
Bab 114
Purba turun dari tempat tidurnya lalu mematikan lampu kamar terlebih dahulu, sebelum menjelaskan kepada Mona.
Diambilnya satu gelas air, lalu ditawarkan pada Mona. Karena mereka sudah terlalu lama berbincang sehingga tenggorokan terasa kering, begitu pun mau, dia menerima air minum itu lalu diteguknya sampai habis.
Setelah Purba meminumnya dia pun berbaring di tempat tidur, sambil mendekap tubuh Mona yang sudah berbaring terlebih dahulu. Seperti itulah posisi yang nyaman untuk berbincang tentang hal yang serius.
"Iya, itu adalah liontin dari permata, tapi bukan buat Mama, ataupun bukan dari aku juga," Purba memulai bahasan.
"Maksudnya?" tanya Mona.
Purba berbicara berbelit. Agar penjelasannya dirasa wajar untuk didengarkan, bawa apa yang dikatakannya benar.
Apakah orang yang akan berbohong terbiasa bicara berbelit?
Kemudian Purba berkata bahwa liontin itu titipan Hendra, suaminya Retno. Titipan itu pun mendadak, Hendra menghubungi Purba saat sudah di Singapura, bukan meminta saat Purba sebelum berangkat.
Purba sengaja memilih Hendra untuk masuk di dalam kebohongannya, karena Mona pasti tidak mengetahui siapa Hendra. Hingga tidak akan diselidiki lebih jauh.
Dari mana Purba mengenal Hendra? Itulah pikiran Mona, bertanya - tanya, nama asing yang baru ia dengar.
Mona merasa kurang percaya, meskipun Mona jarang ke kantor, tapi dia sedikit banyak tahu teman-teman Purba apalagi lingkungan kantor. Dia sering banyak tanya pada Papanya tentang lingkungan kantor dan relasi suaminya yang lain.
"Kok aku baru mendengar nama itu mas? Sepertinya asing." Mona berusaha menyelidik.
"Tentu saja, itu suami dari sahabatnya Rara."
"Kok bisa kamu akrab gitu?" tanya Mona mendongakkan kepalanya menatap Purba.
"Aku bukan kenal akrab gitu, hanya pernah bertemu beberapa kali saat ke kantor cabang yang dikepalai oleh Pak Dahlan. Waktu itu saat Rara masih di sana. Kemudian saat Rara sudah pindah di kantor pusat, aku bertemu lagi dengan Hendra, dan waktu itu mau sekalian menjemput Rara, karena diminta oleh Retno mungkin. Soalnya ada retno di dalam mobil Hendra."
"Tapi kok bisa, tidak akrab begitu nitip sesuatu ke kamu? Dari mana Hendra tahu kamu ke Singapura?"
"Ya nggak tahu dong Ma, masa aku tanya-tanya ke dia. Pokoknya, tiba-tiba saat aku di Singapura, dia menghubungi."
"Terus, dari mana dia tahu nomor kamu?"
"Ya ... itu juga aku nggak tahu. Nanti kalau aku serba tahu tentang Hendra, dikiranya karena akrab juga dengan Rara, kan mama sempat selalu curiga sama Rara. Aku jadi serba salah deh."
__ADS_1
"Iya - iya, aku cuman ingin tahu aja. soalnya nggak masuk akal banget. Kalau aku jadi Hendra kayaknya nggak mau deh nitip orang yang kurang kenal. Takut ngerepotin."
"Beda orang, beda karakter Ma. Lagian kalau kita cari tahu kenapa dia punya nomorku, mungkin dari Pak Dahlan, kan masih saudaranya. Atau dia pernah curhat ingin memberi kejutan untuk istrinya pada Pak Dahlan. Kebetulan aku lagi di Singapura, lalu Hendra suruh hubungi aku sendiri, itu bisa saja mungkin terjadi," papar Purba, ingin membuat Mona tidak banyak menduga lagi.
"Kemudian, karena Rara kerja bareng aku, jadi merasa dekat. Karena hadiahnya kan buat sahabatnya Rara juga. Terus Hendra saudaranya Pak Dahlan, jadi sangat beralasan kalau dia merasa tidak sungkan saat menitip sesuatu padaku," tambah Purba lagi.
Mona manggut-manggut, lalu dia juga mengutarakan kejujuran hatinya. Sebenarnya dia sangat suka dengan liontin singa itu, terlebih bukan karena bentuknya yang lucu. Ciri khas banget icon negara singa.
Namun, karena dibeli dari luar negeri, lalu dibelikan oleh sang suami sebagai oleh-oleh kejutan, kayaknya berharga banget gitu kalau Mona mendapatkannya.
Purba meminta maaf karena tidak terpikir seperti itu. Purba pikir Mona tidak suka perhiasan, karena memang selama ini tidak pernah melihat. Bahkan ke pesta pun yang dipakai hanya cincin berliannya. Kalung dan perhiasan dari ibunya jarang dipakai, lagi pula Mona juga jarang ke pesta, karena dia sibuk dengan teman-temannya ke diskotik.
"Ya udah, kita tidur yuk. Besok takut kesiangan. Makasih banget ya kejutan hari ini," ucap Mona yang sudah memejamkan matanya dalam pelukan Purba.
Purba mengangguk, lalu melirik dengan sudut matanya ke arah Mona, dia tersenyum lega. Alasannya bisa diterima dengan baik oleh istrinya.
**#
Keesokan harinya, Mona sudah siap untuk berangkat ke kantor. Mereka pun sudah sarapan lalu berangkat bersama.
Beberapa minggu berlangsung, kehidupan Mona dan Purba berjalan sewajarnya. Begitu pun dengan Rara tidak ada permasalahan-permasalahan yang berarti.
Karena hubungan Purba dan Mona lebih intens sekarang, terkadang sering Mona mengangkat panggilan atau pesan yang masuk pada ponsel Purba, takutnya kebetulan Mona menerima pesan dari Rara tentang pribadi itu akan menjadi masalah.
Maka, atas kesepakatan bersama, untuk sementara waktu Rara menghubungi Bizar.
***
Dua bulan pun berlalu.
Akan tetapi Mona dan Purba belum juga bisa berbulan madu, karena pekerjaan kantor yang mendesak serta ada beberapa event lagi untuk pameran jenis kain. Serta peragaan busana yang sering dihadiri Mona.
Mengapa Mona sangat antusias jika ada event? Karena dia sangat bangga kepada posturnya yang seperti model, cuman untuk jadi model dia tidak mau, dengan alasan tidak ingin terikat agensi dan diatur-atur oleh orang lain. Jadi lebih memilih bekerja di perusahaan keluarganya sendiri.
Namun sebagai pengganti gagalnya bulan madu, Mona dan Purba sering menghabiskan waktunya untuk sekedar weekend di luar.
Bagaimana hubungan antara Rara dan Purba? karena Rara sedang fokus mempersiapkan toko kuenya berubah pun paling hanya dua minggu sekali bertemu Rara ke kontrakannya.
Laras sempat ingin pindah kontrakan karena takut Gandhi menghampirinya namun purba memastikan bahwa berita itu belum tentu benar agar Rara bersabar sekitar satu atau dua bulan lagi untuk mencari kontrakan baru.
__ADS_1
**#
Ini adalah bulan ketiga setelah kepulangan Purba dari Singapura, semuanya berjalan dengan lancar. Dari permasalahan kejutan oleh-oleh, yaitu liontin diganti dengan tiket bulan madu, permasalahan Rara dan Gandi, serta ini adalah minggu terakhir Rara resmi akan resign dari kantor Bonafit Tekstil. Jadi tepatnya seminggu lagi Rara tidak akan bekerja di kantor tersebut.
"Gimana Mas? Apakah sertifikat bangunan tersebut sudah selesai diurus?" tanya Rara melalui sambungan telepon.
"Sudah, tadi aku sudah menghubungi Bizar. Tinggal ditempati, terus aku tinggal mengecek surat yang ada pada Bizar, semoga tidak ada masalah, tapi kamu segera siap-siap saja peralatan. Apa yang dibutuhkan nanti kamu akan ditemani oleh Bizar untuk belanja," jelas Purba.
"Kok dengan Bizar sih, Mas? Udah tiga bulan ini loh... kita bertemu hanya dua kali dalam seminggu, itu pun kadang terburu-buru."
"Tapi aku juga sedang sibuk di kantor ini, sayang... ya kecuali kamu mau hubungan kita diketuai oleh Mona, tentunya kamu tahu aku belum siap."
"Ya udah, tapi Mas usahakan ya kita belanja bareng."
"Kenapa? Kamu rindu ya? Coba kalau kita udah nikah," goda Purba.
"Maksud Mas apa? Jadi karena kita belum resmi, Mas tidak memprioritaskan aku? Dulu janjinya...."
"Iya oke - oke, kamu selalu saja membahas tentang janji. Baik, akan aku usahakan."
Rara menutup panggilannya, dia menghela nafas lalu berpikir. Sebenarnya hubungan ini pantas dilanjutkan tidak sih? Tapi tidak terbayang juga jika dia berkarir sendiri. Apakah bisa berjuang sampai sejauh ini?
Terkadang seperti itulah perasaan, kadang membuat semangat, kadang membuat putus asa. Apakah langkah sudah berada di jalan yang tepat.
"Apa aku mencoba untuk tidak lanjut saja ya dengan Mas Purba?" batin Rara.
"Akhir-akhir ini Mas Purba udah sangat baik hubungannya dengan Bu Mona, apa aku jangan terlalu membatasi kalau Mas Purba mau lebih mesra denganku? Tapi takut juga kalau tiba-tiba aku dibuang Mas Purba saat sudah jauh menyentuhku.
Ah, jadi bingung. Satu sisi aku juga tidak rela kalau harus kehilangan Mas Purba. Enak aja, sudah membuat aku terjebak dalam perjanjiannya, jadi hubungan serius gini, malah gak dapat apa-apa.
Tapi mungkin aku akan mendapatkan pria lain yang lebih segalanya dari Mas purba."
Rara menjadi bingung sendiri, awal-awal dia menyadari beginilah menjadi orang kedua di dalam kehidupan orang lain, tapi Rara juga wanita normal yang memiliki rasa cemburu dan merasa tidak adil.
"Apa aku terima ya keinginan Mas Purba untuk nikah cepat? Biar aku bisa lebih menuntut dan biar Mas Purba adil, setidaknya tiga atau empat hari dalam seminggu berada bersamaku."
Tadinya Rara mengulur untuk menerima lamaran Purba, karena dia tidak tegas jika Azkia belum didapatkannya, kemudian dia merayakan hari bahagia itu tanpa keluarga yang lengkap. Apa kata orang? Bukannya memprioritaskan anak.
Bersambung
__ADS_1