Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Tidak Ada Siapa-siapa


__ADS_3

CEO 189


Purba bangun dari tidurnya, dia melihat jam menunjukkan pukul 07.00 pagi.


"Kesiangan," lirihnya, sambil mengucek matanya dan memicingkan unt menyesuaikan cahaya di ruangan itu.


Ruangan kerjanya dengan lampu yang masih menyala terang. Yah semalam Purba ketiduran di ruang kerja. Dia malas untuk pindah ke kamar. Bahkan tidur pun entah jam berapa. Yang pasti saat badan terasa pegal-pegal, dia langsung menutup laptopnya dan pindah ke sofa. Langsung saja tidur tak tak ingin apa pun lagi.


Saat ini pun purba bangun kesiangan, tapi dia tidak merasa harus terburu-buru untuk pergi ke kantor. Purba tidak ingin segala sesuatunya berantakan. Sekali-kali tak apa bersikap santai tidak harus dikejar-kejar waktu. Namun, tetap dikerjakan sesuai ritme saja.


Purba bergegas mandi langsung berpakaian untuk ke kantor meraih tas kerjanya ntar lupa ponsel. Purba turun ke bawah akan sarapan seperti biasa di dapur.


Saat purba menyalakan ponselnya.


"Dari Mona?" gumamnya. Dia tak sabar, apa pesan yang Monas tulis.


"Mas, saya masih di luar kota sekita 2-3 hari lagi." Isi pesan yang ditulis oleh Mona.


Purba menggelengkan kepalanya, dia menarik nafas berat.


"Huft, semudah itu dia izin ke luar kota? Tanpa penjelasan tugas apa ke sana? Bukan kah tidak ada jadwal untuk ketemu klien di sana? Sungguh aku terserah Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan Ma. Setifak selesakan dulu urusan di sini." Purba ngedumel sendiri dalam hatinya b


Tadinya Purba ingin membalas pesan Mona kembali, agar Mona segera pulang karena dirinya menunggu.  Namun, diurungkannya jari yang sudah akan mulai mengetik.


"Ah, terserah. Kamu pulang atau tidak, aku hanya ingin menceraikan saja. Tidak ada pengaruhnya buat aku, kamu ada atau tidak. Hanya kalau kamu pulang terlalu lama aku takut nggak sabar untuk segera mengurus perceraian itu."


Lagi-lagi purba berkata dalam hatinya.


"Ini Pak, sarapannya. Silakan." Mbak Idah menyajikan sarapan untuk Purba. Serta segelas air jeruk hangat permintaannya pagi ini. Purba sedang ingin yang segar segar rasanya.


"E... Mbak, nanti kalau aku sudah tidak sama ibu lagi, Mbak sudah ada rencana mau gimana? Mau pindah kerja atau ikut salah satu dari kami? Maksudnya, kalau mbak Idah belum menemukan tempat kerja baru, boleh ikut saya. Bisa kerja di rumah atau di toko


Mbak Idah cukup terkejut dengan penawaran majikannya. Dia berpikir bahwa masalah rumah tangga majikannya emang sudah diambang kehancuran. Bahkan Purba sudah menawarkan hal itu saat ini. Jujur maidah belum ada kepikiran untuk pindah kerja ke mana. Namun, rasanya jika ikut salah satu diantara mereka canggung juga. Takutnya disangka Mbak Idah memihak salah satunya. Padahal kalaupun Mbak Idah ikut salah satunya murni karena memang butuh pekerjaan.


"Bagaimana Mbak?" tanya Purba kembali.


"Em, maaf Pak. Memangnya Bapak dan Ibu sudah sepakat akan ...," Mbak Idah tidak kuasa melanjutkan perkataannya. Selain takut salah bicara, takut juga Mbak Idah salah memaknai penawaran yang Purba maksudkan.


Purba mengerti akan kerisaan Mbak Idah, Purba juga menjelaskan apa yang Mbak Idah pikirkan memang benar. Meskipun belum sepenuhnya keputusan itu terjadi. Akan tetapi keputusan itu sudah bulat ada dalam diri Purba. Hanya tinggal menunggu waktu saja dan kesepakatan Mona.


Kenapa purba membahasnya sekarang, agar tadi saat waktunya telah tiba tidak perlu berpikir lagi tentang nasib karyawannya di rumah.


Mbak Idah juga memberi penjelasan dengan jujur kepada Purba. Sebenarnya belum ada tempat pekerjaan yang akan dituju oleh Mbak Idah berikutnya. Mbak Idah juga mengatakan keraguannya atau rasa tidak enaknya kalau sampai purba dan mana berpisah dia memilih salah satu diantara mereka.


"Tenang saja Mbak saya yakin jika Mbak ikut dengan saya, Mona tidak akan berpikiran seperti itu. Tapi jika Mbak ikut Mona juga nggak apa-apa. Justru saya merasa lega,  berarti karyawan yang pernah bekerja dengan saya tidak terlantar setelah saya mempunyai jalan lain. Saya tidak bersama dengan keluarga hastama lagi."

__ADS_1


Mbak Idah mengangguk dia mengerti. Terlanjur membuka pembicaraan Mbak Idah menanyakan hasil dari diskusi purba dengan orang tuanya Mona.


Tanpa ada perasaan bahwa asisten rumah tangganya itu tidak sopan mencampuri urusan majikannya, Mona sedikit berdiskusi kepada Mbak Idah menyampaikan tentang pembicaraannya dengan orang tua mana semalam.


Purba sudah terlanjur terbuka dengan Mbak Idah, maka Mbak Idah pun perlu tahu apa perkembangannya. Agar nanti saat hp-nya tiba tidak bingung Mbak Ida akan kemana.


Purba menceritakan dengan singkat bahwa dia sudah memutuskan untuk berpisah dengan Mona. Dan untuk peneror itu akan diabaikan oleh Tuan Hartanto. Dengan alasan sudah pasrah saja. karena pencemaran nama baiknya tidak bisa dielakan lagi, itu memang murni kelakuan nakal anaknya sendiri. Meskipun begitu Tuan Hartanto berharap video Mona tidak sampai viral seperti video biru yang lainnya.


Lagi pula video seperti itu akan tayang di beberapa golongan saja. Toh pada kenyataannya Tidak semua orang suka membuka situs porno seperti itu.


"Ya udah Mbak aku berangkat ya. Pokoknya aku hanya mengingatkan, nanti saat kami benar-benar berpisah jangan khawatir jika Mbak Ida dan teman-teman tidak mendapat pekerjaan. Insya Allah aku masih bisa memperkerjakan Pak Idah datang." Sarapan sudah selesai purba meminum sisa jeruk hangatnya sampai habis.


Kemudian Purba berangkat ke kantor, kali ini bisa sudah menjemputnya di teras. Purba tidak lagi membawa kendaraan sendiri. Dia sedang banyak masalah. Tidak baik jika membawa kendaraan sendiri, takutnya pikiran dan kecewa hanya sedang labil.


***


Siang hari waktunya pulang sekolah anak-anak sekolah dasar. Rara sudah stand by di depan gerbang sekolah Azka.


Rara menjemput Azka dengan mobil dan sopir yang berbeda, harusnya Rara menggunakan sopir yang kemarin pernah mengantar Aska ke kontrakan milik Gandhi untuk bertemu Azkia.


Namun, pengaturan yang serba mendadak sehingga tak terpikirkan oleh Rara. Pak sopir itu terlanjur dimintanya untuk mengantarkan barang pesanan snack untuk pelanggan kue AZ.


Sebenarnya tak masalah, biar nanti saja Azka bisa menunjukkan jalannya.


Tak lama, terlihat dari kejauhan bocah berusia kurang dari 7 tahun berlari menuju ibunya.


"Anak ibu ceria sekali hari ini mau ketemu Azkia yah?" Sambut Rara kepada Azka, ya memang sangat semringah.


Tiba-tiba air muka Azka berubah. Belum saja ketemu Azkia seakan setiap menantikan kehadiran saudara kembar dari Azka itu. Dikit-dikit yang dibahas Azkia, dikit-dikit yang disebut Azkia, reaksi apapun tentang hal yang menyenangkan yang diingat adalah Azkia.


Padahal hari ini Azka senang sekali karena memang ibunya sempat menjemput. Hari-hari biasa suka tidak sempat dengan alasan banyak pekerjaan, jadi tidak bisa menjemput. Sekalinya menjemput kesiangan, Azka harus menunggu lama sekali.


"Ayo, sayang." Rara menggandeng tangan putranya itu menuju mobil.


Rara sebagai ibu peka akan reaksi Azka tadi, makanya selama di mobil Rara memeluk Azka.


Sebagai orang tua memang bingung untuk bersikap adil di mata anak-anaknya. Perasaan orang tua sudah merasa adil, tapi tetap saja di mata anak merasa kasih sayang yang diberikan oleh orang tua tidak sama rata.


Azka tidak bisa diberi pengertian seperti pikiran orang dewasa. Bahwa wajar kalau Azkia diprioritaskan terlebih dahulu karena dia sudah lama hidup sendiri. Walaupun bersama ayahnya tapi kurang perhatian dan kasih sayang seperti Azka di rumah yang memiliki segalanya termasuk banyak keluarga.


Namun jika dijelaskan seperti itu untuk ukuran anak kecil seperti Azka pasti tetap saja tidak akan masuk. Maka Rara coba dengan sentuhan, Semoga dengan pelukan sepanjang jalan Azka bisa melihat bahwa Rara tidak kurang kasih sayang kepadanya.


"Apa kamu mau makan siang dulu, sayang?" tanya Rara setelah separuh perjalanan.


Karena waktu memang sudah sangat siang, siapa tahu Azka lapar.

__ADS_1


"Atau nanti bareng Azkia biar rame?" tanya Rara lagi.


Sebenarnya Rara ragu mengatakan makan siang nanti kalau barang asli saja. Takutnya Azka sedang sensitif. Apapun yang dikatakan Rara tentang Azkia takutnya membuat Azka merasa tersisih. Serba salah memang.


"Ya udah, nanti bareng Azkia saja." Azka merespon.


"Atau kita beli makanan saja sekarang, kita lebihkan beli 3 atau 4. nanti kita makan di sana. Sepertinya firasat Ibu tidak mungkin ketika kita datang askia langsung mau diajak ikut pulang bareng. Nah selagi menunggu membujuk Azkia, takutnya kamu tak tahan lapar, nanti sakit deh. Iya kan?"


Rara sengaja berkata seperti itu, biar Azka merasa ibunya juga memprioritaskan dirinya tentang kesehatan dan penderitaannya yang sekarang dialami.


Ya, penderitaan yang dialami oleh Azka adalah kelaparan. Jangan sampai Azka yang sudah lapar, tapi ibunya masih sibuk mengurusi Azkia, membujuk untuk pulang. Sedangkan anak yang satu kelaparan, malah dibiarkan.


Rara tidak menduga perubahan Azka akan seperti ini, waktu awal-awal saat mendengar anak kecil itu bercerita ketemu Azkia sepertinya senang-senang saja. Justru terlihat paling antusias, apalagi saat mengetahui mereka akan menjemput Azkia dan berkumpul di rumah.


"Nanti belok ke sebelah sana Pak," perintah Azka pada Pak sopir. Saat sebentar lagi memasuki kawasan perkampungan kumuh.


Rara merasa familiar tempat ini, sepertinya jalannya sama saat akan ke rumah kontrakan Bu Hetty. Yang membedakan adalah, bentuk gapura masuk dan jalanan tidak terlalu mulus. Sedangkan waktu dulu Rara mau ke rumah kontrakan Bu Hetty celananya mulus setelah habis jalan raya.


Ataukah ini perasaan Rara saja karena tak sabar ingin bertemu dengan Azkia.


Sebenarnya perasaan yang Rara rasakan saat ini benar, bahwa itu adalah sama saja masuk ke komplek kontrakan Bu Hetti juga. Namun, bedanya melalui jalur lain.


Jadi ada dua gerbang masuk dari jalan raya ke perkampungan rumah kontrakan petak. Nah, Rara masuk pada gerbang satunya.


Jika Rara merasakan bahwa itu adalah seperti akan ke rumah kontrakan Bu Hetty, jelas saja merasakan hal itu. Karena suasananya, bentuk kontrakan berjejer, masih banyak pesawahan, pokoknya energi suasananya memang serupa.


Rara tidak salah mengira dia hanya berbeda jalur masuk saja.


"Nanti berhenti Pak di sana, dekat tiang listrik," ucap Azka. Sambil sambil menunjuk lurus ke depan mengarahkan posisi tiang listrik di mana.


Akhirnya sampai juga.


Perlahan Aska menoleh kanan kiri terlebih dahulu dia takut ada ayahnya. Dia menyimak sekitar kontrakan itu.


"Kenapa kita tidak langsung turun saja?" tanya Rara, yang sepertinya Azka terlalu lama melihat keadaan.


Azka mengatakan dia takut kalau bertemu ayahnya.


Rara kemudian tertawa lirih, "nah bukankah Ayah kamu sudah pulang ke kampung . kata tante Lena kan ayah kamu sakit Makanya ayo kita turun Azkia pasti sendirian."


"Oh iya, kok aku lupa, sih." Azka menepuk keningnya karena kenapa bisa lupa.


Azka turun diiringi oleh Rara. Langsung saja ke kamar yang Azka tahu itu ditempati oleh Azkia.


Azkia melongok pada jendela kontrakan tidak ada siapa-siapa dan kosong.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2