Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Purba Kacau


__ADS_3

Yang mau crazy up, nanti kalau udah rame ya ... :) biar otor semangat crazy up-nya. Dan, otor nulis cukup banyak kata tiap babnya, jadi mungkin sehari sudah cukup dua bab dulu.


Heh, terima kasih yang sudah mampir dan support.


_________ lanjut cerita ________


“Lo apa-apaan ini?” tanya Yosef menunjukkan galeri di ponselnya saat kemarin di acara fashion show.


“Kakak? Ngapain merekam ini? Kurang kerjaan aja,” ucap Mona sedikit membentak.


“Gue hanya iseng aja. Benar ini Bram? Lo masih berhubungan dengannya? Gila kamu! Mau harta kita habis sama dia?”


“Halah ... kayak kakak nggak aja. Pacar kakak juga ngabisin uang,” Mona membela diri dengan menjatuhkan pacarnya Yosef yang sangat royal.


“Beda lagi Mon, si Bram ini benar-benar pengangguran, nggak wajar ngabisin uang ceweknya. Kalau gue beda lagi, cewek ngabisin uang cowoknya tak masalah. Biar aku yang lebih berjuang buat cewek gue. Ngga usah ikut campur dengan urusan gue.”


“Kakak juga nggak usah ikut campur, terserah aku lah.” Mona tetap ngotot, dia hendak pergi, tapi di tarik lagi oleh Bram.


Bram memang selama ini kurang bagus juga mengurus perusahaan Papanya, tapi dia juga tak rela jika seorang Bram memanfaatkan adiknya dan menguras harta keluarganya.


“Lo tuh ya... benar-benar! Susah dibilangin. Pokoknya kakak ingatin! Lo harus tahu keberadaan Purba masih menjadi penguat untuk stabilnya perusahaan kikitaIde-ide cemerlang dan kinerja baiknya membuat perusahaan kita tetap ada di jajaran perusahaan gajah.”


“Tumben kakak sadar. Habis kebentur kepalanya?” Mona malah meledek. Masih untung sekarang Yosef tidak seamburadul dulu.


Mungkin usia seseorang memengaruhi tingkat kesadaran dan kedewasaan semakin baik.


“Bukan gitu, maksud gue. Lo sadar nggak kalau perasaan Papa hancur. Gue nggak mau miskin, makanya biarin deh gue susah payah bekerja  Yang penting tetap di perusahaan Papa gue sendiri.


Coba lo bayangin kalau kerja di tempat orang lain. Ogah gue.”


“Ya udah... ya udah . Sini fotonya, atau hapus rekamannya.” Mona mau ambil ponsel yang dipegang kakaknya, tapi tangan Bram ditariknya.


“Pokoknya gue peringatin, Ngga usah berhubungan lagi sama Bram, cari masalah aja Lo. Katanya nggak mau putus sama Purba, tapi lu cadi perkara kayak gini.”


“Iya ... sabar, ini lagi diurusin kok biar si Bram jauh. Kemarin juga aku udah marah-marah ke dia, eh susah banget dibilangin.”


“Ok, kakak peringatin, bila perlu nanti kakak turun tangan, jika tuh brengsek gak mau jauhin Lo juga.”


“Masih di sini, Ma? Ditunggu Papa,” tiba-tiba Purba sudah ada satu ruangan dengan mereka.


Tanpa menjawab pertanyaan Purba, Yosef dan Mona pergi ke depan menghampiri Papa dan Mamanya. Hanya saja Yosef masih sempat menepuk pundak Purba, tanda dia peduli.

__ADS_1


 


**#


 


Saat orang tua Mona sudah pergi, Purba langsung masuk ke ruang kerjanya. Yang dia pikirkan bukan bagaimana perasaan Mona saat tadi mendapat nasehat dari orang tuanya, ataupun mendapat perdebatan dari dirinya tentang pembelaan untuk Rara.


Purba hannya ingin cepat-cepat bertanya pada Rara. Kenapa bisa pulang bareng Kenzo? Bukankah Kenzo adalah pria yang di acara sosialita istrinya waktu itu? Mengapa mereka bisa bertemu di acara fashion show kemarin?


Purba melakukan panggilan dengan Rara. Namun, Rara tidak menerima panggilan itu hingga beberapa kali.


“Angkat! tulis Purba mengirim pesan pada Rara.


Rara tetap tidak menjawabnya, sekian lama menunggu sambil Purba mengerjakan pekerjaan kantor, pesan dikirimnya kembali.


“Jangan , kalau ada apa-apa kita bicarakan. Ayo angkat, kalau diam saja tidak akan merubah apa pun,” pesan kedua yang Purba kirim.


Tidak lama setel pesan kedua terkirim, kemudian ada panggilan dari Rara. Buru-buru Purba menerimanya meskipun itu hanya panggilan biasa, bukan video call yang diinginkannya.


Purba langsung membahas mengenai Kenzo. Kenapa bisa Rara pulang bersamanya bahkan Purba menuduh Apakah mereka janjian.


“Mas, mending kalau bertanya, ya bertanya aja deh. Jangan menuduh kayak gitu. Gimana aku bisa jelasin,” ucap Rara kesal, karena dia paling gak suka dituduh apalagi bukan kenyataannya.


Rara kemudian menjelaskan kenapa dia bisa bertemu Kenzo di sana, ternyata Kenzo adalah putra dari salah satu teman komunitasnya Mona.


Kenzo sedang menjemput maminya di acara fashion show itu dan kebetulan saat Purba sedang menyusul Mona ke mobil, Kenzo melihat Rara hingga menghampiri, lalu mereka berbincang sebentar kemudian Kenzo menawarkan tumpangan untuk Rara pulang.


“Benar hanya seperti itu? Kok bisa kebetulan? tanya Purba masih berusaha menyelidiki.


“Aku nggak tahu Mas, kalau udah takdir ya udah. Lagian aku hanya diantar pulang. Tanya aja ke istrimu, ada nggak temennya yang punya anak Kenzo.” Rara masih menunjukkan rasa kesalnya karena Purba curiga terus.


“Ya udah, Mas minta maaf. Istirahat ya, sampai jumpa besok di kantor.”


“Mas kenapa sih? Lagi ada masalah ya di rumah? Masalah besar? Kaya orang kebingungan, gak fokus, gitu.” Bukannya Rara merespons saat Purba pamitan, dia malah membahas hal yang lain.


“Biasalah, kamu tahu sendiri. Suami istri itu ada masalah biasa, ya udah, aku juga mau istirahat.”


Purba menutup ponselnya setelah beberapa obrolan basa-basi yang mereka akhir.


Purba cukup percaya dengan penjelasan Rara, kemudian dia beranjak dari kursi kerjanya dan tidur di sofa.

__ADS_1


**#


Keesokan harinya Purba bangun seperti biasa mau berangkat ke kantor, tapi saat dia ke kamar tidak ada Mona di sana, ke mana, pikirnya.


Namun, Purba tidak terlalu memikirkan itu, dia langsung mandi bersiap-siap lalu sarapan dan menanyakan keberadaan Mona pada Mbak Idah.


“Tidak tahu Pak, semalam Ibu memang pamit, tapi tidak bilang mau ke mana,” jawab Mbak Idah.


“Diantar sopir Mbak?” tanya Purba.


“Tidak Pak ibu membawa mobil sendiri.”


“Oke, baiklah Aku berangkat Mbak.”


Mbak Idah pun mengangguk, dia menatap kepergian tuannya. Terenyuh dirinya ada seorang laki-laki yang seakan mau dijadikan robot padahal berada di tengah gelimangan harta. Meski itu harta mertuanya, tapi kan mertuanya juga bukan orang jahat.


Hanya saja Purba merasa harus berbakti pada kedua orang tuanya. Walau besan mereka orang kaya, mereka tidak ingin ketergantungan. Sudah dipercaya mengurus beberapa tanah di kampung saja sudah syukur.


Meski keadaan memang sudah sedikit berubah Purba sudah bisa membela diri dari kesemena-menaan Mona sebagai istri.  Mbak Idah menyimak hal itu, tapi tetap masih ada rasa iba pada Purba.


Dulu purba sering diam saja kalau diminta melayani Mona, seperti seorang ayah melayani anaknya terbalik, harusnya Mona yang melayani Purba sebagai suaminya.


“Yang sabar Pak Purba....” tiba-tiba Mbak Ida bergumam seperti itu.


**


Waktu begitu cepat berlalu hari-hari di perusahaan Boanfit Tekstil berjalan dengan lancar.


Masih dengan Purba yang bersikap malas-malasan saat Mona selalu ada di sampingnya, juga masih dengan Rara yang menjalankan karakternya sebagai sekretaris dan Mona masih selalu dengan strategi-strategi liciknya untuk membuat Rara terlihat buruk di depan Purba.


Namun, sayangnya lagi-lagi Dewi Fortuna selalu berpihak pada Rara.


Semenjak kedatangan orang tuanya Mona ke rumah malam itu, Mona sering sekali tidak tidur di rumah. Dan diketahui malam itu pun saat Purba menanyakan kepergian Mona pada Mbak Idah, dia tidak pulang selama dua hari tapi tetap saja ke kantor.


Saat Purba menanyakan keberadaannya, Mona menjawab bahwa ia tidur di rumah orang tuanya. Dan sebagai suami yang masih bertanggung jawab, Purba mengkonfirmasi kebenaran itu pada mertuanya dan ternyata itu benar.


Mertuanya menasihati Purba melalui panggilan telepon saat itu, untuk biarkan Mona introspeksi diri saat berada di rumah orang tuanya. Begitu pun Purba harus sama-sama introspeksi diri.


Sehingga bagi Purba sekarang tidak jadi masalah, Mona mau tidur di mana pun dan tetap saat pagi-pagi berada di perusahaan.


Bersambung...

__ADS_1


Saya udah up dari pagi, review lama. Entah jam berapa mau ke up. Yang nungguin harap bersabar.


__ADS_2