juta.


Gandi masuk kembali ke mesin ATM, karena tadi dia hanya memberikan satu juta untuk Daryanto.


Gandi keluar kembali dan memberikan satu setengah juta lagi sehingga dari Yanto mendapatkan 2,5 juta.


Kemudahan mereka meluncur menuju perumahan cafe dengan sebuah motor.


Sambil melaju Daryanto memberikan beberapa penjelasan bahwa perumahan cafe sudah sampai. Dia tunjukkan di mana saja gerbangnya, karena ada tiga gerbang perumahan itu. Kemudian menjelaskan dari komplek A sampai E.


Daryanto juga sudah menemukan rumah Retno, mereka bersembunyi di tempat yang cukup tertutup untuk menginta.i Apakah benar itu rumah yang Gandi maksud atau bukan.


Benar saja, hampir menjelang magrib dia melihat Reno dan suaminya turun dari sebuah mobil, rupanya mereka baru pulang bekerja.


"Iya benar, itu rumah teman gua," ucap Gandi.


Dalam benak Gandi terbersit jika rumah Retno sudah diketahui, maka dia juga akan tahu keberadaan Rara.


Gandi tidak bodoh-bodoh amat.


Retno sudah menikah, masa iya Rara tinggal bersama dengan Retno. Sedangkan di sana pun ada suaminya, pasti Rara sudah pindah tempat..

__ADS_1


Namun, dengan ditemukannya tempat tinggal Retno akan mudah untuk menemukan Rara, itulah perhitungan Gandi.


Bersambung...


__ADS_2