Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Mendengar Bulan Madu


__ADS_3

Bab122


"Iya Ret, ya .... Udah jangan ingetin aku kaya gtu lagi. Aku lagi kesel nih, kamu jangan nambah-nambahin. Iya aku sadar, yang kedua kudu banyak sabar. Tapi kalau sakit haji, wajar kan?"


"Iya wajar, namanya juga tentang orang dicintai. Makanya aku ingetin, biar kamu gak terjebak sendiri." Retno hanya ingin sahabatnya tidak terlalu memikirkan hal yang sebenarnya tidak perlu.


Rara terkadang sadar dengan statusnya, tapi tak sadar dengan rasa sakit hatinya, sulit dihindari.


"Huft ... mungkin tadi emang aku habis pulang kerja banget, udah lelah, dongkol, jadi aku pengennya marah-marah. Saat aku telepon, Mas Purba malah negur aku balik.


Aku paham dengan drama Mas Purba, tapi tetap aja kesel, ditegur kaya gitu. Pasti Bu Mona masih ada di sampingnya, mereka masih di kantor," papar Rara, dengan raut muka cemberut.


"Jadi maksudnya keadaan Purba sedang tidak baik-baik saja?" tanya Retno.


"Bukan masalah tidak baik-baik saja, tapi sedang tidak bisa leluasa untuk bertemu. Jadi susah aku minta perlindungan juga."


"Ya udah sabarin aja dulu. Kan ada aku. Sekarang yang penting kamu bisa membuka usaha dan keuanganmu di handle oleh Purba dengan baik."


Rara mengangguk. Untuk hal itu dia mengakui bahwa Purba masih bertanggung jawab untuk melancarkan usaha mereka, memiliki perusahaan sendiri.


"Ya udah yuk berangkat, keburu kemaleman," ucap Rara mengingatkan bahwa mereka sebenarnya akan berbelanja peralatan.


Namun kemudian ada pesan masuk dari Bizar.


"Bentar-bentar," pijat Rara kepada Retno dia ingin membuka pesan terlebih dahulu.


"Maaf Nona. Aku tidak bisa mengantar anda, karena harus mengurus tiket untuk Tuan." Itulah pesan yang ditulis oleh Bizar.


Rara berkata dalam hati. Tiket untuk Tuan? Rara malah fokus dengan apa yang akan dilakukan Bizar, bukan pemberitahuan bahwa Bizar batal mengantarnya.


"Mas Purba mau ke mana?" balas Rara.


"Bali."


"Sendiri?"


"Dengan Nyonya."


Rara tidak membalas lagi pesan dari Bizar. Hatinya terasa pedih lagi. Kepalanya berisi tentang pemikiran yang berlebihan. Ke Bali? Mau apa? Berdua? Apakah tentang pekerjaan? Liburan dalam rangka anniversary? Atau bulan Madu?

__ADS_1


Ah... pikiran Rara benar-benar kacau. Rara bisa berpikir berlebihan dan tidak suka saat mendengar Purba ke Bali, bahkan menebak bulan madu, selain karena dia sudah merasa memiliki Purba, dia juga tahu bahwa Purba belum pernah sekalipun melakukan bulan madu setelah menikah dengan Mona.


Hak Rara untuk sebenarnya untuk marah pada Purba. Saat dirinya kerepotan dengan toko barunya, Purba malah akan bersenang-senang ke Bali, bersama wanita rival Rara lagi.


"Kenapa malah bengong?" tanya Retno.


Namun, Rara tidak langsung menggubrisnya.


Retno yang penasaran apa yang terjadi pada sahabatnya, dia merebut ponsel Rara yang masih dipegangnya. Hal itu tak pernah menjadi masalah untuk Rara, dia tidak tersinggung privasinya diketahui oleh Retno.


Mereka sudah sangat terbuka dan itu hal yang biasa jika Retno atau dirinya sama-sama ingin mengetahui privasi masing-masing. Karena terkadang hal itu perlu, sebab dalam menyimpan rahasia kadang kita memutuskan hal yang salah, maka harus diketahui orang terdekat untuk mengontrol apakah tindakan kita tidak masih dalam tahap wajar?


"Hah ... baru diomongin tadi," ucap Retno, sesaat setelah membaca pesan dari Bizar.


"Ya udah yuk move on, move on. Ingat! Kalau seperti ini gunakan logika, jangan perasaan." Retno memberi saran.


Rara mengambil ponsel dari Retno, lalu dimasukkan ke tasnya. Dia berjalan menuju mobil tanpa merespon pernyataan Retno, sepatah kata pun.


Selama di dalam mobil, Rara hanya diam saja. Meskipun menyadari apa yang diucapkan Retno benar. Gunakan logika saja, jangan perasaan. Karena hati itu sensitif, kesentil sedikit saja, sakitnya kemana-mana.


Terdengar kembali pesan masuk di ponsel Rara.


Namun, Rara bergeming. Seakan menikmati perjalanan yang nyatanya membosankan. Sudah hampir petang, masih saja macet.


Retno mencoba memberi semangat pada Rara, bahwa sahabatnya yang dulu selalu berpikir bahwa keluarga adalah prioritasnya, jangan sampai hanya karena cinta, sekarang menjadi lemah.


Lagi-lagi Rara tidak menanggapi apa yang Retno ucapkan, dia langsung membuka pesan tersebut.


Rara Bukan malas menanggapi sahabatnya, hanya sedang ingin diam saja.


"Nona, kata Tuan Purba, langsung pergi saja ke toko Stainless, karyawan di sana sudah menyiapkan apa yang anda butuhkan. Nona tinggal cek saja dan untuk pembayaran sudah diurus Tuan," pesan dari Bizar.


Bizar pun sudah menuliskan alamat toko, lengkap dengan rute map.


Rara memberikan ponselnya pada Retno, masih dengan mulut membisu dan dia pun tidak membalas pesan Bizar.


Nah ini yang terpenting udahlah bukankah nggak rugi yang penting uangnya ya kan


Rara masih diam, entah apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan, yang pasti tidak ada percakapan apapun sampai pada toko yang dituju.

__ADS_1


 


**#


Sementara itu di tempat lain.


"Cari siapa ya, Mas?" tanya Bu Molly pada Gandi dan Daryanto yang sejak tadi dilihatnya berbincang terus, di dekat sebuah pohon besar.


"Tidak Bu, kami hanya sedang istirahat perjalanan sejenak," ucap Daryanto, dia males kalau ditanya basa-basi oleh warga.


Apalagi Ibu Molly tidak dikenal oleh Daryanto. Jangankan orang asing, warga di kontrakannya saja jarang sekali dia sapa. Daryanto memang tidak suka basa-basi jika tidak ada kepentingan.


"Dari tadi saya melihat kalian di sini, loh. Kalau nggak ada perlu ngapain di sini? Bisa tuh nongkrong di warung sambil makan, sambil ngopi. Kalau mau lebih santai di rumah, jangan di sini, Mas." Bu Molly begitu crewet.


"Maaf ya Bu, apa urusannya tiba-tiba datang ngomentari urusan kami?" Daryanto bersikap tegas.


"Eh, jangan salah paham dulu, Mas. Ini komplek perumahan cukup elit. Jika ada orang asing di dekat sini yang mencurigakan, akan dilaporin ke satpam. Kalau memang Mas tamu, harusnya langsung ke rumah orang yang dituju. Jangan di sini," papar Bu Molly.


Sebenarnya Bu Molly masih penasaran ingin tahu siapa mereka dan urusannya apa, makanya menakuti akan dilaporkan satpam untuk orang asing yang datang ke kompleks. Apa yang dikatakan Bu Molly benar, tapi Bu Molly mengatakan itu cuma buat mancing biar Gandi dan Yanto mengatakan keperluannya.


Daryanto membenarkan juga ucapan wanita itu.


"Atau kalau Mas perlu sesuatu, saya bisa bantu. Mas cari rumah seseorang ya?" tanya Bu Molly, mulai mememancing lagi.


Bukan biang gosip namanya kalau tidak bisa ngorek informasi.


Pohon besar itu jaraknya sekitar tiga rumah dari rumah Rara, pohon yang terletak di antara pertigaan komplek.


"Ibu tahu Rara?" tanya Gandi tidak basa-basi lagi.


"Oh... yang rumahnya itu?" jawab Bu Molly sambil menuju ke rumah Rara.


Gandi mengangguk.


"Tahu dong, itu Rumah saya di sebelahnya. Ada apa? Mas mau ke sana? Orangnya nggak ada, barusan aja pergi. Dmang Mas nggak lihat?"


"Pergi? Iya, saya nggak lihat. Saya pikir Rara belum pulang kerja," jawab Gandi.


Setahu Gandi, Rara kemarin pulang kerja memang sore sekali, sekitar pukul lima lebih. Padahal Gandi tidak tahu, bahwa Rara biasa pulang pukul tiga atau empat. Kalau kemarin telat pulang, karena di tempat kursus membuat kue.

__ADS_1


Bersambung


 


__ADS_2