Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Kabar Baik dan Buruk


__ADS_3

"Eh Papa? E-enggak. Cuman kaget aja. Kok tidak tahu datangnya?"


"Jelas aja tidak tahu. Mama sepertinya menikmati sekali suasana sore ini?" sahut Purba.


"Mama sakit?" tanya Purba kembali, setelah melihat ada segelas jamu di nakas samping ranjang.


Purba tidak tahu itu kunyit asam. Dia hanya tahu jika aroma minimuman seperti itu, adalah jamu. Makanya disangka Mona sakit. Terlebih melihat ampas kunyit yang masih menempel di gelas, biasanya memang jamu yang Purba tahu.


"Enggak, Mas. Aku cuma ingin rileks saja."


"Tapi...," tanya Purba, sembari tatapannya mengarah pada gelas bekas kunyit asam yang tinggal ampas.


Mona ingin menjelaskan, tapi susah. Harus menjelaskan dari mana?


"Itu jamu kan?" tanya Purba kembali.


Mona mengangguk Seperti mendapat celah untuk alasan, bahwa Mona memang meminum jamu untuk kesehatannya..


"Lalu kenapa Mama meminta ini? Kalau lagi pengen, bisa ditunda dulu. Nanti saja nunggu Mama benar-benar sembuh," ucap Purba.


"Ya sudah, nanti kita makan bareng di sini, ya. Tapi aku mau mandi dulu," ucap Purba kemudian beranjak ke kamar mandi.


Mona merasa lega, mungkin bisa menunggu beberapa hari lagi sampai tanda di tubuhnya benar-benar hilang. Dan dia akan terus meminum jamu untuk kesehatan organ intimnya.


***


Sementara itu, Gandi yang saat ini sudah bersama Daryanto di sebuah hotel menemui seorang nyonya. Ternyata Gandi akan menjadi berondong simpanan dari Nyonya pejabat yang kesepian.


Tentu saja itu menguntungkan Gandi, karena selain dapat kepuasan batin, dia juga mendapatkan uang dengan mudah untuk biaya hidupnya di Jakarta.

__ADS_1


Sedangkan Azkia ditinggalkan di kontrakan sendiri. Tidak ada ponsel, tidak ada televisi, tidak ada hiburan apa pun. Biasanya anak-anak suka betah kalau menonton video atau bermain game pada smartphone. Namun, tidak akan diberikan oleh Gandi, karena hanya satu, dia berpikir lebih bermanfaat dirinya yang menggunakan untuk urusan kerjaan.


Bersyukur Azkia memiliki beberapa makanan yang diberikan oleh ibu warung yang pernah ia temui saat baru sampai kemarin.


Bu warung memasukkan beberapa makanan ke dalam tas Azkia dan memintanya jangan memberitahukan kepada Gandi. Karena Ibu warung itu memiliki firasat bahwa Gandi akan selalu sibuk dengan dirinya sendiri, kalau untuk memperhatikan anaknya saat dia benar-benar ingat saja.


Makanya Bu warung merasa khawatir, takutnya Azkia akan lama lagi mendapat makanannya, maka dia memasukkan beberapa roti dan snack ke dalam tas Azkia.


Bu Heti yang akan membuang sampah melewati kamar yang ditempati oleh Azkia, sempat melongok sebentar karena melihat pintu kamar sedikit terbuka.


Bu Heti terus lurus saja untuk membuang sampah yang letaknya beberapa meter dari area kontrakan.


Saat Bu Heti kembali, dia melongok kembali ke kamar Azkia. Saat sudah dipastikan anak kecil itu sendiri, maka Bu Heti memberanikan diri untuk menyapanya.


Azkia senang ada orang yang menghampirinya, kemudian mereka mengobrol lagi.


Sebenarnya Bu Heti memiliki 3 orang anak, tapi di kampung dititipkan pada ibunya.


Setelah mengobrol panjang lebar Azkia berkenan menerima tawaran Bu Heti.


Mungkin tepatnya Bu Heti yang banyak bicara, karena Azkia belum bisa merespon banyak seperti layaknya orang dewasa.


"Berarti besok kalau Ayahmu pergi lagi, langsung ke rumah ibu ya." Bu Heti mengingatkan kembali perjanjian mereka.


"Iya Bu," jawab Azkia diiringi anggukan.


"Tapi, kalau ayahmu nggak pergi nggak apa-apa. Jangan ke rumah Ibu, takutnya tidak diperbolehkan."


Azkia mengangguk lagi, dia senang akan mendapat kegiatan yang menghasilkan uang. Untuk anak kecil seukuran Azkia, uang 10.000 sampai 20.000 itu sudah sangat besar.

__ADS_1


"Ya sudah, Ibu kembali lagi ke kamar. Kamu hati-hati di sini. Pintunya kunci. Jangan biarkan terbuka seperti barusan, takut ada orang jahat hang tiba-tiba masuk." Bu Heti memberikan pesan untuk Azkia.


Azkia mengangguk, dia senang Bu Heti sangat baik pada dirinya


***


Sementara itu, saat Rara pulang kerja. Dia melihat Retno sudah ada di depan rumahnya. Dan ini kali pertama Retno berkunjung ke rumah baru Rara, setelah menikah.


"Kok gak sama Mas Hendra?" tanya Rara yang saat ini membuka pintu rumah.


"Enggak,as Hendra sedang ada pelatihan," jawab Retno.


"Pelatihan? Akan dipromosikan?" tanya Rara dengan raut muka yang gembira karena mendengar kabar baik sepertinya.


Retno mengiyakan dengan senyum kebahagiaan.


"Kau senang dengernya. Btw, tumben kemari. Lagi senggang?"


"Enggak juga, aku sengaja."


"Sengaja? Ada apa nih? Jangan bikin was-was."


Retno kemudian menceritakan informasi apa yang ia dapat dari Ibunya, saat kemarin pagi menelepon.


Rara yang semula sudah membawa handuk untuk mandi, dia terdiam kemudian terduduk di sofa, berhadapan dengan Retno.


Hatinya mulai cemas, apalagi dia hanya tinggal sendiri di perimj tersebut. Walau satu perumahan dengan Retno, tapi kompleks mereka cukup berjauhan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2