
Bab90
“Pak tunggu sebentar ya, kalau Bapak mau ngopi-ngopi di warung itu atau mau cari kafe sekitar sini, silakan saja. Takutnya saya lama,” ucap Mona pada supirnya.
“Baik Bu,” ucap sopir itu singkat.
Mona masuk ke dalam lift menuju lantai tiga langsung menuju kamar Bram. Dan langsung menekan bell pintu kamar yang tak lama langsung dibuka oleh si pemilik apartemen.
“Halo sayang,” ucap Bram lalu mencolek dagu Mona, tanpa sempat bisa mengelak Mona langsung ditariknya berada dalam pelukan Bram.
“Bram, lepas! Langsung aja pada intinya,” ucap Mona.
“Oke,” singkat Bram dengan senyum kemenangan.
Bram merasa ditantang oleh wanita yang tak pernah membuatnya merasa bosan, malah selalu menjadi candu.
“Ah! Bram! Apa-apaan? Lepas!” ucap Mona, dia berontak di dalam gendongan Bram.
Mona kali ini sudah bisa menguasai dirinya semenjak kejadian di kamarnya beberapa hari yang lalu. Saat Bram ingin berbuat asusila di rumahnya.
Mona belajar menyugesti dirinya bahwa dia benci Bram, dia harus menjauhi Bram. Sebab pria itu tidak menguntungkan, jahat dan bisa membuatnya memiliki penyakit jika terus dilayani.
Mental Mona sekarang kuat akan sentuhan Bram. Sudah tidak lagi mempan untuk dirinya, dalam pikiran Mona sudah koko untuk menebus segala kekeliruannya di masa lalu. Maka tujuan hidupnya hanya menjadi istri yang baik untuk Purba.
Mona sudah dilempar di atas kasur, tas yang di selempangnya di pundak jatuh di lantai karena talinya putus.
“Aku ke sini untuk menyelesaikan urusan kita. Katakan apa yang kau mau?” Mona sudah berada di puncak rasa muak dan jijik.
__ADS_1
“Yang ku mau adalah tubuhmu.” Bram merangkak di atas ranjang menuju Mona yang terbaring sedikit duduk dengan menahan tubuhnya oleh kedua sikut.
“Tapi kau mau ngambil uangku juga!” teriak Mona.
“Tapi sekarang aku mau tubuhmu!” ujar Bram yang sudah sangat dekat dengan Mona.
Mana berusaha lepas dari kukungan Bram.
“Katakan nominalnya. Ini hari terakhir aku ke sini,” ucap Mona.
Namun, Bram tidak menggubris, dia terus saja berusaha mengeksekusi Mona .
“Bram!” Teriak Mona mendorong tubuh Bram sekuat tenaga.
Bram terjengkang masih di tempat tidur, kemudian Mona bergegas turun.
Saat ini Mona merapikan pakaian dan memungut tasnya yang tadi jatuh. Mona masih berdiri dengan menunggu keputusan Bram. Namun, kali ini dia lebih waspada.
Bagaimanapun kasarnya Bram dia tidak akan mungkin menyakiti diri Mona, itu yang mana tahu. Makanya Mona berani meminta pertimbangan lagi pada Bram.
Bram memang tidak akan menyakiti Mona secara kekerasan fisik, seperti menyiksa dengan pukulan atau kekerasan fisik pada umumnya. Akan tetapi Bram, bisa menyakiti Mona dengan bi-rahi nya saat melampiaskan naf-sunya pada Mona.
Bram mengusap mukanya, tubuhnya yang sudah cukup berkeringat karena berusaha memaksa Mona. Dia juga mengusap wajahnya dengan kasar, lalu turun dari tempat tidur, beranjak ke meja yang tersedia air minum.
Diteguknya beberapa air berwarna coklat transparan itu, mungkin minuman keras yang memabukkan.
“Minum dulu, tenangkan dirimu,” ucap Bram memberikan satu sloki minuman yang dia minum juga.
__ADS_1
“Tidak! Aku tidak minum itu lagi. Aku dari tadi juga tenang, kamu yang terburu-buru dan mengingkari perjanjian kita,” ketus Mona.
“Oke baiklah.” Bram menyimpan gelas yang dia sodorkan pada Mona, kemudian mengambil gelas baru lalu menuangkan air bening dan diberikan pada Mona.
“Kali ini jangan menolak, anggap saja ini kebaikanku sebagai tuan rumah memberi minum pada tamu,” bujuk Bram.
Mona menerimanya lalu duduk mengikuti Bram yang sudah duduk terlebih dahulu. Masih dipegangnya gelas berisi minuman memabukkan itu.
“Perjanjian kita seperti biasa, tapi aku rindu itu saja,” ucap Purba dengan alis mata diangkat mengarah pada sesuatu yang berharga pada tubuh Mona.
Tanpa Bram sadari Mona merekam percakapan mereka. Mona pura-pura mengambil ponselnya untuk bercermin, padahal dia mengaktifkan mode rekaman.
Tapi kau sepenuhnya merugikanku Bram. Kalau masalah uang aku bisa memberikannya, tapi untuk kita seperti dulu sudah tidak bisa lagi. Aku ingin kedewasaanmu, akhiri hubungan ini dan kau cari wanita lain,” ucap Mona.
“Aku tidak bisa, bagaimana kalau ... seperti semula saja, kau tetap melayaniku seminggu sekali dan aku tidak menginginkan uang itu,” Bram melakukan penawaran.
“Aku lebih baik memberi uang daripada memberi tubuhku,” tegas Mona.
“Dua minggu sekali,” ucap Bram kembali.
“Tidak!”
“Sebulan sekali?”
“Tidak!” Mona dengan tegas akan selalu menolak keinginan Bram.
__ADS_1
Bersambung...