
Bab95
“Orang-orang ke mana, Yo? Di rumah sepi,” tanya Tuan Hartanto. Saat melihat Yosef baru sampai rumah.
Saat ini tuan Hartanto sedang membaca koran di depan telivisi yang menyala, menayangkan siaran berita.
“Di rumah sakit, Pa,” sahut Yosef, dengan segera duduk dekat Papanya.
Tuan Hartanto menurunkan korannya dari depan muka. 'Rumah sakit?" tanya Tuan Hartanto dengan mimik terkejut.
Yusuf mengangguk, tanpa diminta dia langsung menceritakan kejadian dari awal hari sebelumnya saat Mona meminta untuk menemaninya menemui Bram. Sampai kejadian saat ini hingga di rumah sakit, Yosef pun bicara sangat hati-hati, dia takut Papa menjadi terpancing emosi.
"Lalu baji-ngan itu di mana sekarang?" tanya Tuan Hartanto dengan tatapan mata yang terlihat api amarah.
"Di kantor polisi Pak sedang diproses."
"Antar Papa ke sana!"
"Ke mana Pa? Kantor polisi?" tanya Yosef dengan kebingungan dan cemas.
Tuan Hartanto mengangguk, dia berdiri hendak pergi keluar.
"Tapi ini sudah malam Pak, tenang dulu."
Yosep mengejar Pak Hartanto yang tidak bisa dihentikan. Saat di teras rumah dia memberi isyarat kepada security di depan agar menghalangi Papanya..
Yosep berhasil menahan Papanya, dia terus berbicara agar Papanya mendengar apa yang disampaikannya. Bahwa saat ini yang terpenting adalah Mona. Biarkan Bram diproses oleh yang berwajib, karena besok-besok kalau untuk memberi pelajaran kepada Bram masih bisa, sedangkan Mona lebih membutuhkan support saat ini.
"Purba sudah mengetahui?" tanya Tuan Hartanto dengan nafas ngos-ngosan menahan amarah.
__ADS_1
"Belum Pa, aku sedang memikirkan cara, alasan apa yang tepat."
Bram kemudian menceritakan perundingannya dengan sang Mama, bahwa Purba jangan dulu diberitahu akan hal ini, karena tidak sepenuhnya salah Mona juga.
Jika sampai Purba mengetahui keadaan Mona, dia akan tahu bahwa selama ini Mona masih tetap berhubungan dengan Bram. Selama pernikahan mereka kejadian ini akan dimanfaatkan oleh Purba untuk jauh dari Mona. Sedangkan Mona menjadi seperti ini karena berjuang ingin mempertahankan hubungannya dengan Purba.
Namun, tidak seperti yang dibayangkan, lepas dari Bram sangatlah sulit. Hingga Mona seakan mengorbankan diri untuk yang terakhir kalinya menjadi budak nafsu Bram. Dengan harapan selamanya akan terjauh dari lelaki brengsek itu. Karena saat ini Mona telah memiliki bukti bahwa Bram sering mengancam dan memaksanya. Bukti itu akan diserahkan kepada polisi agar dalam waktu dekat segera dihukum.
"Kalau gitu biar alasan Purba serahkan pada Papa."
"Tapi papa akan melakukan apa?"
"Kamu tidak percaya pada papamu sendiri?"
"Bukan gitu Pa, takutnya Papa kan saat ini sedang emosi pada Bram, takutnya ke Purba...?"
Tuan Hartanto hanya menatap Yosep seakan tidak ingin keputusannya disepelekan oleh sang anak. Dia masuk ke rumah mengambil ponselnya lalu menghubungi Purba.
"Hari ini papa telah mengadakan meeting dengan tuan Dalen, kami sudah melakukan perjanjian untuk ekspor bahan ke negaranya. Papa minta besok kamu temui beliau langsung, dengan persiapan untuk peninjauan di negaranya."
"Kenapa mendadak Pah?" sahut Purba.
"Papa rasa ini tidak mendadak, karena dilakukan besok hari, bukan saat ini juga kan? Dan hal ini biasa kamu lakukan."
"Tapi kata Yosef, Mona di situ ya pa? Jika esok aku langsung berangkat, bagaimana dengan Mona? Ponselnya tidak bisa dihubungi."
"Mona sudah tahu, tenang aja. Pastikan besok kamu tidak telat ditunggu oleh Tuan Dalen di bandara."
Purba pun mengikuti perintah dari mertuanya. Besok dia pergi ke Singapura di mana Tuan Dalen menjalankan usahanya
__ADS_1
##*
Nyonya Hartanto sekarang sedang berada di samping Monas yang secara fisik sudah stabil hanya saja Mona masih tidak ingin bicara tapi sudah mau makan minum serta mau mendengarkan karena saat mamanya berbicara dia bisa mengangguk atau menggeleng responnya masih cukup baik.
Ruangan inap yang berukuran cukup besar hanya ada tiga orang saja di sana mau nanya Hartanto dan satu asistennya yang satu lagi pulang bersama Yosef tadi.
Nak kau mau menghubungi suamimu tanya Nyonya Hartanto ingin tahu apa reaksi Mona
Mona diam sebentar dia seakan menelaah pertanyaan ibunya, tak lama Mona menggeleng. Nyonya lega karena apa yang dirundingkan dengan Yosef ternyata itu keputusan baik.
Sesekali Mona meringis, jika badannya digerakkan terasa perih di bagian intimnya.
Padahal dia orang dewasa yang sering melakukan hal itu, baik dengan suaminya atau saat dia menjadi wanita nakal. Namun, tentu saja perlakuan itu berbeda antara penuh hasrat karena sebuah kenikmatan yang ingin diciptakan dan penuh hasrat karena melampiaskan amarah dan balas dendam.
Sesekali air mata Mona menetes. Baru kali ini hatinya merasa teriris diperlakukan tidak senonoh padahal bukan oleh orang asing, tapi kenapa begitu tega. Seakan dirinya sebuah boneka yang tak berperasaan diperlakukan oleh tuannya karena gemas.
Dalam keadaan setengah sadar, saat itu Mona masih mengingat bagaimana Bram memberikan tanda merah itu dengan gigit gemeretak dan nafas menderu seakan tak ada batasan untuk melampiaskan nafsunya.
Mungkin jika tidak ingat dinding apartemen tidak cukup untuk menahan teriakan, Bram akan sangat berisik saat memainkan alatnya begitu seperti orang kesetanan. Gilir sana gilir sini, balik sana balik sini, dari atas ke bawah, dari depan ke belakang entah seperti apa gilanya Bram saat itu.
"Sudah Nak, ibu yakin ba-ji-ngan itu saat ini tidak akan mengganggumu lagi."
Mona sesenggukan Di Dalam pelukan ibunya, dia memegang lengan ibunya sangat erat.
"Maafin Mona Bu," ucap Mona dengan suara serak dan lirih.
Nyonya Hartanto terus saja membelai kepala putrinya itu.
Sekerasnya hati manusia, saat dirinya ingin tobat malah mendapat ujian yang berat pasti akan merasakan sakit hati juga.
__ADS_1
Bersambung...