
Kalau rame, pasti crazy up. Thx yang udah mampir.
_____
“Aku peringatkan sekali lagi, menyingkir dari hadapanku!” kali ini Mona benar-benar meninggikan suaranya.
Namun, Bram tetap saja tidak menggubris permintaan Mona. Dia terus melangkah. Malah semakin jelas langkahnya, tidak lagi perlahan seperti tadi langsung dikukungnya tubuh Mona yang sudah terjebak terimpit dinding tembok dan dirinya.
Mona berusaha melepaskan diri dari tangan kekar Bram yang sudah mengunci tubuhnya dengan melingkarkan tangan pada pinggang Mona.
Security dan Mbak Idah yang mendengar hal itu dia yakin bahwa majikannya sedang terdesak. Security tidak susah payah membuka pintu tersebut karena tidak terkunci. Mungkin sebelumnya Bram menyangka rumah itu akan aman dari gangguan, karena biasanya penghuni rumah tersebut tidak peduli dengan apa yang dilakukannya.
Namun, Bram mungkin lupa kali ini ada penolakan dari Mona, sehingga orang-orang rumah pasti akan lebih mengutamakan keselamatan majikannya.
Security langsung menarik kerah baju Bram dari belakang, lalu meninjunya sekali hingga Bram tersungkur. Bram langsung berdiri dan membalas pukulan dari security. Namun, tidak kena dua art lainnya naik ke lantai dua langsung menuju ke kamar Mona ikut membantu meringkus Bram. Walau dua ART ini dua-duanya adalah perempuan.
Bram digiring ke pos security karena ada satu lagi penjaga di sana, rencananya Bram akan dilaporkan ke polisi.
Sementara itu Mbak Idah membantu Mona yang bersimpuh di lantai sambil menangis.
“Ibu tidak apa-apa? Mari saya bantu ke tempat tidur,” ucap Mbak Idah memegang kedua lengan Mona untuk memapahnya ke tempat tidur.
Mona tidak berkata apa-apa. Dia menurut apa kata Mbak Idah bukan karena trauma, tidak ada kata trauma untuk Mona yang terbiasa dalam pergaulan bebas itu. Hanya saja Mona masih syok, tidak menyangka bahwa Bram akan senekat itu.
“Ambilkan saya air hangat aja Mbak,” ucap Mona.
Mbak Idah menurut dan turun menuju dapur, untuk mengambilkan air hangat.
Mona meraih ponselnya bukan untuk menghubungi Purba, tapi menghubungi kakaknya,.Yosef.
“Ada apa?” tanya Yosef yang cepat menerima panggilan dari Mona.
Mona menceritakan perihal kedatangan Bram ke rumah dan apa yang Bram lakukan padanya.
“Lalu, di mana dia sekarang? Biiar gue hajar,” ucap Yosef terbakar amarah.
“Dia ada di pos, Kak. Mungkin akan dibawa kantor polisi.”
“Biar tunggu gue datang dulu, bilang ke security jangan diapain dulu,” ucap Yosef langsung menutup teleponnya.
__ADS_1
Mengapa Mona tidak mengatakan kepada Purba? Pastinya ini akan membuat purba bingung. Kenapa Bram sampai senekat itu dan purba juga tidak tahu Bram itu siapa.
Karena memang Purba tidak pernah mengecek sama sekali ponsel Mona. Lagi pula dia tidak peduli dan seperti yang kita tahu, mbak-mbak di rumah pun tidak pernah laporan siapa yang datang.
Purba hanya tahu temannya Mona ketika ada seseorang yang datang dari laporan asistennya. Atau dari Mona sendiri. Namun, tidak tahu siapa-siapa saja temannya itu.
Atau bisa jadi kejadian ini akan dimanfaatkan oleh Purba untuk menceraikan Mona dan itu Mona belum sanggup, dia masih bertekad kuat untuk menjadi istri yang baik.
Mona hanya melongok di jendela melihat keadaan di pos security, kebetulan kamar di lantai dua itu memiliki jendela yang mengarah ke luar pagar atau gerbang. Hingga jelas terlihat aktivitas di pos security.
Mbak Idah masuk membawakan air hangat dan segera diberikan kepada Mona.
Mona diminta Mbak Idah untuk istirahat saja. Maksudnya tidak melakukan pekerjaan rumah terlebih dahulu.
“Mbak bisa temenin aku?” ucap Mona saat Mbak Idah akan pergi.
Mbak Ida menghentikan langkahnya, dia menoleh kepada majikannya. Dalam hatinya berkata, tumben sekali majikannya meminta seperti itu, biasanya menyapa pun tidak. Seperti ingin menjaga jarak karena majikan dan pembantu itu beda kelas.
“Iya Bu boleh. Biar aku temenin di sofa aja ya. Ibu tidur yang nyaman.”
“Tapi aku minta Mbak Ida duduk sini,” ucap Mona sambil menepuk pinggir ranjangnya.
**#
Siang ini Purba sudah berada di rumah Rara. Mereka sedang membicarakan proses perceraian Rara dan Gandi.
“Maaf, Pak. Jadi merepotkan gini ya. Kami orang kurang paham dan kurang pengalaman masalah hukum,” ucap Bu Sugeti.
Rencana Bu Sugeti mengajukan perceraian ke pengadilan agama, nanti kalau sudah memiliki uang. Karena kata orang harus ada sejumlah uang untuk mengurusnya.
Padahal pengacara yang dibawa Purba mengatakan, sebenarnya bisa tidak menggunakan uang. Asal ada syarat-syarat tertentu seperti menyiapkan surat keterangan tidak mampu, yang diurusnya mengajukan ke desa setempat .
Namun, karena sekarang sudah ada pengacara yang dibawa oleh Purba, hal itu tidak perlu dilakukan oleh Bu sugesti dan Rara.
“Nah ... jadi ibu dan Rara nanti terima beres aja, biar pengacara saya yang mengurusnya ke pengadilan agama,” ucap Purba menjelaskan.
__ADS_1
“Memang bisa seperti itu Pak?” tanya Bu Sugeti sekali lagi memastikan.
“Tentu saja bisa. Oh ya Bu, maaf panggil saya Purba saja. Jangan panggil Bapak, gak enak rasanya, terlalu formal,” ucap Purba dengan sedikit tertawa canggung. Merasa ada jarak jika orang tua memanggil dirinya dengan sebutan bapak.
“Bapak, memang hali ini nda kelja ya?” tanya Azka yang tiba-tiba nyeletuk.
“Tidak sayang... hari ini aku libur,”ucap Purba.
“Tapi kalo Bapak dari Jakarta,uangnya banyak, donk?” tanya Azka lagi.
“Azka ... kenapa bertanya seperti itu? nggak sopan,” jawab Rara.
“Kan aku cuma beltanya, Bu. Biasanya olang-olang yang dali Jakata uangnya banyak. Ibu aja kemalen kan bawa banyak makanan sama oleh-oleh.”
Purba hanya tertawa mendengar celotehan Azka, dia menyimak kelucuan anak kecil itu. Untungnya wajahnya mirip dengan Rara, ataukah karena Purba belum mengetahui bagaimana sosok Gandi? Jadi dia merasa anak kecil itu memang mirip dengan ibunya.
“Kalau uang, pasti ada, Nak. Karena setiap orang bekerja pasti memiliki uang,” ucap Purba, menjelaskan kepada bocah dengan bibir kecil yang imut seperti ibunya.
“Kalo bapak ke sini jadi temennya ibu, bisa jadi teman Azka juga dong?”
“Haha, iya kita berteman,” ucap Purba, kemudian menyodorkan kepala tangan pada Azka, sebagai tanda mereka berteman..
“Kalo belteman boleh main bareng?” tanya bocah TK B itu lagi.
“Em ... tentu, mari kita bermain. Azka mau bermain apa? Atau di mana?”
“Em ... kita main apa ya,” gumam Azka. Jari telunjuknya ditempelkan di dagu, seperti orang berpikir serius.
“Oh ya,” seru Azka dengan menjentikkan jari seakan menemukan sesuatu yang besar. “Aska mau belmain di kota, teman-teman Azka di sana udah seling main. Katanya selu...!” ucap Azka dengan memanyunkan bibirnya saat mengatakan seru, saking antusiasnya.
“E, M-mas. maaf ya Aska memang bawel anaknya. Jangan terlalu dianggap,” ucap Rara merasa tidak enak.
“Tidak apa. Aku suka kok anak kecil,” ucap Purba kemudian dia merespons jawaban AzAzka”Baik, kita bermain sekarang yuk. Nanti kamu yang nunjukin jalannya. Karena aku tidak tahu.”
“Oke. Hore ...! Ibu, ayo ganti baju, kita main sama bapak,” seru Azka antusias, dia menarik-narik tangan Rara untuk ke kamar, berganti pakaian.
Rara jelas saja menjadi gugup. Kenapa Azka seakrab itu dengan Purba? Memanggilnya juga bapak, takut Purba tersinggung.
Bersambung...
__ADS_1
Yang mau ikutan giveaway, rulenya ada di GC ya. thx :)