Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
pemakaman dan duka


__ADS_3

malam itu, para warga mengurus jenazah mbak idon yang melingkar seperti ular.


bahkan tubuh tua itu sangat berat dan kaku, sedang orang tua dari Dewi juga tak kelihatan.


"nak Dewi, tolong hubungi keluarga ku, bagaimana bisa mereka tak datang untuk memakamkan kakek mu," kata pak RT.


"maafkan saya pak, tapi ayah, ibu dan adik saya baru sampai di Banjarmasin untuk bekerja disana, lebih baik tolong bapak urus, karena kondisi saya juga seperti ini," kata Dewi yang menyembunyikan dirinya di kamar.


"tapi jenazah kakek mu tak bisa di tidurkan, karena kakek mu sekarang tubuhnya seperti melingkar dan kaku," tambak pak RT.


"kalau begitu pak RT tolong minta bantuan dari keluarga Aden Rafa, dua pasti bisa bantu, karena orang tua dari Dewi bekerja padanya," mohon Mbah Sumi.


"baiklah Mbah, kalian bertiga ikut aku ke rumah juragan Rafa," ajak pak RT di desa Dewi.


selama perjalanan menuju rumah Rafa, suasana desa mereka sangat mencekam, bahkan terdengar lolongan anjing.


"pak RT kita yakin nih, ini jam dua belas malam loh pak, ya kali kita ngetik pintu orang," kata Paijo yang sebenarnya ketakutan.


"sudah ikuti saja, mau gimana lagi ya kali kita makamkan orang yang posisinya melingkar gitu," jawab pak RT yang masih fokus mengendarai motor miliknya.


sedang motor satu lagi, sudah melesat cukup jauh, tapi kedua motor itu berhenti tepat di depan gapura masuk desa.


"kenapa berhenti?" tanya pak RT yang melihat motor yang di naiki oleh Pur dan ngateman.


"ulo pak rete, ulo gede!!! (ular pak RT, ular besar!!)" teriak ngateman dan Pur menunjuk sesuatu yang melata di jalan masuk desa itu.


"walah ular begitu saja, ayo cepet nanti keburu jenazahnya makin busuk nih, kalian tadi gak lihat darah yang keluar," tegur pak RT.


"pak ileng pak, ini desa yang masih sangat kental budaya mistis pak, salah-salah kita nyasar di pasar demit Wuring moleh pak," kata ngateman.


"Iyo pak, jangan sembrono, tunggu sampai ularnya pergi saja ya," kata Paijo.


"ya wes yawes, terserah kalian saja, kesel aku," kata pak RT pasrah.


setelah setengah jam ular itu sudah pergi, dan mereka melanjutkan perjalanan


bahkan perjalanan mereka cukup aman sampai melewati pohon asem yang begitu besar dan rimbun.


Paijo terus melihat kearah pohon asem itu, dan dia pun melihat sosok dari Ki item yang sedang berdiri di bawah pohon itu.


"dia pun langsung ketakutan dan tak bisa teriak, ternyata tidak hanya Paijo tapi ketiganya juga melihat sosok itu yang berdiri tinggi besar dengan dua taring tajam.


mereka pun segera mengebut dan malah menabrak sebuah kebun pohon pisang.

__ADS_1


"AAA..." teriak keempatnya.


mereka pun merasa begitu sakit disekujur tubuhnya, "aduh pak RT tadi kalian lihat kan ...." kata ngateman.


"tutup mulutmu kita sekarang di kebun pisang apa di pasar pocong sih?" tanya Pur mulai menggila ketakutan.


"Kowe Iki ngomong opo to Yo, Iki jelas-jelas kebun pi-," kata ngateman berhenti karna melihat mata merah menatap mereka dari balik pohon pisang.


"lah wes eroh ngunu kenek opo kek Nok kunu, Mlayu bodho!!! (sudah tau begitu kenapa cuma diam, lagi bodoh!!)" teriak pak RT.


keempatnya kini melakukan motor ke rumah Rafa, dan Alhamdulillah tak ada gangguan saat memasuki desa Rafa.


sesampainya di rumah Rafa, pak RT pun segera mengetuk pintu kebetulan Faraz yang belum tidur mendengar ketukan pintu.


pemuda itu keluar dan membukakan pintu, "assalamualaikum ada apa pak?" tanya Faraz.


"waalaikum salam... anu dek, kamu butuh pak Rafa, tolong bisa panggilkan tidak?" tanya pak RT yang masih ketakutan dan keluar keringat dingin.


"tebtu pak, silahkan tunggu ya, saya panggilkan ayah," kata Faraz.


mereka berempat duduk di teras sambil minum air yang memsng selalu di sediakan di teras rumah.


Raka membunyikan sebuah lonceng, dan lonceng itu bisa mengusir semua hal yang mengikuti keempatnya.


"ada apa pak RT Kunto," tanya Rafa duduk bersama keempat orang itu.


"tolong mas Rafa, kamu butuh bantuan anda untuk membantu Mbah idon agar bisa di makamkan dengan layak, karena kondisi jenazahnya sangat memprihatinkan," kata pak RT.


"itu semua terjadi karena amal ibadahnya, saya tak tau bisa membantu atau tidak tapi akan saya usahakan besok, tapi ... sebelum itu tolong cari rumah gunung di belakang rumah Mbah idon, dan gali tanah di sekitarnya, jika kalian menemukan apapun serahkan kepolisian dan itu yang akan meringankan dan membuat jenazah mbah idon normal," kata Rafa.


"kami mengerti, tapi tolong besok kesana untuk melihat kondisi ya pak," mohon pak RT.


"tentu pak RT, setelah sahur nanti aku akan segera kesana untuk memastikan dengan sendirinya, dan jika pulang lebih baik memutar, karena aku bisa tebak jika kalian habis bertemu hal menarik setelah lewat desa balung Geni,"


"iya mas Rafa, kami ketemu hal yang begitu menakutkannya tadi," jawab Paijo.


"kalian termasuk berani lewat desa itu setelah pukul sembilan malam, ya sudah sekarang silahkan kembali dan nanti saya akan mengajak saudara saya untuk melihatnya," kata Rafa yang melihat ke dua sepeda motor itu pergi.


......*********......


halo semuanya para pembaca ku, kali ini author ingin promo novel temen author ya....


sambil menunggu novel ini up, kalian bisa membaca kisah ini dulu ya...

__ADS_1



Bab 9


"Apa?! sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan?!" Bella langsung membelalakan matanya.


Devan mengangguk.


"Ini tidak masuk akal!" tukas Bella yang langsung melemparkan map kembali ke atas meja.


"Tidak masuk akal atau kau memang tidak memiliki uang untuk membayarnya?" tanya Devan dengan menaikkan alisnya sebelah.


Bella meremas lututnya menahan rasa kesal. Namun, apa yang dikatakan oleh pria yang ada di hadapannya itu benar adanya.


"Setidaknya aku akan mencicilnya. Bukankah ini merupakan suatu kehormatan, aku datang dengan niat untuk bertanggung jawab. Kalau orang lain, sudah pasti dia akan kabur," tukas Bella dengan nada yang sinis.


"Siapapun yang berurusan denganku tidak akan bisa kulepaskan begitu saja. Sama halnya denganmu. Namun, aku berbesar hati padamu untuk memberikan tawaran yang menggiurkan." Devan mengambil map yang ada di atas meja dan kemudian membuka sebuah dokumen yang berisi perjanjian.


Bella pun mengambil kembali berkas tersebut. Sesaat kemudian keningnya mengernyit. "Bukankah ini lebih gila," batin gadis itu.


"Menikahlah denganku," ucap Devan seraya menyilangkan kedua tangannya di depan.


"Apa kau gila? Bukankah aku menabrak mobilmu? Apakah otakmu juga ikut rusak?!" tandas Bella dengan sarkasme.


"Nona, saya harap anda menjaga sikap!" tegas Joko, sang asisten.


"Bukankah ini tawaran yang langka? Banyak gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Lagi pula ... Kau jangan sok jual mahal! Tampangmu sama seperti botol susu yang kau jual itu!" tukas Devan yang tak kalah kasar dari Bella.


Gadis itu menghela napasnya berat sembari mengigit bibir bawahnya. "Apa hakmu menghinaku?"


"Bukankah kau yang melakukannya terlebih dahulu?" timpal Devan santai.


"Baiklah. Aku akan membayar hutangku, tapi dengan cara mencicil," ujar Bella.


"Aku tidak menerima jenis cicilan atau pun kredit."


"Tapi aku tidak memiliki uang sebanyak itu," tukas Bella geram.


"Kalau begitu menikah saja denganku!"


"Aku tidak mau!" tolak Bella.


"Joko, telepon polisi dan jebloskan dia ke penjara!" titah Devan.

__ADS_1


😊😊😊😊jangan lupa like, komen dan vote ya, terimakasih πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2