
179
Padahal Rara berada di lantai dua, dia tidak pergi ke mana pun. Mobil Rara sengaja tidak diparkir di depan toko karena Rara sudah memprediksi purba akan mencarinya ke sana. Rara juga memperhitungkan purba tidak akan mencarinya sampai ke lantai 2, karena waktu sudah siang, terburu-buru ke kantor, juga purba bukan tipe orang yang ngerasa krusuk.
Purba yang cukup perhitungan untuk mengambil langkah, saat jelas tidak melihat mobil anak-anak terparkir pasti purba sudah punya firasat Apakah Rara ada di toko? Bisa jadi tidak. Maka dari itu Purba hanya menanyakan kepada Mayang, untuk mempersingkat waktu. Daripada dia langsung menerobos ke lantai 2 terkesannya seperti arogan meskipun dia adalah seorang atasan juga di toko tersebut.
"Semoga masalahmu cepat selesai Mas," gumam Rara saat melihat kepergian purba dari jendela.
***
Sementara itu di tempat yang dikunjungi oleh Bu Hetty, suaminya dan Azkia. Mereka sudah selesai makan dan sudah membahas beberapa hal tentang Gandhi yang akan pulang kampung diantar oleh Daryanto.
Bu Hetty juga sudah menjelaskan perlahan kepada Azkia, perihal dirinya akan ikut ke ayahnya atau menemui Ibunya dan tinggal di Jakarta bersama mereka. Beberapa pengertian juga diberikan kepada Azkia, betapa ibunya sebenarnya sangat merindukan kepulangan dirinya.
"Tapi beberapa hari ini Azka tidak ke sini Bu aku jadi ragu," ucap Azkia dengan wajah sedikit menunduk.
"Apa yang diragukan lagi, Nak?" tanya Bu Hetty
Azkia mengatakan bukan ragu perihal keseriusan ibunya yang ingin dia untuk berkumpul bersama keluarga di Jakarta. Namun, Azkia memiliki rasa malu saat dulu sempat menolak kedatangan ibunya. Mungkin kalau secara bahasa orang dewasa, Azkia tidak memiliki muka untuk bergabung dengan keluarga yang selama ini terlihat harmonis. Dengan bahasa ringannya Azkia cukup malu.
Namun, dia juga tidak ingin ikut pulang dengan ayahnya. Daripada pulang ke kampung, Azkia lebih baik mandiri bantu-bantu Bu Heti untuk jualan. Bahkan Azkia pun menawarkan diri tidak apa-apa jualan seperti suaminya Bu Hetty, jadi dia bukan hanya mencetak pentol, tapi Azkia bersedia untuk berkeliling jualan.
Bu Hetty terenyuh mendengar penjelasan Azkia, dia masih kecil tapi pemikirannya penuh pertimbangan seperti orang dewasa.
Kemudian Bu Hetty memeluk Azkia yang sejak tadi berada di sampingnya. Bu Hetty memberikan dukungan untuk Azkia agar lebih tenang lagi dalam mengambil keputusan. Buah hati pikir Azkia akan dengan mudah memilih ikut bersama ibunya. Akan tetapi sungguh di luar dugaan.
Biasanya anak kecil akan memilih sesuai apa kata hatinya, bukan dengan pertimbangan pola pikir.
Menurut Bu Hetty Azkia seharusnya tidak sulit memutuskan. Apalagi yang diharapkan anak kecil selain sebuah keluarga yang bisa mencukupi segala kebutuhannya. Bisa membelikan mainan, sekolah yang layak, makanan enak dan perhatian keluarga.
Namun, alasan Azkia sungguh membuat Bu Hetty terharu sekaligus menyayangkan
"Nak, bukan kami tak ingin diikuti kamu, tapi di Jakarta ini ada seseorang yang lebih berhak untuk kehidupanmu daripada ibu. Dan ibu juga tidak bisa memaksa, Kamu boleh saja ikut dengan ibu dan bapak, tapi Ibu cuman menasehati ada seorang ibu lainnya yang selalu menunggu kamu. Tidak akan ada seorang ibu yang menolak anaknya datang, jika pun ada kita tidak tahu dalam hatinya. Semua memiliki alasan.
__ADS_1
Akan tetapi ibumu sudah jelas selalu merindukan kepulanganmu. Dia pasti sangat bahagia."
Setelah mendengarkan perkataan dari Bu Heti, Azkia hanya bisa diam. Memang sulit sekali untuk memutuskan bagi anak usia tujuh tahun yang memiliki luka batin dalam. Rasa yang dimiliki Azkia tidak seperti anak pada umumnya yang senang diiming-imingi mainan dan banyak uang.
Azkia yang sudah terbiasa mandiri, menyimak permasalahan yang terjadi pada dirinya menjadi berpikir ulang, untuk tiba-tiba asal ikut saja ke rumah ibunya. Sedangkan dahulu dia pernah salah paham. Belum siap sebenarnya.
Bu Heti berpandangan dengan suaminya, mereka bingung. Bagaimana lagi membujuk Azkia agar mau kembali pada ibunya.
Sesungguhnya bagi Bu Heti dan suami, tak masalah jika Azkia mau ikut ayahnya juga. Namun, selain rasa empat dan sudah menganggap Azkia adalah anaknya sendiri, Bu Heti ingin menawarkan yang terbaik buat Azkia.
Kebetulan ibu yang dangat menantikan Azkia, ada di Jakarta dan itu bisa dijangkau dengan mudah. Kenapa tidak, Azkia jangan pulang ke kampung, tapi pulang ke rumah ibunya saja. Biar nanti Bu Heti hubungi Rara.
"Ibu masih menanti jawabanmu, Nak." Bu Heti mengusap punggung Azkia degan lembut. Agar tergugah untuk percaya diri memutuskan.
***
"Temui aku untuk membahas hal ini." Sebuah pesan terkirim pada nomor Mona.
Mengapa harus bertemu orang baru lagi? Mona tahu, Bram masih di penjara . Siapa orang yang sekarang akan ditemuinya? Salah satu teman Bram? Atau teman dirinya juga yang dikenal? Tapi siapa?
"Ma, di kantor tidak?" Kali ini Purba yang mengirim pesan.
'Tumben' gumam Mona. Dia mengerutkan keningnya.
Memang Purba jarang sekali menanyakan kabar atau dimana posisi Mona. Namun, saat ini Mona berpikir, "Pasti ada sesuatu yang penting. Kalau tidak, kenapa menanyakan posisiku di mana? Kalau mau datang, ya datang aja."
Mona, semakin bingung. Firasat sampai pada menduga Purba akan membahas tentang teror itu.
"Berarti si peneror itu gak main-main? Jadi aku harus ketemu siapa dulu?"
Mona terus memutar otaknya, jika bertemu Purba dulu, mungkin saja si peneror sudah mengirim video itu pada Purba. Jika pun belum, takutnya saat dirinya berbincang dengan Purba, video itu mendadak dikirim.
Mona tidak ingin ada masalah dulu Purba, dia harus menemui si peneror itu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Huft, baiklah. Aku tanya mau ketemuan di mana?" gumam Mona, disusul mengetik pesan pada si peneror.
Tanpa waktu lama, peneror itu mengerimkan peta lokasi.
"Hah? Bogor?" Mona termenung.
Dirinya berpikir harus ke sana bersama siapa? Takutnya itu orang yang mudah melakukan kekerasan. Mona terbiasa bergaul dengan anak-anak club, tapi kalau bertemu orang yang belum dikenal, Mona takut juga. Karena belum tahun karakternya seperti apa. Belum bisa berjaga-jaga penyesuaian.
"Sebenarnya kamu siapa? Biar aku tahu." Mona kembali mengirimkan pesan pada peneror itu.
"Nanti juga tahu. Kapan berangkat?" balas di peneror.
Mona terdiam, kesal juga seakan dipermainkan seperti itu. Dia juga berpikir, harus mengajak teman buat jaga-jaga. Mungkin kalau teman boleh, asal jangan polisi.
"Apa aku tanyakan lagi ya? Nanti kalau sampai salah, tidak boleh ngajak teman, takutnya ada masalah baru lagi."
Mona masih berkutat dengan komunitas bersama peneror, sementara bebera saat menunggu tiap balasan si peneror, Mona kepikiran untuk memastikan Purba tidak ke kantornya.
"Aku di luar, Mas." Mona membalas pesan Purba singkat.
Mona merapikan ruangannya, tepatnya beberapa berkas yang sedang dikerjakannya dia tutup. Begitu pun log out laptop dan bersiapa untuk ke luar. Sambil menunggu balasan lagi dari si peneror, pokoknya Mona harus prepare untuk menyingkat waktu.
"Tapi ... aku ke sana sama siapa ya? Kalau peneror itu gak mempersalahkan aku bawa teman?" Guma Mona.
Kini dia sudah selesai dengan ruangannya. Selagi tetap menunggu kepastian balasan dan menemukan teman yang akan diajaknya, Mona ke luar ruangan dan menitipkan pesan pada sekretarisnya bahwa dia ada undangan kerja sama mendadak, ke luar kota.
***
Sedangkan di sisi lain, Purba yang sudah hampir dekat ke kantor Mona, baru menerima pesan itu. Dia membaca pesan masih sambil menyetir.
"Eergh... kenapa baru bilang sekarang?" Purba memukul setirnya, kesal.
Bersambung....
__ADS_1