Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Feeling Azka.


__ADS_3

"Ibu tidak bilang gambarmu jelek. Ibu hanya bertanya, takutnya Ibu salah lihat," ucap Rara dengan hati-hati takut anaknya tersinggung lagi.


"Iya itu berarti gambar Azka jelek sampai takut salah nebak, Ibu nggak tahu dia siapa?" Ternyata bocah itu masih saja tidak suka jika ibunya tidak bisa menebak apa yang digambar.


Rara menggendong Azka lalu di bawahnya masuk ke toko dan duduk di sebuah kursi tempat pembeli.


"Ibu tahu itu Azkia, tapi kenapa lebih kurus? Lalu rambutnya tidak sama dengan kamu. Padahal selama ini kan, kalian selalu memiliki rambut yang sama.


Bahkan badannya pun sama, semuanya sama, tapi gambar ini jelas sekali berbeda, makanya Ibu bertanya dan akhirnya ibu akan menanyakan juga kenapa kamu menggambar yang berbeda?" Rara mencoba kembali memperbaiki suasana hati putranya.


Kali ini Azka bisa memahami penjelasan dari ibunya. Namun, di sini Azka mengalami kecerobohan. Dia jadi terjebak oleh pertanyaan ibunya. Azka sedang tidak boleh mengatakan apa pun tentang Azkia pada siapa pun. Sedangkan sekarang sudah terlanjur dia menggambar Azkia.


'Apa yang harus aku jawab pada ibu ya,' ucap Azka dalam hatinya.


Rara mengingatkan kembali putranya. Kenapa jadi diam? Tapi kelihatan sekali Azka seperti sedang berpikir, maka Rara tidak berani memaksanya. Dia membawa minuman dingin dan beberapa kue, tak lupa salah satu karyawannya diminta untuk membawakan kue ke mobil untuk


Karena sepertinya mereka akan lama berbincang, kasihan Pak sopirnya harus menunggu lama.


"Udah mau menjelaskan?" Tanya Rara sambil menaruh dua piring kue di depan Azka. Tentunya itu kue kesukaan dirinya.


Dan Azka sangat senang bahwa ibunya selalu ingat apa kesukaannya. Baik dari makanan, minuman atau kebiasaan kegiatan lain.


Maka dari itu Azka tidak bisa marah lama-lama. Karena ibunya selalu memiliki cara untuk membujuk buah hatinya.


Rara bertanya kembali pada Azka. Apakah dia sudah mau menyebutkan alasannya kenapa saudara kembarnya beda dalam dilukisan.


Azka mau berbohong juga bingung, tapi kalau harus berkata jujur serba salah juga, takutnya Azkia belum siap bertemu, nanti tiba-tiba ibu datang pas dia marah lalu kabur lagi.


Lalu tanpa sengaja Azka memperhatikan seorang pengemis kecil yang lewat di depan toko ibunya.

__ADS_1


Pengemis itu terlihat kakinya sedikit diseret dan menggandeng seorang bocah kecil perempuan.


Azka jadi memiliki ide untuk memberi alasan pada sang ibu.


"Jadi begini Bu, aku ngebayangin Azkia kurus tak terurus seperti itu. Karena sepertinya emang sekarang badannya kurus tidak terawat. Karena ayah kan sukanya mementingkan diri sendiri. Bebas mau pulang jam berapa aja, ngasih makan cuman kasih makan jarang mengajak kami ngobrol."


Makanya Azka mikirnya kasihan jadi Azkia, pasti kurus deh, rambutnya belum dicukur karena biasanya ibu yang tahu jadwal cukur kami. Terus kulitnya sedikit gelap dari aku, dia pasti disuruh-suruh orang lain untuk bertahan dan makan di Kota Jakarta."


Rara mendengarkan celotehan putranya dengan seksama, masuk diakal juga. Namanya anak kecil, imajinasinya memang sering di luar nalar. Namun, jika ditelaah lagi, masuk akal juga mata Azka. Ada kemungkinan Azkia memang seperti ini kondisinya, karena jauh dari sentuhan tangan seorang ibu.


Rara jadi merasa iba, dan timbul kembali rasa rindunya. Rara tidak ingin ada keributan saat meminta Azkia untuk pulang bersamanya, Rara ingin keikhlasan Azkia untuk berkumpul kembali bersama keluarga. tidak enak dilihat orang juga jika memaksa anak kecil meskipun dia adalah ibunya.


"Ibu, jangan sedih...," ucap Azka yang melihat ibunya terdiam dengan netra yang sudah berkaca-kaca.


Dalam hati Azka, dia ingin sekali mengatakan bahwa sebenarnya selama ini dia sering terhubung dengan Azkia. Namun, masih takut kalau tiba-tiba ibunya tak sabar dan langsung meminta menemu Azkia. Belum tentu juga ayahnya sedang tidak ada di kontrakan.


Tiba-tiba Rara memeluk putranya dan beberapa kali mengecup pucuk kepala Azka. Azka membalas pelukan Rara. Dia merasa salah tanpa sengaja sempat merasa kesal tadi.


Namanya anak kecil, kalau kesal ya kesal, tidak bisa memilah waktu dan tempat.


Ya, Azka kesal karena tadi di sekolah ada yang ngatain bahwa dirinya gaul sama anak kumuh, bau. Yaitu Azkia yang mereka maksud. Teman-teman Azka sudah tahu, kalau Azka sering menemui Azkia karena teman mereka ada yang saudaranya sekolah di SD pelosok itu.


Anak kecil sekarang memang sudah pandai bergosip dan berita cepat menyebar.


Karena itu, Azka merasa kesal sama ibunya. Seakan anak sendiri tidak dikenali. Sama kaya teman-temannya yang menganggap rendah Azkia.


Anak kecil juga bisa rusak moodnya apa lagi kejiwaannya belum labil. Setelah melihat ibunya sedih Azka merasa bersalah juga.


"Nak, mungkin kalau ayahmu menyekolahkan Azkia bakal seperti kamu sama kelas. Apa kita cari ke setiap sekolah?" tanya Rara tiba-tiba mendapat pemikiran seperti itu.

__ADS_1


"Tapi sekolah di Jakarta banyak Bu. Kita juga tidak tahu kan waktu Ayah pindah kontrak ke mana? Kata ibu ayah udah pindah kontrakan kan, bukan?" Azka seperti orang dewasa bisa langsung merespon dengan baik, apa yang dibahas oleh sang ibu.


Rara baru tersadar, benar juga apa yang dikatakan.


Namun di sisi lain, Azka merasa bahwa dia harus mengabari Azkia. Untuk segera berkumpul bersama keluarga, karena Ibu sudah sangat menderita menantikan kehadirannya berada di tengah mereka.


Sebenarnya Rara bisa saja mencari ke setiap SD melalui data sekolah iya cari di internet dan menghubungi setiap kontak, petugas administrasi sekolah. Rara juga sama-sama sedang labil apalagi sekarang ada permasalahan dengan Purba, sehingga saat Azka mengingatkannya seperti itu Rara langsung merasa masuk akal juga.


Padahal kalau Rara diniatkan dengan keras dan sungguh-sungguh, Azkia pasti ketemu sesuai dengan caranya. Maka dari itu sebenarnya kalau Azka mau jujur, tidak perlu mencari Azkia sampai segitunya Karena dia sudah tahu sendiri di mana saudara kembarnya itu.


"Sepertinya aku besok harus menemui Azkia deh," batin Azka dia ingin menyampaikan kesedihan ibunya.


Sudah cukup lama memang Azka tidak mengunjungi Azkia. Jadi dia belum tahu kabar tentang saudara kembarnya dan ayahnya.


Azkia dan Azka tidak bisa berhubungan melalui ponsel, karena Azka belum diperbolehkan untuk memiliki ponsel. Jadi mereka tidak bisa berkomunikasi dengan mudah kapanpun.


***


Mona sedang ada dalam perjalanan bersama Mas Waluyo. Iya, akhirnya Mona berangkat ke tempat yang diberitahukan oleh peneror itu bersama Mas Waluyo.


Mona baru terpikir bahwa Waluyo ingin sekali mengunjungi beberapa tempat wisata atau tempat hiburan di Indonesia. Makanya Mona terpikir untuk menawarkan Waluyo pergi ke puncak di Bogor. Dan ternyata Waluyo berminat, dia butuh penyegaran setelah sibuk dengan pekerjaannya.


"Jadi nanti di sana kita akan menginap di mana," tanya Mas Waluyo, karena acaranya mendadak dia belum tahu bagaimana rencana sesungguhnya.


"Tergantung Mister saja, nanti kalau suasananya cocok terserah mau berapa lama. Kalau aku cuman sebentar ada urusan dengan temanku." Mona menjawab dengan asal. Karena dia sendiri tidak tahu urusannya dengan si peneror itu seperti apa.


"Baik kalau begitu nanti aku, putuskan setelah di sana."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2