Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
pagi keluarga Rakasa


__ADS_3

Ki item datang dengan wajah yang begitu Murka, terlebih makhluk itu merasa tak di bantu sedikitpun oleh Ki Adhiyaksa maupun Sesnag.


"kenapa? mau marah, kamu bukan mahluk yang hidup dan tak punya kekuasaan dan kekuatan, jangan membuatku marah dengan mengeram seperti itu padaku," kata Ki Adhiyaksa menunjukkan wujud aslinya yang lebih menyeramkan.


"bukan begitu, aku heran kenapa begitu banyak orang yang masih memilih jalan seperti ini dengan pesugihan, padahal dengan mencari rejeki yang halal akan lebih barokah," kesal Ki item.


"kamu lihat, dua pria itu keluar, kenapa kamu begitu bingung, diam saja toh bukan mereka juga yang kehilangan harta, tapi orang yang juga mendapatkan harta dengan cara tak jujur," kata Ki Adhiyaksa.


"ya kamu benar, maafkan aku..." kata Ki item yang kini sudah menghilang.


"dasar genderuwo, datang gak salam, pulang main ngacir, sial ..."


pagi hari, suasana desa cukup asri dan terdengar suara katak saling bersahutan di lubang yang tergenang air.


Wulan sudah sibuk bersama Bu mut untuk menyiapkan masakan untuk saudara dari suaminya.


Arkan membantu Wulan, sedang Raka, Aryan dan Fahri sedang lari pagi setelah sholat subuh.


Raka berlari sambil tertawa melihat tingkah Fahri dan Aryan yang selalu saja berantem.


para gadis di desa seperti meleleh melihat Raka yang lewat sambil menyapa hangat, terlebih pria itu juga begitu tampan dan matang di usianya.


"Amma, boleh aku mengantarnya," tanya Arkan.


"boleh dong sayang, tapi adik mu belum pulang mas," kata Wulan yang baru selesai menata rantang itu.


"aku disini Amma, aku tinggal mandi kan, karena hari ini aku libur," kata Aryan yang ternyata baru pulang.


"baiklah, lekas mandi dan kalian antar dulu, jangan lupa untuk bilang pada bude Aira jika kita akan berangkat pukul sembilan ya," kata Raka yang juga langsung memeluk Wulan di depan kedua putranya

__ADS_1


"iya ayah,"jawab keduanya.


Raka memilih berganti baju karena pakaiannya bau asap, sedang Aryan mandi dengan cepat.


"dasar ayah ini, malu loh di depan anak-anak," kata Wulan malu.


"kenapa,mereka sudah besar, dan sepertinya aku kangen punya bayi lagi," bisik Raka yang berhasil membuat Wulan tertawa.


Bu mut yang melihat pun mengurungkan niatnya untuk masuk dapur, "ada apa Bu? kenapa balik lagi sambil senyum-senyum gitu?" tanya pak Suyatno.


"gak ada pak, ibu cuma melihat sesuatu yang bikin malu saja, sudah ayo kita makan di warung yuk, ibu kangen deh makan berdua dengan baik," ajak Bu mut.


"tumben," kata pak suyatno yang kebingungan.


tapi dia juga tak menolak, toh ini demi kebahagian mereka, jadi keduanya memutuskan malam di tempat kesukaan mereka yaitu di daerah Menganto.


"pak nanti kalau pulang, nitip satenya tiga puluh tusuk ya," kata Fahri yang batu selesai pull up.


keduanya mengendarai sepeda motor Supra fit, tapi Bu mut begitu bahagia meski mengenakan sepeda motor butut itu.


"idih ... kenapa ibu sekarang kok gitu," gumam Fahri.


"loh om,sepeda motor Supra Mbah mana?" tanya Arkan yang keluar dari garasi rumah


"ya di bawa yang punya, sudah pakai motor om saja, itu kuncinya juga ada di situ," kata Fahri.


"owh.. oke," jawab Arkan.


Aryan sudah naik sambil membawa tas yang cukup besar yang biasanya di gunakan untuk mengirim makanan pada pekerja di sawah.

__ADS_1


keduanya pun pergi, dan menuju ke rumah yang di tinggali oleh Aira, saat di jalan Arkan bisa melihat cukup tenang.


tapi saat sampai ternyata Alfin sedang berlatih dengan kedua putranya.


"om boleh kami belajar?" tanya Aryan yang ingin kuat seperti ayahnya dan sang Amma.


"kemarilah,"panggil Alfin.


Aira mendengar suara Aryan buru-buru keluar, Arkan pertama sudah menyalami sang bude, sedang Aryan sudah bergabung dengan ketiga orang itu.


"kamu gak mau ikut Arkan?" tanya Aira dengan lembut, sedang Ayana yang menyiapkan semua makanan.


"tidak usah bude, saya cuma lihat saja," jawab Arkan tersenyum sopan.


"kamu itu persis ayah mu, meski terlihat dingin, tapi sebenarnya dia itu paling baik dan penuh kasih sayang, tapi saat dia menyukai sesuatu atau seseorang, tak akan ada yang bisa membuatnya mundur," terang Aira.


"benarkah bude? setahuku ayah itu keras dan penuh disiplin," kata Arkan duduk di samping Aira.


"itu benar, tapi bude ingat betul waktu tau ayahmu sudah jatuh hati pada seorang gadis, meski semua orang bilang jika mereka tak cocok bahkan bisa membunuh ayah mu jika berani menikahinya, tapi dia tetap menikahi gadis itu dengan segala konsekuensinya," kata Aira dengan senyum.


"ah iya, aku tau cerita itu dari Mbah, dulu Mbah bilang jika Amma sering di panggil gadis pembawa sial, padahal itu juga bukan keinginannya, tapi saat bertemu ayah, mereka bisa sampai sejauh ini, bahkan berjuang bersama," kata Arkan.


Aira tersenyum melihat Arkan yang begitu manis, "uh... wajah saja mirip ayah kalian, tapi hati kalian persis dengan Amma kalian,"


"karena bagi ku Amma adalah panutan dan segalanya bude," tambah Arkan.


"Arkan jemari, kita lawan tanding," panggil Al-Fath.


"boleh, tapi kalau kalah ****** nangis," kata Arkan bangun dan tersenyum.

__ADS_1


Aryan ngeri melihat seringai dari kakaknya itu, "bang Al-Fath, lebih baik jangan deh, mas Arkan kalau udah senyum gitu serem,"


"tidak, aku penasaran dan ingin tau kekuatannya, jika lemah tak pantas di panggil sebagai anak dari pasangan Rakasa," kata Al-Fath yang sedikit mengejek.


__ADS_2