Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
kami pergi.


__ADS_3

"apa kita sudah aman?" tanya Aditya yang merangkul tubuh Rania yang sudah tak bisa bertahan.


"sudah, ini sudah di desa balung Geni, dan rata-rata tamu adalah warga biasa, tapi kalian tetap hati-hati karena di beberapa tempat ada sesajen yang sengaja di taruh di mana-mana," kata Arkan menginggatkan.


Rania langsung memuntahkan isi perutnya, tanpa Aditya dan Rania sadari tanpa senjata mereka menendang sesajen yang di tarik di samping semak.


meski tidak sampai tumpah, tapi itu sudah menjadi hal buruk, karena itu sudah melanggar tata Krama desa.


Raka menghampiri semua anak-anak, "semua ayo pulang," ajak Raka.


"baiklah ayah, tapi sepertinya ada yang ingin ikut, lihat saja dia sudah terlihat marah dan merangkul lehernya," kata Aryan menunjuk sesuatu.


"haduh... kenapa malah ada nenek-nenek mau ikut segala, bikin pusing saja," kesal Raka yang langsung menghampiri Aditya.


"kalian dari mana? kenapa ada arwah yang mengikuti kalian?" tanya Raka berbisik.


"aku mengantarkan Rania muntah di pinggir selokan disana mas, ada apa memangnya, maksudnya arwah?" tanya Aditya heran.


"Aryan, Arkan tolong kakak sepupu kalian, cepat," panggil Raka pada kedua Putranya.


"siap ayah..." jawab keduanya.


"Rania pergi temui mbak Wulan, dan ingat terus bersamanya, karena kami harus membantu suamimu," kata Raka.


"baiklah mas ...." jawab Rania.


Rania pun segera lari ke arah Wulan, sedang raja mengajak Aditya ke tempat tadi Rania muntah.


saat sampai ternyata Aryan menemukan sebuah tampah yang sedikit berantakan.


"sepertinya ini ayah penyebabnya," kata Aryan menyorotkan sinar senter dari ponselnya.


"Iki Omahe Mbah, aja melu, amarga kita ora bisa menehi barang kaya iki, mula nginep ing kene? (nenek pulang ya, jangan ikut kami, karena kami tidak bisa membeeikan hal seperti ini, jadi tetap disini ya.)" kata Raka membujuk arwah nenek itu.

__ADS_1


"Aku yo gak gelem, aku pengen dolan karo wong ganteng iki, soale aku seneng, soale tenagane ki kuat, malah ra ngrasa aku eksis, lha kowe kok sibuk ngurusi aku. (tidak mau, aku ingin ikut pria tampan ini, karena aku menyukainya, karena energinya yang sangat kuat, bahkan dia pun tak merasakan aku ada jadi untuk apa kalian sibuk mengatur ku.)" jawab arwah nenek itu


"lama ayah...." kesal Arkan langsung menarik tubuh arwah nenek-nenek itu.


arwah yang awalnya berwajah pucat, seketika berubah menyeramkan.


wajah nenek itu berubah seketika, dari pucat kini berubah mengerikan. wajah arwah itu kini terkelupas tanpa kulit sekujur tubuhnya.


bahkan mereka bisa melihat daging merah dan semua otot-otot itu, Aryan yang melihat pun mual rasanya.


"ih kok gitu sih... maaf ya eyang kami tadi gak sengaja kok, ayah lakukan sesuatu," kata Aryan yang sudah tak tahan.


"Mbah, apa kowe arep anteng nyabrang menyang akhirat, yen ngono, kita bisa nulungi nanging Mbah ora bisa teka karo wong enom iki. (nenek apa mau tenang menyeberang ke alam baka, jika iya, kami bisa bantu tapi nenek tak boleh ikut pemuda ini.)" tanya Raka sedikit was-was.


tak di kira hantu wanita itu mengangguk, ingin rasanya semua melompat senang karena tak harus bertarung lagi.


Raka pun memimpin doa, dan benar saja bebek itu pun menyeberang dengan sangat mudah.


Raka pun segera mendoakan agar Aditya juga aman dari gangguan jin bahkan Raka harus memagari pria itu secara mendadak.


rombongan pun semua pulang kecuali Adri dan juga Nurul, karena mereka akan pulang besok bersama orang tua Nurul dan beberapa saudara.


Rafa membuntuti mobil yang di kendarai Raka, dan Aryan sedang berdzikir di sampingnya.


"apa kita perlu berhenti, sepertinya mobilku kehabisan bahan bakar, atau ayah mu punya di mobilnya?" tanya Rafa.


"sepertinya ada pakde, tunggu biar aku tanya dulu ya," kata Aryan.


Aryan pun bergegas menelpon Aditya, dan Alhamdulillahnya pria itu langsung mengangkat panggilan darurat dari Aryan.


"assalamualaikum... ada apa Aryan?" tanya Aditya dari sebrang telpon.


"waalaikum salam mas... mas tolong tanya ayah, apa punya cadangan Pertamax di mobil, soalnya mobil pakde hampir kehabisan bahan bakar," kata Aryan.

__ADS_1


"siap sebentar ya," kata Aditya menjauhkan ponselnya dari telinga.


"mas Raka punya cadangan Pertamax tidak di mobil, karena mobil mas Rafa hampir kehabisan bahan bakar," tanya Aditya.


"kok bisa, ya sudah kebetulan aku bawa dua jiregen sedang, lumayan lah kalau buat pulang," jawab Raka yang langsung menghentikan mobilnya.


Rafa pun bernafas lega, mereka pun turun dan mulai membuka tempat bensin dan Aryan segera mengambil jirigen berusi bahan bakar itu.


mereka ceroboh dengan berhenti di tempat gelap, "dek, dan Mbak Wulan janhan pernah turun apapun yang terjadi, oke," pesan Aditya.


"iya mas," jawab Rania yang menaikan kaca mobil.


sedang di mobil Rafa, Arkan merasakan hal yang aneh, dia melihat beberapa pohon jagung bergerak, "bunda tunggu di mobil, kunci pintu dan jangan turun apapun yang terjadi," pesan Arkan.


"baik Arkan," jawab Jasmin kaget.


Arkan turun sambil membawa dua kunci Inggris, dia melemparkan satu kunci Inggris pada Aryan.


"buat apa?" tanya Aryan bingung.


"buat itu," tunjuk Arkan pada lima orang pria yang datang dengan memakai penutup wajah.


beruntung Raka selesai mengisi mobil saudaranya, "wah ada yang ngajak main ternyata, boleh nih,"


"kebetulan lama gak olahraga, jadi kita mulai," kata Rafa tersenyum.


"tentu, kita akan habisi mereka semua," kata Raka yang maju bersama Rafa ke arah depan.


"eits... mau kemana? kita punya bagian lain," tahan Arkan pada saudaranya.


"kita harus bantu ayah dan pakde," kata Aryan.


"kita hadapi mereka, disana lebih banyak, mas Aditya tolong tunjukkan skill mu yang menakjubkan itu," kata Arkan tersenyum seringai.

__ADS_1


"tentu, dan kalian harus pelajari ini untuk melindungi orang yang kalian cintai," kata Aditya memainkan pisau yang di bawanya.


"kita bantu kamu ke ayah, aku bantu mas Aditya," kata Arkan berpencar.


__ADS_2