Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Curhatan sang Majikan


__ADS_3

Bab 107


Sore hari di rumah, Mona selesai mandi. Dia mengamati beberapa bagian tubuhnya di kaca. Apakah tanda dari Bram sudah menghilang atau mungkin memudar? Takutnya saat nanti malam Purba bermain dengannya akan kecolongan. Terlihat yang belum Mona cek kembali, apakah masih ada bekasnya atau sudah benar-benar hilang.


Bahkan Mona membawa racikan kunyit asam yang dibawa dari rumah mamanya, untuk membuatnya percaya diri agar kewanitaannya merasa sehat dan segar.


Tidak mudah untuk Mona melihat tubuhnya di depan cermin yang besar, teringat kembali kejadian itu. Kenapa dia terlalu bodoh terjerumus kepada lembah hiam dan nyatanya beginilah, perlakuan orang yang mencintai karena nafsu.


Efek trauma Mona rasakan, walau dia juga mantan penganut pergaulan bebas.


Tok... tok!


Reflek Mona mengenakan handuk piamanya karena mendengar ketukan pintu. Dia berjalan menghampiri pintu kamar. Siapa yang mengetuk pintu?


Ternyata Mbak Idah membawa kunyit asam yang sudah diseduh, Mona biasa meminum racikan itu pagi dan sore.


"Simpan di sini ya Bu," ucap Mbak Idah, menaruh gelas di atas nakas dekat tempat tidur.


Mona hanya tersenyum saja mengangguk. Namun, saat mbak Idah mau berbalik, dia tak sengaja melihat bagian dada Mona. Handuk piama tak sepenuhnya menutupi tubuh Mona.


Mona sempat terpaku meskipun Mbak Idah tidak mengatakan apa pun. Namun, Mona reflek merasa Mbak Idah melihat sesuatu yang aneh pada dirinya.


"Kenapa Mbak?" tanya Mona, dia juga berpikiran. Apakah Mbak Idah melihat tanda kepemilikan Bram? Mona langsung berjalan menuju cermin dan ternyata memang ada yang terlewat dari penglihatannya tadi.


Mona langsung menarik Mbak Idah, kemudian didudukkannya di tepi ranjang.


Mbak Idah panik, apa yang akan dilakukan majikannya. Apakah dirinya telah berbuat kesalahan?


"Ada apa Bu?" tanya Mbak Idah sedikit ketakutan.


"Mbak, aku mohon jujur. Mbak melihat sesuatu di daerah sini?" tanya Mona sambil mengusap sekitar leher dada.

__ADS_1


Mbak Idah terdiam sejenak, apa yang harus dikatakannya, dia memang melihat sesuatu. Akan tetapi haru bagaimana merespons?


Mbak Idah mengangguk terus kemudian bertanya dengan hati-hati, "Apakah Ibu baru dapat musibah?" Mbak Idah bersuara hampir tak terdengar.


Tenggorokan seakan tersekat, dia takut salah bicara walau melihat Mona telah banyak berubah, tidak lagi mudah emosi.


Mona langsung terharu mendengar pertanyaan Mbak Idah, pemikirannya begitu positif. Musibah? Ya, memang benar musibah.


Namun, bagaimana bisa sepolos itu pertanyaannya. Sedangkan Mbak Idah adalah wanita yang pernah memiliki suami. Masa iya tidak paham tanda seperti ini. Atau hanya ingin menjaga hati Mona? Maka tidak berkata terus terang, apa yang ada dalam pikirannya.


"Tapi, Mbak Ida jelas melihat ini?" tanya Mona menekankan sekali lagi.


Mbak Ida mengangguk.


Mona seketika memeluk Mbak Idah dan menangis sesenggukan.


"Eh, Bu. Kenapa?" Mbak Idah semakin bingung, majikannya sedang rapuh sepertinya.


"Mbak Idah... tolong jangan bilang pada bapak," ucap Mona di tengah tangisnya.


"Apa mungkin Ibu selama di rumah besar mendapat kecelakaan? Ibu terjatuh atau terbentur sesuatu?" tanya Mbak Idah


Mona semakin nangis mendengar perkataan Mbak Idah. Benar-benar Mbak Idah tidak mencurigai Mona sebagai wanita nakal yang mungkin saja masih bisa bermain dengan laki-laki lain. Terlebih kemarin saat Purba pergi jauh. Sehingga banyak waktu dimanfaatkan oleh Mona untuk mencari hiburan dengan laki-laki lain.


Mona menggeleng, lalu memberanikan diri menjelaskan saat kejadian pagi itu pergi, dan kemudian disusul oleh Yosef.


Entah mengapa Mona akhir-akhir ini tidak bisa menyimpan rahasia sendiri, dia selalu ingin mengeluarkannya, curhat kepada Mbak Idah khususnya.


Berbanding terbalik memang, seperti saat dirinya berada di lingkaran pergaulan bebas. Mona seakan tidak membutuhkan orang lain, apa pun masalahnya disimpan, tapi dilampiaskan dengan kemarahan dan tindakan semena-mena terhadap orang lain.


Namun, saat ini Mona mencoba menjadi karakter yang baik dan wajar seperti orang-orang pada umumnya. Akantetapi hatinya malah merasa mudah rapuh, sehingga butuh orang untuk menemani berkeluh kesah.

__ADS_1


"Astagfirullah Bu, saya tidak bisa berkata apa-apa, tapi saya ikut prihatin semoga polisi memberikan hukuman yang setimpal kepada pria itu," ucap Mbak Idah.


Mona mengangguk yang kini sudah duduk kembali dengan normal. Digenggamnya beberapa lembar tisu untuk menyeka cairan bening yang keluar dari netra dan hidungnya.


"Ujian bagi orang-orang yang ingin menjadi lebih baik memang berat Bu. Yang sabar ya," ucap Mbak Idah kembali, memberikan dukungan pada Mona.


Mona mengangguk kemudian berkata," karena ini, alasan aku memakai syal Mbak. Mungkin sikapku memang membohongi Purba, tapi mungkin ini lebih baik daripada ada masalah lagi."


"Iya, Mbak Idah ngerti, Bu. Pasti posisi ibu bingung. Yang penting ini bukan kehendak ibu. Ya sudah... kalau kayak gitu diminum kunyit asamnya, mumpung masih hangat," ucap Mbak Idah kembali.


Kemudian mba Idah pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Makasih ya Mbak," ucap Mona, sebelum Mbak Idah benar-benar pergi.


'Berarti nanti malam aku belum siap untuk memulai, semoga tidak Mas Purba tidak mendahului,' batin Mona.


Kemudian Mona beranjak untuk mengambil pakaiannya, lebih baik terlihat masih sakit daripada Purba curiga. Mona kembali mengambil sweaternya yang memiliki kerah menutupi sampai leher, bahkan Mona tidak berani memakai celana pendek, benar-benar brutal kelakuan si Bram, seluruh tubuh Mona ada tanda kepemilikannya, tak terkecuali di daerah pa ha, entah ada berapa titik merah di sana.


Setelah berpakaian, Mona menyalakan pengharum ruangan dengan aroma terapi untuk merelaksasikan pikirannya. Dia duduk bersandar pada sisi tempat tidur dengan menikmati segelas kunyit asam yang masih hangat.


Tidak terlalu lama Purba pulang kantor, kemudian langsung masuk ke kamar. Dia juga membawa pesanan yang Mona inginkan.


Namun, Purba merasa heran melihat Mona tidak mengetahui kedatangannya, padahal pintu itu cukup menimbulkan bunyi.


'Ada apa dengannya?' batin Purba melihat Mona Yang sepertinya sedang menikmati suasana segar ruangan dan musik yang mengalun lembut, memenuhi ruangan kamar.


Purba menghampiri Mona dan duduk di samping ranjang.


"Ma," ucap Purba menyentuh tangan Mona yang bertumpuk berada di perutnya.


Mona terperanjat, langsung ditariknya selimut sampai menutupi dadanya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Purba lagi, semakin heran karena Mona seperti ketakutan.


Bersambung....


__ADS_2