
“Ayo Kita istirahat. Jangan kerajinan kerja,” ajak karyawan yang nyamperin Rara, dia adalah Khodijah.
Rara bukan lega mendengar ajakan tersebut, dia malah semakin kaget. Apa-apaan ini? Sungguh tidak bisa dipercayai sebuah ajakan atau jebakan? Rara trauma dengan kepolosan pikirannya, orang benar-benar baik atau ingin mempermainkan.
Karena dari awal mereka datang berkelompok seperti menantang untuk bertengkar, tapi nyatanya malah mengajak istirahat. Rara masih curiga mana yang yang benar, mereka orang-orang baik atau licik.
“Kenapa bengong? Tadi katanya suruh nyamperin ke sini,” ucap Doni.
Rara menoleh ke arah Doni lalu menoleh lagi ke Khodijah yang masih di sampingnya, lalu menatap tiga teman lainnya seakan mencari jawaban. Apa benar mereka ngajak Rara ke kantin bukan mau tawuran?
“Ah, gimana sih, lelet banget. Ayo!” Ajak Doni menarik tangan Rara.
“Eh, bentar-bentar aku belum matiin laptopnya,” ucap Rara, tangannya hendak meraih laptop untuk dimatikan.
“Udah, biar aku aja,” ucap Riri yang mematikan laptop kemudian merapikan meja kerja, lalu Dewi membawakan tas Rara juga.
Karena Rara sedang ditarik Doni, dengan jalan hampir terseok-seok, tidak ada kesiapan untuk Rara berjalan normal, dia langsung ditarik saat masih posisi duduk.
“Kalian ngapain, sih. Mau ngajak aku ke mana?” tanya Rara.
“Ke kamar mandi,” ucap Janu.
“Hah! Mau ngapain? Apa salahku?”
“Gak ada yang salah. Cuman mau cuci tangan doang,” ucap Khodijah.
Mereka kemudian tertawa serempak dan itu lagi-lagi membuat Rara kaget.
“Hahaha kenapa kamu ketakutan gitu? Emang muka kam-kami seseram itu ya? Apalagi Doni, cowok melambai kayak gini, mana bisa ditakutin,” ucap Janu nggak sadar dirinya pun sedikit melambai.
“Apaan sih lo? Kalau gue melambai terus lo sendiri apa? Kayak ulat keket, jalan aja uget-uget gitu, macam kaya diri sendiri enggak, malu sama wajah.”
Ledek Doni membalas ejekan Janu, di antara mereka berlima Janu memang paling cakep, maco sebenarnya. Cuman entah mengapa dia jalannya agak gemulai, padahal tubuhnya bagus, tinggi. Cukup sempurna buat ukuran pria. Kalau Doni jelas dia tubuhnya kecil lebih pendek dari Janu, menggemaskan apalagi kalau diajak ngerumpi.
“Habisnya aku pernah dibully di kamar mandi, kalau aku ada salah, maaf...,” ucap Rara.
“Oh, jadi kamu dapat trauma? Tadinya kita cuman nge-prank aja, ya kan gaess? Sorry kalau kamu sampai kaget kayak gitu.” Khodijah menyesal.
__ADS_1
“Nggak apa-apa sih, untung kalian nggak kelamaan tadi nakutinya. Kalau sampai kelamaan bisa-bisa pingsan aku.” Rara menenangkan teman-temannya, biar tidak ada rasa bersalah.
Kemudian mereka berlima sampai di kantin.
“Biar aku yang pesen ya, kalian tulis apa aja,” ucap Dewi.
“Aku boleh ikut memesan ngga?” tanya Rara.
“Boleh aja, ayo! Semuanya boleh kok, cuman biasanya orang empat ini, pada males pesen. Pengennya duduk, nungguin makanan datang. Mana ada kaya gitu, ibu kantin aja sibuk,” ucap Dewi.
“Ya udah yuk! Biar aku ikut sambil bantuin nanti bawa makanannya. Aku ingin tahu juga ibu kantinnya seperti apa, terus cara pesannya gimana,” imbuh Rara.
“Oke! Ayo buruan tulis pesanannya,” perintah Dewi pada teman-temannya.
Benar-benar kantor yang menyenangkan untuk Rara karyawannya ramah, bersikap kekeluargaan, mudah menerima karyawan baru.
Tidak ada yang sok, entah kalau sudah beberapa hari, soalnya itu baru lima orang karyawan yang Rara tahu. Semoga saja yang lain juga semuanya membuat Rara betah berada di perusahaan itu
**#
Mona tidak menjawab pertanyaan Purba, bukan berarti dia masih marah. Namun pertanyaan Purba memang tidak perlu dijawab, karena tentu saja dia bahagia setelah keinginannya terpenuhi. Lalu Purba tetap mengajaknya makan padahal mungkin jam makan siang sudah selesai. Namanya juga bos, makan siang kapan saja.
Mona merapikan pakaiannya dia berdandan kembali dan Purba menunggunya di meja kerja.
Seketika dia rindu pada Rara, sedang apa wanitanya itu, yang hadir saat dirinya kacau dan Rara juga tidak pernah menuntut lebih, itu yang membuat Purba semakin suka pada Rara.
Dibukanya ponsel, dia ingin sekali video call dengan Rara. Purba masih sempat melakukan panggilan itu, karena Mona kalau berdandan lama sekali.
Sayangnya panggilan itu tidak diangkat oleh Rara. Kemudian Purba mengirimnya pesan juga tidak langsung dibalas. Purba mengerti, mungkin Rara sedang menyesuaikan dirinya di kantor yang baru, sehingga dibiarkannya saja pesan whatsapp ceklis masih abu-abu.
Purba tidak ingin banyak prasangka, bahkan kalau Rara membalasnya nanti malam tak masalah. Purba ingin memberi kebebasan pada Rara dengan mempercayainya penuh.
“Ayo Pa,” ucap Mona, dia sudah berpenampilan rapi, selalu cantik dan segar.
Purba keluar dengan menggandeng tangan Rara, tidak lupa diikuti dengan Bizar. Lagi-lagi karyawan kantor yang melihat keakraban bosnya itu tidak lepas dari tatapan heran, ada juga yang senang, ada yang iri juga melihat bos yang serasi menurut mereka dan tentu saja terlihat harmonis.
__ADS_1
**#
Saat purba dan Mona sedang makan siang di sebuah restoran dekat kantor, tiba-tiba seorang lelaki menghampiri meja mereka.
“Siapa Anda?” tanya Purba datar. Karena dia harus hati-hati dengan orang baru, apalagi penampilannya jelas sekali terlihat urakan.
“Anda belum mengenal saya Tuan Purba?” ucap pria tersebut
“Sama sekali tidak!”
“Aku sering ke rumah anda, begitu tidak perhatiannya kepada tamu sendiri.”
Mona yang baru saja dari toilet melihat seseorang yang dikenalnya, seperti sedang berbincang dengan Purba. Namun dia tidak langsung menghampiri. Mona mengintai kira-kira dari gerak-geriknya akan berbuat jahat atau tidak?
Ada rasa ketakutan pada diri Mona.
“Mau apa Bram? Mengapa dia tahu aku kesini saat bareng Mas Purba, lagi,” gumam Mona.
Mona juga berprasangka, apakah Bram menguntit mereka?
Mona harus cari akal agar Bram pergi dari sana, dia belum siap jika masa lalunya dengan Bram telah mengkhianati pernikahannya dengan Purba.
Bahkan bayi yang selama ini selalu menjadi alasan Purba untuk menghargai Mona, ternyata adalah bayi Bram. Bukan darah daging Purba. Jika Purba tahu pengkhianatan dirinya, mungkin saat itu juga bisa menjadi senjata buat Purba untuk menceraikan Mona.
Mau tidak mau Mona menghubungi Bram dengan menggunakan panggilan telepon, Mona bersembunyi dibalik pintu menuju toilet, agar Bram tidak mengetahui posisinya, padahal Mona tadi hampir sampai ke meja yang sudah dipesan Purba untuk makan siang.
"Ah ... sayangku memanggil, tunggu sebentar Tuan Purba," ucap Bram sok akrab.
Purba tidak peduli dengan kesibukan pria di depannya. Namun, setelah disimak baik-baik, dia merasa pernah melihat lelaki itu, tapi karena ingatan Purba merasa lelaki itu sepertinya bukan seseorang yang penting dalam kehidupannya. Apakah klien, apakah relasi kerja yang lain atau saudaranya dari kenalan Purba, maka dari itu Purba mengabaikan saja. Selama pria itu tidak mengganggu.
"Halo sayang? Ke mana saja? Aku tunggu di sini," ucap Bram.
Purba sempat merasa aneh dengan komunikasi pria di depannya sayang ditunggunya di sini apakah pria itu tidak punya makhluk memanggil kekasihnya atau istrinya di meja yang sudah pesan orang lain
Bersambung....
__ADS_1