Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
pelukan mesra


__ADS_3

Aditya berbagi susu kurma dengan Rania, kemudian mengajaknya untuk beristirahat karena besok dia harus mulai mengajar.


"mas besok aku kuliah berangkat sendiri ya," kata Rania


"kenapa? aku masih belum bisa membiarkan mu berangkat sendirian, takut terjadi hal buruk," kata Aditya


"terus bagaimana, besok aku kuliah siang, terus mas juga sudah mulai mengajar di sekolah, jadi aku berangkatnya gimana?" tanya Rania.


"tenang, besok jam ngajar ku sampai jam setengah dua belas, dan jam satu nanti aku antar ke kampus terus kita sekalian buka di luar," kata Aditya.


"bagaimana jika buka di rumah mas saja," usul Rania.


"boleh dong," jawab Aditya tersenyum.


Aditya pun memeluk tubuh Rania erat, dan tidur bersama, sedang di rumah Rafa, pria itu juga tengah manja pada Jasmin, pasalnya sudah hampir dua bulan ini dia tak mendapatkan jatah.


"mau apa, jangan mulai si kecil baru tidur yah," kata Jasmin menahan tangan suaminya.


tapi Rafa memberikan tatapan memohon, dan Jasmin pun tak bisa menolaknya.


sedang di tempat lain, Wulan, Aryan dan Arkan sedang mengantarkan Emily.


"waduh ada rombongan besan, ada apa ini," kata Sekar tertawa.


"katanya Emily tak boleh berangkat sendiri, oh ya memang ada apa sih yang penting?" tanya Wulan yang penasaran.

__ADS_1


"ah ayo masuk dulu, Emily ajak teman mu bermain, kami ada urusan penting sebentar," kata Sekar.


"baik Tante, ayo dua Ar," ajak Emily


mereka bermain permainan video game, dan Emily hanya jadi penonton karena dua saudara itu sangat ahli.


Sekar mengajak Wulan dan Raka ke ruangan khusus, di sana ada bunga, menyan dan juga segala yang di butuhkan.


"Raka, Wulan ... aku ingin minta tolong, putri ku dalam bahaya, dia menjadi incaran mahluk kuat karena dia memiliki aura dariku, aku mohon..." kata Sekar bersimpuh.


"hei apa ini, jangan seperti ini, kita adalah teman tentu saling bantu, tapi jangan seperti ini, coba ceritakan," kata Wulan.


Sekar pun mulai mengatakan apa yang di laporkan oleh kuntilanak kemarin lusa malam.


Wulan pun tak percaya, mereka akan menemui musuh kuat lagi, tanpa di duga nyai Nawang datang.


"tapi nyai ratu, dia ingin merebut putriku, dan jika itu berhasil maka Emily akan sangat berbahaya karena dia akan menjadi wanita yang tangguh tanpa mengenal ampun," kata Sekar


"tenang nduk, selama Emily berpegang kuat pada agama dan imannya, nyai ratu yakin jika dia baik-baik saja, terlebih ada Arkan di sampingnya," kata Nyai Nawang.


"apa mereka berjodoh Nyai Ratu?" tanya Sekar berharap.


"jodoh, umur dan rezeki itu semua rahasia Allah jadi kita tak ada yang tau, kalian cukup bilang pada Emily perkuat agamanya, Nyai permisi..." pesan nyai Nawang sebelum menghilang.


ketiganya pun keluar dari kamar, dan kaget saat mendengar Aryan berteriak kencang.

__ADS_1


"yey!!!! aku menang melawan Arkan!!! yey yey yey!!!!" katanya sambil bergoyang.


Ratu dan Emily hanya bisa tertawa melihat tingkah teman mereka itu, sedang Raka langsung memberikan hadiah jeweran kuping maut.


"aduh ... bocah prik emang loh ya, ini rumah orang, sudah ayo pulang besok kalian sekolah, ingat mulai bawa motor sendiri, gak ada yang antar jemput," kata Raka.


"iya ayah, lepas dulu sakit, kupingku bisa lepas!!!!" kata Aryan.


Raka pun melepaskan tangannya, dan Aryan langsung memeluk Wulan, "hei bocah,lepas dia istriku," kesal Raka


"tapi dia ibu ku, wlek..."


Raka hanya bisa menahan marah, Arkan bangun dan memakai jaketnya, "Emily tolong perdalam agama mu, dan setiap sore kamu harus ikut belajar Al-Qur'an, ingat perkuat iman, dan terus baca tasbih yang aku ajarkan, ingat jangan bengong dan selalu coba hafal surat-surat pendek, itu pekerjaan rumah untuk mu," kata Arkan.


"siap pak bos" jawab Emily.


keluarga itu pun pulang, dan tak butuh waktu lama untuk sampai, dan saat melewati jalan tuwangan sawah.


mereka melihat beberapa remaja yang tengah menenggak miras sambil tertawa-tawa.


"mereka minum ciu ya yah?" tanya Aryan penasaran.


"tak tau, menang kenapa? mau tanya atau mau ikut kamu?" jawab Raka ketus.


"ya bukan begitu, kalau iya kok gak takut mati sih, masak ciu di campur obat sakit kepala, gak sekalian bayg*n biar telernya mantep," kata Aryan.

__ADS_1


"sudah tak perlu ikut campur, jika mati pasti besok ada siaran kabar duka, sudah diam saja, urus amal masing-masing," kata arkan.


"alah... tumben kamu sadar, biasanya juga apa, cih..."kesal Aryan mendengar ceramah yang di katakan oleh saudara kembarnya itu.


__ADS_2