
Bizar menanyakan tentang jadwal besok, apakah harus menjemput Rara dulu atau mempersiapkan hal-hal di rumah, baru setelah itu menjemput Rara Dan langsung berangkat ke tempat acara.
Sementara Bizar sibuk menyibukkan Mona, Purba belok ke satu lorong khusus toilet cewek dan di sana Rara sudah menanti.
Bukan apa-apa mereka janjian, karena Purba ingin memberikan momen romantis untuk Rara. Sebelum pulang mereka harus berpamitan secara khusus.
Purba memeluk Rara lalu mengecup kuningnya, “Selamat sore, selamat pulang, selamat sampai tujuan dan istirahat. Jangan lupa besok harus siap-siap secantik mungkin, nanti Bizar jemput,” ucap Purba dengan suara yang sangat dewasa dan teduh.
Rara hanya tersenyum mangut-mangut dengan manis, kedua pipinya masih berada dalam dekapan tangan Purba. Seperti anak kecil yang sedang dipandang lembut oleh kedua orang tuanya.
“Oh ya aku lupa. Ini,!” ucap Purba. Dia memberikan sebuah credit card untuk Rara gunakan.
Rara terperanjat, kenapa bosnya itu memberikan kartu kredit padanya? Rara masih bengong, dia sungguh takut kalau sampai ketahuan sebelum mereka mencapai tujuannya.
“Sekarang kan waktunya masih cukup untuk ke salon. Pergilah ke salon, nanti aku kasih tahu alamatnya lewat WA. Kalau kamu bingung baru pertama kali ke salon, kamu tinggal duduk aja, nanti aku yang memberi arahan ke karyawannya,” papar Purba.
Purba menggoyangkan tangannya di depan wajah Rara yang masih bengong.
“Eh, E ... Oke baiklah Mas, tahu aja aku memang belum pengalaman tentang perawatan. Terima kasih ya. Aku nggak ngerti harus gimana dan harus ngapain.”
“Oke, bye-bye,” ucap Purba dan terakhir mengecup kembali kening Rara, memeluknya, terus pergi.
**#
Saat Purba keluar dari toliet, Mona dan Bizar sudah tidak ada. Purba tidak menunggu mereka, pikirannya pasti sudah di mobil, dia langsung pergi ke luar gedung dan ternyata benar, Mona sudah ada di sana, di dalam mobil.
“Loh, ini Mama bisa nunggu di sini, gak perlu ikut-ikut ke toilet, kan?” tanya Purba.
“Lagian Papa lama banget, ngapain sih di toilet? Mama merasa gak nyaman, aromanya bikin enek, jadi deh duluan,” respons Mona.
“Ya udah, lain kali makanya jangan ngikut kalau ke hal-hal yang Mama tidak suka, jangan dipaksain. Lagian bakal ada apa sih yang Papa sembunyiin?”
“Iya – iya,” ucap Mona dengan bola mata sedikit ke atas, kesal sebenarnya. Diingatkan hal yang sama terus.
*##
__ADS_1
Keesokan harinya pukul 04.30 aktivitas di rumah Purba sudah dimulai, karena memang acara untuk kegiatan sosial para istri sosialita akan dimulai pukul 09.00 pagi.
Pukul 05:00, Mona harus make up. Dia mendatangkan MUA ke rumah. Karena tidak mungkin juga masih subuh pergi ke salon.
“Bizar, beritahu Rara ditunggu saja di rumah. Biar nanti kita jemput ke sana, setelah itu langsung ke tempat acara. Jadi tidak perlu bolak balik ke sini.” Isi pesan Mona pada asisten Purba.
“Baik nyonya,” balas Bizar yang sudah stay di rumah Purba.
**#
“Ret ... Boleh nggak, kalau keluarga Mas, eh, Pak Purba ke sini,” tanya Rara yang sedang berada di kamar Retno. Karena Retno baru mandi dan bersiap ke tempat kerja.
“Eh, apa? Mas ...,? Kalian jadian? Parah kamu, Ra...!” Retno sedikit melotot, tidak menyangka dengan keberanian temannya.
“Apa sih, Ret. Aku cuma salah ngomong aja, kamu segitunya, deh. Lagi nanti yang mau jemput itu, Bu Mona, istri Pak Purba, boleh nggak, mereka tahu alamat rumah ini?” tanya Rara sekali lagi.
“Ya udah, gimana lagi.” Retno membalas dengan singkat.
**#
Pukul 07.30 Purba, Mona dan Bizar berangkat, mereka menggunakan dua mobil, karena ada beberapa barang yang harus mereka bawa khusus atas nama keluarga Hartanto, bukan dari komunitas para istri direktur.
Papanya Mona tidak bisa hadir, makanya dia menitipkan barang-barangnya di rumah Mona, saat hari h seperti sekarang biar langsung dibawa oleh Mona ke tempat acara.
Sebelumnya Purba sudah menanyakan pada Rara apakah dia boleh bersama Mona mengetahui tempat tinggal Rara dan mengizinkan untuk ke sana. Setelah Purba juga meminta izin langsung pada Retno.
Saat Mona sedang di make up, Purba berbalas chat dengan Rara, sekalian membahas menanyakan alamat tempat tinggal Rara. Kemudian Purba juga meminta nomor Retno untuk dia meminta izin langsung. Bagaimanapun kalau dia seorang bos di perusahaannya, tapi dengan Retno dia bukan siapa-siapa, jadi harus tetap menghargai.
*##
Sesampainya di perumahan yang ditempati oleh Retno.
“Oh... jadi sekretaris itu tinggal di sini,” gumam Mona yang ternyata terdengar oleh Purba.
“Emangnya kenapa?” tanya Purba.
__ADS_1
“Enggak, hanya saja lumayan juga. Dapat uang dari mana dia? Kan baru sebentar kerja,” curiga Mona.
Lirikan mata Mona membuat Purba tidak enak perasaannya. Curiga dan curiga terus yang dilakukan Mona.
“Apa? Mama melihatnya gitu amat. Mama menyangka Papah yang membiayai, gitu?”
“Enggak, kenapa berpikir kayak gitu kalau nggak merasa.”
“Ya habisnya, lirikan Mama kayak gitu. Tinggal cek aja keuangan kantor, kan Kak Yosep bisa audit keuangan.”
“Nggak perlu. Papa apaan sih? Jadi panjang, deh,” gerutu Mona.
‘Tuh kan ... mama juga nggak suka kalau Papa membahas salah paham, jadi panjang. Makanya jangan curigaan terus, kan sudah janji apa-apa jangan dibahas tentang Rara, apa-apa dipertanyakan kehidupan dia. Nanti Papa lama-lama capek, Ma.”
“Eh, kok jadi gitu sih? Mama kan, cuma ingin tahu aja kehidupan Rara, dia wanita beruntung kalau gitu. Mama berhak tahu, kalau sampai dia adalah suruhan pesaing kita, untuk jadi mata-mata gimana? Kok bahas-bahas capek sih.”
“Ya capek lah, ingin tahu sih ingin tahu kehidupan orang, cuma jangan seakan mencurigai suami sendiri.”
“Iya-iya ... habisnya kan nggak mungkin dia bisa bertempat tinggal di perumahan seperti ini, sedangkan kerja aja baru sebulan. Dari mana dia bayar?
Kalau dia bawa uang banyak dari kampung, ngapain harus kerja di perusahaan yang separuhnya gaji buat bayar sewa. Gak mungkin kan dia beli rumah di sini? Lebih nggak masuk akal.”
“Ma ... Rara itu tinggal di tempat sahabatnya yang kerja di cafe tempat Hendra kerja. Mama tahu Hendra kan?”
“Hendra yang mana?”
“Hendra, masih ada hubungan saudara sama Pak Dahlan. Dulu dia sempat ke kantor pas kebetulan ada Mama. Saat mau pesan catering buat acara kantor.”
“Oh... iya Mama ingat, jadi Rara numpang di tempat sahabatnya.”
Purba pun menjelaskan semua pertanyaan Mona yang masih membuatnya penasaran. Sampai Mona juga mempertanyakan pegawai cafe bisa memiliki rumah di sini.
Purba juga menjelaskan kembali, karena Retno adalah pegawai kepercayaan, kinerjanya bagus, sehingga gajinya pun bukan seperti karyawan lainnya yang sama seperti posisi dirinya, ibarat Retno adalah leader dari divisinya.
Purba juga menceritakan bahwa Retno sudah dipinang oleh sang manager cafe tersebut dan perumahan itu juga milik cafe tersebut, sehingga untuk karyawannya difasilitasi rumah gratis. Tentunya khusus karyawan yang memiliki kontribusi baik untuk perusahaan.
__ADS_1
Mona mengangguk mengerti setelah dijelaskan semuanya dan kini mobil yang dikendarai Bizar sudah berada tepat di depan rumah Retno.
Bersambung...