
semua orang pun tak mengira, jika pria pendatang itu berani mencari masalah dengan keluarga yang selalu baik dengan semua warga di sana.
"lihat kan, silahkan jadi imam, tapi saya mending ikut keluarga mereka, yang notabene dari dulu sudah baik dengan warga sini, sedang anda yang pendatang tak tau apa-apa berani menghina mereka, dan pak takmir jika Mushola mu sepi jangan heran, jika pria seperti ini masih bertingkah, cukup kami mending tidak usah terawih sekalian," marah semua warga yang langsung bubar.
alhasil Mushola pun sepi, dan mereka lebih memilih untuk ikut berjamaah di depan rumah Rafa yang kebetulan pelataran paling lebar.
terdengar Arkan sudah mulai melantunkan bacaan sholat dengan sangat indah dan merdu.
takmir Mushola pun merasa buruk, kenapa rumah Allah bisa di tinggalkan hanya karena orang yang merasa punya ilmu tapi nyatanya zonk.
"Gus, lebih baik anda bisa menjadi imam di mana pun, tapi saya mohon jangan disini jika seperti ini saya bisa dapat musibah karena tak becus Hadi seorang takmir, anda menghina pemuda yang bahkan menjadi penolong di desa ini, cukup Gus, mulai besok tolong sebisa mungkin jangan kesini dan menghina lagi, saya malu Gus saya malu ..." kata takmir mushola yang kemudian pergi juga.
kedua pria itu merasa benar-benar terhina dengan semua ucapan warga desa, "wah semua menantang ku, mereka belum tau Gus Ipul, orang paling kaya dan paling dermawan, kita lihat besok mereka akan mengemis di kakiku, sialan..." kesal pria yang mengaku lulusan pondok itu.
akhirnya terawih pun selesai, Jasmin dan Rafa membagikan semua Snack yang di sediakan.
"Alhamdulillah, rasanya enak bisa sholat di pelataran begini, anginnya dingin Sepoi-sepoi," kata pak RT.
__ADS_1
"iya pak, saya setuju, dari pada di mushola ada orang menyebalkan seperti tadi," saut pak Warno.
"mas Raka dan mas Rafa, saya mau mohon maaf sebesar-besarnya, saya mohon besok kembali ke mushola untuk sholat ya, saya merasa malu mas, malu saya sebagai takmir tak bisa menjalankan amanat," kata takmir Mushola dengan suara gemetar.
"pak Aziz, sudah jangan seperti ini, besok kami akan kembali ke mushola dan jika ada warga desa yang kekurangan sesuatu, seperti sembako atau uang, bisa memberitahu Amma atau ayah, insyaallah kami pasti akan bantu," kata Arkan pada semua orang.
"iya mas Arkan," jawab semua orang.
Wulan merasa bangga pada kedua putranya, sedang Rafa dan Raka seperti melihat ayah mereka.
"kamu sadar gak Raka, lama kelamaan kok Arkan semakin mirip ayah ya, dan Rania persis bunda yang lemah lembut, sedang Arkan lembut tapi sekali marah bahkan dia tak pandang bulu," kata Rafa.
"ya kamu benar, dengan kulit pedas tapi sangat menyayangi keluarga, meski kadang dia juga sangat kasar," kata Raka tertawa.
akhirnya semua pun bubar, dan keluarga Noviant sedang duduk bersama sambil menikmati waktu malam.
tapi para wanita sudah pulang, karena ingin istirahat tak lama Wulan datang dengan kopi.
__ADS_1
Faraz, Arkan dan Aryan sedang bermain karambol sambil tertawa, bagaimana pun ketiganya tetap seorang anak.
tak di duga pria yang mengaku Gus Ipul itu menghampiri para pria yang sedang berkumpul itu.
"hei keluarga sok kaya, jangan berani mengusik diriku, ilmu keluarga kalian itu masih cetek, sedang saya itu lulusan pondok pesantren terbaik, bahkan semua murid berjalan jongkok di depan ku," kata Gus Ipul itu sombong.
"alah Gus- Gus. gak pantes anda di panggil Gus, buktinya Anda tak mau menjadi imam untuk terawih, sedang untuk santri yang jalan jongkok, itu biasa karena kami di pondok memang di ajari jalan jongkok pada orang tua, meski itu seorang kuli bangunan, terutama dia lebih tua dari kami," jawab Faraz.
"hei bocah jangan ikut campur, dasar tak tau tata Krama, apa orang tua mu tak pernah mengajarimu sopan santun," kata Gus Ipul.
"jangan berani menghina orang tuaku, jika tak ingin mulutmu aku robek, dasar pria menyebalkan," kesal Faraz yang memang tak bisa menahan amarahnya.
Arkan dan Aryan menahan kakak sepupunya itu, "tenang Faraz, jangan mengotori tangan kita, ingat kamu itu masih seorang santri, baca tasbih tenangkan dirimu," perintah Rafa pada putranya.
"pak lebih baik pergi jangan bicara lagi, saya tak ingin melihat anda, jika anda ingin di hormati coba belajar menghormati orang lain dulu, sudah tau jalan keluarkan, pergi!!!" usir Rafa.
"dasar keluarga sombong, tukang hina orang," kata Gus Ipul itu pergi dengan mengejek.
__ADS_1
"woh... wong kakean cocot njaluk di jotos Tah cocot mu, kene lek perlu tak bacok pisan karuan e!!! (dasar banyak bicara minta di pukul mulutnya, sini kalau perlu aku bacok sekalian!!!)" kata Rizal yang tak bisa menahan emosinya lagi.
mendengar itu, kedua pria itu kabur ketakutan pasalnya Rizal benar-benar beringas dan marah saat itu.