
Raka berada di rumah lama keluarga Vian, rumah tempat tinggalnya dulu, saat dia sedang melihat rumah itu, sebuah tangan menepuknya.
itu adalah Rafa yabg tersenyum kearahnya, "hei kenapa diam, ayo masuk, bunda dan ayah sudah menunggu kita," ajak Rafa.
Raka pun ingat jika Rafa tadi sudah meninggal dunia, "tapi aku belum bisa bersama kalian," jawab Raka sedih.
Rafa tetap tersenyum dan mengangguk, "kalau begitu titip anak-anak ku ya, dan tolong jaga mereka, kamu pria yang kuat loh, jadi tolong ya, aku akan memantau kalian bersama bunda dan ayah," kata Rafa yang perlahan menjauh.
"tunggu kembalilah padaku," tahan Raka menarik tangan Rafa.
"tidak bisa, aku sudah harus pergi,maaf ya aku tak bisa menepati janji kita yang akan bersama melewati segalanya, tapi aku tetap ad di sekitar mu, aku harus pergi,ayah dan bunda sudah menungguku," kata Rafa yang kemudian pergi masuk kedalam rumah itu.
ternyata ada Vian dan Akira yang menunggu Rafa yang berubah menjadi bocah sebelas tahun, mereka nampak bahagia dan melambaikan tangan pada Raka.
Raka hanya menangis saat tersadar, Aditya memanggil dokter untuk memeriksa keadaan dari Raka.
"mas," panggil Aditya.
"apa dia sudah di mandikan?" tanya Raka menoleh pada Aditya.
"belum, ayah meminta petugas menunggu mu sadar, agar kita bisa memandikan jenazah mas Rafa bersama," jawab Aditya.
Raka bangun dan di bantu Aditya Keduanya kini sampai di kamar jenazah.
mereka bertiga akan memandikan jenazah dari Rafa, sedang di rumah semua orang kaget mendengar suaran berita tentang kematian Rafa.
semua orang berbondong-bondong datang ke rumah untuk membantu Rizal, sedang Fandi dan Anis membujuk Jasmin agar bisa ikut mereka pulang.
selama di perjalanan Anis terus menangis, pasalnya putra angkatnya kini juga sudah pergi meninggalkan dia.
tapi Fandi tetap bungkam tanpa memberikan informasi apapun pada Jasmin, terlebih dia takut Jasmin akan syok sebelum sampai di desa.
Wulan bahkan nekat pergi bersama dengan Arkan dan Aryan, Wulan tau jika ini akan jadi kehilangan paling besar di keluarga ini.
terlebih Jasmin yang akan mengalami guncangan hebat saat tau segalanya, dan tentu hal yang sama akan terjadi pada suaminya.
Arkan menyetir mobil dalam kecepatan tinggi, dia memilih melanggar lalu lintas karena tak bisa menemukan sopir di jam satu dini hari seperti ini.
Aira juga pulang sendiri, dia juga kaget mendengar kabar dari Adri, dia pun segera memutuskan mencari tiket untuk bisa pulang.
bagaimana pun dia ingin melihat jenazah sang adik untuk yang terakhir kalinya.
sedang Adi juga menjemput Faraz di pondoknya, awalnya para pengurus pondok marah melihat Adi yang bertamu pukul satu dini hari.
tapi setelah tau tentang berita buruk itu, mereka pun mengizinkan Adi membawa Faraz pulang.
"mas Adi, ini sebenarnya ada apa kok tumben mas jemput aku, aneh saja kenapa mas jemput jam dini pagi begini?" tanya Faraz.
"maafkan mas ya dek, tapi kita pulang dulu, baru kita bisa bicarakan semuanya ya, karena mungkin adek Raka sedang menuju ke rumah juga," jawab Adi tang tak bisa menjawab pertanyaan dari Faraz.
"baiklah mas," jawab Faraz menurut.
karena mengantuk Faraz pun tertidur, di dalam mimpinya Faraz melihat sang ayah yang mengenakan baju Koko putih.
pria itu nampak muda dan tersenyum kearahnya, "putra kebanggaan ayah," kata Rafa dengan lembut.
"ayah disini, benarkah ayah bangga dengan Faraz?" tanyanya dengan wajah semringah.
"tentu nak, ayah selalu bangga dengan Faraz, meski ayah tak pernah bilang, tapi ayah selalu mendoakan Faraz, dan sekarang ayah titip Husna dan bunda ya," kata Rafa.
"tapi ayah mau kemana? Faraz kan di pondok, jadi ayah yang harus jaga bunda dan Husna," kata Faraz yang memeluk tubuh Rafa
"itu mau ayah sayang, tapi waktu ayah sudah tidak ada, sekarang ayah akan mengawasi kamu,Husna dan bunda dari langit ya, jadi Faraz sekarang harus lebih kuat demi mereka," kata Rafa melepaskan pelukan putranya.
__ADS_1
"ayah ini ngomong apa sih,kenapa ayah ngomong seakan-akan ayah mau pergi jauh," kata Faraz
"maafkan ayah yang belum bisa membahagiakan mu, ayah harus pergi, nenek buyut ku sudah menunggu ayah," kata Rafa yang pergi begitu saja.
Faraz terbangun karena mobil Adi mengenai lubang yang cukup besar, ternyata saat Faraz melihat ke luar jendela mobil mereka sudah sampai di desa.
"maaf ya mas Adi, aku ketiduran," kata kata meregangkan otot-ototnya.
"tidak apa-apa," jawab Adi sekilas.
Faraz heran melihat semua obor di jalan menyala, bahkan terlihat begitu banyak ramai orang di sekitar rumahnya.
dan terlihat ada bendera putih di jalan desa, "mas Adi siapa yang meninggal dunia?" tanya Faraz yang seakan tak ingat akan mimpinya.
Adi tak menjawab tapi langsung mengajak Faraz turun, ternyata mobil dari Arkan juga sudah datang.
semua warga nampak sedih, bahkan ada beberapa yang memeluk Faraz, "turut berduka ya nak," kata pak RT.
"apa maksudnya?" tanya Faraz bingung.
"maaf Faraz, sebenarnya ayah mu... dia meninggal dunia ...." tangis Adi yang tak bisa terbendung lagi.
mendengar itu, Faraz syok dia tak percaya dengan apa yang dia dengar, "mas Adi jangan bohong, tadi ayah masih menelpon ku, dia bilang ingin membereskan masalah, tak mungkin dia meninggal dunia,"
Rizal langsung memeluk putra dari Keponakannya itu, "ya tabah dan ikhlas ya le, ayah mu sudah tenang di sisi Allah SWT,"kata Rizal.
"tidak, ayah pasti cuma bohong, dia itu sering melakukan ini, ayah tak mungkin meninggal dunia!!!" teriak Faraz mendorong tubuh Rizal jingga terjatuh.
Arkan dan Aryan langsung datang membantu menenangkan Faraz, "tenang Faraz, kami disini bersama mu, tolong jangan seperti ini ..."
Faraz melemah, "tidak mungkin.... ayah janji mau menghadiri acara di pondokku.... ayah kenapa pergi ... ayah jahat .... ayah tinggalin Faraz, Husna dan bunda ...." tangis pemuda itu pecah.
Wulan pun menghampiri ketiganya, "Faraz..." panggil Wulan dengan lembut.
Wulan tak menjawab, dia hanya menangis sambil memeluk Faraz, Arkan dan Aryan pun bergabung memeluk Faraz dan Wulan.
kini mobil Fandi dan Anis yang baru datang, Fandi merangkul Jasmin dan Anis mengendong Husna.
Jasmin heran melihat begitu banyak orang di jam setengah empat pagi, bahkan ada bendera putih tanda ada kematian juga.
"ini siapa yang meninggal yah? kok di sekitar rumah ku dan Wulan?" tanya Jasmin.
"kita masuk dulu yuk, nanti ayah jawab di dalam," jawab Fandi dengan suara gemetar.
saat akan masuk Jasmin melihat Faraz yang masih menangis di pelukan Wulan.
dia pun terduduk lemas, pasalnya keranda di depan rumahnya, "siapa yang meninggal ayah!" tanya Jasmin dengan nada berteriak frustasi.
"yang sabar ya nduk, Rafa gugur saat ingin membereskan masalah Vera, sekarang jenazahnya masih di rumah sakit, dan Raka akan membawanya pulang," kata Fandi.
mendengar itu, Jasmin langsung pingsan, Rania pun bergegas membantu Fandi.
Rania pun tau kesedihan Jasmin, Luna dan Nurul juga saling membantu semua keperluan.
sedang di rumah sakit, Raka begitu tanah saat memandikan saudaranya yang, "dulu kita sering mandi di sungai bareng, sekarang aku yang memandikan mu," gumamnya.
Aditya dan Adri menahan tangisnya, pasalnya suasana begitu sedih, Raka terus menyiramkan air ke tubuh saudaranya itu.
mereka bertiga juga membantu saat mengkafani jenazah Rafa, setelah itu mereka pun siap untuk membawa jenazah itu pulang.
Raka ikut di dalam mobil jenazah, sedang Adri dan Aditya naik mobil mengikuti di belakangnya.
selama perjalanan Raka tidak menangis, hanya diam memegangi keranda yang berisi saudaranya.
__ADS_1
tapi air matanya tak henti menetes, sirine mobil jenazah terdengar begitu nyaring saat memasuki desa.
semua warga menyambutnya dengan lemparan beras kuning, semua orang nampak sedih.
Faraz langsung berdiri ingin menyambut ayahnya, begitupun dengan Jasmin yang berlari ke depan mobil jenazah.
Adri memeluk tubuh Jasmin saat wanita itu akan menabrak mobil jenazah.
sedang Raka langsung memeluk Faraz yang masih nampak syok dan terus berteriak memanggil ayahnya.
Arkan, Aryan, Rizal dan Aditya membantu menurunkan keranda dan memindahkan ke keranda yang sudah tersedia di rumah.
Wulan hanya melihat suaminya dari jauh, dia menangis tapi ada luka yang entah dia sembunyikan.
"om ayah ku om!!" teriak Faraz yang berontak dari pelukan Raka.
"iya nak, kita lihat ayah ku ya ..." kata Raka menuntun Faraz yang sedikit mulai tenang.
Aditya melepaskan ikatan tali pocong dan menunjukkan wajah Rafa untuk terakhir kali pada Faraz.
Jasmin kembali pingsan saat melihat wajah suaminya yang pucat dan tertutup kapas, Faraz hanya bisa menangis di sisi Rafa dengan pilu.
Husna seakan mengerti bayi itu menangis dengan kencang, Wulan mengendongnya dan menaruhnya di samping Rafa.
"dek Husna, ayah pamit ya, ayah sudah di tunggu oleh kakek dan nenek di surga, ayah akan terus jaga Husna dan mas Faraz tapi dari jauh," kata Wulan.
Husna sedikit tenang, kini Rania yang mengambil bayi itu untuk di asuh. karena Jasmin yang masih tak sadarkan diri.
jenazah Rafa akan di makamkan setelah sholat subuh, menunggu keluarga yang Lain.
setelah sholat subuh, Arkan memimpin sholat jenazah untuk sang pakde.
Jasmin sudah sadar dan kini nampak seperti orang linglung, sedang Faraz kini menguatkan diri untuk menjadi imam untuk menyolatkan ayahnya.
saat takbir pertama, terdengar begitu banyak orang yang mengenakan takbir.
"mbak Jasmin, tolong ikhlas mas Rafa itu orang baik ..." kata Wulan.
"tapi aku tak bisa menjalani hidupku tanpa dia dek...." kata Jasmin dengan tatapan mata kosong.
kini Arkan, Aryan, Aditya dan Adi sudah mengangkat keranda dari Rafa, Jasmin yang melihat pun menahannya.
"tidak boleh, jangan bawa suamiku ...." tangis Jasmin kembali pecah.
semua orang pun kembali menangis melihat kondisi Jasmin yang seperti itu.
Wulan menarik suaminya, "tolong tenangkan mbak Jasmin mas," mohon Wulan pada Raka.
"tapi dek-"
Wulan memohon, Raka pun memeluk Jasmin untuk pertama kalinya, Jasmin pun tenang, acara pelepasan jenazah pun di lanjutkan.
Faraz terus bergantian dengan saudara-saudaranya untuk mengangkat keranda, dan akhirnya keranda pun berangkat ke makam desa.
Wulan hanya mengangguk melihat Raka, sesampai di makam semua berjalan lancar.
Aira langsung menuju makam karena dia yang baru bisa datang, Aira memeluk Faraz saat pemuda itu naik dari liang kubur.
Faraz tak sanggup untuk mengumandangkan adzan terakhir kalinya untuk sang ayah.
itu giliran Aryan yang sedang mengumandangkan adzan untuk sang pakde.
setelah pemakaman selesai, mereka pun pulang, Jasmin sudah tenang, Husna ada di gendongan Rania sedang tertidur.
__ADS_1
Fandi berbincang dengan Raka, dan tanpa di duga, Aira langsung menampar pipi Raka saat melihat adiknya itu.