
Purba memberi kode pada Bizar untuk menutup tirai, dia tidak ingin para karyawan beranggapan aneh-aneh lagi.
Setelah menutup tirai, Bizar ke luar ruangan. Dia memberikan privasi Bosnya itu, entah mengapa dia lebih respect pada Rara sejak awal bertemu, dibandingkan pada Mona, nyonya nya sendiri.
**#
‘Kenapa dia? Tidak mungkin kalau bukan masalah berat sampai segininya,' batin Purba.
Perlahan tangan Purba sebelah kiri menyentuh punggung Rara, diusapnya lembut agar lebih tenang. Sedangkan tangan kanan mengambil sapu tangan di saku celananya. Karena tisu jauh untuk dijangkau.
Purba memberikan sapu tangan berwarna biru garis putih itu pada Rara. Rara meraihnya perlahan, diusapnya air mata yang sudah membasahi jas yang dikenakan Purba.
“Ada apa? Mau cerita?” tanya Purba, tangannya tak henti mengusap punggung Rara.
“Hikz ... Hikz ... aku bingung Pak. Harus dari mana? Tapi ini ... hikz ...,” Rara tidak melanjutkan ucapannya. Dia menangis lagi sesenggukan.
Purba mendorong kedua bahu Rara pelan, kini Rara dan Purba berjarak. Purba sedikit merendahkan kepalanya, menatap Rara yang menunduk.
“Hikz ... Hikz ..., aku ingin pulang,” ucap Rara di sela tangisnya sambil menunduk.
“Tenang ... tenangkan dulu dirimu. Jangan mengambil keputusan saat hati sedang labil. Apa kamu butuh biaya buat keluarga di kampung?” tanya Purba pada akhirnya.
Rada hanya menggeleng.
“Lalu?" tanya Purba lagi.
Rara melihat pada Purba, dia bangun ingin bercerita tapi takut. Takut disangka menjual deritanya, lagi pula harus mulai dari mana? Dan hubungannya apa jika dia bercerita pada Purba?
Rara merasa gugup, takut, saat melihat jas Purba basah karena air matanya. “M-maafkan aku Pak, baju Bapak jadi basah,” ucap Rara tersendat – sendat, sambil mengelap jas Purba dengan tisu yang dipegangnya.
Namun, malah semakin basah, karena saputangan itu sudah terlanjur basah apalagi terkena cairan dari hidung yang lebih kental, membuat jas Purba semakin kotor.
“Aduh ... Bapak, maafkan saya. Sungguh saya tak sengaja.” Rara beranjak mengambil tisu yang ada di meja Purba.
“Sudah, biarkan ini. Aku ingin tahu, apa yang terjadi. Hingga kamu menangis seperti ini,” ucap Purba menghentikan tangan Rara yang sedang membersihkan jas Purba dengan tisu.
Rara terdiam kembali, dia sedang menimbang, apakah harus bercerita atau jangan. Sedangkan Purba membuka jasnya.
“Kamu bertengkar dengan mantan suamimu?” tanya Purba, yang kini hanya mengenakan kemeja putih saja. Jasnya ia simpan di sandaran sofa.
__ADS_1
Purba tahu profil Rara dari CV yang Pak Dahlan kasih, karena sebelumnya Rara melamar ke kantor cabang. Jadi Purba mendapatkan CV dari Pak Dahlan.
Mengapa Purba juga bisa menebak bahwa Rara sedang bermasalah dengan mantan suaminya, sebenarnya itu hanya tebakan semata. Karena sudah hal lumrah biasa seorang janda yang masih bermasalah dengan mantan suaminya.
“Jika tidak mau cerita tidak apa, tapi sudahi tangisannya. Di sini kamu bekerja, bersikaplah profesional.” Purba membiarkan Rara untuk tenang. Dia tidak akan bertanya tanya lagi.
Purba beranjak ke tempat duduknya. Dia sebenarnya penasaran ingin tahun apa yang terjadi pada Rara, tapi ya sudahlah, dia paham karakter wanita itu sulit untuk dibujuk, tidak akan bicara jika belum siap.
“Jika kamu mau pulang, pulanglah. Ini sudah pukul lima. Atau mau di antar sopir? Agar sembabmu tak terlihat?” tawar Purba.
“Tidak Pak, terima kasih. Kalau begitu, saya permisi pulang, Pak.” Rara merapikan laptop dan tasnya, kemudian ke luar ruangan.
Saat Rara ke luar, kemudian Bizar masuk.
“Bizar, cari tahu apa yang terjadi pada Rara,” perintah Purba.
“Baik Tuan, setelah pulang kantor, saya segera melakukan.” Bizar menjawab dengan tegas.
**#
“Kenapa lagi tuh?” bisik Kesi pada Hera, mereka kebetulan masih di depan kantor, nunggu jemputan.
“Habis berantem kali, minta pertanggungjawaban, tapi Pak Purba lebih memilih istrinya." Kesi membuat asumsi.
“Kayanya sih, lagian aneh sih dia. Penampilan seperti itu berani bersaing sama istri Bos. Jauh bagai langit dan bumi,” ucap Hera, dengan mata melirik ke arah Rara dan bibir mencibir miring.
Rara merasa ada yang sedang memperhatikan dirinya, tapi tak dipedulikan. Fokus pada tujuan tetap bekerja untuk Purba dan dapat tunjangan. Orang lain di kantor ini selain Bosnya, tak penting.
Rara sudah mendapatkan kendaraannya, dia naik kemudian mobil yang ditumpanginya melaju, tanla Rara peduli menoleh pada dua orang di belakangnya yang masih bergosip.
**#
Pukul sembilan malam, Purba baru sampai di rumah, Mona menyambut dengan sangat manis tidak seperti biasanya. Dia menyodorkan segelas teh melati hangat, tas kerja Purba dibawanya hingga ke ruang keluarga. Biasanya Purba duduk sejenak di sana sebelum melakukan aktivitas lain di rumah.
‘Tumben dia, pasti ada maunya,’ batin Purba dengan melonggarkan dasinya, kemudian bersandar kepalanya merebah di punggung kursi.
“Sayang, minggu depan aku ada acara sosial, para istri sosialita. Nah, para suami harus ikut, kamu senggangkan waktu ya, sayang.” Mona membujuk suaminya, dengan duduk di sebelah Purba sambil menyender pada lengan bahunya.
__ADS_1
Purba tidak langsung menjawab. Dia masih memejamkan matanya, menikmati suasana santai di rumah, walau dengan adanya Mona di sebelahnya, suasana itu tidak begitu sempurna untuk bersantai.
“Sayang ... kok diam saja sih.” Mona mengeluh, tangannya dilingkarkan di pinggang suaminya.
“Huft ... iya Ra,” ucap Purba, tanpa sadar.
Mona terenyak, duduknya tegak, mukanya kesal dan cemberut. Dilihatnya tajam suaminya yang masih bersandar memejamkan mata itu.
“Sayang ...! Ra ... Ra ... maksudnya siapa? Ratna? Ratih? Siapa?” Mona marah, dia menggoyangkan lengan Purba.
Untungnya Mona belum tahu siapa nama sekretaris yang saat ini sedang berselisih dengannya. Bahkan Pak Hartanto saja yang sudah tahu tidak pernah memberi tahu pada Mona, karena memang belum berbincang tentang Rara pada Mona. karena Pak Hartanto Pikir, buat apa bicara sama Mona, toh itu cuma salah paham.
“Eh ... em, apa?” Purba bangun, dia kebingungan dengan suara parau. Sepertinya Purba tertidur sejenak barusan.
“Aku minta, kamu nemenin aku minggu depan. Tapi kamu diam aja. Pas aku tanya balik, kamu bilang, iya Ra. Maksudnya? Ra, apa? Kamu lupa namaku?” cecar Mona tak terima.
“Emang aku bilang gtu? Sepertinya aku barusan kelepasan tidur. Nggak ada bilang gtu deh,” bela Purba.
“Jelas kamu bilang Ra! Awas aja kalau kamu selingkuh. Papa akan kasih hukuman lebih berat.” Ancam Mona. Mona selalu membawa-bawa Papanya agar Purba nurut.
“Iya, Ok. Minggu depan aku luangkan waktu,” ucap Purba seraya beranjak dari duduknya menuju kamar untuk mandi.
“Yes! Nanti aku yang paling bersinar. Datang dengan suami yang masih Muda, tampan dan tajir. Hah ... sungguh hidupku bahagia,” gumam Mona berkhayal.
Perusahaan itu memang milik keluarganya Mona, tapi tidak dipungkiri karena kepiawaian Purba mengelola perusahaan Bonafit Tekstil, perusahaan itu maju pesat. Bahkan Purba sudah bisa menyimpan dana sendiri untuk modal mendirikan perusahaan mandiri. Mona tahu itu, karena Mona juga ingin suaminya sebagian owner, bukan direktur perusahaan papanya.
Bahkan, Purba menolak jika perusahaan itu diwariskan kepadanya kelak. Purba tak ingin lagi terikat jasa pada orang lain.
***
Di dalam kamar mandi, sudah 30 menit lebih Purba belum juga selesai. Berkali kali dirinya mengguyur kepala di bawah sower hangat.
“Argh ... kenapa ini. Mengapa dia ada terus di kepalaku. Sialan ...,” keluh Purba menggelngkam kepala, mengibaskan rambutnya yang kuyup.
__ADS_1
Bersambung...