Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Belajar Jadi Sekretaris


__ADS_3

Perseteruan antara Mona dan Rara masih berlanjut mereka seakan melakukan perang dingin. Biasa saja di depan umum, ganas di belakang.


Rara yang selalu membela dirinya sedangkan Mona yang tidak kenal lelah selalu mengintip aktivitas Purba dan Rara. Karena Mona meyakini ada apa-apa dengan mereka.


Saat sampai kantor, Rara seperti biasa sudah bersiap di depan meja kerjanya. Sedangkan Mona yang baru masuk, dia langsung meraih gelas teh yang biasa untuk Purba. Mona ganti gelas dan isinya.


Rara mengetahui hal itu, sakit rasanya. Seakan baktinya untuk suami, tapi disepelekan. Meski Rara sadar Purba bukanlah suaminya. Namun, dalam hati, dia sudah merasa harus berbakti dan melayani Purba dengan baik.


“Mas, boleh aku memberikan beberapa pengaturan di kantor ini? Terutama di ruangan ini?” tanya Mona pada Purba.


“Lakukan apa yang menurutmu baik,” ucap Purba, lebih kepada tak peduli.


“Ok, terima kasih sayang,” ucap Mona, dia sudah mulai manis kembali, dia sudah tidak ambil pusing jika memang dirinya tidak begitu diperhatikan oleh Purba.


Mona sudah mulai merasakan percuma kalau dia dapat menguasai Purba, namun tidak dapat menguasai harta Papanya. Meskipun dia juga masih berat untuk kehilangan suaminya atau untuk berbagi hati suaminya dengan wanita lain.


Akan tetapi, di sini Mona harus bisa bersikap dewasa, jangan sampai semuanya hilang, ya suaminya ya harta Papanya. Maka sesekali Mona harus dapat mengontrol ego dan perasaannya, sebagai wanita yang mudah cemburu untuk tidak terlalu dalam terbawa perasaan.


“Fira, kemari, ke ruangan,” perintah Mona pada sebuah panggilan interkom.


Saat Fira masuk, dia langsung diperintahkan untuk duduk di sebelah Rara. Sedangkan Mona tetap berdiri bersender di meja Purba.


Mona akan memberi beberapa perintah dan perubahan di kantor, khususnya untuk kendali sekretaris dan beberapa kegiatan direktur, yaitu Purba.


“Fira, aku memanggil kamu di sini karena aku tahu kamu adalah karyawan lama dan juga dipercaya oleh Papaku. Juga sebenarnya aku hanya memerlukan Rara untuk bisa bekerja sama, agar aku mengetahui tugas-tugas sebagai sekretaris dan pengelolaan pekerjaan lainnya di posisi Rara.


Akan tetapi, aku yakin kamu lebih paham dan bisa memberikan seluk-beluk dengan rinci tentang pekerjaan itu kepadaku Fira. Makanya aku perlu memanggil kamu kemari.


Selain itu juga, kamu menjadi saksi bahwa ada peraturan yang sudah berubah meskipun ini skala kecil, bukan untuk seluruh perusahaan.

__ADS_1


Yang pertama. aku pasti akan selalu masuk kantor kecuali halangan darurat seperti sakit atau sedang melakukan hal penting di luar kota.


Yang kedua, hanya aku yang menyiapkan air minum untuk suamiku, kalian tahu dia adalah Direktur perusahaan ini. Meskipun aku datang terlambat, tidak ada yang boleh menyajikan selain aku.


Yang ketiga, setiap meeting di luar, hanya aku yang bisa menemani direktur, tidak ada penggantian apa pun kecuali aku memang darurat tidak bisa.


Yang ketiga, nanti Rara akan dipindah tugaskan di perusahaan cabang lain, kalau tidak mau, tetap di sini, tetapi ganti posisi. Tinggal memilih.


Yang keempat, kembali kepada Rara. Jika mau menerima penawaran ku silakan, tidak juga tidak apa-apa.


Dan untuk fira, selain beberapa aturan yang aku sampaikan barusan, kamu juga harus membantuku jika aku menanyakan sesuatu tentang perusahaan kepadamu. Sekarang, kamu tahu kan tujuanku? Sehingga jika aku bertanya apa pun jangan sampai kamu mencurigai untuk apa.


Karena tujuanku adalah, ini perusahaan Papakku. Kenapa tidak, aku juga yang mengurusnya, karena suamiku lebih berhak berada di posisi direktur, maka aku akan jadi sekretarisnya. Lambat laun jika suamiku kenapa-napa, maka aku bisa menghandle nya. Benar kan?”


Mona memberikan penjelasan sangan panjang, hingga suasa di dalam ruangan direktur, seakan hanya Mona yang berkuasa. Purba pun hanya diam. Malah dia cenderung tidak peduli. Dia fokus pada layar laptopnya.


Akan teapi dalam hal ini, jika memang niat Mona sungguh-sungguh, kenapa tidak? Fira mendukung Mona, toh tidak ada alasan untuk dirinya menolak atau berontak atas tujuan anak dari pemilik perusahaan itu.


“Oke, hanya itu saja. Fira, silakan kembali ke tempat semula dan mulai hari ini kalian harus siap-siap dengan perubahan yang aku sampaikan barusan.


Untuk Rara, mulai hari ini kau akan selalu bekerja denganku, setidaknya memberikan apa yang aku belum kuasai. Paham?!” ucap Mona dengan tegas.


Rara pun hanya mengangguk, sebisa mungkin dia memunculkan ekspresi yang biasa saja selayaknya sebagai karyawan perusahaan, bukan sebagai pesaing dalam asmara.


Fira pun keluar, dia terbersit membahas hal ini dengan Heru, manager divisi lain yang sama-sama sudah bekerja lama dengan dirinya, yang dulu sempat dia ceritakan kepada Rara. Bahwa Heru juga satu pemikiran dengan dirinya tentang Mona yang sempat membuat perusahaan merosot drastis.


Bizar pun ada di sana tentunya, dia selalu stay dekat Purba dan duduk di dekat pintu.


Purba memberi kode pada Bizar, lalu Bizar pun mengerti, bahwa situasi di dalam perusahaan memang harus sesuai apa yang Mona inginkan. Jangan merasa heran dan tidak ada perdebatan.

__ADS_1


“Mas, aku ingin satu meja lagi di ruangan ini, untukku bekerja. Ya... mungkin untuk Rara juga jika dia masih ada di sini untuk mendampingiku. Sebelum aku benar-benar bisa menggantikan posisinya. Masa sekretaris kerjanya di meja tamu seperti itu,” pinta Mona, yang kini sudah duduk di samping Purba.


Yang dimasukkan Mona adalah selama ini Rara memang bekerja di sofa yang khusus untuk menerima tamu di ruangan itu, sehingga Mona meminta meja selayaknya karyawan.  Agar nyaman untuk duduk tegak.  Seperti yang kita tahu, sofa pasti lebih pendek dari meja kerja ala-ala kantor.


“Baik Ma, nanti Aku perintahkan office boy untuk menyediakan meja dan kursinya,” sahut Purba.


Purba merespon Mona dengan biasa, tidak pun seperti orang kesal, tidak juga menunjukkan mimik yang dapat mengganggu mood Mona.


Purba sebisa mungkin biasa saja, agar tidak ada permasalahan jika reaksi yang ditimbulkan dari wajahnya berubah, apalagi terlihat tidak suka dengan adanya Mona di sana seharian.


Aktivitas pekerjaan pun berjalan seperti biasa, Mona yang mau tidak mau harus dekat dengan Rara, dia paksakan demi untuk mempertahankan rumah tangga dan perusahaannya.


Mona pernah sekolah manajemen di luar negeri, tidak mungkin dia tidak mudah menguasai pekerjaan untuk sekretaris di kantornya. Namun, selama ini saat dia masih menyukai pergaulan bebas, dia tidak begitu minat untuk mengurus perasaan Papanya. Karena merasa buat apa? Toh, harta Papanya tidak akan habis tujuh turunan dan Purba sebagai suaminya pun bekerja dengan baik.


Akan tetapi saat kedatangan Rara, pola pikirnya berubah. Bisa saja semuanya hilang karena wanita yang dianggapnya licik dan jahat itu.


Diam-diam Purba mengirim pesan dari ponselnya kepada Rara.


‘Sayang, maaf ya hari ini tidak ada morning kiss,’ ucap Purba melalui pesan itu, diakhiri dengan emot kecup dan love di kedua mata.


Ponsel Rara yang berada di dalam tas, tidak terdengar nada atau pun getar. Rara tidak mengetahui ada pesan tersebut. Karena sungguh hati-hati sekali, jangan sampai jika ponsel yang terletak di meja ada notif masuk kemudian Mona melihatnya, karena mereka memang benar-benar satu meja dan berdampingan satu laptop pula.


Saat istirahat, barulah Rara membuka ponselnya dan membalas pesan Purba.


“Tidak apa-apa sayang, aku paham.” Diakhiri dengan emot cium juga.


Namun ada satu momen saat Mona ke toilet, Purba sempat mengecup Rara dan kebetulan itu hari sudah sore waktunya pulang.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2