Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Sama-Sama sakit.


__ADS_3

Mantri Wahyu bersalaman dengan Rara dan menanyakan kabarnya, karena mantri Wahyu dikejar waktu dari pulang dinas di Puskesmas, harus segera membuka praktek di rumahnya. Karena itu percakapan mereka tidak lama.


"Aku senang melihat kamu baik-baik saja. Lain waktu pasti aku akan mampir ke rumah," ucap Mantri Wahyu.


"Tapi aku hanya sebentar di sini," ucap Rara.


"Kalau begitu sampai jumpa di lain waktu, ya. Dan ... kamu sudah mengetahui tentang apa yang aku sampaikan pada Lena?" tanya mantri Wahyu.


Rara mengatakan yang sebenarnya bahwa dia menerima niat baik Mantri Wahyu untuk membantunya proses perceraian dengan Gandi. Namun, dia sudah ada yang mengurusi pengacara dari bosnya.


Satu sisi Mantri Wahyu senang karena Rara sudah lebih baik dari segi ekonomi dan status sosialnya, yang dia tahu kalau sekilas saat ini. Dan satu sisi Mantri Wahyu sedikit ada rasa cemburu, karena bagaimanapun dia tidak melanjutkan hubungan dengan Rara karena tidak ada persetujuan orang tuanya.


Menteri Wahyu pun kemudian pamit.


Kemudian Rara melanjutkan pulang bersama Lena. Saat sampai rumah sudah ada pengacara. Rara pun menanyakan bagaimana hasil dari pengadilan agama.


"Semuanya sudah selesai Bu, tinggal menunggu surat panggilan kepada Pak Gandi," ucap pengacara itu.


"Berapa lama, ya Pak?" tanya Rara.


Pengacara itu memberitahukan surat panggilan itu akan beredar sekitar dua minggu dan jika Gandi tidak menghadiri sidang perceraian, maka sidang otomatis selesai cukup sekali dan perceraian dinyatakan sah. Pengacara juga menyampaikan sekaligus mengatur untuk hak asuh anak.


"Terima kasih ya Pak, sudah membantu. Jadi lebih lega sekarang," ucap Rara.


Purba pun menyampaikan bahwa dia sudah membicarakan niat seriusnya kepada Bu Sugeti. Rara cukup terkejut kenapa Purba membicarakan hal itu tanpa ada dirinya.


"Sudahlah Rara, yang penting kan semuanya Ibu sudah tahu. Nah, mending sekarang kita makan rujak dulu. Enak kan...? Panas-panas gini apalagi buat Pak pengacara cocok, habis capek ya Pak?"


Sama orang pun tertawa senang dengan suasana yang hangat seperti itu, mereka menikmati rujak yang dibawakan oleh Rara. Dan ada beberapa makanan lain khas daerah Sugih Ayu.


**#


"Kapan katanya dia ke sini lagi?" tanya Gandi saat dia sudah pulang ke rumahnya.


Ibunya Gandi tidak menceritakan bahwa Rara akan kembali lagi, karena yang mereka bahas hanya tentang Azkia saja. Bahkan mereka juga tidak tahu-menahu bahwa Gandi akan digugat cerai oleh Rara secara sah negara.


Ibunya Gandi juga kembali menasehati agar Azkiya dikembalikan saja karena itu merepotkan, kasihan mengorbankan anak kecil yang tidak tahu apa-apa demi ikut orang tuanya.

__ADS_1


Namun, Gandhi tetap bersikeras meskipun dia memang kerepotan dengan anak itu, tapi harus ada hal yang diuntungkan dan itu belum Gandi ketahui apa yang harus dia untungkan dari anak kecil itu.


"Tapi bener Ma? Rara ke sini dengan laki-laki yang kelihatannya kaya?" tanya Gandi penasaran. Karena dia hanya mendengar dari orang-orang kampung.


"Setahu Mama sih gitu. Hanya saja dia nggak turun. Ada dua cowok yang penampilannya keren, mobilnya juga bagus, kinclong." Ibunya Gandi seakan memanas-manasi putranya, padahal itulah kenyataannya.


Gani tersenyum smirk, terbersit pikiran kotornya. Apakah dia akan meminta tebusan kepada calon suaminya Rara yang katanya orang kaya itu? Dia tukar dengan Azkiya. Sepertinya itu adalah ide bagus. Batin Gandhi dan pikirannya sedang berdiskusi untuk memeras Rara.


**#


Ponsel Purba berdering saat mereka sedang asyik menikmati sore bersama makanan tradisional khas Sugih Ayu.


Purba menoleh pada Rara dan ternyata Rara memberikan isyarat mengangguk untuk mengangkat telepon tersebut.


"Iya Ma," ucap Purba setelah menerima panggilan dari Mona.


"Mas, pulangnya kapan? Ini sudah tiga hari loh." Mona merengek


"Belum Ma, ini masih dua hari lewat sedikit. Mungkin besok pulang."


"Iya, yang sabar. Nanti Papa juga pulang."


"Responnya cuman gitu aja?" jawab Mona.


"Emang harus gimana?" Purba menjawab seperti tanpa dosa.


'Tuh kan mulai nyebelin lagi' batin Mona, cuman dia tahan dalam hati.


"Kan Mama kangen Papa. Nggak ngerespon kangen balik gitu?" tanya Mona, memancing Purba.


"Iya ... namanya juga suami istri, kalau berpisah agak lama ya pastilah merasakan hal yang sama," jawab Purba malah bertele-tele.


'Kenapa berbelit-belit sih? Tinggal bilang aja kangen,' lagi-lagi Mona hanya bilang dalam hati, dia ingin marah kesal. Sepertinya Purba sengaja banget mengobrak-abrik hatinya. Apa sama sekali tidak peka maksud pembicaraannya?


Kalau istri kangen, ya... suami bilang kangen juga. Kecuali kalau kesel ya bilang kesal aja jujur. Kalau kaya gini, menunjukkan benci enggak menunjukkan rasa rindu pun enggak. Mona uring-uringan sendiri, tapi dalam hatinya lagi-lagi.


"Papa emang nggak kangen ke Mama?" tanya Mona to the point akhirnya.

__ADS_1


Purba melihat pada Rara, tapi Rara tidak memperhatikan Purba yang sedang menelepon. Rara sibuk dengan makanannya dan keseruan bercanda bersama Azka.


"Iya, Papa juga," ucap Purba sedikit dipelankan suaranya.


"Kok jadi loyo gitu, sih? Ada siapa? Bilang kangen susah banget. Mama harusnya kesel loh, Pa. Cuman hanya bisa dipendem dari tadi. Ini aja terus terang biar Papa tahu aja," ucap Mona dengan nada yang diusahakan tenang sekali. Padahal rasa kesalnya ingin meledak-ledak dilampiaskan.


"Iya... Papa juga kangen. Tunggu papa pulang aja ya, hati-hati di rumah." Akhirnya Purba mengucapkan juga, apa yang Mona mau.


Mona tertawa senang mendapat perhatian dari Purba, selain mengucapkan kangen, dia juga mengatakan hati-hati pada dirinya. Berarti Purba peduli dengan keselamatan dan keadaan Mona..


"Ya udah hati-hati di jalan ya Pa, besok kalau pulang, much," ucap Mona diakhiri kiss jauh.


"Iya sama-sama." lagi-lagi, Purba merespons dengan dingin.


"Eh tunggu-tunggu," ucap Mona.


"Apalagi Ma?"


"Papa selalu deh, cuma Mama aja yang romantis. Tadi kan Mama kiss jauh."


"Iya... sampai jumpa di rumah ya. Muach."


Mona menutup teleponnya dengan perasaan berbunga-bunga.


Purba pikir Rara tidak menyimak mereka menelepon, ada rasa berdesir dalam hati Rara. Mungkin bisa dikatakan cemburu, tapi Rara bisa apa? Toh Purba melakukan itu juga dengan istrinya.


Inilah risiko menjadi orang kedua. Seikhlas ikhlasnya orang kedua pasti tetap ada rasa sakit hati kalau suaminya bermesraan dengan istri pertama. Begitu pun istri pertama, tetap ada bayangan bahwa suaminya ada perilaku nakal di luar.


Purba kembali bergabung bersama yang lainnya, dia terus mencuri pandang kepada Rara untuk memperhatikan apakah Rara menyimak obrolan dirinya dengan Mona. Akan tetapi, Purba rasa Rara terlihat baik-baik saja.Sepertinya dia tidak mendengar dirinya tadi menelepon dengan istrinya.


'Ya Tuhan kuatkan aku dalam posisi seperti ini. Jika memang ini jalanku, beri aku ketabahan dalam menerima posisiku ini. Jika memang ini bukan jalanku, aku menerima apapun yang terbaik takdir-Mu, meski harus lepas dari Mas Purba,' batin Rara.


Di sisi lain, Bu Sugeti juga sama merasakan seperti Rara. Dia menyimak obrolan Purba dan istrinya, jadi berpikir seperti itulah menjadi wanita kedua dan mendoakan anaknya, semoga sabar dengan posisinya dan tabah.


 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2