
Hem ... udah mau sampai bab 100 aja. Kira-kira give away-nya apa ya ...? Jangan lewatkan pengumumannya ya...
_______Yuk Lanjut Cerita ________
“Mas, kita mulai segalanya dari awal yah. Kalau aku salah, tolong bimbing yang baik. Aku juga mau diperhatiin, dilembutin, benerinnya jangan sambil ketus, jangan sambil marah,” ucap Mona saat permainan mereka telah usai.
“Insya Allah,” ucap Purba singkat. Dia sudah memejamkan matanya, meski belum sungguh-sungguh tidur.
Mona langsung mengeratkan pelukannya dengan bibir yang merekah tersenyum, dia senang dengan jawaban Purba yang jarang sekali terdengar mengucapkan insya Allah, atau ‘baiklah akan saya lakukan’ mungkin juga ‘mudah-mudahan saya bisa' atau kata-kata manis lainnya.
Biasanya Purba merespons lebih sering dengan ‘hem’ berdaham saja.
“Besok, Mas mau sarapan apa? Biar pagi-pagi sekali aku masakin, aku nggak akan ke kantor dulu, deh.”
“Seperti biasa aja, nggak usah yang aneh-aneh. Kenapa kamu nggak ke kantor? Tumben.”
“Aku mau di rumah aja, mau belajar jadi istri yang baik, belajar masak sama Mbak Idah, seperti kata Mas dulu.”
“Oke baiklah, jadi kamu percaya kalau aku di kantor hanya bersama Rara?”
“Kan ada Bizar.”
“Iya, syukurlah kalau Mama bisa percaya, jadi aku bisa kerja dengan tenang. Dan besok juga aku akan membicarakan soal kepindahan Rara. Aku harus menepati janji terutama kepada Papa.”
Mona mengangguk senang mendengar pernyataan Purba. Dia sangat senang sekali ternyata Purba bisa diandalkan dan responnya cepat atas perintah Papanya.
Dalam urusan rumah tangga memang tidak mudah kita tebak, bagaimanapun Purba ingin semuanya baik-baik saja kalau bisa, karena mungkin hanya tetap bersama dirinya Mona pun bisa berubah dengan baik. Jika Purba mampu, kenapa tidak dua-duanya saja Purba miliki. Mona dan Rara.
Purba melihat situasinya dulu, dia juga tidak mungkin membalas air susu dengan air tuba. Istilahnya, bagaimanapun kelakuan Mona, Tuan Hartanto tetap baik padanya. Mungkin memang ini jalannya, hanya Purba yang mampu merubah Mona menjadi wanita yang baik.
**#
Keesokan harinya benar saja, Mona sudah bersiap di dapur membantu Mbak Idah. Dirinya pun juga sudah mandi dan berpakaian rapi begitu pun berdandan sewajarnya, bahkan make up yang tipis untuk wajah Mona terkesan lebih enak dipandang.
“Sini Mas, aku ambilkan,” ucap Mona mengambil piring yang ada di depan Purba, di isinya dengan satu potong roti satu buah apel dan air mineral hangat
__ADS_1
Keluarga mereka memang jarang sekali sarapan dengan makanan berat seperti nasi, tujuannya hanya untuk menjaga kesehatan mereka. Karena itu sudah kebiasaan di keluarga Hartanto, jadi Mona terapkan di keluarga kecilnya saat ini.
Purba berpamitan, tak lupa mengecup kening Mona.
**#
Sementara itu...
Di kampung Sugih ayu ibu Darma sedang berada di rumah Bu Sugeti, Bu Darma adalah ibunya Retno.
“Jadi, Rara udah berapa lama di Jakarta Mbak?” tanya Bu Darma kepada Bu Sugeti, karena lebih tua usianya maka Bu Darma memanggil Bu Sugeti dengan sebutan Mbak.
“Mungkin sekarang udah mau dua bulan, tapi katanya nanti pulang saat Retno nikah,” jawab Bu Bu Sugeti.
“Paling sambil urus perceraian ya Mbak? Saya ikut sedih loh, prihatin lihat nasibnya Rara. Kemarin saya ketemu Gandi, kemudian Azkiya salim loh Mbak, saat saya sapa mereka. Eh, tapi pas saya mau ngobrol lagi, si Gandi pergi tanpa ngomong apa-apa.
Saya lihat sampe mereka benar-benar menghilang, tapi yang paling saya sedih tuh, Azkiya nengok ke belakang terus. Ngeliatin saya, duh ... hati ini jadi ikut sedih.”
Tanpa terasa netra Bu Sugeti berkaca-kaca dan itu disadari oleh Bu Darma. Dia merasa bersalah juga, kenapa cerita perihal Gandi dan Azkya?
“Loh, loh ... Mbak, maafin ya. Saya gak bermaksud buat Mbak sedih. Saking gemesnya saya juga sama kelakuan Gandi dan terenyuh dengan tatapan Azkya, jadi saya cerita.”
Bu Darma yang duduk di sebelah Bu Sugeti persis, dia menyentuh pundak dan tangan Bu Sugeti, mengusapnya memberi dukungan ketegaran
“Semoga doa-doa kita diijabah Gusti Allah ya Mbak. Itu anak kasihan loh, kayak yang gak berani melawan bapaknya. Padahal kalau misal Azkiya ngamuk ya wajar, kan masih kecil, sama Gandi anterin sini. Itu anak penurut banget apa takut ya? Tapi bapaknya, apa dia nggak kasihan sama anaknya?”
“Entahlah dik Darma. Semoga cepat ada kekuatan ya, terutama untuk Rara. Terus terang Mbak gak bisa ngapa-ngapain. Pernah ke rumah bertemu ibu bapaknya, tapi mereka responnya kayak gitu, bikin sakit hati.”
“Ya udah ya, Mbak. Saya pulang dulu. Nanti jangan lupa, besok sore udah mulai ke rumah, bantu-bantu kayak biasa,” pinta Bu Darma sambil tersenyum, tangannya tak lepas dari genggaman tangan Bu Sugeti.
Bu Darma memang hanya ingin mengabarkan, untuk Bu Sugeti membantu urusan dapur, dalam acara pernikahan Retno beberapa hari mendatang.
Padahal Hendra menyarankan untuk di gedung saja biar tidak repot, tapi keluarga Retno tidak ingin, karena kalau di gedung warga-warga yang akan hadir akan merasa canggung. Karena katanya kalau di gedung harus pakai baju bagus. Nggak enak kalau bajunya biasa tapi tempatnya bagus.
Namanya juga orang desa, pemikirannya masih sempit. Terlalu banyak rasa minder dan ga enakan.
“Ya Allah... semoga ada jalan keluar untuk keluargaku, keselamatan dan kesehatan cucuku,” tak terasa air mata Bu Sugeti meleleh juga, mengalir pada kulit yang sudah banyak kerutan di sana sini.
Tidak terbayang bagaimana nasib anak kecil itu. Apa Gandi tak mengerti, bahwa Azkiya tidak bisa dipisahkan dengan saudara kembarnya.
Memang Gandi benar-benar tidak punya hati. Keluarga Rara sempat menawarkan lebih baik dibawa semua, biar Azkiya ada temennya, tapi dengan angkuhnya Gandi menjawab, katanya Rara terlalu enak kalau semua anaknya dibawa Gandi.
__ADS_1
Akan tetapi kalau semua dibawa Rara juga, orang akan berpandang bahwa Gandi yang bersalah. Dianggap tega, karena Rara yang merawat semua anaknya.
Bahkan Gandi juga sudah marah, karena tetangga menggosipkannya tidak memberi uang nafkah sepeser pun untuk Azka dan Azkiya, mentang-mentang kedua anak itu tinggal bersama Rara sebelumnya. Maka Gandi bawa satu anak.
Pemikiran seorang Gandi memang membuat capek Rara, maunya apa?
*#
Sementara itu di kantor Bonafit Tekstil.
“Tumben Mas, agak siang?” tanya Rara saat Purba baru masuk ruangannya.
Rara kemudian berdiri menghampiri Purba mengambil tas kantornya, tak lupa Purba mencium kening Rara. Mereka sudah selayaknya seperti pasangan suami istri dalam hal melayani secara umum, bukan melayani secara batin.
“Tadi aku sarapan dulu di rumah. Mona memintaku,” ucap Purba jujur.
Entah mengapa ada rasa berdesir pada dada Rara, seakan dia tidak rela bahwa Purba mulai akrab lagi dengan Mona.
“Tapi kenapa tidak bareng sama Bu Mona?” tanya Rara sambil meletakkan tas kantor Purba di meja kerjanya.
“Semalam aku habis dari rumah utama, lalu Mama dan papaku memberi pencerahan kepada kami berdua dan hari ini kami akan memulai segalanya dari awal.”
“Segalanya dari awal bagaimana?” tanya Rara merasa bingung.
“Iya, Mona akan benar-benar memperbaiki perilakunya menjadi istri yang baik dan aku juga harus bisa menjadi suami yang lebih dewasa lagi untuk Mona.”
“Kok bisa gitu Mas?” ucap Rara, merasa kurang penjelasan dari Purba.
“Maksudnya bisa gitu, gimana?” tanya Purba tak mengerti.
“Kalau Mas dengan Bu Mona sudah baik hubungannya. Terus apa artinya aku di sini?”
{ Tidak kita pungkiri, seringkali berada pada situasi yang sulit tapi di mata orang lain mudah. Karena orang lain tidak ada pada posisi sebenarnya}
__ADS_1
Clue untuk give away ( tentu saja untuk readers setia. Bukan yang sekedar mampir kemudian pergi tak pernah singgah lagi) 😁
Bersambung...