
Mona tidak bisa membantah karena sang ketua yang menginginkan, saat ini dia menggerutu, ngedumel gak jelas Purba belum tahu istrinya yang sedang kesal, karena dia sedang berbincang dengan para ekskutif lainnya.
Karena bulan ini adalah bertepatan dengan kemerdekaan Indonesia, jadi kegiatan sosial pun mengusung tema Nusantara.
Entah mengapa ide itu tiba-tiba muncul dari ibu ketua untuk menyambut para tamu undangan yaitu dari panti dan dari lembaga-lembaga sosial lainnya.
Nanti, Rara diminta untuk menyambut tamu istimewa dan dipasangkan oleh salah satu rekan yang lainnya, yaitu seorang pria juga, karena wajah Rara sangat kental sekali wajah ayu dari daerah.
Ide itu mendadak terbersit saat melihat Rara. Jadi, meskipun kostum para sosialita dan tamu undangan bukan kostum tradisional, tapi untuk Rara dan pasangannya dibalut dengan busana adat.
Terd ...!
Terd ...!
“Bestie ... cari beberapa tamu undangan atau rekan kita yang mau di-make up sebagai icon, kalau bisa cowok dan cewek imbang, kalau tidak bisa, seadanya.” Pesan Caroline di dalam grup sosialita.
“Kenapa mendadak sih, Bu?” salah satu teman Mona bertanya.
“Karena aku kepikirannya juga baru tadi. Udah, lakukan saja,” pungkas Caroline.
Mona dan teman-teman menggerutu dalam mode chat di grup sosialita. Ada yang menyayangkan, jika tahu tema nasional, mereka akan mengenakan busana tradisional.
Ada juga yang membahas, memang sempat untuk make up? Meski pun di grup rame, pada protes. Caroline tidak mengindahkan. Itu sudah biasa, para istri mudah memang masih suka rame rame gak jelas.
Untungnya petugas make up, standby . Cukup untuk sepuluh orang, bermake-up sederhana dan menerima tamu undangan di depan masuk gedung, beda halnya dengan Rara, dia menyambut tamu istimewa seperti para pejabat dan pengusaha.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat, acara akan dimulai. Terlihat Rara yang sudah makeup dengan mengenakan pakaian adat Jawa, sama dengan pasangannya yang dipilih Caroline. Mereka berdiri di belakang Caroline, untuk mengikuti acara pembukaan.
Rara bertugas membawa nampan, yang berisi beberapa map untuk pidato dan doa. Sedangkan Pria di sebelah Rara, membawa nampan yang di atas terdapat kentungan buat gong. Nanti gong dipukul saat acara sudah resmi dibuka.
“Ma, kenapa cemberut aja? Ini kan acara Mama, semangat dong,” ucap Purba, yang duduk di barisan kedua, agak sebelah kiri dan duduk bersama Mona.
“Papa, tanya-tanya nya nanti aja dulu,” gerutu Mona, kesal.
Mona kesal karena rencananya untuk membuat Rara repot, gagal. Namun, di sisi lain Purba malah tersenyum melihat Rara diperlakukan dengan baik oleh ibu sosialita yang lainnya, meskipun dalam hatinya sedikit cemburu, karena Rara sangat dekat dengan pria lain tetapi banyak yang memuji mereka, katanya serasi.
“Em ... pantesan Mama cemberut terus,” ucap Purba saat baru paham bahwa wanita yang mengenakan pakaian ada Jawa di depan adalah Rara.
“Apaan sih, Pa. Seneng banget kayanya. Sekretarisnya di ada di depan,” kesal Mona.
Purba hanya tersenyum dalam hatinya. Dia berpikir, Rara ada potensi untuk bisa menjadi wanita metropolitan, pekerja yang mandiri sehingga menjadi wanita karir.
__ADS_1
Terbersit dalam kepala Purba, dia akan merencanakan sebuah usaha yang dikelola oleh Rara, sehingga uang yang dia miliki bisa berputar tanpa tercampur dengan keuangan rumah tangganya dengan Mona.
*#*
Acara telah selesai, sebenarnya Purba ingin pulang dari tadi, dia sengaja terlihat sibuk menelepon sana-sini seperti menerima panggilan. Ternyata itu hanya akal-akalan Purba, agar bisa terlepas dari Mona.
“Ma, aku ada urusan penting. Aku pulang sekarang ya.” Purba meminta izin pada Mona, yang kini sedang menunggu acara puncak.
“Nanti mama pulang dana siapa, Pa?” rengek Mona.
“Kan, ada Pak sopir,” ucap Purba, karena tadi mereka , kan datang dua mobil.
“Tunggu sebentar lagi Pak, acaranya akan selesai.”
“Tapi Ma ..., Klien sudah menunggu.”
Purba masih berusaha membujuk Mona. Karena acara selesai pukul tiga sore. Purba bilang ada meeting penting, takut kemalaman kalau Mona ikut.
Dan dengan alasan Mona sedang program memiliki bayi lagi, jadi tidak boleh kelelahan, harus jaga kesehatan dengan segala bujuk rayu, akhirnya Mona menurut.
“Ya udah deh,” jawab Mona cemberut.
Purba beranjak dari duduknya, hendak pergi. Namun, tangannya ditarik oleh Mona.
“Masa, Papa pergi begitu saja.”
“Ok, Papa pergi dulu ya sayang,” ucap Purba dengan lembut.
“Bukan itu,” sahut Mona, manja. Dia menunjuk pada bibirnya.
“Hah? Ini tempat umum, Ma,” protes Purba.
“Memang kenapa? Mereka lebih romantis dari kita loh, Papa gak tahu aja. Karena gak pernah baik seperti suami mereka.”
Purba duduk kembali, di menghela napas. Kemudian dikecup kening Mona, “Aku pergi ya, Ma. Hati-hati nanti saat pulang,” ucap Purba.
Mona dengan senyum bahagia, mengangguk.
**#
“Sayang, ayo kita pulang!” ucap Purba, dalam pesan WhatsApp yang dikirimnya ke Rara.
__ADS_1
Namun, Rara tak kunjung menjawabnya, Purba yang sudah di dalam mobil, lelah menunggu. Dia kemudian turun, akan mencari Rara, tapi Bizar memanggilnya.
“Tuan! Mau ke mana?” tanya Bizar.
“Aku mau cari, Rara,” jawab Purba tidak menghentikan jalannya.
Bizar yang peka terhadap apa yang dilakukan tuannya itu bahaya, langsung turun di mobil dan menyusul Purba.
“Tuan!” panggil Bizar, mencoba menghentikan Purba.
Saat mereka sudah berdekatan, baru Purba menyadari, Bizar menyusulnya.
“Ada apa kau menyusul?” tanya Purba.
“Tuan, biar aku saja yang mencari Non Rara, nanti orang – orang bakal aneh, jika Tuan sampai mencari sekretarisnya di acara santai seperti ini, sedang istri tuan juga ada di dalam,” papar Bizar.
“Astaga! Kenapa aku tak kepikiran,” ucap Purba dengan menepuk keningnya, baru sadar.
Kemudian Purba meminta Bizar untuk mencari Rara dan dia pun kembali ke dalam mobilnya
Bizar terus masuk ke dalam gedung mencari ke berbagai ruangan yang dilintasinya, sampai menanyakan kepada seseorang kebetulan Bizar melihat Caroline
"Maaf Bu, Apakah Ibu melihat Rara," tanya Bizar.
"Oh ... Rara. Ya, tadi saya lihat sama Kenzo di sana. Tuan tinggal belok aja ke kiri di sana ada satu ruangan yang tulisannya ruang make up.
"Baik Bu, terima kasih."
**#
Sekitar 10 menit purba masih menunggu di dalam mobilnya. Dia juga berkali-kali memanggil Rara lewat panggilan telepon. Namun, tetap tidak diangkat, Purba masih sabar, mungkin Rara tidak mendengar ponselnya berbunyi karena suara bising atau bisa jadi hp-nya silent.
Saat telah menunggu terlihat Rara dan Bizar menuju pada mobil yang di parkir di depan gedung , Rara masuk di jok depan.
"Bagus ya, udah lama nunggu malah mau duduk di samping asistenku, tidak menghargaiku banget yang sudah menunggu lama." Purba menegur Rara dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Eh iya, maafkan saya Mas, lupa," ucap Rara seraya tertawa kecil
Purba menggeser duduknya agar Rara bisa masuk dengan leluasa. Mobil pun melaju setelah mereka bisa duduk dengan nyaman di tempat masing-masing.
"Kamu kok kenapa sih, tiba-tiba mau diajak pakai pakaian adat itu. Jadi apa sih namanya," tanya Purba pada Rara.
__ADS_1
"Aku juga kurang tahu Mas, tiba-tiba saat aku menaruh kue itu, sama nyonya yang katanya namanya Caroline, disuruh ganti pakaian. Aku juga tadinya menolak, karena akan kembali ke Bu Mona, sudah ditunggu lama, tapi katanya itu urusan dia."
Bersambung...