
Mona bangun dari tidurnya dengan segar, meskipun malam pulang sekitar pukul 11.00. Namun, rasanya hari ini berbeda. Apakah karena telah bersenang-senang semalam dengan Mas Waluyo?
Mona tersenyum saat mengingat bahwa Mister San begitu ingin diganti namanya dengan Mas Waluyo. Namun, memang benar sih beberapa kali diucapkan nama itu terkesannya lebih manly dan dewasa, daripada nama asli kewarganegaraannya.
Mona melihat ponselnya tidak ada pesan atau panggilan dari siapapun, apalagi dari Purba. Dia beraktivitas seperti biasa. Kemudian turun untuk sarapan.
"Mas Purba tidak pulang Mbak Idah?" tanya Mona saat sedang menikmati sarapannya.
"Tidak Bu."
"Baiklah, kalau gitu aku berangkat ya, Mbak. Hati-hati di rumah."
Mbak Idah mengganggu dan mengantar Mona ke teras rumah, asisten rumah tangga itu sudah mulai merasakan gelagat renggang lagi dari hubungan majikannya itu.
Mbak Idah juga melihat pagi ini Mona tidak menaiki mobilnya sendiri, ternyata ada yang menunggunya di depan gerbang.
"Mau dibawa ke mana rumah tangga ini?" gumam Mbak Idah, dia hanya geleng-geleng kepala.
Pasangan yang aneh, jika memang sudah tidak ada kecocokan, kenapa tidak saling berpisah saja? Apalagi hal ini terjadi karena saat Mona sudah tidak bisa memberikan buah hati di tengah keluarga kecil itu. Mungkin bukan tidak bisa, tapi ada sesuatu hal yang bermasalah, entah dari kedua suami istri ini sama-sama sibuk atau hal lain.
***
Sementara itu Purba sedang menggendong putranya, Azzahro, di teras rumah dengan sorot matahari pagi yang menghangatkan kulit bayi. Seperti yang biasa dilakukan oleh orang tua pada umumnya.
Rara yang melahirkan normal, dia sudah sanggup berjalan meskipun perlahan. Pagi ini memberikan secangkir kopi dan camilan untuk suaminya.
Padahal ibu serta kedua mertuanya melarang Rara untuk banyak bergerak. Namun, Rara menolak. Karena kapan lagi dia akan sering melayani suaminya, terlebih kalau Purba sedang di tempat Mona, Rara tidak ada aktivitas untuk mengabdikan diri pada sang suami.
"Ayah tidak kerja?" kata Azka yang sudah siap mengenakan seragam sekolah coklat muda dan coklat tua. Kebetulan sekarang adalah hari dimana harus menggunakan seragam pramuka.
"Ayah nanti berangkat siang," ucap Purba. "Memangnya kenapa?" lanjutnya lagi.
"Boleh tidak. Aku diantar ayah?" pinta Azka.
Anak kecil itu memang tidak pernah diantar Purba selama dia pindah ke Jakarta. Selain Purba sibuk dengan kantornya, dia juga tidak sering banyak waktu untuk di rumah Rara. Baru kali ini dia bisa menginap di rumah istri keduanya itu.
__ADS_1
Biasanya Purba berdiam di rumah Rara. Dan pulang nanti malam, atau menjelang pagi. Paling tidak Purba ada alasan untuk pulang ke rumah, bukan menginap di luar. Karena pasti Mona akan lebih curiga kalau pulang menjelang pagi, tentunya masih bisa diberi alasan. Namanya juga kumpul teman, suka lupa waktu. Wajar.
"Boleh. Ayo! Kamu mau ikut sayang?" tanya Purba pada Rara.
"Nggak perlu Mas, repot," jawab Rara.
"Kenapa repot? Kan hanya duduk di belakang. Biarkan Azka di depan dan kamu sama bayi Azzahro."
"Anak kita belum ada seminggu loh, Mas. Udah dibawa kemana-mana." Rara protes
"Tenang aja sayang, justru untuk memperkenalkan dunia luar biar tidak rewel. Badannya biar kebal tidak mudah sakit. Kata orang tua dulu, kita jangan terlalu apik. Nanti malah dikit-dikit kena penyakit."
"Ya udah, aku bilang Ibu dulu ya," ucap Rara beranjak ke dalam meminta persetujuan ibunya.
Dan akhirnya keluarga kecil itu pun sudah berada dalam satu mobil. Azka sangat gembira ditemani ayahnya berangkat ke sekolahnya. Sepanjang perjalanan dia terus memegang bagian depan mobil. Tombol AC, tape recorder dan beberapa yang menurut bocah itu aneh.
Azka bukan baru pertama naik mobil, tapi naik mobil bagus dan sebebas ini, baru sekarang.
Tak lama mobil itu sampai di depan gerbang sekolah Azka.
Purba memperhatikan arah pandang Azka. Dia mengerti keinginan anak sambungnya itu. Makanya anak sambungnya meminta untuk diantar olehnya. Mungkin ada sesuatu yang dirindukan seperti yang teman-temannya alami.
Purba turun dari mobilnya lalu membuka pintu mobil pada sisi Azka. Bocah itu melihat pada Purba, dia tertawa semeringah, giginya yang kecil-kecil putih terlihat semua, matanya menyipit saking senangnya bahwa ayahnya pasti akan mengantarnya sampai depan kelas.
"Ayah mau mengantarku masuk?" tanya Azka memastikan.
"Kenapa tidak? Ayo!" ucap Purba, dia menggandeng tangan Azka, lalu berjalan memasuki gerbang.
Banyak teman-teman Azka yang menyapanya dan terpusat pada Azka, karena digandeng oleh seorang pria dewasa yang mereka baru lihat. Karena selama ini Azka selalu sendiri. Bahkan diantar Ibunya pun jarang.
Rara seringnya mengantarkan Azka hanya sampai gerbang dan tidak turun dari mobil. Karena tergesa-gesa harus cepat ke toko. Terkadang malah diantar oleh sopir.
"Azka, itu ayahmu?"
"Azka, Ayahmu kok baru nganter sekarang?"
__ADS_1
"Azka Ayahmu nggak kerja?"
"Ayahmu udah nggak sibuk ya?"
Beberapa pertanyaan dari temannya, saat Azka melintasi mereka. Azka hanya bisa mengangguk dan senyum. Karena dia tidak bisa berhenti untuk hanya sekedar menyapa temannya, nanti akan sangat lama. Azka sudah sangat senang diantar oleh Purba, sampai ke depan kelas.
"Belajar yang benar ya. Ayah pulang," ucap Purba, lalu mengusap kepala Azka, kemudian mengecup puncak kepala bocah kecil itu.
"Iya Ayah, makasih." ucap Azka merentangkan kedua tangannya ke atas, rupanya dia mau meraih leher Purba lalu mencium kedua pipi ayahnya itu.
"Anak baik. Ayah pergi dulu ya," ucap Purba untuk yang terakhir kalinya berpamitan. Kemudian dia pergi kembali menuju mobilnya.
"Mas, kalau kita sekalian mampir ke pasar gimana? Kebetulan aku pengen beli dah katuk, biar asiku lancar." Rara meminta Purba untuk tidak langsung pulang.
Purba langsung mengiyakan, kemudian melajukan mobilnya menuju pasar. Rara tahu di supermarket terdekat sana sedang tidak ada daun katuk. Karena kemarin Ibunya sudah mencari, daripada tidak ada lagi, mending ke pasar yang biasanya banyak.
Purba menyarankan untuk membeli daun katuknya di lapak yang bisa dilalui mobil saja, agar Purba tidak terlalu jauh meninggalkan Rara dan putranya, karena tidak mungkin Rara yang turun untuk berbelanja.
Purba sedang tawar-menawar sayuran dengan penjual, rupanya bukan hanya perempuan saja yang kalau belanja dari satu jenis menjadi lebih, karena melihat barang yang dibutuhkan.
Hal itu juga karena Rara mengirim pesan, karena melihat gula aren yang tampilannya bagus. Biasanya ada yang dicampur kelapa, tapi dijamin kalau yang ini tidak. Sudah pasti gula aren murni, dari warnanya saja sudah berbeda. Kemudian melihat ada yang jualan jajanan pasar, di samping yang menjual daun katuk itu.
Memang, Rara memiliki toko kue, tapi untuk jajanan yang dibungkus daun-daun dia tidak pernah membuatnya. Dan itu sangat ingin sekali memakannya. Rara juga sekalian menitip bumbu saja karena di pasar akan lebih murah daripada di supermarket, apalagi kalau belanja banyak bisa dikasih diskon
"Gimana sih, sayang. Jadi borong kaya gini," pesan Purba yang dikirim pada Rara.
"Hehe, biarin dong, Mas. Sekali-kali." Rara mengirim pesan diakhiri oleh emoticon nyengir kuda.
Purba selesai berbelanja, dia akan menyimpan belanjaannya di bagasi. Namun...
"Bapak!" Ada seseorang yang memanggil Purba.
Purba menoleh ke sumber suara, merasa tak asing.
Bersambung....
__ADS_1