
Bab 159
Pukul 21:30, Mona baru pulang, sampai rumah seperti biasa dia tidak menemukan Purba di kamarnya, mungkin masih di ruang kerjanya.
Mona membersihkan badannya tanpa peduli ingin menemui Purba, dia langsung tidur tidak lupa menyalakan pengharum ruangan aromaterapi agar pikirannya sedikit rileks.
Purba selesai dari ruang kerjanya, dia langsung menuju kamarnya untuk istirahat. Dilihatnya Mona sudah ada di tempat tidur. Purba tidak menyapanya atau pun mencobanya untuk menyentuh, sekedar bertanya dari mana pun tidak.
Bukan Purba tidak peduli, dia hanya tidak ingin mengganggu Mona yang sudah terlelap. Antara benar dan tidaknya Mona sudah tidur, Purba tidak tahu. Yang pasti niatnya tidak ingin mengganggu sang istri yang sudah nyaman dengan tidurnya.
***
Keesokan harinya Purba terbangun, tapi Mona sudah tidak ada dan sikap Purba biasa saja, mungkin Mona sedang membantu Mbak Idah di dapur.
Purba telah selesai mandi dan sudah bersiap akan ke kantor. Namun, saat akan sarapan tidak menemukan Mona di sana.
"Ibu ke mana Mbak?" tanya Purba.
"Tadi ada Pak, sempet sarapan. Terus langsung berangkat."
"Bilang nggak? Ke mana?"
"Enggak Pak, cuma pamit biasa saja."
Purba hanya mengangguk, melanjutkan sarapannya kemudian pergi ke kantor. Dia tidak begitu khawatir pada Mona, yang penting istrinya sudah sarapan terlebih dahulu, sebelum berangkat.
***
“Mbak Rara, nanti tiga orang akan datang ke sini untuk menyerahkan lamaran sebagai karyawan Mbak. Yang dua bisa membuat kue, sudah ada pengalamannya. Nah, kalau yang satu katanya melamar jadi karyawan biasa aja. Nanti mah bisa lihat cv-nya kok," ucap Vira sambil sarapan sebelum berangkat ke kantor.
"Katanya mau ke sini jam berapa ya?" tanya Rara, soalnya dia mau ada perlu dahulu.
"Katanya sekitar jam 10-an Mbak."
"Oh ya udah, bisa. Kasih tahu aja mereka kalau kamu punya kontaknya. Jika jam 10.00 aku belum datang, tunggu dulu aja sebentar, gitu ya. Aku mau ada perlu ke luar dulu soalnya."
"Oke Mbak Rara," ucap Vira.
Semenjak dia menemani Rara kehidupannya lebih menyenangkan. Ya, itu karena jauh dari suara anak-anak kecil yang kadang sampai bising telinga kalau sudah berebutan mainan.
Hari ini Rara akan ke kontrakan Gandi terlebih dahulu, dia tidak akan putus asa untuk membujuk Azkia, mumpung Gandi masih ada di sel tahanan. Coba kalau Gandi sudah bebas, mungkin akan kemana lagi Rara mencari Azkia. Siapa tahu Gandi malah menjauhkannya lagi.
__ADS_1
Rara pergi menggunakan taksi, oleh-oleh sudah dibawanya buat Azkia. Ada makanan kesukaannya, beserta mainan. Memang tidak banyak, setidaknya jika Azkia luluh hatinya Rara pasti akan memberikan lebih banyak, apalagi saat sudah kumpul bersama.
Saat ini jika membawa barang berlebihan, takut Azkia juga salah paham. Menyangka Rara hanya merayu sana dan takut tidak diterima Azkia juga. Jadinya Mubadzir.
Tidak berselang lama sampailah di kontrakan Gandi. Sopir taksi itu menunggu Rara, kecuali kalau nanti dikiranya akan lama, maka sopir itu akan pergi. Karena Rara takutnya Azkia masih belum bisa diajak untuk berdamai.
Benar saja saat Rara turun dari mobil kebetulan Azkia keluar dari kamarnya, mau ke rumah Bu Heti, karena waktu masih pagi sehingga Azkia baru selesai merapikan kamarnya. Apalagi dia tidur di tempat Bu Heti, karena tidak ada ayahnya. Namun, kamarnya harus tetap disapu, dibuka jendela agar udara bisa masuk.
"Nak ...!" Dengan sukacita, Rara berteriak memanggil anaknya. "Anak ibu sayang...." Rara sudah merentang tangan dengan di salah satu tangannya ada kantong berisi makanan dan mainan untuk Kia.
Kia yang baru saja menutup pintu langsung berteriak dan mundur.
"Kamu bukan Ibuku! Kamu bukan ibuku!" ucap Kia sambil terus mundur, tapi tatapannya tak lepas dari sang ibu.
Rara terus saja melangkah meskipun perlahan, dia mencoba terus meyakinkan Azkia bahwa Rara sungguh-sungguh ingin kembali berkumpul bersamanya. Namun, teriakan Azkia mengundang warga keluar termasuk Bu Heti.
"Kamu bukan Ibuku! Pergi sana. Tidak ada yang sayang aku. Aku bisa sendiri, pergi!" Kia terus berteriak, kali ini sambil berlari entah ke mana.
"Nak! Kembali, Azkia ... Ibu kangen Nak! Ibu pengen meluk kamu," teriak Rara merasa disusul dengan isakan, dia akhirnya lemas melihat anaknya tak merespon, bahkan menoleh pun tidak.
Bahkan kantung kresek yang sejak tadi dipegangnya jatuh, Azkia sudah menghilang dari pandangan. Rara Tentu saja tidak bisa menyusulnya..
Kemudian Bu Heti sudah ada di samping Rara, memeluk nya dari samping, meminta Rasa untuk sabar.
"Kita ke rumah dulu yuk! Tidak baik bicara di sini." Bu Heti terus merengkuh tubuh Rara sambil menuju rumahnya.
Rara hanya mengganggu lalu berjalan mengikuti Bu Heti ke kontrakannya. Kresek yang jatuh dan isinya berserakan dipungut oleh tetangga yang lain dan dia ikut serta ke rumah kontrakan Bu Heti.
"Yang tenang Bu Rara. Kemarin Azkia Sudah saya nasehati. Mungkin masih ada rasa yang mengganjal atau rasa tidak puas karena merasa dibohongi. Bisa juga merasa tersisihkan. Yang tenang ya Bu, saya yakin ikatan batin seorang anak pada seorang ibu tidak akan lepas begitu saja. Sabar...."
"Iya Bu. Kadang kepala saya berpikir, wajar Azkia berekspresi seperti itu, tapi hati masih merasa berat. Pengen banget bagaimana caranya menyampaikan kepada Azkia agar mengerti situasinya."
"Pokoknya jangan khawatir, saya yakin sekerasnya batu jika terus ditetesi air bakal pecah juga. Nanti hati Azkia bakal melunak, sejalan sering diberi nasehat dan pandangan baik."
Karena Rara ditunggu oleh taksi, dia juga tidak bisa lama-lama di tempat Bu Heti. Setelah menitipkan kembali Azkia pada Bu Heti dan sudah tahu seperti ini reaksi Azkia, serta Rara sudah datang sendiri, rasanya sudah tidak penasaran lagi.
Rara akan memberi jarak terlebih dahulu kedatangannya. Untuk berikutnya mungkin seminggu sekali atau sebulan dua kal. Jangan sampai terlalu sering malah Azkia merasa risih. Memang semuanya harus penuh kesabaran dan bertahap.
***
Pagi ini Mona datang ke kantor cabang yang masih sering dipantau oleh Papanya.
__ADS_1
Tuan Hartanto memang sudah tidak memimpin kantor manapun, hanya ada salah satu kantor cabang yang seringkali dia kunjungi. Setidaknya untuk menghilangkan kejenuhan jika terlalu sering di rumah.
"Iya Pa, Mona mohon berikan kesempatan untuk memimpin salah satu perusahaan," ucap Mona saat di ruangan direktur, setelah dia beberapa saat membicarakan tentang keluhannya.
"Bukankah kamu sudah jadi sekretaris Purba?" tanya Tuan Hartanto.
"Iya, tapi Mona pengen mandiri. Apakah Papa tidak ingin perusahaannya dilanjutkan oleh anaknya sendiri?"
"Bukan tidak ingin, kan sudah sepakat saat kalian sering ada waktu bersama, hubungan pernikahan kalian akan semakin baik," respons Tuan Hartanto.
"Itu hanya teori, Pa. Nyatanya Mas Purba dingin kembali."
"Maksudnya bagaimana dengan dingin kembali?" Tua Hartanto mengerutkan kening.
"Iya, seperti dulu. Tidak pernah bertanya duluan, tidak semanis akhir-akhir kemarin. Dia seperti yang tidak peduli aja. Bahkan sekarang aku berangkat sendiri pagi-pagi ke sini pun dia tidak peduli. Semalam aku pulang juga dia tidak bertanya aku dari mana."
Mana terus curhat kepada Papanya dan Tuan Hartanto pun mempertimbangkan. Ada baiknya juga memang, jika anak-anaknya kini akan serius mengurus perusahaan, seperti halnya Yosef. Dia sudah cukup bisa dipercaya, tidak seperti dulu yang hobinya hanya main perempuan dan menghabiskan uang perusahaan.
Tuan Hartanto akhirnya berhasil mengorek kenapa putrinya begitu semangat ingin mengurus perusahaan. Mona memang tidak berkata terus terang, tapi dari keterangan yang dapat disimpulkan oleh Tuan Hartanto ternyata putrinya mau bersaing dengan suaminya.
Mona mau membuktikan bahwa dia juga mampu mandiri. Dengan memegang salah satu perusahaan, menjadi seorang wanita karir yang sukses, tentu pria lebih dari Purba bisa didapatkannya.
Beberapa hari ini Mona memang terus berpikir, dia merasa tidak bisa jauh dari Purba karena memang terlanjur cinta. Akan tetapi tidak bisa juga kalau cinta membuatnya menderita, saat setia hanya dipaksakan. Karena setia bukan terus terikat dan bertahan, percuma kalau sebenarnya kesakitan.
Itulah mengapa Mona harus ada perubahan. Tidak kembali ke masa lalu yang gelap, tapi harus berjuang memberi nilai pada dirinya sendiri. Mona percaya hanya waktu yang akan membuatnya bisa lepas dari bayangan Purba, yang selalu dicintainya. Memang tidak baik memaksakan cinta hanya sebelah pihak saja.
"Jadi kamu sudah siap berpisah dengan suamimu?" tanya Tuan Hartanto.
"Kalau siap sih belum, Pa. Tapi kan aku harus mengambil tindakan, tidak mungkin juga aku selamanya seperti ini. Menunggu sesuatu yang gak pasti."
"Kalau Papa sih cuma bisa bilang, bukan nyalahin kamu, tapi sesuatu yang sudah kamu perbuat memang ada resikonya. Mungkin inilah apa yang harus kamu tanggung untuk menebus kesalahan.
Masih bersyukur kamu mengartikan kesusahan yang kamu dapat adalah suatu teguran, agar berubah lebih baik. Coba kalau kamu terjerumus lagi pada hal-hal yang terlarang. Kalau Papa akan mendukung apa pun pilihan terbaik. Kamu tinggal pilih mau cabang di mana."
Akhirnya Mona memutuskan mulai minggu depan dia akan mencoba memimpin salah satu perusahaan Papanya. Tentunya masih didampingi oleh orang kepercayaan Tuan Hartanto. Namun, dengan memiliki kesibukan yang lebih dan tidak terlalu sering bertemu Purba, Mana rasa itu akan membuat dirinya terbiasa, tidak ketergantungan dengan sosok suaminya.
***
Selama hampir dua minggu pertemuan Purba dan Mona tidak intens lagi. Jarang sekali bertemu dan hari ini adalah minggu kedua, di mana Purba berinisiatif meluangkan libur untuk quality time dengan keluarga, yaitu Mona tentunya.
Purba sudah bisa mengkondisikan urusannya dengan Rara, bahkan toko kuenya sudah dibuka dua hari lalu. Sehingga Purba sudah bisa tenang saat mengurangi kapasitas bertemu dengan Rara. Karena Rara juga akan sibuk dengan toko kuenya dan sebentar lagi Azka dan neneknya akan pindah ke Jakarta juga. Jadi Rara tidak akan terlalu kesepian.
__ADS_1
Bersambung