
Purba sudah sampai di rumah, dia langsung menuju kamarnya karena orang tuanya mungkin masih beristirahat. Karena saat dia pulang tidak melihat orang tuanya di ruang keluarga atau di mana pun.
Waktu yang singkat itu Purba gunakan untuk mandi terlebih dahulu, lalu setelahnya turun ke dapur untuk meminta bi Idah menyiapkan makanan untuk sore hari.
"Kamu sudah pulang Nak," ucap suara serak tapi begitu lembut, dari pintu dapur.
Purba menoleh, ternyata ibunya. Kemudian dia langsung mencium tangan sang Ibu lalu memeluknya.
"Istrimu ke mana? Dari tadi ibu tidak melihatnya," tanya Bu Purwanti.
"Dia sedang ada kegiatan bersama komunitasnya Bu. Em, Ayah sudah bangun?" jelas Purba diakhiri pertanyaan.
"Sebentar lagi juga keluar, barusan Ibu lihat sudah bangun."
"Kalau begitu, kita berbincang di belakang saja. Biar lebih segar udaranya," ajak Purba.
Tak lupa Purba juga memberikan pesan kepada Mbak Idah untuk membawa beberapa kudapan dan jika ayahnya mencari katakan saja di taman belakang.
"Kamu pulang bersama asisten itu, kan? Kok dia nggak turun?" tanya Bu Purwanti.
"Bizar? Dia kembali ke kantor lagi, Bu. Aku bersyukur mendapatkan assiten seperti dia. Professional sekali dan menghargai waktu."
__ADS_1
"Kok bisa kamu ktemu dia? Setahu Ibu, beberapa assiten dan bodyguard Pak Hartanto tidak seperti Bizar yang pandai urusan kantor."
Purba Kemudian menceritakan bahwa Bizar adalah teman sekolahnya dulu. Yang kebetulan masuk ke pendidikan khusus menjadi penjaga atau keamanan untuk orang-orang penting, yaitu yang sering disebut bodyguard.
Dahulu waktu Bizar mendapat permintaan daru Tuan Hartanto untuk menikahi Mona, Purba bingung harus bercerita pada siapa. Lalu di grup sekolahnya, Purba memberikan pengumuman mencari seseorang yang bisa bela diri.
Alasan pribadi, karena Purba tidak ingin jika didampingi oleh orang-orang dari Tuan Hartanto lagi. Purba ingin punya privasi, tidak dikendalikan oleh orang lain. Bahkan sampai jodohnya juga.
Kemudian Bizar menghubungi Purba lewat pesan pribadi, tidak melalui grup. Waktu itu Bizar masih pendidikan, tapi tak masalah untuk Purba, mereka akan tumbuh dan sukses bersama.
Tempat asal Bizar jauh, di luar pulau Jawa. maka dari itu, Bizar akan mendedikasikan diri untuk tuannya dengan amanah.
ibunya purba senang mendengar hal itu setahu dia jika teman seperjuangan maka akan saling menjaga dan selalu solid
Dari dahulu orang tua Purba memang ingin bersilaturahmi untuk menunjukkan tanggung jawab sebagai orang tua, tapi mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa jika putranya memutuskan untuk tidak berkunjung.
Pak Kukuh dan Bu Purwanti sebagai orang tua hanya mengikuti apa keinginan anaknya saja, yang penting semuanya aman.
Purba juga menceritakan bahwa hubungan dirinya dengan Mona semakin membaik, meskipun itu hanya proses percobaan.
"Maksudnya percobaan Nak? Seperti karyawan saja diuji coba seperti itu," tanya Bu Purwanti.
__ADS_1
Purba kemudian menjelaskan bagaimana karakter Mona dengan kehidupan bebasnya. Purba meyakini seseorang yang sudah berusia matang untuk berubah adalah hal yang sulit, jika pun sanggup nanti akan kembali pada sifat asalnya.
Purba mengakui dia harus bersikap dewasa untuk menghargai perubahan istrinya, tapi dia juga harus hati-hati jangan sampai terlanjur. Saat Purba sudah memberikan hatinya dengan tulus untuk sang istri, malah disia-siakan lagi karena kepuasan di luar dirindukan lagi oleh Mona.
"Tapi kenapa kamu pesimis seperti itu? Harusnya dukung dong istrimu untuk berubah sepenuhnya."
"Tapi itu sulit Bu, masalah hati tidak bisa diprogram semudah itu. Selayaknya mesin yang bisa di otak-atik. Tidak bisa segampang itu."
"Iya, Ibu mengerti. Bukankah kamu adalah anak ibu yang bertanggung jawab? Mengerti tentang norma, setidaknya kamu sebagai suami juga berkorban meskipun kamu merasa takut nantinya akan sia-sia.
Setidaknya pengorbanan kamu berada di jalan yang baik, mendapat pahala, bekal amal buat kamu diakhirat. Masa seperti itu saja kamu sekarang perhitungan."
Ibu Purwanti mencoba menasehati putranya yang memang Purba adalah anak yang penurut, tidak pernah membangkang. Saat kecilnya selalu menyimpulkan kesusahannya dengan pikiran positif..
"Terima kasih, ibu selalu percaya padaku, tapi mungkin aku bukan seorang anak yang begitu istimewa seperti yang ibu katakan barusan. Ada masa di mana aku juga lelah Bu.
Selalu mengikuti keinginan orang lain. Ada masa aku juga ingin melakukan apa yang tumbuh dari hati. Yatu mencintai seseorang yang benar-benar bisa menggerakkan hati dan pikiranku hanya kepadanya.
Ibunya Purba mencerna baik-baik kalimat terakhir yang diucapkan oleh putranya. Takutnya salah dengar. Mengapa putranya membahas tentang cinta yang sesuai hatinya? Tidak mungkin hanya sekedar obrolan basa-basi. Seorang pria seperti Purba tidak akan beralasan hanya omong kosong untuk membela dirinya.
"Nak.... Apa kamu sudah jatuh cinta lagi pada wanita lain? Jika iya, yang benar saja," ucap Bu Purwanti sudah terkejut terlebih dahulu.
__ADS_1
Bersambung....