Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
CCTV Tetangga


__ADS_3

Selagi menunggu Rara dan Azka berganti pakaian, Purba berbincang dengan Bu Sugeti. Kemudian Lena juga kebetulan hari itu libur, sekalian saja Purba mengajak mereka untuk jalan-jalan ke kota.


Awalnya Bu Sugeti dan Lena menolak, karena tidak enak saja takut merepotkan. Karena Bu Sugeti dan Lena tidak tahu bahwa Purba dan Rara ada hubungan dekat. Mereka pikir hanya sekedar bos yang baik sehingga merespons permintaan anak kecil yang polos.


“Tidak usah Nak, Purba. Nanti merepotkan, biar Azka aja sama Rara,” ujar Bu Sugeti.


“Tidak apa Bu, besok kan kita akan ke pernikahan Retno. Setidaknya kita cari seragam biar kompak.”


“Eh, maksudnya seragam apa Pak?” tanya Lena dia masih memanggil Bapak karena bingung harus memanggil apa. Terlebih usia Purba memang lebih dewasa dari dirinya.


Purba kemudian menjelaskan, alangkah bagusnya kalau mereka berangkat ke pernikahan Rara itu menggunakan seragam, yaitu pakaian yang bermotif sama seperti keluarga besar pada umumnya.


Lagi-lagi Bu Sugeti merasa ini terlalu berlebihan, nggak mungkin seorang bos besar begitu peduli dengan karyawan, malah dengan keluarganya pula.


Ada perasaan kepekaan seorang ibu di sana. Apakah Purba dan Rara ada hubungan? Itu yang terbersit dalam hati Bu Sugeti.


 Begitu pun dengan Lena. Meskipun dia gadis kampung, tapi karena perkembangan teknologi dia tentu bisa menggunakan smartphone, tahu cerita-cerita tentang bos yang ada hubungan dengan karyawan dan tahu seseorang yang memang menjalin hubungan serius. Atau sekedar hubungan biasa.


Akhirnya setelah bujukan dari Purba, Lena dan Bu Sugeti pun mau ikut, 20 menit mereka bersiap. Tanpa menunggu lama mereka berangkat ke kota menuju sebuah swalayan yang cukup besar di sana.  


Dan itu hanya satu-satunya, karena memang kampung Sugih Ayu belum begitu ramai dengan gedung-gedung besar, pertokoan perkantoran, sarana pendidikan, memang belum begitu ramai di sana.


Selama di dalam mobil Aska tidak pernah diam. Dia memegang ini itu yang dia lihat, karena duduk di depan dekat Bizar. Tape music dia sentuh, putar-putar volumenya hingga gantungan kunci dan beberapa tombol di sana, ada juga TV kecil yang membuat bocah ini semakin penasaran.


“Azka, nanti rusak,” tegur Rara.


“Biarkan saja sa... em, maksudnya biarkan saja, Ra,” ucap Purba hampir keceplosan.


Rara pun tidak bisa apa-apa, meskipun sebenarnya malu kelihatan sekali keluarga mereka seperti yang udik.


Dalam perjalanan, Purba juga berbincang tentang proses pengajuan ke pengadilan agama. Bahkan setelah pulang dari swalayan mereka akan langsung ke sana. Setidaknya menanyakan beberapa hal yang harus disiapkan dan apakah bisa diwakilkan pengacara atau tidak.


Sekitar dua jam mereka berada di swalayan, Bu Sugeti juga berbelanja beberapa kebutuhan rumah dan tentu saja atas perintah Purba.


“Kita makan dulu ya, Bu. Sudah siang,” ajak Purba.


“Iya, Nak Purba. Ibu ikut saja,” Jawab Bu Sugeti. Walaupun merasa sangat canggung, tapi bersyukur memang dan bahagia. Namun, tetap saja ada kebingungan. Kok bisa bosnya Rara sebaik itu?


Keluarga Bu sugesti sedang menikmati hari yang membahagiakan itu. Namun, di sisi lain orang-orang kampung sedang membicarakannya.

__ADS_1


Tentu saja para tetangga adalah CCTV terbaik yang pernah ada, mereka bisa melihat jeli, bersuara dan menyimpulkan meskipun belum tentu benar.


“Jangan-jangan itu calonnya Rara,” kata salah satu ibu yang rumpi di warung sayuran.


“Masa sih? Secepat itu. Baru juga dua bulan dia bekerja di Jakarta,” ucap ibu yang satunya lagi.


“Jangan salah ... kita kan nggak tahu nasib orang atau ...,” ujar ibu itu, sengaja menggantungkan ucapannya.


“Atau apa Bu? Jangan menggosip ah.”


“Ini nggak menggosip. Kalau menggosip itu mengobrol sesuatu yang tidak pasti. Lah, ini kan betulan. Sesuai apa yang terjadi.”


Sementara itu di sana ada salah satu ibu yang kebetulan berbelanja, tapi tidak ikut nimbrung. Dalam hatinya dia berkata seperti ini, 'Mau kejadian betulan atau tidak, namanya gosip ya gosip. Seharusnya tidak perlu ikut campur.’


 Namun, ibu itu tidak berani mengatakan hal itu. Bahkan Setelah berbelanja pun dia langsung pulang. Sebenarnya sempat mendengar beberapa obrolan mereka. Seperti yang dulu dituduhkan, bahwa Rara mudah mendapatkan pengganti dari Gandi karena dia yang agresif dan suka menggoda suami orang.


 


*##


Sementara itu di Jakarta.


Rupanya Mbak Idah diminta untuk menemani Mona karena dirinya ingin ada teman untuk berbicara. Mona mengatakan kepada ARTnya ingin menjadi istri yang baik.


Mona juga meminta pada Mbak Idah untuk membantunya  belajar mengurus rumah tangga, terutama urusan dapur.


Selain itu Mona juga mengakui bahwa selama ini teman-temannya itu bukan teman yang memberi pengaruh baik.


 Mona juga merasa sebenarnya art di rumah mungkin bisa melihat kelakuannya. Namun, tidak berani untuk menegur atau ikut campur.


“Makasih, ya Mbak Idah. Sudah mengerti posisiku.” Mona dengan kerelaan menyentuh tangan mba Idah.


“Iya Bu, setiap orang itu punya masa lalu yang buruk. Kalau boleh saya memberi satu pesan, jika nanti perjuangan ibu merasa tidak dapat timbal balik yang baik dari bapak, semoga ibu tidak menyerah.


Kata orang tua saya dulu saat kita pernah berlumur dosa, terus mau menjadi baik itu sulit. Ada saja godaannya, tapi kalau kita bisa melaluinya, maka keberkahan akan kita dapatkan, ke depannya akan selalu lancar, insya Allah Bu.


“Iya Mbak Idah, terima kasih ya, udah mau dengerin keluhanku.”


 

__ADS_1


**#


Rombongan Purba sudah selesai dari swalayan dan juga sudah mendatangi pengadilan agama. Keputusannya untuk perceraian Rara sudah bisa diwakilkan oleh pengacara. Karena sudah ada surat kuasa. Maka nanti saat Rara ke Jakarta masih tetap bekerja dengan normal. Sedangkan urusan pengadilan agama ataupun pada saatnya sidang bisa diwakilkan oleh pengacara.


Dan saat ini mereka sedang berada di butik, karena waktunya mepet hanya satu hari maka seragam yang akan mereka kenakan yaitu yang sudah jadi, tidak pesan sesuai ukuran mereka.


Namun, karena untuk kenyamanan mereka tetap fitting baju dan untuk ukuran yang kurang pas bisa diperbaiki. Karena hanya mengecilkan atau membesarkan ukurannya saja.


Saat pulang ternyata Aska terlihat murung.


"Kenapa Nak...? Kok nangis? Ada apa?" tanya Rara, karena tiba-tiba Azka memeluknya erat. Air matanya turun membasahi pipinya.


"Hikz hikz... Azka ingat Azkiya, kalau dia ikut pasti senang. Kasihan Kia tidak bisa naik mobil."


Tiba-tiba seluruh yang ada di mobil terdiam, terenyuh mendengar suara hati anak kecil yang masih polos ini.


Bu sugetti langsung memegang tangan Lena yang berada di sampingnya, dia tak kuasa mendengar ungkapan hati anak kembar yang terpisah.


Bizar dan pengacara duduk di depan saat ini, sedangkan Rara, Purba dan Azka duduk di tengah dan paling belakang adalah Bu Sugeti dan lena.


"Sabar ya, Nak. Nanti kita jemput Kia," bujuk Rara.


"Tapi ayah akan menyembunyikan Kia," rengek Azka yang tahu betapa kasar ayahnya.


"Tidak akan, nanti ibu yang menjemput."


"Tapi, nanti Ibu dipukulin lagi." Azka sempat menyimak saat dulu dia ke kamar Rara, beberapa saat sebelum penyiksaan itu. Azka tahu saat Rara pura-pura tidur dan beralasan sakit.


"Tidak... percayalah. Ibu sudah kuat dan ayah juga mungkin dulu hanya lupa, sedang marah. Sekarang kan ayah sudah tidak marah lagi."


Purba ingin ikut ngobrol, tapi takut salah waktu. Dia ingin menguatkan hati anak itu dan ikut mendukungnya. Bahwa dirinya akan selalu ada untuk mereka.


Sore hari mereka pulang kembali ke rumah Rara. Tentunya dengan banyak sekali barang belanjaan. Hal itu tidak terlepas dari mata tetangga yang menyimak diam-diam.


Ada yang pura – pura lewat, pura-pura menemani anaknya manggil Azka untuk main, ada juga yang sengaja ke sana untuk sekedar menyapa.


 


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2