Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Antar Pulang


__ADS_3

Purba sudah berada di kantor, dia melihat laptop yang ada di meja sofa menyala, mungkin Rara sedang ke luar sebentar, pekerjaannya ditinggal.


Sekitar 10 menit kemudian, Rara masuk dengan secangkir kopi di tangannya. Rara cukup terkejut ternyata ada orang lain di sana. Duduk di kursi kebesaran Bosnya. Rara tak menduga bahwa Purba akan masuk kantor siang ini.


Begitu pun Purba yang terpesona dengan penampilan Rara. Bajunya sederhana, Purba tahu itu bukan baju Rara, terlihat dari ukuran kurang pas di badan. Karena memang bentuk tubuh Retno dan Rara tidak sama. Retno lebih berisi dan sedikit lebih tinggi dari Rara.


Namun, penampilan Rara sangat berbeda saat terakhir kali Purba bertemu Rara. Pakaian elegan yang tebih rapi dan membentuk tubuh dengan anggun, sungguh aura wajah daerah yang manis dan teduh semakin terlihat.


Segalak-galaknya Rara kalau marah, dia tetap terlihat tenang wajahnya. Tidak urakan seperti wanita kota yang sudah terbiasa dengan pergaulan bebas.


Namun, ada yang tidak suka dari rambut Rara. Kenapa diikat ke atas seperti itu. Bukan diikat seperti ekor kuda biasa. Tapi diikat bergulung ke atas, sehingga tengkuk dan leher terekspose jelas.


“Eh, bapak,” sapa Rara yang menjadi canggung. Dia menyapa dengan sedikit membungkuk dan tersenyum. Kemudian menyimpan kopinya di meja.


Saat Rara hendak berdiri, berniat untuk ke meja Purba memberi laporan dan menyapa karena baru bertemu lagi, Rara dikagetkan dengan rambutnya yang tiba-tiba terurai.


Rupanya purba yang membuka jepit rambut itu.


“Eh, kenapa Pak? Saya gerah, jadi rambutnya dijepit,” ucap Rara dengan berusaha mengambil jepitan rambut dari tangan Purba.


“Di ruangan ini ada AC, mengapa harus di jepit rambutnya. Kamu mau pamer leher kamu untuk menggoda karyawan lain?” tanya Purba cukup pedas bagi Rara.


“Tidak Pak, saya beneran gerah. Saya juga tidak terbiasa dengan ruangan ber AC, terlalu dingin. Saya lebih baik kepanasan dari pada membeku,” bela Rara.


“Kamu kan. Bisa mengatur temperaturnya,” ujar Purba mengambil remote AC. Kemudian membuang jepit di tong sampah.

__ADS_1


“Eh, Pak. Aku pakai apa?” tanya Rara. Tak menyangka Purba akan setegas itu.


“Kamu bisa pakai karet,” jawab Purba singkat.


Rara tak menyangka, karakter CEO nyebelinnya muncul lagi. Tanpa debat lagi, Rara langsung pada kerjaannya. Begitu pun Purba, fokus pada layar laptopnya.


Sementara Bizar berada di samping meja Purba, entah apa yang dilakukannya. Rara heran, sebenarnya Bizar ini assisten untuk apa sih? Apa bodyguard, tapi mengerjakan kerjaan kantor juga.


“Ah ... dasar aneh?” gumam Rara.


“Kenapa?” tiba-tiba Purba bersuara. Dia mendengar gumaman Rara.


Rara tak memedulikan ucapan Purba, Rara pikir itu bukan padanya.


“Hah? Bapak bicara sama saya? Saya pikir pada mas Bizar,” elak Rara.


“Kalau ada yang tidak disuka, bicara dengan jelas, jangan bergumam sendiri. Kaya orang gak waras,” ucap Purba lagi.


Rara melihat pada Purba dengan tatapan kesal. ‘Ih... ini orang kenapa sih? Ikutan sakit dari istrinya kali ya? Gak jelas banget. Kemarin lembut, sekarang ketus. Abis makan bon cabe kali,' batin Rara.


Dua jam mereka fokus bekerja masing-masing, pukul tiga lewat Purba ada meeting sebenarnya, di sebuah cafe, tapi dia teringat saat melihat pada Rara yang masih fokus. Dia ingin tahu di mana tempat tinggal Rara.


“Rara, jika sudah selesai, aku antar pulang,” ucap Purba masih di tempat duduknya.


“Hah? Apa? E... Bapak mau antar pulang saya? Gak usah Pak. Saya bisa pulang sendiri.” Rara menolak tawaran Purba . Dia masih canggung jika secepat ini begitu akrab dengan Purba. Meski dalam hatinya senang.

__ADS_1


“Aku tahu kamu bisa pulang sendiri, tapi aku ingin tahu tempat tinggalmu, dan itu hakku.”


“Hak? Memangnya Bapak tahu tempat tinggal semua karyawan di sini?” lagi-lagi Rara mempertanyakan hal yang tidak penting.


“Mereka semua memiliki alamat. Ayo, mau atau tidak,” tawar Purba yang kini sudah mengenakan jasnya dan merapikan meja kerjanya.


Purba langsung berjalan ke luar ruangan tanpa menunggu jawaban dari Rara.


Bizar yang menyusul, berhenti sebentar di dekat Rara, “Nona, jika tuan menawarkan, jangan ditolak. Nanti masalahnya bisa ke mana-mana,” ucap Bizar tegas.


“Hah, separah itu?” Mona tak ingin kena masalah lagi, dia buru-buru merapikan meja kerjanya. Mengambil tasnya lalu keluar diikuti Bizar. Seperti biasa, Bizar menitipkan kunci ruangan pada Fira.


Sambil berjalan, Rara ngedumel. Benar-benar tidak habis pikir dengan karakter-karakter bos di perusahaan besar. Pemaksa, angin-anginan, gak jelas, bisa berubah kapan saja karakternya. Lagian, kena masalah kema-mana itu maksudnya apa coba?


“Nona, kalau Anda terus ngoceh nanti capek,” ucap Bizar yang sudah hampir di parkiran.


“Bodo, aku juga yang capek, Bukan Mas Bizar.” Rara tak peduli dia bicara sama siapa. Sama-sama karyawan kok.


Dalam hatinya, Bizar tertawa. Senang bisa membuat wanita unik ini kesal.


 


Bersambung...


 

__ADS_1


__ADS_2