
"kenapa datang, majikan mu mau mati dengan mengirim mu, apa peringatan ku tidak di hindarkan, sudah ku katakan tak akan ku biarkan dia mewariskan ilmu klenik itu pada ratu, karena gadis itu berhak bahagia, bukan menjadi budak jin seperti kalian," marah Sekar.
"aku hanya datang untuk memperingatkan dirimu, karena dia belum menyerah, karena tubuhnya sudah tak bisa menahan sang nyai," kata mahluk berambut panjang itu.
"siapa maksudmu, apa ratu? yang aku tau kondisi tubuhnya juga tak bisa menahan kekuatan besar milik Nyai lingi," kata Sekar tak habis pikir.
"kenapa harus ratu, putri mu adalah tempat yang tepat, aurat ghaib di tubuhnya akan menambah daya kekuatan nyai lingi tentunya," jawab mahluk itu.
"selama aku ada di sini jangan harap, terima kasih atas beritanya, dan tolong jika ada apa-apa kamu bisa memberitahu aku," pesan Sekar.
"baik sekar, karena kamu adalah pimpinan di antara kami," jawab makhluk itu sebelum pergi.
Sekar mengangguk, dan dia pun bergegas ke dapur dan dia melihat kedua gadis itu sudah mulai memasang ayam pada tusukan untuk di oven.
"Tante, kenapa kita memasak begitu banyak, apa ini tak berlebihan?" tanya ratu.
"tentu saja tidak nak, karena nanti malam kita akan buka bersama keluarga besar Raka, jadi kita butuh cukup banyak kan,"
"iya ya Tante, baiklah aku akan membentuk buah untuk es buah dan juga salad, dan Emily lanjutkan memasaknya," kata ratu yang tertawa.
"dasar anda itu tukang perintah, tapi aku memang lebih suka memasak seperti ini," kata Emily tersenyum.
Emily melanjutkan membuat sate lilit ikan tengiri, pasalnya Arkan sangat menyukai ikan di banding daging.
Emily bahkan sudah bisa memasak semua jenis masakan ikan, mulai dari tradisional hingga western.
"Emily, kamu belajar masak dari siapa, di usia mu sudah sehebat ini masaknya?" tanya Sekar penasaran.
__ADS_1
"dari buku, aku di kasih om Setyo buku milik ayah, dan di sana banyak resep kesukaan mama ku, tapi sayangnya, opa tak pernah memperbolehkan aku melihat wajah mama ku," kata Emily sedih.
"mungkin opa mu memiliki pemikiran sendiri, Tante yakin suatu saat pasti opa kalian akan luluh dan memperbolehkan kamu melihat foto ibumu," kata Sekar dengan sedih.
"tapi aku yakin jika mama mu pasti sangat cantik, tak mungkin jika jelek karena kamu begitu cantik untuk gadis seusiaku dengan wajah cenderung ke Asia timur," kata ratu yang sibuk sendiri.
"ya kamu juga cantik khas seperti orang Indonesia yang punya mata besar," kata Emily.
"ya gak papa dong, setidaknya kalau aku tersenyum tidak menutup mata, ha-ha-ha," ledek ratu.
emily pun melempar bawang Bombay ke arah ratu karena kesal. pasalnya Emily memang tak bisa melihat saat tertawa lebar.
akhirnya mereka pun masak sambil bercanda, sedang keluarga Wulan benar-benar tidur dengan nyaman.
pasalnya mereka benar-benar membutuhkan waktu untuk menyimpan energi.
Raka dan Wulan sedang membeli beberapa cemilan dan kerupuk lewat online, pasalnya mereka sedang tak ingin keluar
tak terduga Rafa datang untuk menawarkan sesuatu, "Raka, apa kamu mau nitip sesuatu, kebetulan aku mau pesen makanan di luar,"
"tak usah mas Rafa, sebentar lagi calon menantuku datang bersama besan dan akan membawa makanan untuk kita buka bersama di sini," kata Wulan
"calon menantu? siapa memang dua bocah itu sudah punya kekasih?" tanya Rafa penasaran.
"calon, tapi mereka harus sukses sebelum menikah," kata Raka yang duduk santai saja.
tak lama terdengar mobil dari Sekar sampai di rumah keluarga Raka, "lihat mereka datang, calon besan, ayo mas ikut lihat biar kenal," kata Wulan.
__ADS_1
Rafa mengangguk dan menyeret Raka, dan saat melihat siapa yang datang dia kaget.
"halo besan, wah .. dua calon menantu juga ikut, ayo masuk dan para Bapak-bapak Monggo di bantu itu," kata Wulan.
"selamat sore Tante, om ..." sapa ratu dan Emily.
"sore, Suni om bantu," kata Raka yang membuka bagasi.
Raka dan Rafa kaget melihat begitu banyak kotak disana, bahkan ada es buah dan juga berbagai makanan.
"oh ya apa sudah memasak nasi, aku lupa tadi," kata Sekar tersenyum saja.
"sudah dong, aku tau kok kalau kamu memang dari dulu tak bisa memasak nasi," ledek Wulan pada Sekar.
"dasar kamu itu buka rahasia, enaknya kita makan di sini atau di dalam ya," tanya Sekar yang melihat sekeliling.
"di teras rumah ku saja karena luas, lebih lega juga," usul Rafa.
"boleh tuh, tapi apa nyonya anda setuju mas Rafa?" kata Sekar melirik pria itu.
"tentu saja setuju, oh maaf aku belum menyapa mu, halo Sekar maaf jika selama ini aku ketus padamu," sapa Jasmin yang nampak begitu lelah.
"hei nyonya Rafasya, kamu kenapa wajah mu begitu pucat pasi begitu?" tanya Sekar menyentuh pipi Jasmin.
Sekar melihat ada sesuatu yang membuat wanita itu tak bisa tidur nyenyak.
"nyonya lain kali kalau perlu minum obat penambah darah setiap hari ya, awas jangan keseringan begadang nanti bisa kena tekanan darah rendah loh," kata Sekar.
__ADS_1
"terima kasih ya, atas perhatiannya," jawab Jasmin tersenyum.