
Sehari up dua bab serempak ya... tapi entah kenapa yang ini nyangkut. Dari tadi padahal.
__________
Saat purba mau membuka laptopnya, dia langsung terdiam mencerna pertanyaan Rara. Tatapannya mengalih pandangan pada sosok yang masih berdiri di sampingnya itu, kursi kerjanya diputar berhadapan dengan Rara, lalu digenggamnya tangan wanita itu.
“Kok kamu bertanya apa artinya kamu di sini? Kamu tetap berharga untukku dan sangat berarti,” ucap Purba beranda tenang penuh kesabaran.
“Tapi perjanjiannya tidak begitu,” jawab Rara.
“Maksudnya perjanjian tidak begitu apa? Kamu masih membahas perjanjian kita yang dulu? Bukannya dengan seiring perasaan kita yang sama-sama saling suka yang sebenarnya, bukan pura-pura lagi. Perjanjian itu sudah hilang.”
“Iya aku akui, aku mencintai Mas. Aku nyaman, tetapi jika memang Bu Mona sudah bisa menjadi pendamping yang baik di sisi Mas, aku seakan tidak ada fungsinya lagi.”
“Ayolah sayang, jangan ngebahas ini. Biarkan semua mengalir apa adanya. Bukankah pria berhak memiliki pasangan lebih dari satu? Asalkan mampu dan bisa bersikap adil,” jawab Purba, genggamannya pada tangan Rara belum lepas.
“Itu hanya teori Mas, kenyataannya sikap adil itu tetap melukai kami. Bahkan melukai Mas sendiri. Mungkin ketika aku merasa sedih, rasa cemburuku muncul kepada istri Mas dan aku bisa uring-uringan, bisa marah bahkan bisa melampiaskan kesalahanku berlebihan. Yang pusing Mas juga.
Apakah Mas bisa menahan ego kami berdua? Aku dan Bu Mona sama-sama wanita Mas.”
Purba sesaat terdiam, dia berpikir kenapa jadi seperti ini. Bukankah tak masalah jika memang Purba bisa memenuhi keinginan mereka berdua, bahkan di luaran sana pun tidak sedikit istri yang satu dan dua akur. Kenapa jadi ribet begini?
Purba menarik nafasnya, dikecup tangan Rara yang masih ada di dalam genggamanya.
“Sayang... dengarkan aku baik-baik. Ini sebenarnya simple. Dari awal kau sudah mengetahui aku memiliki istri, dari awal pun kamu sudah rela berada di posisi ini dan aku tidak menyia-nyiakanmu sedikit pun.
Lalu apa yang dipermasalahkan lagi? Biarkan aku dan Mona berjalan apa adanya dan aku pun bisa berjalan denganmu sesuai apa yang kamu inginkan. Cukup seperti itu bukan?”
“Entahlah Mas, aku jadi pusing. Mungkin karena aku sedang dapat, jadi perasaanku mudah tersentuh. Baiklah, aku kembali bekerja,” ucap Rara melepas genggaman tangan Purba.
Namun, saat Rara berbalik akan kembali ke tempat kerjanya, Purba berdiri mengejar langkah Rara dan memeluknya dari belakang, otomatis Rara langsung terdiam.
“Sayang... dengarkan baik-baik. Terkadang dalam hidup itu kita dihadapi sebuah permasalahan untuk mendewasakan kita. Terkadang juga kita tidak bisa menolak takdir yang terjadi pada hidup kita.
Yang penting aku tidak berbohong tentang hubungan ini dan aku pun menerima jika memang ini adalah takdirku, berada di dua wanita yang aku belum bisa memilih salah satu. Karena aku juga memiliki hati untuk memikirkan perasaan dua wanitaku ini.
Jika memang kita ditakdirkan hanya aku dan kamu tanpa ada orang lain, bantu aku kuatkan dengan setiap doa-doamu.
Dan jika pun ternyata aku harus hancur tanpa kamu, ataupun wanita lain yang terlebih dahulu ada dalam hidupku, aku ikhlas jika memang aku harus kehilangan segalanya.
__ADS_1
Aku mohon sayang, jalani saja dulu dan kita lakukan rencana awal. Mungkin hari ini atau lusa kamu terakhir bekerja di sini.”
Purba menjelaskan secara panjang lebar dan kata-kata terakhir membuat Rara membalikkan badannya hingga pelukan purba terlepas
Rara bertanya apa maksud Purba mengatakan dirinya bekerja di sini yang terakhir
Purba pun menjelaskan tentang keputusan saat malam di mana kedua orang tua Mona menasehati dirinya
Selain itu purba juga menjelaskan bahwa Rara akan dipindahkan ke perusahaan cabang mungkin itu juga tidak akan lama karena niat mereka untuk mendirikan toko kue sudah sangat matang perencanaannya
“Oke baiklah, aku setuju Mungkin itu lebih baik,” ujar Rara.
“Terima kasih sayang, sudah mengerti,” ucap Purba.
“Ya memang seharusnya aku menerima keadaan ini. Siapa yang ingin menjadi wanita kedua? Tak ada! Tetapi di luar sana wanita kedua pun banyak yang bahagia, bisa berdampingan dengan wanita pertama dari suaminya.”
“Ya, seperti itulah takdir. Semoga aku bisa menjadi sosok suami bagi kalian berdua yang bisa adil. Dan tolong tegur aku jika memang aku khilaf atau kurang adil.”
“Tapi Mas, belum terus terang sama Bu Mona tentang hubungan kita?” tanya Rara.
“Mungkin belum saatnya, suatu saat pasti dia tahu.”
“Ya... aku belum tahu. Kalau reaksi Mona baik mau menerima keadaan kita ya itu lebih baik, kita tinggal lanjutkan hidup seperti apa adanya.”
“Terus kalau sebaliknya?” tanya Rara.
“ Kita tidak bisa berandai-andai ke depannya, bahkan dengan doa segalanya pasti akan berubah menjadi lebih baik.” Purba membeberkan pandang untuk jangan menakuti diri sendiri dengan sesuatu yang belum pasti.
Rara pun memahami maksud Purba, daripada kita berpikiran buruk yang belum tentu terjadi, bahkan berharap sesuatu akan selamanya baik. Kita tidak tahu ada bencana apa di depan. Lebih baik jalani saja beserta iringan doa agar harapan baik itu terlaksana.
**#
Sore hari saat pulang kantor, Purba disambut Mona dengan baik. Baru saja duduk purba sudah disuguhi teh hangat dan kue yang katanya buatan Mona.
“Coba Mas cicipi, kalau ada yang kurang maafin ya,” ucap Mona dengan nada bicara yang semanis mungkin.
“Tapi Ma, tanganku kotor,” ucap Purba sambil menunjukkan kedua tangannya.
__ADS_1
“Ya udah... sini aku suapin,” ucap Mona sambil menyodorkan satu potong kue pada mulut Purba.
Purba mangut-mangut kemudian berkata, “Lumayan juga, enak. Nanti kalau sudah sering mencoba pasti lebih enak dari ini,” ucap Purba.
Padahal kue itu agak sedikit keras. Namun, untuk membesarkan hati Mona, Purba merespons dengan baik. Mungkin nanti Mona juga akan belajar lagi
Saat malam tiba, Mona dan Purba hendak tidur, Purba meminta izin pada Mona bahwa lusa akan ada meeting di luar kota. Dan untuk Rara sudah dipindahkan ke kantor cabang.
Hal itu membuat Mona sangat senang, dia bisa tidur nyenyak dengan memeluk suaminya dengan tenang.
Kejadian ini pun diuntungkan bagi pihak Purba. Karena saat mengatakan akan keluar kota, tentu Rara juga tidak akan ada di tempat sebagai sekretaris tapi Mona akan berpikir Rara ada di perusahaan lain.
Jika saja Rara masih menjadi sekretaris di perusahaan pusat dan kepergian Purba serta keberadaan Rara sama-sama Tidak ada, mungkin Mona akan berpikir yang aneh-aneh lagi.
Purba sudah bisa memastikan bahwa Mona tidak akan mengecek Rara ke kantor cabang, karena Mona paling tidak suka berurusan dengan banyak orang apalagi bukan levelnya. Jika memang bukan sesuatu hal yang sangat darurat.
***
Dua hari berikutnya saat Purba akan berangkat ke kampung Sugih Ayu, tempat di mana Rara tinggal. Purba dan Mona sudah berada di teras rumah.
“Jaga diri baik-baik ya, Ma.” Purba mengecup kening Mona yang masih menggunakan daster, tapi sudah berpenampilan cantik. Karena Mona selalu mandi pagi hari, keluar atau pun tidak.
Mona melambai mengiringi kepergian Purba.
Mobil melaju menuju rumah Retno, sampai sama ternyata Retno dan Rara sudah siap.
Mereka langsung berangkat dengan tiga mobil. Rombongan Rara, Purba, serta ada satu lagi pria di dalam sana dan Rara tidak tahu siapa dia dan kenapa ikut. Sedang Bizar tetap sebagai yang memegang kemudi.
Retno beserta supirnya dari Hendra. Serta satu lagi teman akrab Retno yang ingin ikut sedari awal.
Untuk menuju 100 episode novel OBLC, saya akan bagi-bagi pulsa nih, tapi untuk tiga orang. Syaratnya apa? Tunggu di bab berikutnya ya...
Kenapa pulsa? Biar gampang kasihnya. Hehe, lumayan kan ... buat nambah-nambah isi kuota.
Kenapa juga hanya tiga orang? Karena ini baru awal. Makin rame Novelnya, makin besar juga give away-nya 😁
__ADS_1
Berambung ...